Skip to content

Letakkan Kakimu dalam Sepatuku

November 11, 2010

Manusia dikenal sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Orang yang lebih menikmati kesendirian sekalipun tetap tidak dapat melepaskan diri dari keberadaan orang lain. Sehari-harinya, entah di tempat kerja, dalam perjalanan, atau di sekitar rumah, kita akan selalu bertemu orang lain.

Namun seperti sulitnya menghindari orang lain, menjalin relasi juga tidak mudah untuk dilakukan. Gesekan atau benturan sering kali terjadi bahkan dengan orang-orang terdekat. Merasa tidak dimengerti dan sebaliknya tidak dapat memahami mengapa orang lain bersikap demikian, sering menjadi awal permasalahan kita dengan orang lain. Kita dengan mudahnya menuduh orang lain, mengkritiknya, dan memberinya label negatif. Kita cepat jengkel dan merasa tidak dipahami. Atau sebaliknya kita melakukan sesuatu tanpa memikirkan perasaan orang lain. Begitu fragile nya sebuah hubungan, begitu tipis sekat di antara perdamaian dan permusuhan.

Mari kita mulai membahas persoalan ini dari kontak-kontak kecil dengan orang-orang yang tidak kita kenal, yang kemungkinan besar kita tidak akan bertemu lagi dengannya. Sebagai penumpang setia (terpaksa setia tepatnya J ) bus transjakarta, banyak hal yang saya amati tentang relasi manusia dalam angkutan ini. Ada orang yang dengan sigap bangkit dari tempat duduknya ketika melihat ada lansia yang berdiri. Namun ada pula yang bergeming meski tubuh lansia itu sudah terayun-ayun hendak jatuh menimpanya. Ada pula yang kakinya direntangkan sedemikian rupa hingga ia mengambil jatah kursi di sebelahnya. Tidak sedikit pula yang menerobos antrian meski sudah dipelototi banyak orang.

Kini mari kita beranjak menuju lingkungan kerja, tempat kita bertemu dengan orang-orang yang sama setiap harinya. Kali ini saya ajak Anda ke dunia kampus. Belum lama ini, seorang mahasiswi mewakili teman-temannya, memberikan masukan kepada Nina, seorang dosen muda. Mahasiswi ini mengatakan Nina kurang dapat menjelaskan materi dalam bahasa yang mudah dipahami. Menanggapi masukan tersebut, Nina balik mengkritik mahasiswi itu dengan nada keras. Ia juga menyebut si mahasiswi itu bodoh padahal yang bersangkutan memiliki prestasi akademis yang sangat baik. Rekan-rekan Nina sempat menganggap reaksi Nina berlebihan dan kekanakan. Sejumlah mahasiswa juga jadi kehilangan respek terhadapnya.

Sekarang mari kita simak interaksi dalam hubungan yang lebih dekat lagi. Ada Rio dan Ika, suami istri yang memiliki tiga anak. Sehari-harinya Ika mengurus anak-anaknya ini mulai dari mereka bangun tidur hingga terlelap. Ia juga masih harus memasak, mencuci pakaian, dan seabrek kerjaan rumah tangga lainnya. Ika berharap Rio dapat menghargainya dengan hal-hal kecil saja seperti meneleponnya saat jam makan siang. Namun jangankan menelepon, ditelepon pun Rio hampir tidak pernah mengangkat. Ika mengirim sms pun, Rio tidak membalas. Jika Ika mengeluhkan hal ini, Rio balik mengeluhkan Ika yang tidak memahami beban pekerjaannya. Pernah Ika mengatakan ia juga sibuk di rumah namun bisa menyempatkan diri untuk menghubungi Rio. Rio menertawakannya dan berkata, “Sesibuk apa sih kamu jadi ibu rumah tangga dibandingkan tugas saya di kantor?” Suatu kali tak tahan dengan sikap acuh suaminya, Ika meninggalkan rumah tanpa membawa serta ketiga anaknya.

Dalam relasi kita dengan orang lain, ada satu aspek yang dibutuhkan untuk menjaga keharmonisan. Masih ingat tulisan sebelumnya mengenai perlunya mengubah cara pandang? Sering kali kita berpikir negatif tentang orang lain sehingga menimbulkan salah persepsi atau emosi yang negatif yang selanjutnya dapat memperburuk relasi kita. Nah, dalam mengubah cara pandang itu, salah satu aspek yang dibutuhkan adalah empati. Empati tidak hanya perlu agar kita dapat berpikir positif tentang orang lain. Empati juga merupakan dasar terciptanya tolong-menolong dalam masyarakat. Jadi empati akan memandu kita untuk berpikir positif, bertindak positif, dan menghindarkan kita dari tindakan menyakiti orang lain.

Empati itu sendiri diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan turut merasakan emosi yang dirasakan orang lain. Empati berasal dari bahasa Jerman, einfühlung, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai in-feeling. Istilah ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1880-an oleh Theodore Lipps, seorang psikolog Jerman, untuk menggambarkan proses memahami perasaan subjektif seseorang yang sedang mengamati karya seni. Dalam perkembangan teorinya, empati dibedakan menjadi empati kognitif dan empati afektif.

Yang selama ini kita kenal lebih mengacu kepada empati afektif, yakni mengalami perasaan yang dirasakan orang lain. Namun untuk dapat mengalami empati afektif, dibutuhkan pemahaman terhadap sudut pandang orang tersebut yang membawanya sampai kepada perasaan itu. Pemahaman inilah yang dinamakan dengan empati kognitif.

Empati perlu dibedakan dengan simpati. Simpati berangkat dari pemahaman universal bahwa tiap orang yang mengalami hal yang sama akan merasakan emosi yang sama. Bisa dibilang simpati hanya pada level permukaan, sekedar rasa iba dan memahami. Sedangkan empati memahami perasaan yang mungkin secara khusus hanya dialami orang itu. Dengan empati, kita turut merasakan dukacita akibat kehilangan anak satu-satunya yang menjadi harapan keluarga, bukan sekedar berbela sungkawa.

Mari kita kembali pada contoh-contoh di atas. Mengapa ada yang begitu murah hati memberikan tempat duduknya sementara yang lain tidak? Bahkan ada yang kelakuannya menjengkelkan dengan mengambil jatah tempat duduk orang lain? Empatilah yang membedakannya. Orang yang rela berdiri untuk seorang lansia adalah yang dapat memposisikan dirinya sebagai lansia. Ia dapat merasakan bagaimana lansia yang sudah mengalami penurunan fungsi tubuh kini harus berdiri terguncang-guncang, mungkin karena sopir busway-nya juga sedang mengenang masa lalunya sebagai pembalap. Ia juga bisa sadar diri untuk melihat apakah ia duduk pada tempatnya atau mengambil wilayah orang lain. Ia juga bisa memikirkan rasanya jika sudah mengantri namun diserobot orang lain.

Nah, bagaimana tanggapan Anda terhadap orang-orang yang bersikap menjengkelkan tersebut? Apakah Anda langsung mengumpat? Semoga tidak. Karena jika iya, mmm mohon maaf, sesungguhnya Anda hanya sedikit bedanya dengan mereka.  Ho ho ho. Meski memang yang mereka lakukan tidak baik, namun pernahkah kita berpikir dari sudut pandang mereka? Bahwa mungkin orang itu sedemikian lelahnya sampai ia tidak sanggup berdiri atau menggeser kakinya?  Bahwa ia sudah terlambat sedangkan atasannya galak luar biasa sehingga ia lebih rela dimaki orang yang tidak dikenal ketimbang kehilangan pekerjaan?

Memang tidak mudah untuk memahami perasaan dan tindakan orang lain. Apalagi jika ia menampilkan dalam bentuk negatif. Sering kali yang terjadi adalah kita dengan cepat menyalahkannya. Kita menilai memang seperti itu karakternya, tanpa memperhatikan faktor lain yang memengaruhinya. Padahal mungkin jika kita yang mengalami hal tersebut, kita akan melihat penjelasannya bukan pada karakter kita melainkan justru pada aspek situasional. Sebuah kecenderungan yang manusiawi yang dikenal dengan istilah actor-observer effect.

Coba kita telusuri lebih jauh kasus Nina. Ups, tunggu dulu, saya belum mengetahui pendapat Anda mengenainya. Apakah Anda juga melabelnya kekanakan? Mungkin Anda akan bereaksi berbeda jika mengetahui Nina adalah dosen yang berdedikasi tinggi. Ia berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Kadang ia pulang larut malam karena harus membaca banyak buku mengenai materi yang ingin ia ajarkan. Diberikan masukan seperti itu, ia merasa kerja kerasnya tidak dihargai. Sekalipun cara Nina menanggapi kritik memang kurang tepat, namun alangkah baiknya jika kita juga dapat merasakan apa yang ia rasakan agar dapat terhindar dari pelabelan negatif terhadapnya.

Sekarang kita beralih pada Rio dan Ika. Setelah Ika pergi, Rio terpaksa cuti bekerja. Saat itulah ia dapat merasakan betapa melelahkan dan membosankannya tugas-tugas yang harus dikerjakan Ika setiap harinya. Ia malu telah menganggap dirinya sebagai makhluk paling sibuk. Ia juga jadi memahami Ika yang ingin mendapatkan perhatian darinya di tengah rutinitas yang menjemukan dan melelahkan. Rio pun segera mencari Ika dan meminta maaf kepadanya. Sejak itu ia belajar menghargai Ika dengan menyempatkan diri untuk menelepon Ika saat ia berada di kantor.

Meski berakhir bahagia, amat disayangkan Rio harus lebih dahulu mengalami apa yang Ika alami untuk dapat merasakan apa yang Ika rasakan. Ini bukan empati yang sesungguhnya. Empati adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain tanpa perlu mengalami hal yang sama. Menarik untuk menyimak peluncuran buku karya Ibu Saparinah Sadli, guru besar psikologi yang saya kagumi, pada tanggal 21 April lalu. Dalam momen itu sempat dibahas mengenai Ibu Sap, begitu beliau akrab disapa, yang tidak pernah menjadi orang miskin namun mau memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi kelompok perempuan miskin. Empati yang dimiliki Ibu Sap inilah yang seyogianya kita miliki.

Namun memang kadar empati pada tiap orang itu berbeda. Ada orang yang secara umum mudah berempati. Ada pula yang tingkat empatinya secara umum rendah. Itulah sebabnya ada istilah trait empathy, yang mengacu kepada sifat empati yang cenderung stabil dan menjadi semacam karakter. Ada pula yang dinamakan dengan state empathy, yang mengacu kepada perbedaan tingkat empati seseorang pada situasi yang berbeda. Misalnya orang yang tingkat trait empathy-nya rendah dapat menunjukkan empati yang sedikit lebih besar (meski tetap dalam kisaran level yang rendah) kepada adiknya yang kehilangan pekerjaan. Empati ini bisa jadi tidak selalu ia rasakan kepada adiknya dalam situasi lain.

Level empati yang cenderung menetap biasanya bergantung pada pola asuh dan pengalaman belajar dari lingkungan. Menarik pula bahwa level ini masih fluktuatif sifatnya pada situasi berbeda. Dengan demikian, trait dan state empathy ini membuka celah bahwa empati masih bisa ditingkatkan. Beberapa cara ini patut dicoba untuk mengembangkan empati. Pertama, bayangkan Anda berada pada posisi orang lain yang sedang Anda amati, lalu ajukan dua pertanyaan ini pada diri Anda: Apa yang akan Anda rasakan dan lakukan jika menjadi orang itu? Apa yang Anda harapkan dari orang lain untuk bertindak atau bersikap terhadap Anda yang kini berada pada posisi itu? Kedua, jika Anda melihat seseorang melakukan hal buruk, tanyakan terlebih dahulu apakah mungkin ada faktor situasional yang mendorongnya melakukan hal tersebut. Ketiga, jika muncul niat buruk dalam hati Anda terhadap orang lain, tanyakan apakah Anda ingin diperlakukan seburuk niatan Anda itu? Keempat, ada cara unik yang sering dilakukan dalam pelatihan empati. Kita diminta untuk menanggalkan sepatu dan mengenakan sepatu peserta lain. Lantas kita diminta untuk menggambarkan bagaimana perasaan kita berada dalam sepatu orang itu. Cara ini sebenarnya diambil dari frase “put oneself in another’s shoes”, sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris mengenai empati.

Perlu diperhatikan bahwa dalam berempati juga ada rambu-rambunya. Jangan sampai kebablasan dalam berempati. Empati memungkinkan kita untuk ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain tetapi bukan berarti ikut bertindak seperti orang itu. Bukan berarti pula membenarkan perilakunya jika memang tidak dapat dibenarkan. Kita dapat berempati terhadap Nina. Namun bukan berarti bersama Nina kita ikut memarahi mahasiswi tersebut. Kalau boleh, izinkan saya menambahkan ungkapan di atas ,”Letakkan kakimu dalam sepatuku, tetapi jangan kau ambil sepatuku.” J

6 Comments leave one →
  1. aVHiedHiNa permalink
    November 13, 2010 12:23 am

    Kak, ada tidak hubungannya empati dengan kepribadian seseorang?
    contohnya saja orang yang introvert. Orang tersebut tidak dapat menunjukkan empatinya sendiri ketika ada kehadiran orang lain, tetapi ia itu tidak damai sejahtera dalam hatinya saat ia hanya pendam rasa empatinya. Rasanya susah baginya menunjukkan empatinya di hadapan orang lain, tetapi orang-orang di sekitarnya menganggap bahwa orang ini memang tidak ada rasa peduli terhadap orang lain (jadi berpikir negatif). Padahal memang bukan maksudnya atau keinginannya seperti itu juga.
    Susah juga untuk kita menghilangkan pikiran negatif terhadap
    orang lain. Sekalipun kita sudah mengenal atau tahu tentang orang lain (misal: orang yang memang deket sama kita), tetapi ketika orang itu membuat kita tidak percaya lagi sama dia, timbul lagi pikiran negatif itu. Dalam sekejap itu juga, empati kita terhadap orang itu hilang. Apa memang bisa terjadi seperti itu?
    Dengan cepat kita bisa berempati terhadap orang lain, tapi dengan cepat pula kita bisa menghilangkan empati kita terhadap orang lain hanya karena persepsi kita yang sudah ‘jelek’ terhadap orang tersebut dan rasa percaya kita yang sudah hilang dari orang tersebut.

    • Ester Lianawati permalink*
      November 24, 2010 9:58 am

      Affi dear, thx dah ingetin bedanya mampu berempati dan mampu nunjukin empati kita. Utk nunjukin empati, bs jd bergantung sama kepribadian spt yg km tulis. Tp alangkah baiknya kl kita mau bljr nunjukin empati itu.
      Utk ilangin pikiran negatif, emang agak susah, sayang, sklpun udah bljr terapi kognitif di psikoterapi ya ^-^
      Kl liat persoalan yg km tny, mgkn hrs ditelusuri lg knp sampai ilang rasa percaya? Apa krn dibohongi, dikhianati, dikecewakan? Sklpun kdg kita jg hrs hati2 apa bnr org itu melkkan hal2 buruk spt yg kita sangkakan. Misalnya kl kita kecewa, apa bnr org itu mengecewakan, atau krn kita menuntutnya berlebihan, jd kita berharap dia sempurna, dll, jd wkt dia “sedikit” aja mlkkan kesalahan “di mata kita”, kita udah kecewa, dan akhirnya mikir negatif. Atau apa bener dia bohong, udah di-cek kah? Dlm hal ini “kekecewaan” atau kejengkelan kita thd org itu, sbnrnya jg dimulai dr kurang mampunya kita berempati thd org itu, atau bs jg krn kurangnya keterbukaan. Inget gak yg prnh kita bahas di kelas psikologi sosial. Drpd saling mikir macam2 yg negatif, mending ditanya lgsg aja kan sama orgnya, apalagi kl sama temen deket🙂 Tp kl emang tnyt org itu beneran bohong, beneran berkhianat, beneran ngecewain, en beneran2 laennya, kl emang itu teman/sahabat, aku biasanya gak mau keilangan mrk krn susah nemuin sahabat🙂 Jd sebaiknya dibicarakan, kasi tau kekecewaan kita, dan biar msg2 bs slg introspeksi diri utk bljr jd lbh baik. Indah, bukan?😉
      Miss yuuuu, dek🙂

  2. February 4, 2011 9:30 am

    Great article! Tulisannya berbobot bgt🙂

    • Ester Lianawati permalink*
      February 27, 2011 11:23 pm

      Robiiiin, thx ya udah mampir🙂

      • February 28, 2011 8:25 pm

        Btw katanya skrg di Rouen ya? Cerita2 dong🙂
        Ke sana dalam kuliah atau kerja atau gmn? Hehehe.. Cerita2 dong😀

      • Ester Lianawati permalink*
        April 18, 2011 12:46 am

        Robin..
        Iya nih dlm rangka kuliah lagi🙂
        Mau diceritain apa? Hehe.
        Msh stres, blum lancar ngmgnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: