Skip to content

Perubahan? Hadapi dan Nikmati Saja

April 18, 2011

Sesuatu yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.

Apa saja yang sudah anda alami dalam beberapa bulan belakangan ini? Adakah yang putus cinta setelah bertahun-tahun menjalin hubungan? Atau sebaliknya, jatuh cinta setelah bertahun-tahun menjomblo? Ada yang baru menikah?  Pergantian pimpinan, atau mutasi tugas ke instansi lain yang jaraknya relatif agak jauh dibanding tempat kerja sebelumnya?

Suatu peristiwa jika terjadi pada diri kita, otomatis akan membawa kita pada kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Kita menyebutnya sebagai perubahan. Tidak semua orang menyukai menyukai perubahan sebab perubahan membutuhkan penyesuaian. Masa-masa penyesuaian bukanlah hal yang menyenangkan bagi kebanyakan orang, meski untuk perubahan yang terkesan positif sekalipun.

Promosi jabatan misalnya, peristiwa yang ditunggu-tunggu. Tetapi bukan berarti tidak membawa konsekuensi yang butuh penyesuaian. Tanggung jawab jelas bertambah. Pasangan mengeluh karena merasa terabaikan. Ditambah lagi kekikukan memberi tugas kepada rekan yang kini menjadi stafnya, apalagi staf yang usia atau masa kerjanya lebih lama…

 

Jadi bisa dibilang hukum pertama adalah bahwa perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Hukum kedua adalah perubahan butuh penyesuaian.

Adakah orang yang tidak berhasil melewati masa-masa penyesuaian ini ? Tentu ada. Cukup banyak mahasiswa drop out, padahal sebelumnya terkenal pandai di sekolah. Pasangan jadi sering bertengkar setelah kehadiran anak pertama. Suami mengeluhkan istri tidak lagi perhatian sementara istri kecewa karena suami terlelap meski anak menangis tengah malam. Kita juga mengenal istilah gegar budaya (culture shock) yang dialami orang yang terkaget-kaget begitu tiba di negeri asing. Ada yang tetap saja gegar meski sudah melewati batasan waktu adaptasi rata-rata yang dibutuhkan kebanyakan orang.

Tetapi kabar baiknya adalah banyak orang yang sukses lho melewati masa-masa ini. Sukses dalam arti sebenarnya. Mungkin perlu kita bedakan terlebih dahulu istilah adaptasi (adaptation) dan penyesuaian (adjustment) sekalipun dalam bahasa Indonesia adaptasi juga sering diartikan sebagai penyesuaian. Adaptasi adalah proses mengubah perilaku seseorang untuk disesuaikan dengan tuntutan situasi. Sedangkan penyesuaian adalah pengalaman atau perasaan yang sifatnya subjektif/personal berkenaan dengan upaya adaptasi yang dilakukan.

Orang yang berhasil melakukan adaptasi belum tentu berhasil melakukan penyesuaian. Ia memang mengubah perilakunya untuk memenuhi tuntutan situasi tetapi tidak demikian dengan hatinya. Ia cenderung tertekan dan banyak mengeluh. Sedangkan orang yang berhasil melakukan penyesuaian, ia tidak merasakan adaptasinya sebagai siksaan. Setiap perilaku adaptif yang ia lakukan justru memberinya semangat untuk terus mengikuti aliran prosesnya.

Tetapi baiklah, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Karena hukum ketiga terkait dengan perubahan: adaptasi dan penyesuaian adalah sebuah proses, dan proses membutuhkan waktu. Kita juga tidak harus memaksa diri untuk langsung berhasil melakukan penyesuaian. Adaptasi adalah langkah awal, berhasil melakukannya dapat mempercepat proses penyesuaian asalkan kita paham cara memaknainya. Tetapi memang ada hal-hal yang harus diperhatikan untuk memperlancar kedua proses ini.

Pertama-tama, yakinlah bahwa beradaptasi dan menyesuaikan diri merupakan kemampuan alamiah kita. Sang Pencipta sudah melengkapi kita dengan sistem kekebalan psikis yang menakjubkan. Coba ingat-ingat mungkin Anda pernah sehabis berjalan keliling mal, saat Anda duduk, Anda baru merasakan betapa pegalnya kaki. Mengapa tidak terasa sebelumnya? Mungkin Anda begitu semangat sampai tidak merasakan lelah. Ini bukan sekedar persoalan stamina tetapi ini contoh sederhana bahwa manusia memiliki kekuatan psikologis untuk mengatasi tekanan asalkan termotivasi untuk melakukannya. Hanya saja kita sering mengabaikan kekebalan ini, kecenderungan yang dinamakan immune neglect.

Kedua, mungkin untuk dapat meyakinkan lagi bahwa kita mampu, tahukah Anda bahwa hidup manusia mengikuti hukum regresi ke arah rata-rata? Maksudnya manusia tidak akan selalu sangat sedih atau selalu sangat senang. Pengalaman hidup manusia jika diakumulasikan jumlahnya justru akan mendekati rata-rata. Kenyataan ini sungguh sangat menghibur pada saat kita dalam proses adaptasi. Kita bisa berkata pada diri sendiri,” Tenang, masa-masa sulit akan segera berakhir.”

Ketiga, tubuh manusia mengenal mekanisme de-sensitisasi. Maksudnya kita tidak sensitif lagi terhadap sesuatu hal setelah terpapar terus menerus pada hal itu. Lama-lama kita terbiasa dengan keadaan baru meski awalnya keadaan itu sangat mengganggu. Contoh, kita menderita karena baru saja putus cinta. Jelas saja kondisi tanpa si dia sangat menyakitkan setelah sebelumnya selalu bersama. Tetapi percayalah lama-lama kita akan terbiasa dengan situasi ini, dan hip hip hura saatnya menemukan yang baru😉.

Keempat,  coba lihat orang lain yang sudah pernah mengalami hal yang kurang lebih sama dan berhasil melewati masa adaptasi. Apa yang dinamakan Leon Festinger, psikolog sosial kelahiran New York, sebagai perbandingan sosial ke atas (upward social comparison) ini terbukti efektif meningkatkan rasa percaya diri bahwa kita juga bisa berhasil seperti orang lainnya.

Kelima, stop pikiran negatif yang memang tidak akan berhenti jika tidak dihentikan karena semua tergantung diri kita sendiri.

Keenam, carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum perubahan itu terjadi, baik sisi positif maupun negatif dari perubahan yang tersebut. Seorang calon ibu perlu mengetahui bahwa bayi mungilnya tidak akan selalu menggemaskan. Ia harus paham bahwa sang bayi ada kalanya akan menjengkelkan atau proses menyusui bisa jadi menyakitkan. Dengan demikian, tingkat keterkejutan tidak akan terlalu tinggi. Bahkan informasi-informasi ini dapat digunakan untuk memasuki tahap berikutnya yaitu mempersiapkan diri.

Ketujuh, persiapan diri merupakan hal yang sangat penting. Setidaknya dapat mengurangi tekanan yang pasti ada dalam setiap perubahan. Pasangan yang mau memiliki anak sudah harus mempersiapkan dana tambahan. Orang yang mau menetap di negara lain sebaiknya menguasai level percakapan dasar bahasa resmi negara tersebut. Jika tidak, kendala komunikasi akan memperberat proses adaptasi.

Kedelapan, carilah informasi ketika perubahan sudah terjadi. Tidak semua perubahan dapat kita antisipasi, sering kali dalam hidup terjadi peristiwa tidak terduga. Atau mungkin juga kita telanjur tidak melakukan langkah keenam dan ketujuh. Jika ini terjadi, pencarian informasi saat perubahan sudah terjadi masih tetap dapat dilakukan.

Kesembilan, lakukan apa yang harus dilakukan, jangan menghindar, jangan menunda, agar tidak memperparah keadaan. Pada akhirnya toj tetap harus dikerjakan. Satu hal yang perlu kita ingatkan pada diri sendiri adalah bila memang tidak ada pilihan lebih baik selain melakukannya, maka mulailah melakukan.

Kesepuluh, carilah dukungan teman-teman dan keluarga. Atau bila perlu carilah kelompok dukungan, yaitu kelompok orang yang mengalami hal sama. Kehadiran orang lain dapat menghibur dan menguatkan, meski mereka sekedar mendengarkan. Apalagi berada dengan kelompok orang yang mengalami hal yang sama, perasaan dimengerti dan saling berbagi tips-tips berdasarkan pengalaman pribadi, akan membantu kita melewati masa-masa sulit.

Sampai di sini, kita sudah berhasil melakukan adaptasi dan dapat lanjut ke tahap penyesuaian. Mulailah dengan berbangga pada diri sendiri karena sudah mampu beradaptasi meski belum dapat menikmati. Menurut Morita Masatake, psikoterapis Jepang yang pertama kali menggagas psychology of action, melakukan suatu tindakan adaptif dalam kondisi tertekan patut diacungi jempol. Kita pantas menangis bila kehilangan anggota tubuh, ini sangat manusiawi. Tetap beraktivitas di tengah airmata, jelas menunjukkan kekuatan kita.

Fokus Pada Keindahan

 

Sekarang saatnya kita sampai pada tahap puncak yang menjadi hukum keempat: nikmatilah perubahan. Pada hari-hari pertama mungkin akan sulit tetapi cobalah temukan keindahannya. Akan lebih mudah menikmati perubahan jika ada keindahan di dalamnya. Menurut psikolog dari Loyola University Chicago, Fred B. Bryant, manusia memiliki savoring, yaitu kapasitas untuk menikmati, memberi perhatian, menghargai, yang dengan sendirinya akan memperkuat rasa indah pada peristiwa positif yang dialami. Bryant memang hanya bicara mengenai peristiwa positif. Namun keindahan itu tentu bisa kita ciptakan sendiri, tidak terbatas pada pengalaman menyenangkan. Sama seperti halnya kita bisa mengabaikan yang indah karena berfokus pada yang tidak indah, kita juga bisa memberi perhatian pada yang indah meski di tengah kondisi baru yang tidak indah.

Kita bisa menikmati kemandirian ketika tidak lagi hidup bersama pasangan. Sama halnya dengan kita menikmati kebersamaan saat berubah status dari lajang menjadi suami/istri. Kita jadi tahu arti kekuatan keluarga justru ketika sama-sama mengasuh anak yang mengalami autism. Kita bisa menikmati hubungan yang lebih mesra dengan pasangan setelah saling introspeksi diri pascapengkhianatan. Kita juga bisa menikmati kebebasan dan kesempatan memanjakan diri ketika anak-anak tumbuh menjadi dewasa dan tidak lagi tinggal bersama kita. Memang ada yang berubah, situasinya tidak lagi sama, tetapi bukan berarti menjadi lebih buruk bukan?

Perubahan, ketika ia datang, hanya perlu dihadapi, dan tentu saja dinikmati. Agar semua yang indah dari kondisi yang berubah bisa membungkus rapat bagian yang tidak indah.

–Bang Icoel, terima kasih udah kasi kesmptan kpd saya utk menulis, en terima kasih utk sll mengeditnya jd tulisan yg lbh baik dgn judul yg lbh mantap, pastinya🙂

2 Comments leave one →
  1. April 18, 2011 5:37 am

    Saya rasa ada beberapa sederhana yang saya rasa tidak begitu menimbulkan kendala, misalnya perubahan jalur ke tempat kerja. Tapi ada perubahan yang benar-benar memerlukan upaya luar biasa, misalnya kehilangan nyaris segalanya pasca bencana alam. Untuk yang pertama saya rasa bisa-bisa saja dikatakan tidak masalah untuk menikmati saja, tapi untuk yang kedua – saya rasa tidak etis meminta orang untuk “menikmati” kondisi itu. IMHO.

    • Ester Lianawati permalink*
      April 23, 2011 6:02 pm

      Makasih bgt masukannya, mas Cahyo. Aku jd “ngeh” ada yg engga pas. Di tulisan ini kesannya aku menggeneralisasikan smua perubahan, tp dgn kata “saja” hny mengacu pada perubahan ‘ringan’, en kata saja emang engga tepat utk perubahan yg memang memerlukan upaya luar biasa -mengutip kalimat mas Cahyo-. Kesannya sangat memudahkan, en gak berempati dgn kesedihan yg sdg dialami.
      Utk kata menikmati itu sndr, mgkn terkesan engga etis krn kita telanjur melekatkan kata menikmati dgn unsur kesenangan. Tp sbnrnya yg dimksdkan dgn kelompok psikolog/psikoterapis dlm hal ini adalah saat kita mengalami perubahan yg sgt berat/sgt menyedihkan, kita diharapkan bljr menikmati kondisi itu tanpa kehilangan “hak” utk merasa sedih. Tp jd masukan utkku menata klmt dgn lbh baik. thx again ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: