Skip to content

Kita Layak Dicintai — dengan benar

December 11, 2011

Angela, menangis di hadapan saya menceritakan Donny kekasihnya yang berselingkuh berkali-kali, lagi, lagi, dan lagi, selama kurang lebih tiga tahun hubungan mereka. Donny gemar dan pandai berbohong, meski belakangan selalu ketahuan juga, demikian tambahnya. Ia juga mengeluhkan Donny yang workaholic dan hampir tidak ada waktu untuknya (tetapi punya waktu untuk menemui perempuan lain).

Angela juga menceritakan bahwa semua sudah ia coba lakukan. Ia ajak Donny bicara, mencoba untuk mendiskusikan masalah-masalah di antara mereka, tetapi Donny hanya diam dan akhirnya yang terjadi hanyalah monolog. Hanya beberapa patah kata yang Donny ucapkan, bahwa ia meminta maaf, ia mencintai Angela, dan ia berjanji untuk memperbaiki diri.  Tiga tahun berlalu sudah, Donny tetap melakukan kesalahan yang sama.

Apa yang salah dengan saya? Demikian Angela bertanya. Saya membatin dalam hati : kesalahanmu hanya satu, bahwa kamu masih tetap bersama dia.

Angela hanyalah satu dari sekian banyak orang yang bertahan dengan pasangannya meski disakiti berulang kali. Saya percaya dalam sebuah relasi intim/personal, konflik pasti ada dan akan selalu ada karena menyatukan dua individu yang berbeda -bahkan sekalipun mungkin memiliki banyak kesamaan- bukanlah hal yang mudah. Tetapi prinsip dasar sebuah hubungan antara dua orang yang ‘mengaku’ saling mencintai adalah keinginan dan kepedulian untuk menjadikan dua belah pihak sama-sama dapat bertumbuh ke arah yang positif dan selanjutnya juga menumbuhkan hubungan itu sendiri.

Sayangnya tidak semua di antara kita beruntung memiliki pasangan yang mau atau setidaknya mau belajar memahami dan menerapkan prinsip dasar hubungan ini. Akhirnya yang terjadi adalah salah satu pihak lebih banyak berkorban, lebih banyak berkompromi, dan melakukan lebih banyak hal dibandingkan pasangannya untuk mempertahankan hubungan mereka. Hubungan pun menjadi tidak lagi seimbang; pasangan sama sekali tidak membawa dampak positif untuk pertumbuhan pribadi. Yang terjadi adalah kita berusaha keras untuk tidak terpuruk, untuk tetap menampilkan performa optimal di kantor meski baru saja berurai air mata, untuk tetap tersenyum menggandeng kekasih di depan teman-teman sementara dalam hati begitu galau.

Lebih disayangkan lagi, banyak di antara kita bertahan, bertahun-tahun, dalam hubungan yang tidak sehat ini. Berulang kali pasangan menyakiti, baik dengan perempuan atau pria  lain, dengan kecemburuannya yang berlebihan, dengan kata-katanya yang tajam menusuk, dengan sikapnya yang merendahkan, dengan ketidakpeduliannya, dengan tamparan atau tendangannya, dengan ancaman-ancamannya, atau bahkan dengan sikap diamnya seribu hingga jutaan bahasa.

Memperbaiki sebuah hubungan adalah tindakan mulia; saya sangat menghargainya, dan saya sangat mengharapkan setiap pasangan mau melakukannya. Ada hal-hal kecil dari pasangan kita yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipermasalahkan namun sering kali hal kecil ini mengganggu sebuah hubungan. Bukan saya tidak berempati dengan menyebutnya sebagai hal kecil sementara bagi mereka yang hidup dengan orang yang menampilkan hal-hal kecil itu terasa sangat mengganggu. Tetapi maksud saya di sini adalah untuk hal-hal tertentu, kita dituntut untuk sedikit saja lebih fleksibel menerima kekurangan pasangan kita.

Kita tidak dapat menganggap remeh sebuah hubungan, ketika menemukan sedikit ketidakcocokan lantas langsung memutuskan untuk berpisah. Jika demikian, kita tidak akan pernah belajar menjadi lebih dewasa dan tidak akan mengerti bagaimana sesungguhnya mencintai. Tetapi sebuah hubungan yang sehat juga tidak akan menuntut kita menjadi martir, menjadi penyembuh, menjadi pahlawan yang mengubah pasangan kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kita bertanggung jawab untuk kedewasaan diri kita tetapi kita tidak bertanggung jawab untuk menjadikan orang lain berubah menjadi lebih baik jika ia sendiri tidak mau belajar menjadi dewasa agar perkembangan mentalnya sesuai dengan usia kronologisnya.

Seorang suami sebut saja namanya Armand, sangat mencintai istrinya bernama Dina. Armand adalah laki-laki yang dapat dikatakan hampir sempurna. Ia setia, sabar, pintar, karirnya cemerlang, dll beberapa aspek positif yang ada pada dirinya. Hanya dua hal yang Dina keluhkan darinya : Armand tidak romantis dan tidak humoris. Dina menemukan dua hal yang tidak ada pada Armand ini ada pada William. Ia pun menjalin hubungan asmara dengan William, tentu secara sembunyi-sembunyi.

Suatu hari Armand mengetahui perselingkuhan Dina. Dina meminta maaf dan berjanji tidak melakukannya lagi meski ia menyalahkan ketidakromantisan Armand yang mendorongnya untuk berselingkuh. Armand mencoba untuk memperbaiki diri meski tidak mudah baginya tetapi ia mau berusaha bahkan ia mau menemui konselor perkawinan. Dina yang sudah telanjur jatuh cinta dengan William, tetap menemui William meski ia terus berjanji pada Armand untuk menjauhi William tiap kali Armand memergokinya sedang bersama William. Hidup Armand pun berubah. Aktivitas utamanya kini adalah mematai-matai istrinya. Tiap kali ia menemukan istrinya masih tetap bersama William, ia histeris dan menangis, mengancam akan menceraikan Dina, namun kembali memaafkan Dina yang selalu bimbang memilih antara dirinya dan William.

Dina adalah contoh individu yang tidak mau berusaha untuk menciptakan hubungan yang mesra dan harmonis. Ia mengira sebuah hubungan yang bahagia itu tidak perlu usaha, tetapi akan terbentuk secara otomatis antara dua orang yang mencintai. Ia ingin semua serba ada, serba siap. Ia tidak dapat menerima ketika suaminya begitu kaku dan tidak romantis. Bukan saya tidak berempati kepada Dina. Dari ceritanya saya dapat membayangkan betapa hubungannya dengan Armand begitu kering meski Armand adalah suami yang baik dan setia. Namun tidak mau bekerja untuk menciptakan keselarasan antara karakter Armand dengan relasi yang ia idamkan, menyesuaikan karakternya dengan karakter Armand, mempertemukan kebutuhannya akan keromantisan dengan sejauh mana Armand dapat berubah menjadi sedikit lebih romantis, adalah hal yang sangat saya sesalkan dari Dina.

Baiklah, kita tidak lagi perlu bicara tentang Dina dan Donny, mereka enggan untuk berubah. Armand dan Angela perlu menyadari bahwa dalam situasi seperti ini kuncinya bukan lagi pada pasangan mereka yang jelas-jelas tidak mau bersama-sama memperbaiki hubungan; kuncinya adalah pada diri mereka sendiri.

Ketika kita dihadapkan pada hubungan yang menyakitkan, hubungan yang hanya menimbulkan luka-luka emosional, hubungan yang hanya membuat kita menarik nafas dan mengurut dada, kita perlu berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan tersebut.

Kita sering kali merasa, meyakini, bahwa kita mencintai pasangan. Atas nama cinta, kita bertahan dalam sebuah hubungan yang menggerogoti kita secara mental. Tetapi apakah benar kita bertahan karena kita mencintai orang seperti itu? Apa ada yang salah dengan kita sendiri? Apakah benar kita tidak dapat hidup bersama dia atau kita tidak mau hidup tanpa dia? Mengapa? Kita khawatir dengan kesendirian? Kita khawatir dengan pandangan orang lain? Putus cinta di usia 30 tahun di saat orang-orang sekitar kita menuntut kita untuk menikah? Kita mengkhawatirkan anak-anak kita hidup dengan stigma perceraian orang tuanya sementara kita membiarkan mereka menyaksikan pertengkaran kita yang penuh caci maki dan kebencian? Atau sebenarnya kita sendiri yang takut dianggap gagal karena tidak berhasil mempertahankan hubungan?

Kita khawatir dengan ancaman-ancamannya? Anda mau terus hidup dengan ancaman-ancamannya sepanjang hidup Anda atau Anda mau sekali saja mengambil keputusan untuk menghadapi ancaman itu (yang sering kali hanya sekdar ancaman), diliputi ketakutan beberapa bulan karena dia masih terus mengancam setelah Anda mengambil keputusan, namun setelah itu Anda mendapatkan kembali kebebasan dan hak Anda untuk hidup dalam rasa aman?

Coba tanyakan kembali diri kita sendiri, apa yang sebenarnya membuat kita enggan untuk meninggalkan pasangan kita yang hanya dapat menyakiti kita? Apakah kita merasa bahwa biar bagaimanapun kita bahagia dengannya? Anda yakin bahagia hidup dengannya atau rasa cinta yang masih Anda miliki untuknya yang membuat Anda meyakini bahwa Anda bahagia? Anda tidak dapat hidup tanpanya atau Anda takut memulai kembali hubungan baru dengan orang lain, membayangkan adaptasi baru yang harus dilakukan dengan kekasih baru, teman-temannya, keluarganya, dsb? Anda khawatir bahwa dengan yang baru belum tentu akan menjalani hubungan yang lebih baik? Saya jadi ragu apakah Anda yakin bahwa Anda mencintai pasangan Anda atau Anda hanya merasa sudah terbiasa hidup bersama dia?

Ketika kita mencintai seseorang, kita seringkali merasa tidak yakin akan banyak hal karena cinta -katanya- membutakan. Namun satu hal yang selalu saya yakini, cinta itu memberi energi positif. Jika mencintai seseorang hanya membuat kita merasa lelah dan kehilangan energi, saatnya kita berpikir untuk memberikan cinta kita kepada orang lain yang lebih layak menerimanya : orang lain yang juga mencintai kita dengan layak. Karena kita layak dicintai- dengan benar.

3 Comments leave one →
  1. December 12, 2011 12:33 am

    Saya tahu bagaimana rasanya mempertahankan hubungan seperti itu, lebih dari semua hal yang menyakitkan, di sana ada rasa lelah yang luar biasa.

    Saya berkata pada diri saya, saya bisa memberikan berkali-kali kesempatan, dan lain sebagainya, meski entah sampai kapan. Tapi jika demikian, berarti saya tidak benar-benar mengasihi.

    Ketika saya menemukan kasih di dalam dirinya, namun dia ragu apakah menemukan hal yang sama dalam diri saya. Maka yang bisa saya lakukan adalah melepaskan, sehingga ia bisa melihat kembali dengan tanpa ikatan, karena itu adalah haknya untuk menemukan kehidupan dan cinta sebagaimana yang ia hendaki.

    Saya tidak bisa membuat segala hal dalam kehidupan serba sempurna, tidak juga bisa memberikan sebuah kebahagian yang sempurna, Namun ketidaksempurnaan itu yang saya rasa membuat kita menjadi manusia, sehingga kita bisa saling mengisi dan memahami. Yang biasa kita sebut, saling mencintai🙂.

    • Ester Lianawati permalink*
      December 12, 2011 1:45 am

      Thank you for sharing, dengan kalimat2 yg menyentuh ini..
      love the end of ur comment🙂

  2. santy permalink
    September 26, 2012 1:06 am

    Menjadi figuran dari kurangnya kerjasama pasangan menjalani hidup menjadi sebuah patokan ketika menjadi pemeran utama. Sayangnya teori yang berkembang tidak mudah diaplikasikan. Semua kembali ke pasangan itu, menjalani komitmen yang diputuskan bersama, jalan aspal atopun penuh kerikil tajam, tetap harus dilalui bersama dengan penuh tanggung jawab untuk mencapai sebuah titik yang disebut bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: