Skip to content

Cegah Pedofil Beraksi

May 1, 2010

Belum lama ini kita dikejutkan oleh sosok Baukeni, yang lebih dikenal dengan sebutan Babe. Babe, seorang pedagang rokok sekaligus koordinator anak jalanan seketika jadi bahan pembicaraan setelah anak asuh kesayangannya ditemukan tewas terpotong-potong. Nama Babe mungkin tidak akan se-mencuat itu jika ia bukan pelakunya. Persoalannya adalah Babe yang melakukan mutilasi itu, setelah terlebih dahulu menyodomi korbannya. Belakangan diketahui korban itu bukan yang pertama, sudah ada 13 korban lain sebelumnya. Psikolog pun dipanggil untuk memeriksa kondisi kejiwaan Babe, dan diagnosis ditegakkan: Babe adalah seorang pedofil, atau penderita pedofilia.

Istilah pedofilia diambil dari bahasa Yunani kuno, dari kata pedos berarti anak, dan philia berarti hasrat, ketertarikan, atau cinta. Tampaknya lebih tepat mengartikan pedofilia sebagai hasrat/ketertarikan, bukan cinta, terhadap anak-anak, mengingat perbuatan pedofil sama sekali tidak mencerminkan cinta. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh psikiater Jerman, Richard von Krafft-Ebing, pada tahun 1896. Namun sejarah pedofilia dimulai jauh sebelum Krafft-Ebing membicarakannya.

Dalam mitologi Yunani dikisahkan mengenai Zeus yang tertarik dengan Ganymede, pangeran kerajaan Troy. Zeus menculik Ganymede, menjadikannya juru minum sekaligus kekasihnya. Sejarah juga mencatat pada jaman Renaissance, pedofilia muncul dalam banyak karya seni. Michelangelo dan Benvenuto Cellini termasuk yang cukup sering menampilkan percintaan antara laki-laki dewasa dan anak laki-laki dalam patung dan lukisan mereka. Ada dugaan saat itu pedofilia memang jadi tren di kalangan seniman meski tidak ditunjang bukti-bukti kuat.

Pada awal abad 20, isu pedofilia berpindah dari kalangan seniman ke pendidik. Adalah Gustav Wyneken, guru pertama yang diadili akibat tindakan pedofilia yang ia lakukan terhadap muridnya. Bersama dengan pendidik lain yang juga pedofil, ia mengatasnamakan perbuatannya sebagai wujud pedagogical eros, yakni bahwa cinta erotis pria dewasa dibutuhkan untuk mendewasakan anak laki-laki. Pandangan ini diambilnya dari kepercayaan masyarakat Melanesia di Pasifik bahwa menerima sperma pria dewasa melalui seks oral akan membentuk anak menjadi dewasa. Sebuah keyakinan yang tidak masuk akal, herannya guru seperti Wyneken dkk menjadikannya sebagai dasar pembelaan.

Namun selama berabad-abad, para pedofil memang berada pada posisi aman, dalam arti tidak terjangkau oleh hukum. Baru ketika sebagian dari mereka membunuh korbannya, atau keluarga korban melaporkannya, kasus-kasus ini mulai menjadi perhatian masyarakat. Ada yang bisa kita tangkap dari hal ini yakni memang tidak semua pedofil melakukan pembunuhan seperti Babe atau Robot Gedek yang kasusnya juga sempat menghebohkan beberapa tahun lalu.

Richard Lanyon, psikolog dari Arizona State University mengelompokkan pedofil ke dalam tiga tipe, yaitu situational molesters, preference molesters, dan child rapists. Pedofil tergolong tipe situational jika masih memiliki ketertarikan seksual dengan orang dewasa. Hanya saja dalam situasi tertentu, mereka memiliki hasrat pedofilia dan melakukan tindakan pedofilia sebagai upaya mengatasi rasa tertekan.

Seseorang tergolong sebagai preference molesters jika tertarik secara seksual hanya kepada anak-anak. Kalaupun mereka menikah, hanya untuk menutupi kondisi mereka yang sebenarnya. Mereka tidak merasa ada yang salah dengan pedofilia, bahkan menganggap masyarakat yang bersikap berlebihan. Biasanya situational maupun preference molesters menyalurkan hasrat pedofilianya terhadap anggota keluarga atau tetangganya. Kedua tipe ini umumnya tidak bertindak sadis terhadap korbannya. Mereka cenderung membujuk atau mengancam anak tanpa kekerasan fisik.

Sedangkan tipe pemerkosa anak (child rapist) biasanya sangat kasar dan tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik kepada korban bahkan sampai memerkosa ataupun membunuh korban. Krafft-Ebing menyebutnya sebagai pedofil sadistis. Biasanya mereka mengalami gangguan kepribadian antisosial atau yang populer dengan sebutan psikopat. Mereka tidak memiliki rasa bersalah ataupun kepedulian kepada para korbannya. Jika seorang pedofil termasuk dalam tipe ini, mereka akan didiagnosis dengan dua gangguan sekaligus, yaitu pedofilia dan gangguan kepribadian antisosial. Hal ini sekaligus menunjukkan keduanya merupakan dua gangguan yang berbeda.

Pedofilia juga perlu dibedakan dari homoseksual. Tidak semua pedofil memiliki orientasi seksual terhadap anak yang sama jenis kelaminnya dengan mereka. Jika kebetulan Babe homoseksual, tidak serta merta kita bisa menganggap pedofil itu homoseksual atau sebaliknya melabel para homoseksual sebagai pedofil. Data statistik menunjukkan bahwa pedofilia yang berorientasi homoseksual hanya sepertiga dari jumlah pedofilia keseluruhan.

Penyebab pedofilia perlu dipahami dari aspek biologis, psikologis, dan sosial, yang saling terkait. Secara biologis memang belum ditemukan pola genetik yang khas pada para pedofil. Namun diyakini bahwa pedofilia disebabkan oleh tingginya hormon testosteron yang merupakan hormon seks laki-laki. Pandangan ini masuk akal mengingat 95 persen pedofil berjenis kelamin laki-laki.

Dari sudut psikologi, pengalaman masa kanak-kanak sebagai korban pedofilia ditengarai sebagai penyebab utama seseorang menjadi pedofil. Mereka belajar dengan mengamati bahwa kepuasan seksual dapat diperoleh dari anak-anak. Bisa jadi pula mereka rendah diri menyadari dirinya adalah korban pedofilia. Akibatnya mereka cenderung menutup diri dan pergaulan pun jadi terbatas. Terkait dengan hal ini, kurangnya keterampilan untuk membina hubungan akrab dengan orang lain juga menjadi salah satu penyebab pedofilia. Mereka tidak dapat menjalin hubungan intim dengan orang dewasa yang sebaya. Dalam kondisi ini, tidak ada yang lebih nyaman selain berinteraksi dengan anak-anak, yang mudah didekati tanpa melakukan perlawanan sebagaimana dahulu yang terjadi pada mereka.

Harga diri yang rendah juga menjadi faktor penyebab. Mereka merasa tidak memiliki kelebihan, atau merasa gagal dibandingkan pasangan atau teman-temannya. Menguasai anak, mengancam, dan memanipulasinya, merupakan suntikan bagi harga diri para pedofil. Orang yang merasa rendah diri juga mudah mengalami depresi dan kecemasan. Dalam kondisi ini, melakukan pelecehan seksual terhadap anak dijadikan cara melepaskan ketegangan.

Dari segi sosial ditemukan pelaku pedofilia kebanyakan berasal dari kalangan sosial ekonomi rendah. Sebagian bahkan tidak memiliki pekerjaan. Ditambah dengan tingkat pendidikan yang umumnya kurang memadai, mereka sulit menemukan cara penyelesaian masalah yang efektif. Akibatnya mereka mudah terkena stres dan menggunakan anak untuk mengatasi rasa tertekan atau ketegangannya akibat stres.

Bicara soal pedofilia, tidak hanya terkait dengan pelaku, melainkan juga korbannya. Pedofilia adalah penyimpangan seksual yang paling meresahkan karena korbannya anak-anak. Dampaknya secara luar biasa mengubah kehidupan korban. Apalagi kebanyakan pelaku adalah orang yang dekat dengannya. Ketidakmampuan mempercayai orang lain, rendahnya harga diri, ketakutan untuk menjalin hubungan akrab dengan lawan jenis, ketergantungan obat-obatan, depresi, hambatan seksual, atau sebaliknya berlebihan dalam hal seksual, dan gangguan lainnya dapat dialami korban. Bukan tidak mungkin, korban akan menjadi pedofil dan menimbulkan korban-korban baru.

Mengingat dampak yang begitu panjang dan beruntun, pedofil perlu ditangani. Hukuman penjara perlu dipadukan dengan penanganan medis dan psikologis. Menurunkan level testosteron dan memberikan lutenizing hormone-releasing hormone (LHRH) adalah penanganan medis yang sering dilakukan untuk menurunkan dorongan seks dan ereksi. Tetapi dua terapi ini tidak mengurangi ketertarikan pedofil terhadap anak.

Penanganan psikologis dapat dilakukan dengan meminta pedofil berfantasi tentang anak lalu memberikannya obat yang menimbulkan rasa mual pada saat itu juga. Lama kelamaan pelaku akan menganggap hasrat seksual terhadap anak itu tidak menyenangkan. Pedofil juga dapat diterapi dengan mengubah pola pikirnya. Mereka diminta berfantasi seksual tentang anak namun mengubah akhir cerita sekreatif mungkin asalkan bukan lagi berhubungan seksual dengan anak. Pedofil juga perlu dibantu untuk menentang pemikiran mereka yang tidak masuk akal seperti menyalahkan anak yang dianggapnya sengaja menggoda dan membenarkan tindakan mereka sebagai cara mendidik anak tentang seks.

Pedofil juga perlu dibantu untuk menemukan akar masalahnya. Mereka yang terbatas dalam keterampilan interpersonalnya harus belajar mengembangkannya. Mereka juga perlu meningkatkan harga diri dengan menemukan dan mengolah kelebihannya. Kemampuan mengelola stres dan menyelesaikan masalah juga perlu diajarkan.

Hal menarik dari pedofilia adalah mengenai aliran darah pada penis yang dapat diukur dengan menggunakan alat bernama penile plethysmograph. Pedofil meningkat aliran darahnya ketika menyaksikan adegan yang diperankan anak meski tidak bermaksud provokatif, iklan popok misalnya. Hal ini tidak dialami pria normal. Namun baik pedofil maupun laki-laki normal ternyata sama-sama meningkat gairahnya saat ditayangkan adegan seksual yang melibatkan anak-anak. Laki-laki normal juga dapat berfantasi seksual mengenai anak dan gairahnya meningkat saat berfantasi. Dengan perkataan lain, kebanyakan pria dapat berhasrat seksual terhadap anak-anak, namun tidak semua melakukan tindak pedofilia. Jadi tampaknya ada persoalan kontrol diri dalam masalah pedofilia.

Bahwa ada orang yang dapat mengontrol impuls seksualnya terhadap anak memberi warna dalam penanganan pedofilia. Pedofil dapat diajarkan untuk mengenali situasi yang biasanya memicu hasrat seksual mereka terhadap anak-anak. Jika situasi ini terjadi, mereka dapat melakukan kegiatan positif untuk menyalurkan energinya. Bisa dengan berolah raga, berkebun, membersihkan kendaraan, atau kegiatan lainnya. Mereka juga dapat dilatih mengembangkan empati dengan memikirkan dampak perbuatannya baik pada anak, dirinya, maupun keluarga. Saat dorongan itu muncul, mereka bisa melakukan yang namanya self-talk atau bicara pada diri sendiri untuk menahan diri agar tidak melakukan tindakan tersebut. Mereka juga dapat dilatih teknik relaksasi untuk menurunkan tingkat ketegangan saat hasrat mereka terhadap anak muncul.

Perlu diakui bahwa tingkat keberhasilan penanganan pedofilia sangat kecil. Namun bukan berarti tidak mungkin. Adanya pedofil yang dapat mengatasi gangguan mereka memberi harapan bahwa gangguan ini dapat disembuhkan. Hanya saja dibutuhkan evaluasi terhadap berbagai terapi yang sudah dijalankan agar efektivitas penanganan dapat ditingkatkan. Sayangnya, terapi untuk pedofilia belum banyak dilakukan di Indonesia. Oleh karenanya, masyarakat perlu membantu untuk mengembangkan kesadaran bagi para pedofil untuk menjalani terapi. Mungkin kita akan memandang jijik dan takut terhadap mereka. Tetapi sikap ini tidak akan membantu. Sedapat mungkin jika kita melihat orang yang tampaknya mengalami pedofilia, dekatilah dia, berikan nomor lembaga konseling yang dapat ia hubungi.

Namun sulitnya mereka tidak terang-terangan tampil sebagai pedofil. Atau belum tentu mereka dapat menerima uluran tangan kita. Oleh sebab itu, yang lebih realistis untuk dilakukan saat ini adalah tidak memberikan ruang kepada para pedofil. Kita tentunya tidak dapat bersikap curiga pada semua pria yang menyukai anak-anak. Namun kita dapat mempersiapkan anak bila sewaktu-waktu menghadapi pedofil. Poinnya adalah cegah pedofil untuk beraksi, jangan beri mereka kesempatan untuk melancarkan aksinya. Biarkan mereka paham bahwa tidak ada tempat bagi pedofilia dalam masyarakat kita.

 ——-

Pedofil sangat sulit disembuhkan, apalagi tipe sadistis seperti Babe. Oleh sebab itu yang terpenting adalah melindungi anak dari bahaya pedofil. Anak harus diajarkan untuk melaporkan kepada ibu atau pengasuh jika ada orang yang menyentuh alat kelaminnya, menyuruhnya untuk menjaga rahasia, ingin menggantikannya pakaian padahal tidak kotor ataupun basah, membuka pakaiannya sendiri, meminta anak menyentuhnya, atau mengajaknya masuk ke kamar mandi padahal anak tidak ingin buang air.

Anak harus diajarkan untuk menolak bila ada yang melakukan hal-hal itu kepadanya, meski anak mengenal si pelaku. Orang tua juga harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak. Hati-hati bila anak jadi enggan masuk ke toilet, mengeluhkan sakit pada alat kelaminnya, atau menolak untuk digendong dengan alasan sakit meski ia tidak dapat menyebutkan bagian tubuh yang sakit. Cari tahu penyebabnya bila anak yang tadinya ceria namun kini rewel, gelisah, dan mudah menangis, apalagi bila hal ini ditampilkan saat berhadapan dengan orang tertentu yang sebelumnya cukup akrab dengannya. Tanyakan lebih lanjut bila anak menghindari tempat-tempat tertentu yang sebelumnya ia sukai. Demikian pula bila anak kini bersembunyi tiap kali melihat orang yang sebelumnya cukup dekat dengannya.

Bagaimana kita harus bersikap bila suami, ayah, paman, atau anggota keluarga lainnya adalah pedofil? Jangan ambil risiko. Pedofil tidak seketika sadar ketika perilakunya sudah diketahui orang lain. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengamankan anak-anak. Kedua, pemulihan keluarga perlu segera dilakukan. Mintalah orang yang berkompeten (konselor atau psikolog) untuk membantu proses pemulihan. Anak yang menjadi korban dan anggota keluarga lain perlu disiapkan sebelum dihadapkan dengan pedofil. Pedofil juga harus ditangani terpisah sebelum dipertemukan dengan anggota keluarga lainnya. Ketiga, ambil langkah terbaik selanjutnya. Terus hidup bersama pedofil tidak perlu dijadikan pilihan jika memang mengancam keselamatan anak dan keutuhan keluarga.

 Bang Icul, tengkyu ya. Bs aja nemuin judulnya🙂

5 Comments leave one →
  1. a_y permalink
    June 2, 2010 12:57 pm

    wow…artikelnya benar-benar menambah ilmu.

    Bu…apakah kasus pelecehan seksual yang di lakukan oleh ayah terhadap anak kandungnya, secara garis besar penyebabnya sama dengan pedofil…atau ada faktor lain yang membedakannya?…

    sekedar membagi info aja…ternyata di lapangan alias “di penjara” para narapidana ternyata membenci “napi-napi” yang di hukum dengan kasus seperti ini loh. Katanya orang-orang yang dihukum dengan pasal ini adalah orang-orang yang udah gak punya “otak”…

    napi yang di hukum dengan kasus pelecehan seksual ini, bisa dapat hukuman tambahan dari napi-napi di dalam penjara loh. mereka bisa dipukuli oleh sesama napi di dalam. bukan hanya oleh 1 atau 2 napi…bahkan bisa dipukulin oleh 150 napi sekaligus…

    dan, karena hal itu bagi napi kasus pelecehan seksula seperti ini, katanya punya ketakutan tersendiri loh kalo mereka bakal di pindahkan atau istilahnya “dioper” ke Penjara lain. Karena mereka akan takut dipukuli lagi oleh napi-napi di tempat baru tersebut. bahkan, ada yang pernah mengambil keputusan untuk bunuh diri karena tidak kuat dengan siksaan dari para napi…

    Hm…hm…hm…

  2. June 4, 2010 2:21 am

    Salam Takzim
    Miris sekali membacanya mbak, semoga segera berakhir negeri ini dari pedofil
    Salam Takzim Batavusqu

    • Ester Lianawati permalink*
      June 12, 2010 9:54 am

      Iya, mas. Mmg miris, dan sulit skl mengatasinya.
      Smg ada penanganan yg tepat utk mrk.

      Salam,
      Ester

  3. July 8, 2010 12:00 pm

    mbak artikelnya diterbitkan juga di majalah intisari ya… heheh saya sudah baca^^ thankz infox

    • Ester Lianawati permalink*
      July 18, 2010 11:56 pm

      Iya, sama2🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: