Skip to content

Ubah Caramu Memandang Dunia

May 1, 2010

Seorang nenek berusia 82 tahun, sebut saja ia Oma Siska,  menderita gatal-gatal di sekujur tubuhnya selama hampir 50 tahun. Rasa gatalnya muncul sehabis makan kecuali bila ia hanya menyantap sayur-sayuran. Akibatnya dalam hampir setengah abad ini, ia hanya makan sayur. Kecuali bila kondisi tubuhnya sudah sangat lemah, ia baru mengonsumsi makanan lengkap meski harus dibayar dengan rasa gatal. Karena ia tidak dapat menahan gatal, walhasil tubuhnya penuh luka bekas garukan.

Sudah banyak dokter yang didatangi namun mereka tidak menemukan penyebab medis dari keluhan Oma Siska. Sampai suatu hari, seorang dokter memintanya menemui saya. Ia bercerita mulai mengalami rasa gatal setelah menerima transfusi darah sekitar 50 tahun lalu. Ia meyakini darah yang dialirkan ke tubuhnya itu darah kotor dari orang yang berpenyakitan sampai-sampai ia terserang rasa gatal yang tidak kunjung sembuh.

Ups, seketika saya mengalami pencerahan mengenai penyakit si oma. Apalagi ketika ia mengatakan hanya merasa gatal bila sedang tidak melakukan kegiatan. Jika ia sedang berjalan-jalan, menonton televisi, atau melakukan aktivitas lainnya, ia tidak merasa gatal.

Lantas, saya katakan kepadanya bahwa darah untuk transfusi adalah darah orang sehat, yang sudah lolos dari pemeriksaan kesehatan. Beliau manggut-manggut namun masih ragu jikalau ada kesalahan pemeriksaan. Saya melanjutkan bahwa darah orang lain yang mengalir di tubuhnya sudah tidak ada lagi di dalam tubuhnya sejak ia pertama kali melakukan pembuangan zat-zat dengan buang air besar atau kecil pascatransfusi darah.

Sampai di sini Oma Siska terkejut, sama terkejutnya dengan saya mendengar perkataan saya sendiri yang sepertinya tidak benar secara medis. Namun saya tahu pasti persoalannya bukan pada darah itu. Akar masalahnya adalah caranya berpikir mengenai darah itu. Melihat ia terperangah, saya tidak lagi memedulikan benar tidaknya pernyataan saya. Saya melanjutkan bahwa saya dan dokter tidak dapat menyembuhkannya karena ia tidak sakit. Yang dapat menyembuhkannya adalah dirinya sendiri, atau tepatnya pikirannya sendiri.

Akibat ia berpikir bahwa ada darah orang lain yang tidak sehat mengalir dalam tubuhnya selama berpuluh tahun ia menderita rasa gatal dan tidak dapat mengonsumsi makanan tertentu. Ia tidak gatal saat sedang beraktivitas karena tidak punya waktu untuk memikirkan rasa gatalnya. Tetapi ketika ia memiliki waktu untuk berpikir mengenai rasa gatalnya, ia akan benar-benar merasa gatal. Terakhir saya menanyakan, ”Pernahkah terpikir oleh Oma bahwa makanan sehat bisa cepat menyembuhkan luka-luka bekas garukan Oma?”

Setelah ia berlatih beberapa teknik untuk memantapkan keyakinannya bahwa ia tidak akan gatal lagi, ia menyantap menu empat sehat lima sempurna. Kali ini tanpa bonus rasa gatal.

Kasus Oma Siska mengingatkan saya mengenai persepsi atau cara pandang. Kita sering kali merasa yakin bahwa seseorang atau sebuah peristiwa yang terjadilah yang telah menimbulkan rasa marah, sedih, kecewa, takut,  tertekan, atau bahkan rasa gatal seperti yang dialami Oma Siska. Namun para penggagas psikologi kognitif menegaskan bukan peristiwa atau orang lain yang membuat kita mengalami perasaan-perasaan itu, melainkan cara kita memandang orang atau peristiwa tersebut.

Peristiwa apapun boleh terjadi, tetapi dampaknya tidak bergantung pada peristiwa tersebut, melainkan pada pandangan kita terhadapnya. Teori ini dikenal dengan teori Activating event-Beliefs-Consequences, atau yang dikenal dengan teori ABC. Suatu peristiwa (A) akan mengaktifkan interpretasi kita (B) terhadap peristiwa tersebut, yang selanjutnya akan menggerakkan konsekuensi (C) berupa perasaan sikap, ataupun perilaku kita. 

Perlu diketahui, cara kita memandang sesuatu tidak selalu berdampak pada persoalan berat seperti yang dialami Oma Siska. Cara pandang kita berperan besar untuk membedakan sikap kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari meski mengenai hal-hal kecil sekalipun.  Beberapa tahun lalu saya sering menggerutu karena tidak ada angkutan umum yang lewat di depan rumah. Saya harus berjalan kaki kurang lebih 15 menit sebelum sampai di halte bus. Meski ayah saya mengatakan bahwa jalan kaki itu menyenangkan, saya tetap menganggapnya melelahkan. Sampai akhirnya saya bertekad untuk menikmati acara jalan kaki itu daripada memulai hari dengan hati kesal.

Saya melihat sekeliling dan mulai menikmati pemandangan anak-anak kecil berseragam, dengan pita-pita lucu menghiasi rambut mereka atau gaya khas menyeret tas yang tampak berat seolah semua isi lemari buku mereka ada dalam tas itu. Saya melewati ibu penjual nasi uduk yang laris manis sampai tidak kelihatan lagi tubuh mungilnya. Saya menyaksikan para polisi yang senam pagi di bawah pimpinan instruktur senam yang cantik dan energik. Saya menatap mentari yang sinarnya semakin menawan seiring ia beranjak naik. Kini saya bisa berdecak, “Wow, indah ya berjalan kaki itu.”

Jadi bukan berjalan kakinya (A) yang secara otomatis menjengkelkan saya. Bagaimana cara saya memaknainya (B) yang justru menimbulkan konsekuensi berbeda (C) dalam diri saya.

Dalam hubungan kita dengan orang lain, cara kita memandang perilaku seseorang juga dapat membedakan respons kita terhadapnya. Misalnya pasangan Anda datang terlambat karena alasan klise: jalanan macet. Anda boleh saja kesal lantas mengambek. Ia juga bisa kesal dengan sikap Anda yang kekanakan. Acara makan malam pun batal.

Namun ceritanya akan berbeda jika Anda mau berpikir betapa lelahnya ia sudah menempuh perjalanan yang jauh plus macet untuk tiba di hadapan Anda. Anda tidak akan menampilkan wajah cemberut, melainkan menyambutnya dengan senyum manis dan berkata, ”Kamu pasti capek ya sudah menyetir 2 jam karena macet. Belum makan pula.” Percayalah, senyum manis Anda seketika bisa menghapus rasa lelahnya.

Sayangnya tidak mudah memang memandang segala sesuatu dengan positif. Manusia memiliki kecenderungan untuk berpikir negatif bahkan melakukan apa yang disebut Aaron T Beck, penggagas cognitive-behavioral therapy, sebagai distorsi kognitif. Pertama, kita berpikir secara ekstrim, dikotomis, atau membayangkan skenario terburuk. Pandangan saya bahwa jalan kaki itu melelahkan dan tidak akan pernah menyenangkan adalah contoh pemikiran dikotomis. Membayangkan skenario terburuk bisa saja kita lakukan saat telepon genggam suami tidak bisa dihubungi. Kita berpikir ia sedang selingkuh, mengalami kecelakaan, dsb.

Kedua, kita memberi perhatian secara selektif pada hal-hal yang negatif. Kita membesar-besarkan hal negatif dan mengecilkan hal positif. Belum lama ini saya ditugaskan untuk mengikuti sebuah pelatihan yang sudah dua kali saya ikuti. Berbagai pikiran negatif hinggap di benak saya, membuat saya jengkel dengan pelatihan ini. Mengapa harus saya yang sudah dua kali mengikuti pelatihan berjudul sama. Apalagi di hari-hari itu jadwal kegiatan saya sedang padat-padatnya, cukup merepotkan untuk mengatur ulang. Saya juga mengeluhkan lokasi pelatihan yang jauh, target peserta yang terlalu luas, dsb.

Terlalu berfokus pada hal negatif juga dapat mendorong kita untuk melakukan generalisasi secara berlebihan (overgeneralization). Ketika kekasih datang terlambat, kita marah dan mengatakan bahwa ia selalu datang terlambat. Kita melupakan saat-saat ia datang tepat waktu. Atau jika kita tidak jadi dipromosikan, kita menganggap hidup kita telah gagal. Kita lupa akan keberhasilan yang sudah pernah kita raih.

Ketiga, mengandalkan intuisi. Bentuk yang sering terjadi adalah kita membaca pikiran orang lain. Seorang teman melintas di hadapan Anda tanpa menyapa, lantas Anda mengira ia enggan berkawan dengan Anda. Pasangan Anda sedang lelah sehingga tidak banyak bicara, Anda berpikir ia sedang bosan dengan Anda.

Orang-orang yang sering melakukan distorsi kognitif rentan untuk mengalami berbagai gangguan mental mulai dari yang ringan sampai berat. Mereka mudah cemas dan panik karena senantiasa berfokus kepada hal-hal negatif yang mungkin timbul. Kecil kemungkinan mereka dapat merasa bahagia. Sebaliknya yang sering terjadi adalah mereka cenderung mengalami depresi. Melakukan distorsi kognitif juga bisa membuat orang memandang dirinya rendah. Berbagai penyakit fisik tanpa ditemukan penyebab medis cukup sering dialami mereka yang terdistorsi pikirannya. Oma Siska adalah salah satu contoh nyata.

Mereka yang gemar melakukan distorsi kognitif cenderung menjadi pribadi yang pemarah dan penuh kecurigaan. Senang membaca pikiran orang lain, secara negatif pula, akan membuat mereka mudah merasa terluka. Seolah orang lain hanya bisa menyakiti mereka. Akibatnya hubungan dengan orang lain bisa terganggu. Tidak ada teman yang suka dituduh macam-macam. Mendengarkan orang yang kerjanya hanya mengkritik orang lain, hampir selalu berkeluh kesah, dan merasa dirinya memiliki masalah paling berat seantero jagad tentu juga tidak menyenangkan. Pasangan yang mudah mengambek juga akan merusak suasana dan menambah penat pikiran. Kita menjalin hubungan tentu bukan untuk senantiasa membujuk orang yang benaknya dipenuhi kecurigaan dan hatinya diselimuti kegusaran.

Sebaliknya yang jarang melakukan distorsi kognitif akan dapat memandang hidup secara positif. Mereka relatif bebas dari stres, depresi, ataupun kecemasan. Mereka juga resilien atau tahan banting meski banyak melewati pengalaman pahit. Mereka adalah orang-orang yang dapat melompat jauh meninggalkan peristiwa traumatis yang pernah dialami. Selain itu, memandang berbagai hal secara positif akan membuat pikiran mereka senang, hati pun gembira. Mereka tidak hanya menyimpan kegembiraan itu untuk dirinya melainkan ditularkan pada orang-orang di sekitarnya. Berada di dekat mereka akan menimbulkan perpaduan rasa damai dan ceria.

Lantas apa yang harus kita lakukan agar dapat memiliki cara pandang yang positif dan tidak (sering) melakukan distorsi kognitif? Pertama-tama pahami teori ABC di atas. Ingat bukan peristiwa atau orangnya tapi cara kita memaknainya. Kedua, kenali distorsi kognitif yang sering Anda lakukan. Ketiga, tentanglah distorsi kognitif yang Anda miliki. Misalnya Oma Siska menentang pikirannya bahwa makanan bisa menimbulkan rasa gatal. Cara ketiga akan terkait dengan cara ke empat, yakni kembangkanlah perspektif baru dengan memikirkan skenario yang berbeda, melihat dari sisi yang sebaliknya, atau melihat dari sisi orang lain. Ketika saya berpikir positif bahwa selalu ada hal baru yang dapat dipelajari dalam pelatihan, kejengkelan saya berkurang. Jangan langsung terpancing emosi terhadap sikap tidak menyenangkan dari seseorang. Coba berandai-andai Anda ada di posisinya. Memahami sudut pandang orang lain akan sangat membantu dalam mengembangkan perspektif baru mengenai perilaku orang tersebut. Kelima, jangan ambil pusing untuk hal-hal sepele. Jika Anda melihat teman yang tidak menyapa, tegurlah ia lebih dahulu. Anda tidak perlu berkutat dengan menebak-nebak mengapa ia tidak menyapa Anda. Keenam, jangan berpikir untuk mengubah situasi atau orang lain. Percayalah lebih mudah mengubah pikiran Anda sendiri. Ketimbang berandai-andai ada angkot yang melintasi rumah saya, lebih baik menikmati berjalan kaki. Daripada jengkel dengan pasangan yang terlalu sibuk, hargailah perhatiannya sekecil apapun di tengah jadwalnya yang padat luar biasa.

Jadi tunggu apa lagi? Ubahlah cara Anda memandang dunia. Yakinlah, hidup Anda akan terasa lebih indah.

Beli Intisari Mind, Body, and Soul, Volume 11 ya..ada tentang psikologi musik jg di edisi ini😉

Mas mayong, tengkyu ya, like always🙂

2 Comments leave one →
  1. Nuri Rinawati permalink
    January 6, 2011 2:35 pm

    makasih banget, bisa wat bekal diri sendiri dan ditularkan ke orang lain..karena aku suka banget belajar psikologi…terus..terus dan diulang…

    • Ester Lianawati permalink*
      February 27, 2011 11:19 pm

      sama-sama🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: