Skip to content

Mengungkap Preferensi Pasien, Merangkul Model-model Relasi Dokter-Pasien

February 22, 2012

Salah satu topik yang penting dipelajari dalam psikologi medis adalah relasi antara dokter dengan pasien yang diyakini berperan besar dalam proses kesembuhan pasien. Model relasi antara kedua pihak ini terus berevolusi dengan model terbaru adalah model pengambilan keputusan bersama (shared-decision model). Perkembangan model relasi dokter pasien mulai dari model paternalistik hingga sampai kepada model pengambilan keputusan bersama akan dibahas dalam tulisan ini. Demikian pula dengan fakta bahwa model pengambilan keputusan bersama tidak selalu tepat bagi semua orang. Adanya variasi individual dan budaya dalam preferensi model relasi dokter-pasien mengantarkan penulis untuk memilih model pengungkapan preferensi pasien (modèle du processus de révélation des préférences des patients) yang dikembangkan di Perancis sebagai model relasi dokter-pasien yang lebih tepat untuk mengakomodasi kebutuhan pasien. Dalam pandangan penulis, model yang dikembangkan dari model pengambilan keputusan bersama ini merangkul tiga model lainnya sekaligus menjanjikan sebuah otonomi yang membebaskan baik bagi pasien maupun dokter.

Dari Paternalistik Hingga Pengambilan Keputusan Bersama

Model Paternalistik

Selama berabad lamanya, model paternalistik berlaku dalam relasi dokter dengan pasien. Hubungan yang terjadi antara dokter dengan pasien dalam model ini menyerupai seorang ayah yang mengambil keputusan untuk anaknya; dari sinilah memunculkan istilah paternalistik. Dokter aktif mengajukan pertanyaan yang cenderung bersifat dikotomis dengan pilihan jawaban ya atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan ini berpusat pada penyakit dengan tujuan menegakkan diagnosis. Menurut Maguire (2003), dalam model relasi ini dokter tidak tertarik dengan pengalaman unik masing-masing pasien mengenai penyakit yang mereka alami.

Alain Brémond, Jérôme Goffette, dan Nora Moumjid-Ferdjaoui (2007) menegaskan bahwa tidak ada pertukaran informasi dalam model ini. Pasien dianggap tidak dalam keadaan siap untuk berdiskusi karena kondisi sakit yang ia sedang alami sementara dokter dianggap sebagai satu-satunya pihak yang memiliki pengetahuan atas penyakit pasien. Dokter pun memiliki hak penuh untuk mengambil keputusan mengenai pengobatan atau perawatan yang terbaik untuk pasien. Sebagaimana ayah mengharapkan kepercayaan penuh dari anaknya bahwa keputusannya adalah yang terbaik karena ia mengetahui yang terbaik untuk anaknya, demikian pula relasi dokter dengan pasien dalam model ini. Model ini menuntut kepercayaan total dari pasien kepada dokter bahwa dokter mengetahui apa yang terbaik untuk pasiennya.

Model Informatif

Pada tahun 1960 an negara negara berbahasa inggris seperti Amerika Serikat dan Kanada mulai menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap model ini. Model ini dianggap tidak menghargai pasien sebagai pribadi yang berhak dan kompeten untuk mengambil keputusan. Dengan model penegakan diagnosis, pasien seperti tidak memiliki hak untuk berbicara bahkan mengenai tubuh mereka sendiri. Mengikuti analogi ayah dan anak, pasien seolah ditempatkan dalam posisi anak-anak yang tidak mengetahui apa yang terbaik baginya sehingga harus patuh kepada ayahnya (Moumjid & Brémond, 2006). Ketika ia tidak patuh dengan tidak menyetujui keputusan yang diambil dokter, ia dianggap telah menolak terapi atau pengobatan dengan risiko ditinggalkan dan tidak disukai.

Model paternalistik yang di Perancis dinamakan juga sebagai modèle du médecin décideur karena menempatkan dokter sebagai pengambil keputusan (Brémond, Gofette, & Moumjid- Ferdjaoui, 2007), dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Dengan akses yang semakin mudah terhadap informasi terlebih dengan munculnya internet, pasien pun mulai kritis mempertanyakan ketepatan pilihan yang diambil dokter. Ketika dokter menyatakan diagnosisnya, mereka dapat mencari informasi mengenai alternatif solusi penyembuhan penyakitnya. Berbagai kondisi inilah yang memunculkan terbentuknya model baru dari relasi dokter-pasien yang ekstrim berbeda dengan model paternalistik. Model yang terbangun berdasarkan kekecewaan terhadap model paternalistik ini dinamakan sebagai model informatif (informative model), serta disebut pula sebagai model hak pasien (patient’s right model) dan consumerisme model

-Ditulis untuk Buletin Metamorfosis-Januari-April 2012, Fakultas Psikologi Ukrida-

Bagi rekan-rekan yang membutuhkan tulisan selengkapnya, dapat menghubungi saya di esterlianawati@yahoo.com.

Mohon maaf jika tidak dapat segera membalas email teman-teman,

ada pula kemungkinan email teman-teman masuk ke spam, atau mungkin balasan dari saya yang masuk ke spam.

10 Comments leave one →
  1. February 28, 2012 4:06 am

    Saya rasa saat ini komunikasi dokter pasien adalah yang memegang peranan besar dalam mencapai tujuan dibangunnya hubungan dokter pasien, namun sayang sekali, justru saat ini sulit mendapatkan hal ini.

    Benturan umumnya datang pada waktu, kalau di luar negeri wajar pasien mendapatkan konsultasi penuh selama setidaknya 30 menit, maka di negara kita mungkin sepuluh atau lima belas menit itu sudah dianggap sangat banyak, apalagi jika jumlah pasien bisa jadi lebih banyak daripada yang bisa ditangani jika mengambil waktu komunikasi lebih banyak.

    Ini seperti buah simalakama, sehingga ya kadang tidak jarang kita jumpai model lama kembali muncul, dokter mengambil keputusan – guna mempercepat proses.

    • Ester Lianawati permalink*
      March 1, 2012 10:28 pm

      utk kasus ttt, utk pasien ttt, model dokter yg mengambil keputusan sbnrnya msh tepat.
      tp mslhnya model ini gak tepat utk semua kasus n semua tipe pasien;
      sygnya emang spt yg km tulis, Cahya, pasien cm ditny keluhannya apa, pdhl perlu jg ditny hal lain yg penting, mis ada alergi obat gak.
      untunglah dokterku tdk begitu n bersedia mendengarkan kecerewetanku ^^

      • March 2, 2012 2:52 am

        Sebenarnya tidak hanya itu Mbak, complience atau kepatuhan pasien juga mestinya bisa didapatkan dari komunikasi sehingga bisa tepat untuk terapi ataupun solusi kesehatan yang diberikan.

        Misalnya saja saat membahasa pilihan kontrasepsi dengan pasien. Jika dokter bisa menggali kepatuhan pasien, maka pilihan penggunaan kondom atau pil KB tidak akan masalah, tapi kalau pasien sulit mendisiplinkan diri, maka pilihan yang lebih sedikit perlu intervensi pasien seperti susuk atau suntik bisa disarankan. Jadi kadang bukan masalah keuntungan dan kerugian solusi medis saja, namun ada banyak hal yang bisa didapat dari komunikasi “panjang” antara dokter pasien.

        Sayangnya, ya itu kembali. Tidak banyak ada kesempatan demikian.

      • Ester Lianawati permalink*
        March 18, 2012 1:49 pm

        waduh susah kl deh kl pak dokter udah ngomong hehe,
        aku br baca posting km yg terbaru, pak, congrat😉

      • March 19, 2012 1:14 am

        Terima kasih Mbak Ester🙂 – Tapi aneh rasanya dipanggil Pak, baru kemarin rasanya masih anak SMA🙂.

      • Ester Lianawati permalink*
        July 1, 2012 1:52 pm

        kemarinnya berapa taon yg lalu, PAK? hihihi

      • July 1, 2012 2:47 pm

        Iya, beberapa tahun🙂.

      • Ester Lianawati permalink*
        July 1, 2012 5:09 pm

        😀

  2. Hendi Yap permalink
    May 30, 2012 5:17 pm

    Mantap nih artikelnya, pas banget sama pengalaman saya saat ini. Banyak dokter model paternalistik khususnya di Indo. Padahal model ini bisa dibilang “jadul”..wakaka..😉 sy sampe berdebat dgn salah satunya..hahaha..Kemudian langkah untuk membuat para dokter tersebut supaya sadar mesti gimana yah miss?susahnya mereka ga nyadar diri mereka jadul…he…

    • Ester Lianawati permalink*
      July 1, 2012 5:34 pm

      Waduh bingung jg jawabnya nih Hendy, hehe. Tp aku kenal ckp bnyk dokter yg mau mendengarkan keluhan pasien dgn sabar. Salah satunya mgkn Hendy kenal juga dokter Samuel Lazuardi? En ini juga ada nih Pak dokter Cahya Legawa (alo Cahya🙂 yg aku yakin bgt bakal pny bnyk pasien🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: