Skip to content

We All Need Holidays

July 17, 2011

We all need holidays

-WH Davies-

 

Berapa kali Anda berlibur dalam satu tahun? Satu atau dua kali karena jatah cuti yang umumnya hanya 12 hari dalam setahun? Bagaimana Anda berlibur? Meliburkan diri saat anak-anak libur sekolah agar tidak dobel libur, memanfaatkan saat dinas kantor? Apa yang Anda rasakan saat liburan? Senang tapi juga pusing memikirkan pekerjaan yang menunggu di kantor? Atau Anda malah jatuh sakit saat sedang liburan? Bagaimana sehabis liburan? Merasa segar kembali tapi hanya sebentar karena yang mendominasi adalah stres pasca liburan atau bahkan sama sekali tidak disegarkan oleh liburan?

Jika Anda menjawab iya pada salah satu pertanyaan di atas, welcome to the club. Anda tidak sendirian! Banyak dari kita mengalami hal sama. Dalam masyarakat kita yang boleh dikatakan giat bekerja, liburan menjadi barang langka. Jatah cuti yang terbatas atau banyaknya pekerjaan membuat kita tidak dapat menikmati liburan. Pikiran terus terbang ke pekerjaan yang menunggu. Atau liburan jadi berantakan karena jatuh sakit akibat bobolnya pertahanan tubuh setelah sekian lamanya stamina tubuh melemah karena bekerja terlalu keras. Ketika libur usai, kita juga malah stres menghitung banyaknya pengeluaran. Belum lagi harus menghadapi tumpukan pekerjaan yang sudah di depan mata. Lha liburan kok malah jadi menyiksa begini ya?

 

Mental Liburan

 

Mungkin kita menyalahkan jatah cuti yang bisa dibilang sedikit dibandingkan negara-negara Eropa. Kalau cuti kita ala Eropa, kurang lebih lima minggu dalam setahun, pasti akan jauh lebih mudah merencanakan liburan dan otomatis dapat berlibur lebih sering. Hmm, berhentilah mengeluh, dan bersikap realistis. Butuh waktu tentunya untuk mengubah kebijakan lamanya cuti dan bukan itu yang hendak kita bicarakan. Secara psikologis, persoalannya bukan terletak pada jatah cuti, tetapi apakah kita memiliki “mental” liburan? Maksudnya apakah kita memang memiliki keinginan berlibur dan dapat menikmati saat liburan?

 

Mungkin Anda berpikir ini pertanyaan bodoh. Tentu semua orang ingin berlibur. Eits, tunggu dulu. Banyak orang yang kecanduan kerja (workaholic) yang sepertinya tidak membutuhkan liburan. Hidup hanyalah untuk bekerja bagi orang-orang ini. Kalaupun mereka mengambil liburan, mereka seperti tergesa-gesa saat berlibur, seperti dikejar-kejar untuk segera mengakhiri. Mungkin kita tidak merasa jadi pecandu kerja. Mungkin kita mengatakan bahwa tuntutan pekerjaan yang telah membuat kita tidak dapat memikirkan liburan apalagi menikmatinya. Mungkin. Tapi bila memang itu yang Anda rasakan, dengan berat hati harus saya katakan bahwa Anda belum memiliki ‘mental’ liburan.  Pentingkah memiliki ‘mental’ liburan ini? Kita akan bahas lebih lanjut hal ini.

 

Mitos Liburan

 

Selain persoalan ‘mental’ liburan, yang sering kali menghambat kita mengalami liburan yang menyenangkan adalah kita meyakini mitos-mitos tertentu mengenai liburan. Pertama, mitos bahwa yang namanya liburan hanya ketika libur panjang. Mitos tentu tidak benar. Kita tidak akan pernah merasakan liburan jika kita membatasi liburan hanya ketika libur panjang. Seberapa panjang? Kualitas liburan tidak ditentukan oleh lamanya liburan. Sebuah penelitian psikologi mengungkapkan bahwa satu minggu sudah cukup untuk sebuah liburan “panjang”. Satu minggu adalah titik jenuh rata-rata kala manusia sudah ingin kembali kepada rutinitas setelah menikmati suasana berbeda saat liburan. Warga Jakarta mungkin membayangkan betapa indahnya pantai Belitung, dan ingin berlama-lama di sana. Tetapi berapa lama mereka terlena mendengar debur ombak tanpa rindu pada kemacetan jalan raya ibukota. Sebaliknya, saudara-saudara kita di Belitung mungkin sangat ingin berkunjung ke Jakarta. Tapi berapa lama mereka ingin menatap Monas tanpa merindukan pasir putih pantainya?

 

Kedua, liburan yang sejati itu harus pergi ke luar negeri atau minimal luar kota. Mitos ini dapat dipadukan dengan mitos ketiga bahwa liburan itu mahal atau harusnya mahal, untuk dapat menghambat kita memikirkan ide-ide liburan indah dengan budget rendah.

 

Belakangan ini kita semakin kehilangan rasa cinta tanah air karena terus menerus mengacu kepada luar negeri untuk segala macam hal termasuk liburan. Tentu tidak ada salahnya jika kita ingin berlibur ke negara lain jika keuangan, waktu, dan kondisi-kondisi lain memungkinkan. Sayangnya cukup banyak di antara kita yang ingin berlibur ke luar negeri untuk sekedar gengsi. Sementara wisatawan asing sangat mengagumi keindahan Indonesia dan bahkan ingin kembali berlibur ke sini tanpa kehilangan gengsi mereka. Jadi jika kita berpikir bahwa liburan itu harus ke luar negeri, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri sudahkah kita mengenal indahnya alam dan keragaman budaya negeri sendiri?

 

Bahkan jika kondisi tidak memungkinkan untuk berlibur ke luar kota, bukan berarti kita tidak dapat menikmati liburan lho. Ide liburan sangat beragam, kita dapat dengan menemukan ide-ide ini jika tidak terpaku pada mitos keempat: liburan sama dengan bersenang-senang dan memuaskan keinginan diri. Inilah mitos yang sering membuat kita kehilangan kendali diri saat liburan. Kita bersantap apa saja tanpa memikirkan kesehatan. Kita habiskan uang tanpa berpikir. Kita mentoleransi tindakan impulsif ini atas nama liburan. Akibatnya kesehatan memburuk, pengeluaran membengkak, dan akibat lebih lanjut adalah stres pascaliburan.

 

Manfaat Liburan

 

Padahal liburan seharusnya membawa dampak positif bagi kesejahteraan mental. Liburan yang sehat akan menyegarkan jiwa dan kita pun kembali ke kegiatan sehari-hari dengan semangat baru. Karena liburan menjauhkan diri kita dari tuntutan pekerjaan sehingga mengistirahatkan otak dari mekanisme berpikir yang rumit. Liburan juga membawa fungsi penyegaran secara sosial (social recharge) dengan mendekatkan kita pada keluarga atau teman-teman yang sering terabaikan karena kesibukan sehari-hari.

 

Secara khusus dari aspek kesehatan emosional, berlibur memberi banyak peluang bagi kita untuk mengalami pengalaman puncak (peak experience). Bayangkan saat kita menatap matahari terbenam dan dalam hitungan detik kita merasakan kekaguman luar biasa dengan keindahan langit kala senja. Saat itu kita sudah mengalami pengalaman puncak. Pengalaman-pengalaman semacam ini diyakini Abraham Maslow, penggagas psikologi humanistis, penting untuk kematangan emosi.

 

Masih dari segi emosi, liburan memberi kesenangan. Terkait dengan hal ini, para pakar psikologi positif mengacu kepada teori anticipal pleasure  yang dikemukakan ekonom William Stanley Jevons pada awal abad 20. Mereka mengungkapkan bahwa kesenangan yang didapat dari berlibur sebenarnya sudah dimulai sejak kita merencanakan liburan. Kepuasan ini semakin terasa menjelang harinya tiba dan mencapai puncaknya pada hari pertama liburan. Kenikmatan-kenikmatan seperti ini berpadu dengan ekstasi yang kita rasakan saat sedang liburan dapat memperkaya sekaligus menyeimbangkan aspek-aspek emosional kita.

 

Seperti yang dikatakan filsuf Yunani, Epicurus, tidak mungkin manusia dapat  memiliki hidup menyenangkan tanpa hidup bijak dan melakukan hal-hal bermakna. Begitu juga sebaliknya, manusia tidak mungkin memiliki hidup bermakna tanpa mengalami kesenangan-kesenangan diri dalam dalam hidup. Karena dalam hidup yang penting adalah menyeimbangkan keduanya, hidup yang bermakna (eudaimonia) dan kesenangan (hedonisme). Dengan cara tertentu, liburan adalah bentuk keseimbangan antara keduanya. Jika kebahagiaan menurut Thomas Merton, penyair yang juga biarawan, adalah persoalan harmoni dan keseimbangan, maka liburan pun menyumbang terhadap kebahagiaan kita.

 

Oleh sebab itu, sering-seringlah liburan. Mungkinkah? Di sinilah pentingnya “mental” liburan. Jika kita memiliki mental liburan, kita dapat berlibur setiap hari, tidak perlu menunggu waktu libur panjang, tidak perlu menghitung jatah cuti. Bagaimana caranya?

Kita dapat melakukan apa yang dinamakan Fred B.Bryant dan Joseph Verrof, keduanya pakar psikologi positif, sebagai liburan harian. Liburan harian ini penting untuk keseimbangan hidup setiap harinya. Caranya juga mudah. Siapkan waktu sekitar 30 menit per hari untuk memanjakan diri dengan sekedar duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi panas, membaca buku favorit, atau membeli jajanan pasar yang sudah lama tidak dicicipi. Daftar ini dapat Anda tambahkan sendiri. Rencanakan setiap hari apa yang hendak Anda lakukan besok untuk berlibur singkat. Jangan lupa, kenikmatan liburan sudah dapat kita rasakan sejak merencanakannya.

 

 

–Agar Terhindar dari  Stres  Pascaliburan

 

  • Jika hendak melakukan liburan panjang, persiapkan dengan matang termasuk anggarannya. Untuk yang satu ini, siapkan dengan cukup detil, termasuk mempersiapkan biaya tak terduga.

 

  • Jangan ragu mengerem diri dan anak-anak bila sudah melampaui budget di tengah-tengah liburan.

 

  • Jika kondisi keuangan tidak memungkinkan, tidak perlu berhutang sana-sini atau mengandalkan kartu kredit untuk liburan.  Banyak ide liburan menarik yang murah meriah.

 

  • Siap-siap adanya perbedaan pendapat dengan anggota keluarga atau teman-teman saat liburan. Sebaiknya sudah disepakati sedari awal beberapa hal penting seperti pilihan objek wisata yang hendak dikunjungi.

 

  • Jika Anda merasa sulit mentoleransi perbedaan karakter, sebaiknya berlibur hanya dengan teman-teman yang sudah Anda kenal dengan baik. Liburan dapat menimbulkan stres dan menciptakan hubungan yang tidak baik ketika Anda kesulitan beradaptasi dengan karakter teman-teman baru.

 

  • Kenali lingkungan yang akan Anda kunjungi, misalnya sedang musim apa daerah tersebut pada saat ke sana. Dengan demikian Anda dapat mempersiapkan pakaian yang tepat atau hal-hal lain yang diperlukan.

 

  • Jaga kesehatan selama liburan. Jangan menyantap makanan yang seharusnya dipantang hanya karena sedang liburan. Sedapat mungkin jangan mengubah jadwal makan dan tidur karena dapat menganggu ketahanan tubuh.

 

  • Persiapkan diri dengan obat-obatan yang biasa dikonsumsi dan perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan.

 

Ide Liburan Tanpa Menguras Kantong

 

Liburan tidak harus menghabiskan puluhan juta rupiah dengan pergi ke negeri tetangga, apalagi tetangga jauh J. Lihat di sekitar kita, masih banyak tempat yang belum kita kunjungi. Berikut ini beberapa ide liburan :

  • Liburan ilmiah seperti mengunjungi museum.
  • Liburan kreatif seperti mengambil kursus singkat memasak atau melukis.
  • Liburan sosial seperti mengunjungi panti asuhan atau panti wreda.
  • Liburan alam, dengan berlibur ke alam terbuka seperti perkebunan teh, kebun raya, kebun binatang, pemancingan, atau peternakan.

Versi yang sudah diedit dapat dilihat di Intisari edisi Juli 2011. Terima kasih selalu untuk Bang Icul, untuk kesempatan dan editannya🙂

4 Comments leave one →
  1. July 18, 2011 1:24 am

    Kadang jika saya pulang pergi Jogja – Bali, ada banyak turis asing yang juga ikutan naik bis buat liburannya.

    Saya juga kadang berpikir bagaimana mereka bisa berencana meliburkan diri jauh-jauh bulan sebelumnya, sementara kita di sini bahkan jarang sekali memiliki ide untuk melancong.

    Ada juga yang bahkan selesai dari pekerjaannya dan berkeliling dunia selama satu atau dua tahun, dan setelah itu baru kembali mencari kerjaan baru. Mengagetkan memang, tapi mungkin itu tidak banyak yang demikian.

    Di Indonesia nyaris sulit sekali jika ingin berlibur panjang, meski dibilang jatah cuti ada 2 minggu, tapi belum tentu bisa diambil semua, kadang hanya 2 – 3 hari berturut-turut saja, bahkan seringkali tidak bisa diambil di waktu tertentu, misalnya pada awal bulan, saat bosnya bilang kerjaan lagi banyak-banyaknya😀.

    Yah, inilah negeri kita.

    • Ester Lianawati permalink*
      July 19, 2011 10:54 pm

      Iyaaa bener,
      di sini malah aku ketemu teman yg bisa tiga bulan lebih ambil cuti di luar tanggungan utk jalan2 ke negara lain.
      ya udah kita mah praktikin liburan harian aja utk smntr hehe

  2. hendi permalink
    July 27, 2011 9:50 am

    TOP artikelnya,sy setuju sekali…klo ngga percuma aja kita merdeka, tapi dipenjarain oleh diri sendiri…orang sini kayanya keseringan mikirin duit kali, jadinya takut buat meliburkan diri..hehehe…sukses buat karirnya & Tuhan memberkati !🙂

    • Ester Lianawati permalink*
      August 15, 2011 12:02 pm

      makasih, Hendi. sukses jg buat km ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: