Skip to content

Jika (terpaksa) Memilih Tinggal di Rumah

February 15, 2013

Seorang teman mengeluhkan rekannya yang berhenti bekerja dan memilih untuk tinggal di rumah menjaga anak. Ia khawatir jika banyak perempuan seperti itu, kita malah akan kembali ke zaman lampau saat perempuan tidak boleh bekerja di luar rumah. Teman lain juga menyatakan ketidaksetujuannya pada istri kakaknya yang « hanya berdiam diri di rumah ». Menurutnya, kaum feminis sudah memperjuangkan hak perempuan untuk bekerja, dan seyogianya perempuan menggunakan haknya ini.

Terus terang, saya kurang setuju dengan pendapat mereka, terutama mengenai bagian yang saya beri tanda kutip di atas. Menjadi ibu rumah tangga sudah pasti bukan hanya berdiam diri; segudang pekerjaan menunggu untuk ia selesaikan di rumah. Lagipula, jika memang keinginannya sendiri untuk tinggal di rumah, tentu tanpa dipengaruhi oleh stereotipe dan peran-peran yang dilekatkan masyarakat kepada perempuan, mengapa tidak menjadi ibu rumah tangga ? Memang perempuan diharapkan sebaiknya bekerja agar tidak bergantung kepada suami secara finansial sehingga jika sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupan perkawinan, perempuan tetap dapat mandiri. Namun bukankah memaksakan perempuan untuk bekerja sementara ia benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama anak-anak sama saja dengan memaksakan pilihan kepada perempuan ? Jika memang yang dikhawatirkan adalah sesuatu yang buruk terjadi dalam perkawinan, -sekalipun biasanya kita tidak memikirkan hal ini pada saat sedang bahagia dengan pasangan-, bukankah lebih tepat jika kita mengharapkan perempuan memperlengkapi diri dengan bekal pendidikan, keahlian, dan keterampilan ?

Persoalannya adalah memang sering kali istri merasa wajib mengalah untuk tinggal di rumah dan suami menuntut istri untuk mengalah. Status sebagai istri seolah membuat perempuan, baik disadari ataupun tidak, untuk melepaskan pekerjaannya pada suatu periode tertentu dalam hidupnya (ketika baru punya anak misalnya) dan kembali  ke rumah. Hal ini yang memang masih menjadi isu dalam dunia feminisme. Mengapa harus perempuan ? Bukankah jika ini adalah pilihan atas kesepakatan bersama bersama antara suami dan istri, pasangan dapat memutuskan bahwa istri yang tetap berkarir dan suami yang tinggal di rumah ? Apakah laki-laki merasa kehilangan maskulinitasnya jika ia meninggalkan karirnya ? Atau perlu juga ditanyakan apakah perempuan juga merasa suaminya menjadi kurang jantan jika jadi bapak rumah tangga ?  Kapan perempuan dan laki-laki dapat benar-benar memilih tanpa bergantung pada peran yang dilekatkan kepada mereka sebagai perempuan/istri/ibu dan laki-laki/suami/ayah ?

Namun baiklah, untuk sementara kita lupakan kondisi ideal yang kita harapkan terwujud dalam masyarakat yang masih patriarkis ini. Kondisi sekarang adalah perempuan sering ditempatkan dalam kondisi harus memilih antara bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Bekerja atau menjadi ibu rumah tangga pada zaman sekarang ini sering kali bukanlah pilihan murni berdasarkan keinginan pribadi tetapi lebih merupakan desakan keadaan. Misalnya penghasilan suami yang tidak mencukupi, sehingga istri harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Atau ada pula istri yang sebenarnya ingin bekerja untuk aktualisasi diri namun suami tidak mengizinkan bekerja karena dianggap akan memalukan nama baiknya, seolah tidak mampu mencukupi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Lagi-lagi masalah maskulinitas ! Ada pula istri yang ingin bekerja tetapi ia dan suami tidak ingin anak-anak dijaga baby sitter meskipun tidak ada hambatan dari segi ekonomi untuk itu.

Yang paling sulit biasanya ketika istri yang memiliki karir ok tetapi terpaksa tinggal di rumah karena situasi dan kondisi tertentu. Jika sudah begini, ia perlu “berdamai” dengan diri sendiri juga dan perlu mengatasi perasaan telah berkorban dengan melepaskan karir, dsb. Karena jika begini, nantinya akan menyesali keputusan dan juga akan sulit beradaptasi dengan peran baru sebagai ibu rumah tangga setelah sekian lama sibuk berkarir. Cukup banyak ibu yang melampiaskan kekesalan dan rasa kekecewaan terhadap anak, karena merasa kehilangan karir yang sudah ia bangun sejak lama.

Jika memang situasi dan kondisi “menuntut” ibu, membuat ibu terpaksa “memilih” untuk tinggal di rumah, jangan terpaku pada rasa penyesalan itu. Akan jauh lebih baik jika kita dapat memikirkan cara-cara untuk membuat peran baru “tinggal di rumah” ini menjadi menyenangkan.

Di bawah ini saya uraikan sedikit mengenai plus minus dari menjadi ibu rumah tangga. Sebaiknya tidak terpaku pada sisi-sisi negatifnya, saya lebih menganjurkan untuk melihat bagian catatan.

  Positif Negatif Catatan
1. Lebih punya banyak waktu untuk anak-anak. Lebih dapat memantau perkembangan anak. Lebih mengenal karakter anak.Jika hubungan ini positif, otomatis akan berdampak positif bagi perkembangan anak.

Tetapi perhatikan bahwa kualitas hubungan dengan anak tidak bergantung pada seberapa banyak waktu yang dihabiskan dengan anak, tetapi lebih bergantung pada bagaimana hubungan ortu dengan anak. Jika ibu tertekan karena “hanya” tinggal di rumah, maka anak juga akan menjadi “korban”. Anak dapat merasakan emosi ibunya. Bayangkan ibu yang sedih, tertekan, atau  menjadi mudah marah.  Anak akan kebingungan menghadapi ibu yang tampil murung, atau cepat marah.  Kebingungan-kebingungan ini dapat membuat emosi anak a menjadi tidak stabil. Anak juga jadi tidak dapat berharap pada ibunya, dalam arti ibu tidak menjadi figur yang dapat ia percaya. Jika berlanjut, akan berpengaruh pada hubungan anak dengan  orang lain. Anak menjadi sulit percaya pada orang lain, dia akan menjadi posesif terhadap teman atau pasangan kelak, emosinya sendiri menjadi tidak stabil, dll.

Tidak punya waktu untuk diri sendiri.Banyak orang mengira bahwa menjadi ibu rumah tangga akan punya waktu luang. Dalam kenyataannya mengurus anak dan rumah tangga  tidak semudah yang dibayangkan.  Apalagi jika tidak ada yang membantu. Tidak heran jika tingkat stres perempuan terbesar « diraih » oleh para ibu yang bekerja sendirian mengurus rumah tangga nya dan para ibu yang berperan ganda (bekerja plus tetap mengurus rumah tangga).

Tidak punya waktu untuk diri sendiri juga akan berdampak besar bagi pertumbuhan diri ibu. Bakat-bakat yang dimilikinya tidak « terolah » karena tidak punya waktu untuk mengembangkannya.

Perhatikan bahwa hal ini juga bergantung pada usia anak. Misalnya semakin anak besar dan tidak membutuhkan pengawasan intensif, ibu lebih punya banyak waktu luang untuk dirinya sendiri

Akan lebih mudah bagi ibu jika ada yang membantunya menjalankan peran “tinggal di rumah”. Seandainya pun tidak, tetap usahakan memiliki waktu untuk « menyenangkan » diri sendiri, dengan hal-hal sederhana sekalipun.Misalnya tetap sempatkan diri membaca buku favorit 15 menit sehari.

Lakukan hal-hal menyenangkan bersama anak. Misalnya ibu yang menyukai fotografi dapat berfoto ria bersama anak. Ibu yang menyukai lukisan dapat melukis bersama anak, dsb.

Pahami tahap-tahap perkembangan anak, baca tips-tips untuk menghadapi anak, dsb, agar mengurus anak dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Misalnya anak usia 2 tahun sudah mulai bisa diajak menentukan mau makan dengan piring corak/warna apa. Anak akan senang diajak memilih, ibu akan senang karena anak tidak rewel, dll, sehingga akan tercipta hub yang menyenangkan antara ibu dan anak.

Jika merasa sudah lelah “mental” dengan tugas-tugas rumah tangga, ambil waktu sebentar untuk menenangkan diri. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, makan sebatang cokelat kesukaan, atau dengan cara sederhana : tersenyum. Kesannya mungkin konyol, tetapi secara psikologis, emosi kita mengikuti ekspresi wajah dan gerakan tubuh kita. Jika kita tersenyum, otot wajah akan mengendur dan membuat kita lebih relaks.

2. Terbebas dari stres pekerjaan kantor tentunya Mengurus anak juga dapat menjadi sumber stres tersendiri mengingat anak tidak selalu tampil menyenangkan
3. Dependensi/ketergantungan ekonomi terhadap suami, khususnya bagi ibu rumah tangga yang tidak punya pekerjaan di luar tugas-tugas domestik. Ketergantungan ini juga dapat menjadi sumber stres sendiri terutama bagi para ibu yang sebelumya bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Jika memang masih memungkinkan untuk bekerja di rumah, lakukan. Gali potensi diri, apa yang masih dapat dilakukan sambil tetap menjalani peran « tinggal di rumah » ini.
4. Kehilangan relasi sosial, karena baisanya berfokus pada anak dan urusan rumah tangga. Gunakan wadah jejaring sosial. Kita dapat tetap terhubung dengan teman-teman dekat melalui facebook misalnya. Dapat pula menemukan teman baru dan berdiskusi di milis-milis, di sela kesibukan mengurus anak dan tugas rumah tangga lain.
One Comment leave one →
  1. joyobowo permalink
    August 10, 2013 7:22 pm

    menurut saya wanita wirausaha lebih tepat ketimbang kerja kantoran soalnya wanita wirausaha mempunyai waktu yg bebas yg tidak terikat dengan peraturan kantor. Lagian menurut saya istri bekerja bukan untuk mencari rizki yg utama, tetapi untuk mencari kesibukan biar ada kegiatan disela2 mengurus anak di rumah. misalnya membuka salon. spa, bisnis kue, buka toko sembako, dll..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: