Skip to content

Psychological & subjective well-being, apa bedanya?

March 18, 2012

Saya menerima cukup banyak email yang menanyakan perbedaan antara kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dengan kesejahteraan subjektif (subjective well-being). Semoga tulisan ini dapat membantu untuk memperjelas perbedaan keduanya.

Kesejahteraan psikologis dan subjektif berbeda, setidaknya sejauh yang saya ketahui, dalam dua hal.

Pertama adalah filosofi yang melandasinya. Kesejahteraan psikologis bersifat eudamonik: seseorang dikatakan sejahtera bila mengisi hidupnya dengan hal-hal yang bermakna, yang bertujuan, yang berguna bagi kesejahteraan orang lain dan pertumbuhan dirinya sendiri. Sedangkan kesejahteraan subjektif bersifat hedonik, mengandung prinsip kesenangan: sejauh mana seseorang merasa hidupnya menyenangkan, bebas stres, bebas dari rasa cemas, tidak depresi, dll yang intinya mengalami perasaan-perasaan menyenangkan dan bebas dari perasaan-perasaan tidak menyenangkan.

Jadi dapat saja orang yang sama merasa dirinya tidak bahagia dan cenderung diliputi stres (skor rendah dalam kesejahteraan subjekt), tetapi skornya tinggi dalam dimensi-dimensi psychological well-being. Sebaliknya dapat pula seseorang merasa hidupnya menyenangkan dan ia tidak tertekan (skor tinggi dalam kesejahteraan subjektif) meskipun ia tidak tahu hidupnya hendak dibawa kemana, ia tidak memiliki kegiatan bermakna, tidak cukup luwes untuk bergaul dengan orang banyak, dll yang tercakup dalam dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis (= skornya rendah dalam kesejahteraan psikologis).

Kedua, sesuai dengan namanya, kesejahteraan subjektif bersifat subjektif , maksudnya di sini dalam pengukurannya, seseorang akan menilai sejauh mana dirinya bahagia, tidak stres, tidak cemas, dll; variabel-variabel yang subjektif. Sedangkan kesejahteraan psikologis bersifat objektif, karena seseorang diukur tingkat kesejahteraannya berdasarkan sejauh mana ia memenuhi aspek-aspek/dimensi-dimensi kesejahteraan yang sudah ditentukan, yang dikonstruksi/dibangun berdasarkan konsep-konsep yang diyakini Carol D Ryff, penggagas teori kesejahteraan psikologis ini.

Mgkn dua tulisan ini dapat lebih memperjelas :

 

http://www.sfi.dk/graphics/espanet/papers/gough.pdf

http://www.ophi.org.uk/wp-content/uploads/OPHI_wpSamman.pdf?cda6c1

8 Comments leave one →
  1. June 15, 2012 11:07 am

    hai mbak , saya lagi menyusun penelitian tentang subjective well-being…mengukur happiness, life-satisfaction dan QoL…kira2 mbak punya referensi untuk alat ukurnya kah? terima kasihmbak..oia klo bisa mampir ke amavolta.wordpress.com🙂 thx mbak

    • Ester Lianawati permalink*
      July 1, 2012 1:39 pm

      hai, sudah kukirim bbrp artikel jurnal ya, smg bermanfaat🙂
      n udah mampir jg ke amavolta.wordpress.com😉 saya suka refleksi kamu ttg lintas budaya🙂

      • July 1, 2012 3:30 pm

        terima kasih mbak🙂 saya suka tulisan2 mbak tentang psikologi di Blog..:) saya merasa menjadi manusia ketika membaca tulisan2 tersebut🙂 sukses selalu

      • Ester Lianawati permalink*
        July 1, 2012 5:10 pm

        Trm ksh, Talo🙂
        Sukses sll jg buat km ya🙂

  2. syorayahijab permalink
    February 17, 2013 4:54 pm

    hai mbak…aku indah,aku lagi nyusun penelitian ini tentang SWB pada wanita lajang ditinjau dari konsep diri, gaya hidup wanita karir dan coping positif. kmrn bingung ditanya dosen mengenai aliran psikologi positif ini dr sejarahnya,ga nyangka aku bakal dapet pertanyaan ampe ke sejarahnyya, setelah baca tulisan mbak aku baru tau ternyata aku menyorot hal ini melalui kesejahteraan subjektif tapi dosenku ngotot melihat ini dari psikologikal well beingnya, bisakah membantuku menterjemahkan maksud dosenku mbak?

    • Ester Lianawati permalink*
      March 1, 2013 5:56 am

      Hai Indah, mgkn dosen pembimbingmu memang melihat bahwa skripsimu itu lebih tepat untuk dibahas dengan konsep kesejahteraan psikologis, bukan kesejahteraan subjektif. Saya akan kirimkan beberapa artikel mengenai kedua variabel ini, barangkali dapat mencerahkan kamu🙂

  3. putri kartika sari permalink
    May 4, 2013 9:52 am

    hai mbak…aku putri,aku lagi nyusun penelitian ini tentang PWB pada istri yg mengalani KDRT dan dipaksa bekerja mnjd PSK kmrn bingung ditanya dosen mengenai aliran psikologi positif ini dr sejarahnya,ga nyangka aku bakal dapet pertanyaan ampe ke sejarahnyya, mba ada bahan tentang skripsi putri?

    • Ester Lianawati permalink*
      June 15, 2013 5:10 am

      Hai Putri, kalau kamu tinggal di wilayah Jakarta, bisa datang ke perpustakaan UKRIDA di Jl. Tanjung Duren Raya No 4.
      Ada skripsi mahasiswa mengenai PWB pada mantan perempuan yang dilacurkan, mungkin bisa membantu.
      Mengenai artikel2 PWB nya sendiri akan saya kirimkan ke kamu.
      Semangat ya untuk penyusunan skripsinya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: