Skip to content

Mengenali pelaku KDRT

October 26, 2011

Ketika teman atau saudara kita mengalami KDRT, kita cenderung ingin  bertanya, kok bisa sih jadi korban, apa dulunya waktu pacaran tidak dapat mengenali bahwa dia kasar? Pertanyaan yang sepertinya wajar namun sesungguhnya tidak empatis karena dapat membangkitkan rasa malu dan merasa diri bodoh pada diri korban serta dapat membuat korban meyakini bahwa ia memang (juga) bersalah.

Perlu diketahui bahwa ada beberapa tipe pelaku KDRT. Ada yang memang sudah jelas terlihat perilakunya yang kasar sejak masa berpacaran. Semua orang di sekitarnya dapat mengenalnya sebagai pribadi yang agresif.  Ada pula pelaku yang bersikap manis, bahkan kadang terlalu menyenangkan. Jika mengenalnya lebih dekat, baru akan terlihat bahwa ia tidak semanis itu. Tentunya ada pula pelaku yang tampil ”normal”, tidak sedemikian manisnya namun juga tidak tampil sangat kasar. Memang membutuhkan waktu untuk mengenali pelaku KDRT, apalagi tipe kedua yang cenderung manipulatif.

Namun demikian, sebagian pelaku dapat dikenali dari beberapa ciri berikut. Jika menemui satu saja dari beberapa karakteristik berikut ini, jangan ragu untuk mempertimbangkan kembali hubungan Anda.

a)      Posesif, rasa memiliki yang besar terhadap pacar, pencemburu, dan sulit menerima jika pacar memutuskan hubungan

b)      Melarang atau membatasi pacar untuk melakukan kegiatan yang positif sekalipun. Alasannya biasanya tidak ingin pacar kecapaian atau ia merasa pacar kurang ada waktu untuk memperhatikannya.

c)      Menginginkan sebuah hubungan yang eksklusif, tidak mau jalan bareng dengan teman-teman, tidak mau terlibat dalam acara kebersamaan dengan keluarga, dsb.

d)     Menganggap dirinya yang paling benar, cenderung menganggap orang lain yang salah, memberikan perintah atau larangan, mengambil semua keputusan, tidak mempertimbangkan pendapat pacar secara serius

e)      Menakutkan. Anda sering merasa khawatir kalau-kalau ia akan marah atau mengamuk.

f)       Memaksa untuk melakukan hubungan seksual atas nama cinta

g)      Mudah tersinggung dengan orang lain yang dianggapnya tidak menyukainya atau curiga orang lain melakukan sesuatu yang jahat kepadanya

h)     Punya sejarah berkelahi, pernah kehilangan kontrol terhadap orang lain yang bertentangan dengannya atau menghalanginya

i)        Menggunakan alkohol atau obat-obatan terlarang dan memaksa kekasihnya untuk turut menggunakannya

j)        Menyalahkan pacar saat ia memperlakukan pacarnya dengan buruk. Ia mengatakan kekasihnya yang memprovokasinya, membuatnya hilang kesabaran, dsb.

k)      Menyalahkan orang lain atas semua kesalahannya

l)        Punya riwayat pacaran yang buruk dan menyalahkan mantan-mantan kekasihnya: “Perempuan tidak pernah memahami saya.”

m)   Meyakini bahwa laki-laki seharusnya memegang kuasa dan kendali sedangkan perempuan harus patuh dan menurut

Jika ada teman-teman yang ingin menambahkan, saya persilakan.

 

8 Comments leave one →
  1. October 27, 2011 9:48 am

    Sebenarnya saya ingin tahu sesuatu, misalnya pasangannya semasa pacaran baik, selama pernikahan pun baik, selalu mengalah dan tampak bijak. Tapi apa mungkin semua permasalahan yang berlalu itu dipendam saja dan melahirkan potensi KDRT dalam keluarga, apa ada pemicunya, atau sekadar mesti memiliki tanda-tanda seperti yang diuraikan di atas?

    • Ester Lianawati permalink*
      October 28, 2011 7:45 pm

      Hai Cahya, mgkn pertama2 kita bedain dl KDRT dgn konflik. Konflik bs terjadi dlm hub manapun, kdg2 pasangan bertengkar, meledak emosi, saling menyakiti, namun kita engga bs lgsg mengatakan bhw itu KDRT. KDRT itu melibatkan relasi kuasa, mksdnya ada hub yg tdk seimbang atr pihak pelaku dan korban, dgn pelaku mengontrol korban, korban cenderung takut thd pelaku. KDRTitu jg berpola, bersiklus, berulang. Pelaku menerapkan mekanisme seperti meminta maaf sehabis memukuli lalu menciptakan masa-masa tenang bahkan menyenangkan, setelah itu kembali kasar, dst.
      Kedua, hrs bedain jg bahasa psikologi dan hukum. Bisa saja pasangan yg ‘baik-baik’ aja, bertengkar biasa, dlm kategori ‘normal’, tiba2 salah satu pasangan meledak dan terjadilah tindak kekerasan. Secara hukum, kekerasan ini bs dikenai tindak pidana KDRT. Namun scr psikologis, ledakan emosi yg menghasilkan tindak kekerasan ini tdk bs lgsg disebut sbg KDRT.
      Biasanya kalau memang pacar berpotensi sbg pelaku KDRT, ia mulai kasar setelah bbrp minggu atau paling lama stlh bbrp bulan hidup bersama. Jd akan langsung ketauan kalau memang ia pelaku KDRT. Tmbhan lagi, biasanya pd saat pacaran jg akan terlihat dr bbrp karakteristik di atas, cm seringkali pasangan (perempuan) mentoleransi. Kalau tindak kekerasan yg terjadi berdasarkan ledakan emosi, cenderung tidak akan berulang. Pelaku benar2 menyesali, bahkan terkejut sendiri mengapa ia bisa memukul pasangannya. Biasanya utk ledakan emosi ini emang ada faktor pemicu, misalnya dlm keadaan lelah, stres kehilangan pekerjaan, tiba2 bertengkar dg istri, dan hal ini menyulut emosinya shg tiba-tiba tamparan melayang misalnya.

  2. November 4, 2011 5:21 am

    nice article…thanx for share…

    • Ester Lianawati permalink*
      November 4, 2011 10:21 pm

      sama-sama🙂

  3. March 22, 2012 1:36 pm

    trims artikelnya.dan memang betul,karena saya sendiri baru mengalaminya 1 tahun yang lalu,semoga tak terulang lagi.teliti dalam memilih pasangan. thanks

    • Ester Lianawati permalink*
      July 1, 2012 1:51 pm

      Trima kasih jg utk mbak Tuti, lega mengetahui mbak Tuti tdk lg bersamanya, sy doakan mbak menemukan pasangan yg mencintai mbak dgn cara yg tepat.

  4. Anonymous permalink
    September 11, 2012 6:44 pm

    Saya ingin bertanya ada tidak kaitan pelaku kdrt dengan masa kanak2nya..ntoh ada juga yang pada masa kecilnya baik2 saja bisa saja tumbuhnseperti itu bgitu pula sebaliknya..nthx

    • Ester Lianawati permalink*
      September 15, 2012 11:27 am

      Ada, anak yg melihat atau menerima kekerasan akan memiliki kecenderungan atau kemungkinan lebih besar untuk menjadi pelaku kdrt. Namun tiap anak bisa memaknai pengalaman kekerasan secara berbeda. Jadi pengaruhnya akan berbeda pada tiap anak, ada yang menjadi pribadi yang juga kasar, ada yang jadi tertutup/pendiam, dll. Selain itu, kita juga mengenal yang namanya resiliensi, bahwa tiap orang punya kemampuan untuk melewati peristiwa pahit dalam hidupnya, lebih dari sekedar kuat bertahan, karena ia bahkan dapat memaknainya secara positif. Individu yang memiliki daya resiliensi ini tidak akan tumbuh menjadi pelaku, ia bahkan bs bertumbuh jadi anak yang lebih sensitif dan peduli. Banyak faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak selanjutnya, misalnya apakah ia menemukan figur lain yang bisa ia jadikan contoh positif, apakah ia menerima cinta dari lingkungan lain atau dalam tahap perkembangan selanjutan, dst.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: