Skip to content

Tinjauan Komprehensif terhadap Pelaku KDRT sebagai Dasar Rancangan Modul Intervensi Pelaku

July 25, 2011

Counseling of batterer or more commonly known as the batterer intervention is one form of additional punishment as stipulated in article 50 of The Law of the Elimination of Violence in the Family/Household. Unfortunately, this kind of punishment has never been given to the perpetrator. While in fact, the batterer intervention is not only important for the perpetrator himself, but also in the best interests of the victims and society in general. Therefore, the researcher considers the importance of creating a module of batterer intervention before psychologists can assist law enforcer to implement this punishment. Research has done on 6 batterers by reviewing their demographic and psychological characteristics, scope and form of violence, and their background. The findings support the feminist belief that the domestic violence rooted in the patriarchal culture. The findings also support the social learning theory that violence learned either directly or indirectly in the family and social environment. By referring to the findings, the researcher offers a basic design of the intervention module.

Keywords : Batterer intervention, Batterer, Social learning theory, Patriarchy

 

Dalam Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) No. 23 Tahun 2004, dituliskan pada pasalnya yang ke 50, mengenai konseling sebagai salah satu bentuk pidana tambahan yang dapat diberikan kepada pelaku KDRT. Namun sejauh ini belum ada hakim yang menjatuhkan pidana tambahan ini kepada pelaku. Hal ini dapat dipahami mengingat bentuk pidana tambahan ini masih baru dalam sistem hukum di Indonesia. Oleh sebab itulah, Kementerian Pemberdayaan Perempuan (KPP) berinisiatif mengadakan diskusi mengenai hal ini.

Dalam diskusi yang diadakan pada tanggal 26 November 2008 tersebut diputuskan perlunya sosialisasi kepada aparat penegak hukum dan mekanisme formal yang mengatur pidana tambahan ini. Termasuk dalam mekanisme ini adalah lembaga-lembaga rujukan yang dapat memberikan konseling terhadap pelaku. Meskipun sampai akhir diskusi belum ada kesepakatan mengenai mekanismenya secara jelas, diskusi ini telah merintis jalan untuk terlaksananya konseling pelaku yang merupakan bagian penting dalam upaya penanganan KDRT.

Peneliti menyambut baik hasil diskusi KPP karena dalam pandangan peneliti sendiri,  konseling pelaku diperlukan bukan semata karena adanya pasal 50 UU PKDRT. Ada tiga hal yang mendasari pemikiran peneliti. Pertama, sebagai psikolog, peneliti diajarkan mendiagnosis simtom-simtom bukan sekedar untuk melabel seseorang dengan gangguan tertentu. Melainkan justru membantunya untuk mengatasi simtom-simtom negatif itu agar ia menjadi pribadi yang lebih sejahtera.

Kedua, dalam pendampingan bersama korban, peneliti menemukan sebagian besar korban justru tidak menginginkan pelaku masuk penjara. Keinginan mereka adalah pelaku dapat berubah menjadi suami dan ayah yang baik, yang tidak lagi melakukan kekerasan. Dengan demikian, konseling pelaku akan menjadi bagian penting dalam upaya memenuhi kebutuhan dan harapan korban.

Ketiga, peneliti melihat bahwa konseling pelaku bukan semata untuk pelaku atau korban, melainkan untuk masyarakat. Dalam hal ini, konseling pelaku bersifat preventif untuk jangka panjang. Sekalipun korban tidak lagi bersama pelaku, akan sangat mungkin ada korban-korban selanjutnya dari pelaku yang sama. Interaksi pelaku dengan masyarakat pascaproses hukum akan membuka peluang terjadinya pola kekerasan berulang meski pada korban yang berbeda.

Oleh karena itu, peneliti kira selain memikirkan mekanisme hukum mengenai konseling pelaku, diperlukan pula modul konseling yang kelak dapat digunakan oleh psikolog atau tenaga lain yang berkompeten. Untuk dapat membuat modul konseling, tentunya perlu dipikirkan bentuk konseling yang tepat bagi pelaku. Untuk dapat menentukan bentuk konseling yang tepat diperlukan pemahaman yang komprehensif mengenai pelaku. Oleh sebab itu, peneliti bermaksud melakukan penelitian terhadap pelaku KDRT yang diharapkan hasilnya dapat menjadi dasar pembuatan modul konseling untuk pelaku.

-Teman-teman yang membutuhkan hasil penelitian ini dapat menghubungi saya di esterlianawati@yahoo.com-

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: