Skip to content

Memahami Peristiwa Traumatis dan Dampaknya terhadap Korban

August 15, 2011

Saya masih bisa memutar kembali peristiwa itu di benak saya. Suasana sepi mencekam di gang rumah saya. Tidak ada celoteh anak-anak yang biasa bermain di dekat rumah. Tidak ada suara langkah kaki tetangga yang biasa melewati depan rumah saya. Semua bersembunyi di dalam rumah masing-masing. Rasa takut mencekam saya, mendengar apa yang terjadi di luar sana. Berita demi berita yang kami dengar entah dari televisi atau radio atau teman yang menelepon semakin menambah kecemasan kami. Glodok terbakar, toko-toko orang Cina dijarah, dan yang semakin menggelisahkan saya: gadis-gadis Cina diperkosa. Saya masih bisa mendengar nafas berat ayah saya saat beliau mencoba untuk menenangkan kami, istri dan anak-anaknya. Raut wajah pucat ibu saya yang tampak jelas meski begitu putih bening kulitnya. Saya hanya diam, sebuah kesadaran menyentak saya saat itu: saya orang Cina.

Kami baru pindah ke perkampungan Cina di belakang Glodok dua tahun sebelum peristiwa berdarah Mei 1998 terjadi. Sebelumnya keluarga kami hidup berbaur di sebuah perkampungan yang masyarakatnya terdiri dari berbagai suku. Tidak ada yang mengingatkan kami tentang ke-cina-an kami. Sejak kecil saya bersahabat dengan teman-teman yang bukan Cina, demikian pula ayah dan ibu saya. Meski saya mengetahui bahwa saya berdarah Cina namun tidak pernah hal itu dipersoalkan. Akibatnya, identitas sebagai orang Cina, tidak saya rasakan menjadi bagian dari diri saya, dan tidak pernah menjadi suatu pembeda yang membangkitkan ketidaknyamanan. Sampai hari itu, sebuah peristiwa membawa pemahaman baru yang menggelisahkan saya. Identitas diri yang telah terbentuk tiba-tiba goyah. Hari itu untuk pertama kalinya saya punya kesadaran penuh: saya adalah gadis keturunan Cina. Sebuah identitas yang tidak hanya membuat saya merasa berbeda, merasa tidak nyaman, tapi juga membuat keselamatan saya terancam.

Tiba-tiba dalam keheningan yang mencekam itu, ayah saya terpikir untuk menuliskan di pintu rumah kami, “Rumah ini milik Muslim atau pribumi” seperti disarankan seorang sahabatnya. Namun kami berpikir tidak ada gunanya, toh kami tinggal di sebuah perkampungan Cina. Lagipula bukan keputusan mudah untuk menuliskannya meski dalam kondisi mendesak seperti itu. Itu bukan sekedar tulisan tanpa makna, tapi menyangkut masalah iman dan identitas, sungguh suatu pergumulan yang tidak mudah dalam suasana menekan seperti itu. Hari itu, bukan hanya kecemasan akan situasi menyeramkan yang melingkupi kami. Melainkan juga konflik batin mengenai iman dan identitas kebangsaan kami.

Mungkin kami masih bisa bernafas lega ketika hari-hari menegangkan itu berlalu, dan kami tidak menjadi korban. Rumah kami yang terletak jauh di dalam pasar tradisional, membebaskan kami dari keganasan massa. Namun saya harus merelakan kehilangan beberapa teman yang pindah ke luar negeri, tepatnya ke negara-negara yang mayoritas penduduknya berdarah Cina. Saya harus mendengarkan kisah-kisah teman yang keluarganya bangkrut karena toko dan atau rumahnya terbakar atau habis dijarah. Tidak sedikit pula di antara mereka yang mengalami stres berat, depresi, skizofrenia, bunuh diri, atau meninggal karena sakit-sakitan akibat stres. Meski tidak ada teman yang menjadi korban pemerkosaan, namun saya tahu banyak, bahkan terlalu banyak, gadis keturunan Cina yang mengalaminya. Dampaknya luar biasa mengubah hidup mereka dan keluarga, apalagi mereka yang sampai mengandung akibat pemerkosaan itu.

Perlahan, saya mulai menjalani hidup seperti biasa. Begitu pula dengan teman-teman lainnya. Perlahan mereka mulai bangkit, menata hidup ke depan, berusaha untuk tidak lagi melihat ke belakang. Namun kami sama-sama tahu, ada luka yang sulit sembuh, yang tidak hanya dirasakan oleh mereka yang menjadi korban, tapi juga yang tidak menjadi korban. Ada identitas yang terkoyak. Saya yang ratusan kali memberi hormat kepada bendera merah putih sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam setiap upacara bendera. Saya yang akan menjawab dengan yakin, ”Indonesia”, jika bertemu dengan orang asing yang menanyakan asal negara saya. Saya yang marah ketika seseorang mengatakan bahwa negara mereka belum mengakui kemerdekaan Indonesia sampai sekarang. Saya yang berbicara dalam bahasa Indonesia sejak mengucap kata pertama, dan bahkan tidak pernah dan tidak bisa bicara dalam bahasa Cina jenis apapun. Ternyata saya tidak diakui seutuhnya sebagai bagian negara ini. Saya diperlakukan secara berbeda dalam bentuk yang tidak menyenangkan. Saya tidak sama dengan etnis lain di negeri ini. Saya asing di tanah air saya sendiri. Saya punya identitas sendiri, yang berbeda, yang membuat saya tidak nyaman, yang membuat saya sewaktu-waktu terancam bahaya. Sekian tahun berlalu, ternyata masih pucat wajah saya, masih gemetar tubuh saya, masih cemas hati saya, tiap kali mendengar isu akan ada kerusuhan. Mengapa? Karena kini saya paham bahwa saya gadis berdarah Cina.

Kutipan di atas merupakan bagian dari artikel berjudul “Memahami Peristiwa Traumatis dan Dampaknya terhadap Korban” yang dimuat dalam buku Psikologi untuk Transformasi Sosial. Artikel ini mengulas kekerasan struktural, kekerasan dalam rumah tangga, dan peristiwa traumatis lainnya, dampak-dampaknya terhadap korban, serta faktor-faktor yang memengaruhi dampak ini. Singkatnya, tulisan ini didasarkan pada sejumlah pertanyaan reflektif:

§  Peristiwa seperti apakah yang dalam bayangan atau antisipasi kita merupakan peristiwa terburuk dan paling traumatis yang mungkin terjadi bagi diri sendiri? Mengapa? Apa kira-kira dampaknya secara segera, untuk jangka menengah dan jangka panjang?

§  Peristiwa traumatis yang melibatkan perbuatan orang/pihak lain umumnya lebih berdampak menyakitkan daripada peristiwa traumatis akibat peristiwa alam (misalnya bencana alam). Mengapa? Dampak apa saja yang mungkin dihayati bila kita mengalami peristiwa traumatis akibat tindakan-tindakan orang atau kelompok lain?

§  Bagaimana kita melihat kekerasan dalam rumahtangga dan kekerasan seksual yang dilakukan orang dekat? Apakah dampaknya berbeda dengan bentuk-bentuk kekerasan lain? Dapat dijelaskan lebih lanjut?

Buku “Psikologi untuk Transformasi Sosial” ditulis oleh Kristi Poerwandari, Cinintya Dewi, dan Ester Lianawati, dengan Kristi Poerwandari sebagai penyunting.  Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Pulih (pada tahun 2010), dengan dukungan ICCO Netherland. Buku ini berisikan kumpulan tulisan:

Pendahuluan Psikologi Untuk Transformasi Sosial

Dari Psikologi Personal Menuju Psikologi Politis

Rentan Sekaligus Lentur: Anak Menghadapi Peristiwa Traumatis

Memahami Peristiwa Traumatis dan Dampaknya pada Korban

Media Massa Meliput Peristiwa Traumatis: Antara ‘Do No Harm” dan Tuntutan Industri Media

Psikologi dalam Masyarakat Majemuk: Eksklusi Moral dan Konsep Hak-hak Asasi Manusia

Psikologi dalam Fase Kedaruratan Bencana

Hidup dalam Ketidakpastian: Menjadi Pengungsi di Negara yang Tidak Meratifikasi Konvensi

Konseling Pelaku KDRT: Melibatkan Laki-laki untuk Membangun Dunia Tanpa Kekerasan

Memadukan Psikologi dan Hukum untuk Tercapainya Keadilan

Tantangan Kerja Kemanusiaan dan Mekanisme Penguatan Kelembagaan

Bagi teman-teman yang membutuhkan buku ini dapat menghubungi Yayasan Pulih di 021-788 42 580.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: