Skip to content

Memaknai Kembali Maskulinitas

July 18, 2010

Sekian lamanya kita hidup dalam budaya patriarkis yang menempatkan laki-laki pada posisi superordinat. Karena budaya ini mengutamakan kepentingan laki-laki, kita jadi melihat yang tampak secara kasat mata bahwa laki-laki adalah pelaku penindasan terhadap perempuan. Kita jadi menyalahkan laki-laki. Tanpa disadari, kita mendikotomikan laki-laki dan perempuan, memandang keduanya berada pada kutub yang berlawanan, dengan laki-laki sebagai pelaku dan perempuan adalah korban.

Kita melupakan bahwa budaya patriarki yang menjadi akarnya, dan akar inilah yang harus ditangani jika kita mau mengatasi penindasan terhadap perempuan. Kita tidak dapat reaktif melihat penyebab pada permukaannya saja. Ketika laki-laki tampil sebagai pelaku, yang seharusnya menjadi pertanyaan adalah apakah yang telah membentuk laki-laki menjadi demikian? Mencari jawaban ini kita akan menemukan bahwa laki-laki sesungguhnya juga korban dalam budaya patriarkis.

Sejak kecil laki-laki diajarkan untuk berkompetisi dengan sesama laki-laki. Laki-laki diajarkan untuk menjadi yang terhebat bahkan dalam sebuah permainan. Anak laki-laki bersaing untuk dapat ‘menembak’ lebih jauh saat buang air kecil dibandingkan teman-temannya. Jika anak laki-laki kalah dalam perkelahian, sang ayah menyuruhnya kembali untuk mengalahkan lawannya. Ketika pulang dengan wajah gembira penuh kemenangan, ayah turut bangga dan mengatakan, “Nah begitu dong jagoan ayah.” Sekaligus hal ini membentuk laki-laki untuk tidak boleh mengeluh, apalagi menangis. Jagoan itu sendiri adalah kata sederhana yang akan membawa beban berat pada laki-laki sepanjang hidupnya. Seolah-olah laki-laki harus sukses dan berkuasa khususnya dalam tiga hal: harta, tahta, dan wanita.

Ketika dewasa, laki-laki akan dianggap hebat jika ia sukses dalam berkarir, menduduki posisi penting, dan dapat menaklukkan perempuan. Coba kita simak ajang pencarian jodoh yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta. Kemapanan laki-laki begitu ditonjolkan. Pembawa acara menekankan jabatan dan harta benda yang ia miliki. Laki-laki dengan jabatan minimal manajer, telah memiliki rumah dan mobil, dengan mudah akan mendapatkan pasangan. Iming-iming mau memberikan permata atau bulan madu mewah menjadi penambah daya tarik.

Perlu diperhatikan bahwa kehebatan yang dituntut dari laki-laki adalah kehebatan di ranah publik. Sementara dalam lingkup domestik, laki-laki dibebastugaskan dari pekerjaan rumah tangga. Mencuci pakaian, memasak, menyetrika, dan mengasuh anak, tidak dianggap sebagai dunia laki-laki. Laki-laki dianggap cukup memenuhi kebutuhan material istri dan anak, tetapi tidak kebutuhan psikisnya. Karena sesuatu yang sifatnya emosional tidak pernah dilekatkan kepada laki-laki. Tidak terbiasa berekspresi membuatnya juga sulit menampilkan kasih sayang kepada anak dan pasangan.

Kekuatan laki-laki juga diukur dari seksualitasnya. Seks bukanlah sesuatu yang harus ditutupi oleh laki-laki. Cara buang air kecil dengan berdiri bersama-sama di toilet umum saja sudah membedakannya dengan perempuan yang harus masuk ke dalam ruangan. Berpengalaman dalam hal seksual akan membuatnya tampak lebih jantan. Selain jumlah perempuan yang dapat ditaklukkan, kekuatan untuk melakukan hubungan seks lebih dari satu kali dalam semalam, durasi penetrasi selama mungkin, dan ukuran penis, juga menjadi ukuran kejantanan laki-laki.

Lantas apa akibat dari semua ini? Laki-laki merasa tertuntut untuk menjadi mapan sebelum melamar kekasihnya. Ketika berumah tangga, beban mereka semakin berat karena harus menghidupi istri dan anak-anaknya. Namun mereka sejak kecil dituntut untuk menjadi hebat, tidak boleh mengeluh, harus dapat menyelesaikan masalahnya. Akibatnya mereka memendam sendiri persoalannya dan rentan mengalami stres yang biasanya muncul dalam bentuk keluhan fisik seperti sakit kepala dan nyeri pada tubuh.

Beban laki-laki semakin bertambah jika istri berpenghasilan lebih besar. Mereka cenderung rendah diri dan jadi sensitif terhadap istri. Mereka menuduh istri merasa lebih hebat dan jadi tidak hormat pada mereka meski para istri tidak bermaksud demikian. Tidak heran jika laki-laki yang menjadi pelaku kekerasan sesungguhnya merasa terancam kekuasaannya sehingga ia berusaha menguasai istri atau anak-anak. Tidak selalu pelaku pelecehan seksual terhadap anak itu pedofilia. Tetapi hampir selalu mereka adalah laki-laki yang bermasalah dengan harga dirinya. Masih dalam hal seksual, banyak laki-laki jadi pengguna Viagra dan obat kuat lainnya. Atau tanyalah pewaris ilmu Mak Erot berapa banyak laki-laki yang pernah menjadi klien almarhumah. Dan banyak laki-laki impoten karena tidak sanggup mengatasi tuntutan kejantanan.

Stres yang disangkal, ditekan, atau dihindari oleh laki-laki, jika berkepanjangan akan berpotensi menimbulkan serangan stroke. Perlu diketahui bahwa rasio laki-laki dan perempuan penderita stroke secara umum adalah 2 sampai dengan 3 berbanding 1. Lebih buruk lagi, laki-laki penderita stroke ataupun penyakit berat lainnya yang menghambat keberfungsian mereka, lebih sulit sembuh dibandingkan perempuan. Mereka merasa kehilangan kedigdayaan sehingga semakin tertekan. Tetapi karena tidak terbiasa untuk mengungkapkan perasaan, dan emosi yang diizinkan selama ini untuk tampil dari mereka kebanyakan adalah rasa marah, akibatnya mereka akan menjadi agresif. Semua ini memperlambat proses kesembuhan.

Hal lain yang turut berperan adalah laki-laki tidak memiliki keterikatan relasional dengan keluarga. Sulit menggugah semangat mereka untuk memikirkan pasangan dan anak-anak. Berbeda dengan perempuan yang dilekatkan dengan peran pengasuhan. Ketika sakit, perempuan mampu bangkit untuk kepentingan orang lain. Kalaupun laki-laki memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, namun persoalan kehebatan yang kini berganti dengan ketidakberdayaan lebih mendominasi dibandingkan masalah relasional.

Stres yang bercampur dengan kemarahan juga dapat ditujukan kepada dirinya sendiri melalui tindakan bunuh diri. Jumlah laki-laki yang berhasil bunuh diri jauh lebih besar dibanding perempuan yang biasanya hanya mencoba bunuh diri.

Apakah gambaran laki-laki seperti ini yang kita harapkan, penuh kekerasan baik pada istri, anak, atau diri sendiri? Apakah laki-laki menginginkan hal ini? Saya kira tidak demikian. Mark Yantzi, konselor pelaku kekerasan menemukan dalam proses konseling, laki-laki pelaku kekerasan akan mengakui kegelisahan yang muncul dari apa yang dinamakan Kristi Poerwandari, ketua program studi Kajian Wanita UI, sebagai sisi gelap maskulinitas seperti yang diuraikan di atas.

Selain itu, kurang lebih 33% laki-laki dari 250 laki-laki yang berpartisipasi dalam penelitian saya tahun 2007 lalu ternyata menolak dilekatkan stereotipe sebagai tukang selingkuh atau gemar kawin, karena mereka memang tidak demikian. Mereka juga berbagi peran rumah tangga secara fleksibel dengan istrinya. Mereka tidak malu membantu istri menjemur pakaian. Mereka tidak takut dianggap tidak jantan ketika memasak. Mereka tidak sungkan meminta izin pulang kantor lebih cepat untuk merawat anaknya yang sakit. Mereka mau bersama-sama istri membuatkan susu kala anak mereka terjaga di tengah malam. Mereka juga tidak merasa bodoh ketika meminta pendapat istri untuk mengambil keputusan.

Dan apa hasilnya? Para istri yang suaminya tergabung dalam kelompok 33% tersebut memiliki kesejahteraan psikologis yang paling tinggi dibanding responden lainnya. Dalam penelitian dengan skala lebih besar yang dilakukan David H.Olson & John DeFrain, konselor perkawinan yang menulis buku Marriages and Families, terhadap lebih dari 10 ribu pasutri, sebanyak 81% yang menerapkan pembagian peran rumah tangga yang fleksibel, sama-sama mengakui bahwa mereka bahagia. Baik suami maupun istri jarang merasa kelelahan dan tertekan, sebaliknya merasa lebih sehat dan sejahtera secara psikis. Suami yang menghargai istri membangkitkan sikap istri yang menghormati suami tanpa merasa takut atau terintimidasi. Anak-anak yang hidup dalam keluarga seperti ini juga mampu mengembangkan sisi maskulinitas dan feminitas yang seimbang. Mereka mandiri namun tetap mampu berempati. Mereka tegas namun tetap penuh kasih. Mereka tidak malu berbagi masalah pada orang tuanya yang kemudian membantu untuk menyelesaikannya. Anak menjadi terlatih untuk mencari jalan keluar yang efektif.

Dua penelitian di atas sekaligus menunjukkan bahwa laki-laki dapat berubah. Meski masih sedikit jumlahnya namun keberadaan mereka meyakinkan kita bahwa sisi gelap maskulinitas sesungguhnya dapat dihilangkan. Laki-laki mengadopsi maskulinitas semacam itu melalui proses belajar dari lingkungannya. Maka laki-laki juga dapat belajar memaknai kembali maskulinitasnya dalam bentuk yang berbeda, yang lebih positif dan membawa kebaikan untuk dirinya sendiri, perempuan, dan masyarakat.

Hari ini umat Kristen merayakan kebangkitan Yesus. Bukan kebetulan jika Ia memilih untuk menyatakan kebangkitanNya, peristiwa yang maha penting dalam ajaran Kristen, pada seorang perempuan bernama Maria Magdalena. Dalam hidupnya yang relatif singkat, ia senantiasa mengangkat harkat perempuan. Ia bercakap-cakap mengenai persoalan teologis dengan perempuan Samaria di sebuah sumur. Saat itu perempuan tidak boleh berbincang dengan laki-laki di tempat umum apalagi mengenai teologia, dan perempuan ini orang Samaria pula, musuh bangsa Yahudi. Ia juga menentang peran gender tradisional ketika meminta Marta berhenti meninggalkan aktivitas domestik untuk duduk mendengarkan sabdaNya, yang pada zaman itu hanya menjadi hak laki-laki. Ingatlah juga saat Ia membiarkan anak-anak mendekatiNya dan bermain bersama mereka. Selain itu hukum yang Ia tetapkan adalah hukum kasih. Menarik sekali bahwa kasih dijadikan sebuah hukum universal oleh seorang laki-laki sementara kata ini dilekatkan sebagai sifat perempuan. Yesus menjadi contoh bahwa laki-laki dapat menjadi agen aktif untuk memaknai kembali relasi laki-laki dan perempuan yang setara.

Meski Yesus sudah memulainya ribuan tahun lalu, tidak ada kata terlambat untuk melanjutkan perjuangannya sekarang. Sudah saatnya laki-laki dilibatkan untuk membongkar budaya patriarkal yang tidak hanya merugikan perempuan tetapi juga laki-laki itu sendiri. Sudah saatnya laki-laki belajar memaknai ulang bahwa kehebatan bukanlah berkuasa melainkan berjalan berdampingan bersama-sama. Saatnya sudah tiba untuk kebangkitan laki-laki baru.

10 Comments leave one →
  1. Methasari Tjandra permalink
    July 25, 2010 9:43 am

    Ti, gua baru baca artikel elu. Artikel pertama elu yang gua baca. Tadi gua lagi iseng aj kepikiran elu, trus gua google nama elu, dpt d artikel ini. Bagus artikelnya, gua suka🙂 Kaga nyangka elu jadi hebat nulis gini🙂 Skrg gua tau d knp elu super sibuk..

    • Ester Lianawati permalink*
      July 26, 2010 11:17 pm

      Hehehe, makasih Meth. Take care ya🙂

  2. Lyus permalink
    July 28, 2010 12:55 pm

    Nice article Ester.

    Salam kenal, maskulinitas memang udah jadi buah simalakama buat pria sejak entah kapan. Tidak maskulin berarti menempatkan diri pada posisi outcast dalam masyarakat. Memilih untuk tidak perduli menempatkan pria pada posisi tidak bertanggung jawab atau mandul(not only in a sexual means). Sementara pergeseran nilai dari emansipasi yang kebablasan juga semakin menggencet posisi pria. Saya hanya seorang pria normal yang mengharapkan kesetaraan yang seimbang antara pria dan wanita, sesuai dengan kapasitas masing-masing gender. Great social review…

    • Ester Lianawati permalink*
      July 30, 2010 10:45 pm

      Mksh koment nya, mas Lyus. Senang mendengar ‘suara hati’ pria ttg gender n maskulinitas🙂

  3. August 13, 2010 11:27 pm

    Saya tidak begitu memahami dunia psikologi, namun membaca tulisan ini serasa ada yang mengganjal.

    Di awal tulisan rasanya sudah ditekankan dikotomi sedemikian hingga itu adalah suatu generalisasi pandangan masyarakat pada umumnya. Apa memang seperti itu, atau hanya saja saya tidak pernah menemukannya di lingkungan di mana saya tumbuh?

    Hanya itu, mungkin juga survei yang disebutkan di atas memberi sedikit banyak jawabannya🙂.

    • Ester Lianawati permalink*
      September 2, 2010 9:28 pm

      mksh ya, ini bs menjadi masukan jg bhw mmg engga smua org mengalaminya, dan
      syukurlah mas Cahya engga mengalami itu di tengah masy kita yg patriarkis ini🙂

  4. October 27, 2010 1:49 pm

    Sangat real dan nyata. Saya setuju dengan tulisan ini. Salam kenal.

    • Ester Lianawati permalink*
      December 27, 2010 6:43 am

      Mksh, mbak Maya. Salam kenal ya🙂

  5. donita permalink
    March 31, 2011 1:55 pm

    halo mbak, salam kenal, analisisnya bagus sekali, imbang. Makasih sudah memberikan sebuah pencerahan! Anyway, mbak kuliah psikologi ya? mohon infonya!

    Thx

    • Ester Lianawati permalink*
      April 15, 2011 3:53 am

      Hai Donita,
      salam kenal juga, dan terima kasih ya.
      iya benar saya kuliah psikologi ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: