Skip to content

Teman Imajiner

July 1, 2012

Kehadiran teman imajiner pada anak usia prasekolah sifatnya cenderung normal, sekitar 60% anak memunculkan teman imajiner pada usia ini. Tidak perlu cemas bila anak sama sekali tidak pernah memiliki teman imajiner. Sama halnya dengan tidak perlu cemas bila anak memiliki teman imajiner, kecuali pada situasi-situasi tertentu.

Bentuk teman imajiner bermacam-macam, ada yang hanya anak  « biasa «  misalnya teman sebaya/anak yang lebih tua, orang tua, anak “ajaib” yang punya kekuatan magic, bayi, superhero, hewan seperti anjing, kucing, bahkan hewan mistis seperti naga, malaikat, setan, musuh, dll.

Umumnya anak memunculkan teman imajiner pada usia 3 sampai 5 tahun. Pada usia ini anak belum mampu memisahkan secara tegas antara dunia nyata dan imajinasi, namun di sisi lain ia mulai belajar mengenal/memahami dunia nyata yang ternyata tidak selalu sesuai dengan apa yang ia harapkan : tidak seperti usia sebelumnya ketika ia dapat mendapatkan apa yang ia inginkan (misalnya dengan menangis, orang tua paham bahwa anak lapar dan memuaskan kebutuhannya). Untuk  membantunya, ia menciptakan teman imajiner, yang memungkinkannya dapat lebih menerima realita dan menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya (misalnya dimarahi ibu karena menumpahkan susu, dan anak mengatakan bahwa si teman imajiner yang menumpahkannya).

Intinya anak memunculkan teman imajiner untuk membantunya melewati masa transisi yang cenderung mencemaskan untuknya seperti kehadiran adik yang baru lahir atau situasi baru lain yang membutuhkan adaptasi. Dalam kasus ini, teman imajiner berfungsi menentramkan, memberi rasa nyaman, dan menggantikan atensi orang tua yang sedikit banyak beralih pada adik yang baru lahir.

 

Sampai pada titik tertentu, orang tua tidak perlu cemas bila anak memunculkan teman imajiner, tidak perlu melarangnya. Mungkin imajinasinya berlebihan untuk orang dewasa seperti menjadi putri raja, memburu naga bersama temannya, tetapi percayalah ini adalah dunia fantasi anak dan orang dewasa memang sudah tidak lagi ada pada dunia ini . Mungkin terdengar aneh, tetapi dengan dunia kecilnya yang magis dan fantastik ini, memungkinkannya untuk belajar memahami realita.

Di samping itu, teman imajiner memiliki fungsi positif  :

 

 

  1. Teman imajiner membantu mengeksplorasi dunia/lingkungan sekitar, mengembangkan kemampuan berbahasa/berbicara melalui percakapan dengan si teman imajiner ini. Oleh karena itu, anak yang memiliki teman imajiner ditemukan lebih imajinatif, kaya perbendaharaan kata. Terbiasa bercakap-cakap dengan si teman imajiner juga dapat melatih mereka dalam mengungkapkan apa yang mereka inginkan.

 

  1. Teman imajiner memungkinkan anak bereksperimen dengan berbagai peran yang ia mainkan bersama dengan teman imajinernya.  Karena bermain peran inilah, anak yang memiliki teman imajiner dapat lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan dapat lebih memahami sudut pandang orang lain.

 

  1. Teman imajiner memberikan sense of control, bahwa dia memiliki kendali atas lingkungannya, atas orang lain, dengan memberi pujian kepada teman imajinernya, marah kepada teman imajinernya, mengungkapkan pendapatnya bila tidak setuju dengan si teman imajiner, dll.

 

Dengan teman imajinernya, anaklah yang memegang peranan, dia yang memegang kendali permainan tersebut dengan teman imajinernya. Si teman imajiner inilah yang akan berperilaku sesuai dengan kehendak si anak. Anak dapat menjadi yang paling tinggi, yang paling cepat, yang paling cantik, dan selalu menjadi pemenang sesuai khayalannya.

 

  1. Jangan khawatir jika anak memiliki ‘musuh’ sebagai teman imajinernya. Dengan bertengkar, menampilkan kemarahannya, anak justru dapat menyalurkan emosi ‘negatif’nya secara aman, sekaligus membantunya belajar memahami sudut pandang ‘musuh’nya ini karena ia lah yang menciptakan perdebatan/pertengkaran dan menyusun skenarionya.

 

  1. Teman imajiner dapat membantu anak mengenali dan menemukan identitasnya sendiri dengan cara kreatif. Karena dengan adanya teman imajiner, anak dapat memerankan tokoh-tokoh yang berbeda, dan ia dapat merasakan tokoh mana yang ia lebih nyaman untuk perankan.

 

  1. Teman imajiner membantu anak untuk mengungkapkan pesan yang ia tidak dapat katakan secara langsung, misalnya anak yang menolak makan sayur dapat jadi menggunakan teman imajinernya untuk mengatakan : Mama tau kan kalau si Kribo itu engga suka makan sayur, jadi aku temenin dia juga dong, kan aku setia sama temen.

 

 

Teman imajiner akan menghilang dengan sendirinya ketika anak sudah benar-benar berada di ‘dunia nyata’ misalnya sudah mulai bersekolah, dan memiliki banyak aktivitas lain.

 

Jika teman imajiner tidak juga menghilang dan bahkan anak menampilkan ciri-ciri berikut : terlalu sering berbicara mengenai teman imajiner, terlalu sering berbicara mengatasnamakan si teman imajiner (bukan saya, tapi si teman imajiner), ketika dia menampilkan periode panik/cemas karena teman imajiner menghilang, tidak memiliki teman dalam dunia ‘nyata’, memiliki masalah perilaku seperti agresif dll, orang tua perlu berkonsultasi dengan psikolog.

 

Terkait dengan hal ini, orang tua perlu paham bahwa teman imajiner dapat jadi merupakan proyeksi dari masalah-masalah yang dimiliki anak atau kebutuhan anak. Teman imajiner dapat menjadi seperti bermain dengan cermin, di mana pada cermin ini tampak kebutuhan anak.  Dalam hal ini orang tua perlu peka untuk bertanya apa sesungguhnya yang ingin dikatakan anak kepada mereka melalui teman imajinernya ini ? Misalnya kembali kepada fungsi nomor 6, orang tua justru dapat mengenali masalah anak dari apa yang dikatakan anak atas nama teman imajinernya. Orang tua dapat sedikit ikut campur dalam dunia imajinasi anak dengan mengatakan misalnya kamu dapat katakan pada Kribo bahwa makan sayur itu sehat, dan untuk itu kamu harus dapat jadi contoh untuk Kribo dengan terlebih dahulu makan sayur ini bersama Mama dan Papa.

 

Contoh lain, anak mengatakan bahwa teman imajinernya tidak menginginkannya pergi untuk bermain di taman/halaman bersama teman lain. Dapat jadi ini merupakan ketakutannya sendiri atau ketidaknyamanannya untuk bermain bersama temannya yang ‘nyata’. Dari sini orang tua dapat bertanya lebih lanjut untuk memahami masalah anak, kecemasannya, dsb, misalnya dengan menanyakan mengapa si teman imajiner ini tidak mau pergi keluar dan lebih memilih di kamar/di rumah.

 

Catatan lain :

Orang tua tidak perlu bersikap reaktif dengan menuduh anak berbohong ketika menggunakan teman imajinernya sebagai alasan menghindari tanggung jawab misalnya. Ingat bahwa ketika anak memiliki teman imajiner, ia berada dalam dunia fantasinya seperti berfantasi mengenai para peri yang berjalan bersisian dengan para naga, maka mengapa tidak kucing imajinasinya yang memakan semua kue cokelat buatan Ibu ?

 

Orang tua tidak perlu pula mendukung anak secara berlebihan untuk memunculkan/bermain bersama teman imajinernya ini, misalnya dengan menyediakan piring tambahan di meja makan untuk si teman imajinernya. Tidak melarang anak, biarkan anak memiliki ruang pribadinya bersama si teman imajiner, peka jika anak terus menghindari tanggung jawab atas nama si teman imajiner, waspada bila anak sudah terlalu banyak bicara tentang atau dengan si teman imajiner dan cenderung mengurung diri bersama teman imajiner.

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: