Skip to content

Memadukan Psikologi dan Hukum untuk Tercapainya Keadilan

April 15, 2011

Dalam sebuah persidangan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), seorang hakim bertanya, ““Anda masih berhubungan seks dengan suami setelah peristiwa itu?” Pertanyaan ini diajukannya kepada korban yang ditembak pahanya oleh suaminya dengan menggunakan air soft gun. Tergagap korban menjawab pertanyaan hakim dengan jawaban iya. Hakim kemudian mengajukan pertanyaan lain yang senada, ”Apakah Anda masih sekamar dengan suami setelah peristiwa penembakan itu?” Sungguh pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyenangkan untuk didengar. Pertanyaan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan, seolah sudah ditembak tapi masih mau berhubungan seksual dengan si penembak.

Hakim sepertinya tidak memikirkan perasaan korban yang terluka dengan penembakan itu tetapi harus tetap tidur bersama dalam suatu kamar. Mungkin saja kamar itu merupakan tempat satu-satunya korban dapat tidur dengan alas yang nyaman. Sangat mungkin pula korban takut dengan pelaku yang adalah suaminya, yang secara normatif harus dipatuhinya, apalagi suami ini baru saja menembaknya. Hakim juga mungkin tidak menyadari bahwa sekian lama seksualitas perempuan ditabukan. Mengangkatnya ke dalam sebuah persidangan yang disaksikan umum tampaknya bukan tindakan yang bijak.

Simak juga petikan percakapan berikut ini antara hakim dengan seorang saksi dalam sebuah kasus perceraian :

Hakim : Terus apa lagi yang saksi liat? Yang masalah Yang masalah gundul-gundul kepala tau ndak?

Saksi:  (lama menjawabnya) Tau

Hakim :Ya iya kenapa engga ngomong? Kenapa, apa, kapan peristiwanya?

Saksi   :Bulan Mei juga, pak.

Hakim :Bulan Mei?

Saksi   :Iya

Hakim :Siapa yang dicukur kepalanya?

Saksi   :Ini, adik saya (menengok ke arah Mbak Us).

Hakim :Sampe habis rambutnya atau masih sisa?

Saksi   :Masih ada engga ya (berpikir sejenak)

Hakim :Liat atau engga liat? Saudara engga liat?

Saksi   :Saya engga liat secara pasti

Hakim :Sebentar, saudara tidak liat?

Saksi   :Iya…begitu deh pokoknya digundulin.

Hakim :Saudara ndak liat?

Saksi   :Ya…

Hakim :Bukan, aduh, gimana sih saudara udah disumpah nih puasa-puasa!

Saksi   :Ya, saya kan engga begitu memperhatikan gitu, Pak.

Hakim :Kita tidak tahu saudara tidak liat proses digundulkan atau tidak tau. Tapi yang jelas dia sudah digundulin gitu?

Saksi   :Iya, begitu

Hakim :Saudara tanya sama Ima nya?

Saksi   :Engga.

Hakim :Engga tanya? Lho, masa ada perempuan gundul?

Kami mengamati hakim berbicara dengan nada yang tegas dari awal hingga akhir persidangan. Saksi tampak gentar mendengarnya dan menjadi ragu-ragu dalam menjawab. Melihat keragu-raguan saksi, hakim semakin marah dan menegur saksi cukup keras. Berikutnya seorang saksi lain maju dan semakin menimbulkan kebingungan hakim. Saksi ini semula begitu bersemangat menceritakan kepada kami mengenai tindakan pelaku terhadap korban di ruang tunggu sebelum sidang dimulai. Namun setelah menyaksikan adegan antara hakim dengan saksi sebelumnya, ia kehilangan kata-kata. Hanya dua kalimat singkat yang diucapkannya, “Saya tidak tahu apa-apa. Saya tidak melihat apapun.” Lantas mengapa saksi ini dipanggil, demikian hakim bertanya. Seandainya hakim menyadari bahwa caranya bertanya telah mengecilkan hati saksi ini.

Psikologi dan Realisme Hukum

 

Hukum berlandaskan objektivitas dan oleh karenanya, hukum senantiasa berusaha untuk objektif. Aparat penegak hukum terdidik untuk menerapkan prinsip-prinsip objektivitas ini. Hakim meyakini pertanyaannya wajar saja karena ia ingin mengukur tingkat keparahan pelaku. Jadi pertanyaan-pertanyaannya dirasakan tepat untuk memenuhi logika berpikir hakim, jika A maka B, dan bukan C. Jika korban masih sekamar dengan pelaku berarti hubungan korban dengan pelaku belumlah sangat buruk. Jika korban masih berhubungan seks dengan pelaku, maka setidaknya dampak penembakan itu tidak parah sehingga kekerasannya cukup digolongkan sebagai kekerasan ringan. Sayang, jadinya hakim tidak memikirkan perasaan korban. Hakim tidak melihat dari logika berpikir yang lain bahwa ada isu gender yang kuat dalam kasus-kasus semacam ini. Seandainya hakim peka terhadap isu ini, hakim mungkin akan berusaha memikirkan pertanyaan lain untuk mengukur tingkat keparahan luka korban. Atau bahkan tidak perlu lagi bertanya karena kebetulan dalam kasus ini sudah ada visum medis.

Tuntutan objektivitas juga membuat hakim cenderung mengharapkan jawaban dikotomis antara ya dan tidak. Hakim tidak suka dengan jawaban yang menggantung, jawaban panjang, ataupun jawaban yang kontradiktif. Jawaban seperti itu dipandang sebagai jawaban yang subjektif dan bahkan mengandung kebohongan karena tidak memberikan kepastian mengenai kondisi sebenarnya. Saat hakim menuntut jawaban yang tegas, hakim pun cenderung menanyakannya dengan nada yang tegas. Namun di sisi lain, saksi atau apalagi korban yang bersaksi, memasuki ruang sidang dengan berbagai perasaan yang berkecamuk.

….

Tulisan selengkapnya dimuat dalam buku Psikologi untuk Transformasi Sosial, yang ditulis oleh Kristi Poerwandari, Cinintya Dewi, dan Ester Lianawati.  Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Pulih (pada tahun 2010), dengan dukungan ICCO Netherland. Buku ini berisikan kumpulan tulisan:

Pendahuluan Psikologi Untuk Transformasi Sosial

Dari Psikologi Personal Menuju Psikologi Politis

Rentan Sekaligus Lentur: Anak Menghadapi Peristiwa Traumatis

Memahami Peristiwa Traumatis dan Dampaknya pada Korban

Media Massa Meliput Peristiwa Traumatis: Antara ‘Do No Harm” dan Tuntutan Industri Media

Psikologi dalam Masyarakat Majemuk: Eksklusi Moral dan Konsep Hak-hak Asasi Manusia

Psikologi dalam Fase Kedaruratan Bencana

Hidup dalam Ketidakpastian: Menjadi Pengungsi di Negara yang Tidak Meratifikasi Konvensi

Konseling Pelaku KDRT: Melibatkan Laki-laki untuk Membangun Dunia Tanpa Kekerasan

Memadukan Psikologi dan Hukum untuk Tercapainya Keadilan

Tantangan Kerja Kemanusiaan dan Mekanisme Penguatan Kelembagaan

Bagi teman-teman yang membutuhkan buku ini dapat menghubungi Yayasan Pulih di 021-788 42 580.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: