Skip to content

Pria dengan Profesi “Feminin”

February 16, 2013

Secara umum, seseorang memilih profesi tertentu dengan mempertimbangkan minat, bakat, dan kesempatan. Namun demikian, ada beberapa variasi :

(a) Ada yang berawal dari minat, yang ternyata disertai bakat, dan didukung kesempatan. Ini yang paling umum terjadi dan jalurnya paling simpel. Ketertarikan terhadap suatu profesi dapat muncul dari mana saja. Ada yang sejak kecil punya model/idola, misalnya ibu, ayah, paman, dll, dan ingin jadi seperti mereka. Ada pula yang menemukan minatnya dari informasi-informasi yang ia temukan dari berbagai sumber : majalah, koran, film, acara televisi, dll ;

(b) Dapat pula tadinya tidak berminat/tidak terpikir, tapi lebih dulu menemukan bakatnya, berlatih menekuni bakatnya ini, baru kemudian jadi benar-benar berminat ;

(c) Ada pula yang memilih profesi tertentu bukan karena awalnya ia berminat, tetapi situasi menceburkannya ke sana untuk  « mengerjakan » profesi tsb. Misalnya ada yang terpaksa bekerja di bidang yang tidak ia sukai semata-mata karena tidak ada pekerjaan lain. Ada pula yang awalnya dipaksa ortu untuk menekuni profesi tertentu. Lama-lama ia jadi menyukai profesi ini. Ini yang sering diperdebatkan dalam psikologi : minat mengarahkan profesi seseorang atau profesi mengarahkan dan bahkan mengubah minat seseorang.

Kalau dilihat dari tiga variasi di atas, sebenarnya minat/ketertarikan terhadap suatu profesi dapat datang dari mana saja, bahkan dari « melakukan kegiatan » dari profesi tersebut. Ini terkait juga dengan aspek ketiga, yaitu kesempatan. Semakin banyak kesempatan untuk terlibat dalam berbagai acara, kegiatan, dsb, dapat mengarahkan seseorang menemukan minat dan bakatnya. Oleh sebab itu orangtua disarankan memberi sebanyak mungkin kesempatan kepada anak sejak dini untuk mencoba kegiatan apapun, bereksplorasi dengan segala jenis aktivitas, agar anak dapat menemukan bakat dan minatnya.

Kesempatan dapat pula diartikan sebagai dukungan orang-orang terdekat, ketersediaan fasilitas, dll. Misalnya Andi sangat ingin menjadi pianis, dan ia berbakat. Sayangnya, ia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berlatih piano karena kondisi keuangan orang tua tidak memungkinkan. Faktor kesempatan inilah yang membedakan seseorang yang sudah mantap minatnya dan sudah jelas terlihat bakatnya, untuk dapat berhasil menjalani profesi yang ia inginkan tsb.

Persoalannya adalah tidak semua orang bisa punya kesempatan ini. Bahkan meski sudah sangat berminat, dan jelas berbakat, tetapi orang tua melarang. Entah karena menganggap profesi yang diminati anaknya dianggap tidak menghasilkan uang. Atau yang akan dibahas dalam tulisan ini: profesi yang diminati si anak teryata tidak sesuai dengan konstruksi gender. Anak laki-laki kok mau jadi perawat ? Itu kan pekerjaan perempuan ? Anak laki-laki kok mau jadi penari latar, desainer, dsb ?

Menurut saya, ketika menjawab pertanyaan mengapa seseorang memilih profesi yang dilabel feminin, sebaiknya kita tinggalkan dulu istilah feminin di sini. Jawabannya akan sangat personal mengapa seseorang menyukai profesi tertentu terlepas dari profesinya itu feminin atau tidak. Orang-orang yang menyukai profesi penari latar biasanya juga memiliki minat dan bakat kinestetik (yang terkait dengan gerakan tubuh). Demikian pula dengan orang yang menyukai profesi disainer, meski kinestetik pada disainer lebih bersifat kinestetik halus. Kedua profesi ini mengandung unsur seni yang kental. Orang yang memilih jadi koki juga mungkin juga selain berminat dengan aneka masakan, memiliki cita rasa, juga punya alasan lain yang pribadi sifatnya. Misalnya saja saya mengenal seorang pemuda yang sedang belajar jadi koki khusus masakan anak-anak. Ia ingin menciptakan kreasi hidangan yang bergizi untuk anak mengingat perkembangan otak sangat penting pada usia anak.

Memilih profesi yang dilabel feminin menurut saya bukan pertanyaan mengapa, tetapi bagaimana mereka pada akhirnya berhasil mengatasi semua hambatan untuk sampai benar-benar menekuni profesi tsb ? Karena menekuni profesi yang dilabel feminin membutuhkan perjuangan mengingat profesi ini mempertanyakan kelaki-lakian seseorang. Jika keluarga dan masyarakat tidak memberikan mereka kesempatan, pada akhirnya mereka lah yang harus berjuang menciptakan kesempatan itu, mengatasi ketidaknyamanan akibat pandangan negatif orang terhadap maskulinitas mereka, dsb.

 

Profesi dan gender

Sampai saat ini kenyataan dalam masyarakat kita adalah bahwa profesi masih terkait dengan gender. Masyarakat membentuk perbedaan gender dan masyarakatlah yang menciptakan konsep gender itu. Sejak kecil kita sudah dididik untuk melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan konsep gender, termasuk dalam memilih profesi. Tetapi orang tua yang fleksibel dalam memandang konsep perbedaan laki-laki dan perempuan umumnya akan menghasilkan anak-anak yang lebih fleksibel juga dalam memilih profesi.

Contoh anak perempuan jarang diberi permainan balok atau puzzle, pada akhirnya kemampuan spasialnya tidak terbentuk. Akibatnya apa? Kita jadi membatasi pilihan profesi anak perempuan kita, akan sulit baginya –karena ia tidak terlatih sejak dini- untuk jadi pilot misalnya. Demikian pula dengan anak laki-laki yang tidak pernah bermain peran seperti boneka-bonekaan, masak-masakan, pilihan profesinya sejak kecil sudah dibatasi hanya pada yang profesi yang bersifat teknis.

Saat ini semakin banyak pria memilih profesi yang dilabel « feminin ». Fenomena apakah ini? Apakah telah terjadi pergeseran profesi menjadi lebih lintas gender?

Pertama, harus diakui masyarakat kita khususnya di kota-kota besar sedang dalam masa transisi untuk lebih fleksibel dalam memandang peran gender. Kita jadi lebih terbuka untuk melihat aspek kemampuan, bukan lagi jenis kelamin. Jadi kalau memang laki-laki dapat menjadi guru TK, mengapa tidak?

Kedua, budaya kita jadi lebih “individualis” dalam arti  positif. Masyarakat kita jadi tidak lagi ikut campur dengan urusan orang lain. Ketika ada yang memilih profesi yang tidak sesuai dengan norma gender, masyarakat sudah tidak lagi memberi tekanan, menghujani seseorang dengan pandangan-pandangan negatif, dsb. Karena sebenarnya yang lebih menekan seseorang sebenarnya bukan pilihannya atas profesi « feminin », tetapi lebih kepada pandangan masyarakat yang negatif, dan sejauh mana ia “peduli” terhadap pandangan negatif tsb. Dengan sikap masyarakat yang sudah liberal, otomatis juga memengaruhi kita secara individu : kita jadi lebih cuek terhadap pandangan orang lain asalkan memang tidak merugikan orang lain tentunya.

Dalam hal ini mungkin perlu dicermati pula bahwa profesi koki sudah tidak lagi dianggap sebagai feminin, bahkan profesi ini dianggap sebagai profesi bergengsi. Menariknya koki di hotel-hotel berbintang hampir semua justru laki-laki. Mengapa demikian? Banyak yang mengatakan bahwa lagi-lagi ini adalah dominasi laki-laki, ketika laki-laki masuk ke wilayah feminin pun mereka lagi yang menguasai. Tetapi saya kira tidak demikian. Karena fenomenanya sama saja dengan perempuan yang masuk ke bidang laki-laki.

Ada dua penjelasan dalam hal ini :

(a)  Mereka lebih dituntut untuk membuktikan kemampuannya, dan pada akhirnya mereka yang berjuang lebih kuat lah yang berhasil jadi menonjol.

(b)  Ketika laki-laki menekuni bidang profesi feminin (dan sebaliknya dengan perempuan yang menekuni bidang maskulin), mereka membawa serta karakter maskulin mereka (atau karakter feminin bagi perempuan). Dampaknya positif karena mereka menggabungkan kedua sisi yang mereka miliki, yaitu sisi maskulin dan feminin mereka. Terbukti bahwa mereka yang memiliki karakter androgin (memiliki perpaduan sisi maskulin dan femininitas) akan lebih ok dalam menghasilkan/menciptakan/menekuni sesuatu hal.

 

Jika memilih profesi feminin

Jadi, jika Anda adalah pria yang memilih profesi « feminin », saya kira tidak perlu berfokus kepada pandangan negatif orang lain/masyarakat. Fokuslah kepada profesi yang sedang ditekuni. Jika ada benturan-benturan dengan keluarga, tentu juga harus diskusikan baik-baik dengan mereka. Namun yang terpenting adalah buktikan bahwa Anda memang dapat berprestasi dalam profesi yang Anda pilih. Banggalah telah menjadi “berbeda”, tetapi tunjukkan bahwa Anda memang mampu meski jalan yang dilalui tidak mudah. Untuk itu, perlu ciptakan gol-gol juga, apa yang ingin diraih. Misalnya penari latar dapat bercita-cita memenangkan lomba tertentu, dsb. Selain itu, jangan menekan sisi maskulin yang Anda punya, justru jaga dan kembangkan karena sebenarnya untuk setiap profesi, kedua sisi (feminin dan maskulin) dapat membantu kita jadi lebih ok dalam bekerja.

Sikap sebagai orang terdekat

Bagaimana jika kita adalah pihak keluarga/pasangan/teman, apa yang harus kita lakukan untuk mendukung pilihan profesi yg dilabeli feminin ini?

Pertama, perlu diingat bahwa profesi bukanlah masalah feminin-maskulin.Apapun profesi yang dipilih seseorang, jika ia menekuninya dengan antusias, jika itu memang menjadi « passion » atau « hidup »nya, jika ia memang berbakat di sana, yakinlah bahwa profesi itu benar-benar akan membuatnya menemukan diri sendiri, berhasil di bidangnya tsb, dan berkarya bagi orang lain.

Dukunglah orang-orang terdekat kita dengan tidak bersikap meremehkan, dengan keyakinan bahwa mereka akan berhasil ; jangan justru menjadikan diri kita sendiri sebagai hambatan bagi orang yang kita sayangi.

Tidak perlu kita mempersoalkan femininitas dari pilihan profesinya. Perlu juga dalam hal ini kita membongkar ulang makna maskulinitas dan femininitas. Apa yang kita anggap sebagai maskulinitas dan femininitas ? Bukankah kita juga senang punya suami yang tidak agresif/kasar, mau mendengarkan pendapat kita, lebih peka terhadap kebutuhan kita, plus jago masak? Bukankah ini adalah sisi-sisi yang disebut masyarakat kita sebagai sisi-sisi feminin tetapi justru kita harapkan ada pada laki-laki ?

Dukungan-dukungan lain seperti memberikan kado-kado kecil yang sesuai dengan profesi yang ia tekuni, hadir pada saat ia pentas sebagai penari latar misalnya, ikut mempromosikan « bisnis salon » suami, dll, juga dapat menjadi pilihan dukungan yg dapat kita lakukan.

-Thanks to Mbak Ella🙂

4 Comments leave one →
  1. clara permalink
    April 15, 2013 12:49 pm

    Mbak, mau minta ijin buat copas artikel ini untuk makalah tugas saya yaa… tentang Gender Role… thankyou…

    • Ester Lianawati permalink*
      April 25, 2013 6:20 pm

      Ok, smg sdh slsi dgn baik makalahnya ya

  2. apri yeni permalink
    June 10, 2013 7:00 am

    Tulisannya layak dishare ke teman-teman BK saya nih bu. Pemilihan karier yang ditekankan pada aspek minat, bakat, dan kesempatan memang tidak asing lagi ditelinga. Namun, penjelasan yang diberikan dalam tulisan ini memberikan gambaran lebih jelas dan lebih segar.

    Untuk faktor gender, seringkali menjadi topik yang tidak ingin disinggung lebih banyak. Beberapa orang lebih memilih untuk “melarang” dan “mengancam” dengan resiko yang mungkin didapat dibandingkan membuka peluang untuk berdiskusi.

    Semangat terus ibu untuk terus berbagi ilmu.🙂

    • Ester Lianawati permalink*
      June 15, 2013 5:28 am

      Trm ksh Apri,
      semangat, sukses, dan terus menikmati kariermu ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: