Skip to content

Dapatkah Bunuh Diri Dicegah?

February 4, 2010

Tahun baru 2010 ternyata tidak menjadi tahun penuh harapan bagi sebagian orang. Masih di minggu pertama tahun ini seorang wanita muda melakukan upaya pencobaan bunuh diri meski nyawanya terselamatkan. Menyusul Jumat minggu lalu seorang gadis terjun dari jalan layang yang menghubungkan Cawang-Halim.

Bunuh diri sendiri sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahunnya, di Jakarta saja Polda Metro Jaya mencatat puluhan kasus. Hanya saja topik ini kembali marak dibicarakan setelah terjadi tujuh kasus bunuh diri berturut-turut dalam dua bulan belakangan ini. Apalagi sebagian dari mereka melakukannya dengan cara terbilang baru yakni menjatuhkan diri di mal.

Mengapa orang sampai mau membunuh dirinya sendiri? Demikian pertanyaan yang kerap muncul tiap kali kita dikejutkan dengan berita ini. Bunuh diri banyak dikaitkan dengan tekanan hidup seperti kemiskinan, kehilangan pekerjaan, putus cinta, dsb. Pertanyaannya adalah tidak seorang pun yang tidak pernah punya masalah, bahkan banyak yang mengalami tekanan luar biasa dalam hidupnya, tetapi mengapa tidak semua melakukan bunuh diri?

Psikologi berusaha menjelaskan penyebab orang bunuh diri dari tiga pendekatan yang terkait satu sama lain. Pertama, pendekatan psikopatologi atau gangguan mental. Ada sejumlah kondisi mental yang buruk yang dapat mendorong orang untuk bunuh diri. Penderita depresi ditemukan yang paling banyak melakukan bunuh diri. Disusul oleh penderita skizofrenia, kecemasan, dan ketergantungan terhadap obat-obatan serta narkotika.

Kedua, pendekatan psikoanalisis. Psikoanalisis melihat adanya hubungan yang kuat antara depresi dan bunuh diri. Keduanya memiliki mekanisme yang sama karena memang pandangan ini juga meyakini bahwa orang yang bunuh diri adalah orang yang depresi. Menurut Freud, bapak psikoanalisis, orang yang depresi biasanya berkepribadian dependen. Mereka bergantung pada objek tertentu entah itu orang yang ia cintai ataupun aspek-aspek tertentu dalam hidupnya yang ia anggap penting. Ketika ditinggalkan oleh objek yang selama ini menjadi tempat ia bergantung, ia marah. Tetapi kemarahannya tidak dapat ia tujukan kepada objek yang ia cintai tersebut sehingga ditujukan kepada dirinya sendiri. Jadi bunuh diri dalam pandangan psikoanalisis merupakan ekspresi rasa marah seseorang terhadap objek yang ia cintai namun meninggalkannya.

Ketiga, pendekatan kognitif-perilaku (cognitive behavioral). Menurut pendekatan ini, orang-orang yang bunuh diri adalah mereka yang mengalami distorsi kognitif atau cara berpikir yang salah. Aaron T. Beck, penggagas pendekatan ini, menyebutkan pemikiran dikotomis dan overgeneralisasi sebagai dua distorsi kognitif yang berkontribusi dalam memunculkan ide bunuh diri. Dalam pemikiran dikotomis, manusia berpikir secara hitam putih. Misalnya hidup itu harus sukses, maka ketika gagal, kita tidak dapat hidup. Sedangkan mereka yang melakukan overgeneralisasi ketika salah satu aspek kehidupannya terganggu akan berpikir bahwa semua aspek hidupnya terganggu. Ketika istri meninggal dunia, ia merasa tidak akan bisa bekerja, mengurus anak, dsb. Orang yang mengalami kedua distorsi kognitif ini sangat rentan untuk depresi dan melakukan bunuh diri.

Keyakinan Irasional

Selain distorsi kognitif yang dikemukakan Beck, keyakinan-keyakinan irasional lainnya dapat mendorong orang untuk bunuh diri. Misalnya keyakinan bahwa toh semua manusia pada akhirnya juga akan mati. Atau keyakinan bahwa kematian mereka dapat membawa manfaat bagi banyak orang. Pada masa Perang Vietnam misalnya, para biksu membakar diri untuk memprotes perang. Keyakinan yang terkait dengan pemahaman yang salah terhadap ajaran agama juga dapat menjadi alasan bunuh diri. Seperti para penganut sekte tertentu yang beramai-ramai bunuh diri atau mereka yang melakukan bom bunuh diri.

Masih termasuk dalam pendekatan ini, orang yang bunuh diri mengalami ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness). Maksudnya, mereka sering mengalami kegagalan sehingga lama-lama merasa tidak berdaya dan meyakini apapun yang mereka lakukan hanya akan membawa kepada kegagalan. Keinginan untuk selalu sempurna juga menjadi salah satu faktor pemicu bunuh diri. Orang yang perfeksionis dipenuhi dengan keharusan-keharusan, bahwa mereka harus selalu menjadi yang pertama, harus bisa menyenangkan semua orang, dsb. Mereka merasa gagal ketika standar mereka tidak terpenuhi namun tidak menyadari bahwa standar mereka yang terlalu tinggi.

Meski tiga pendekatan di atas merupakan pendekatan utama dalam psikologi tentang bunuh diri, namun sepertinya belum menjelaskan mengapa dalam dua bulan belakangan ini bunuh diri terjadi berturut-turut dengan cara yang kurang lebih sama. Suicide contagion atau penularan bunuh diri adalah istilah yang dikemukakan Simon Stack, doktor dari Wayne State University, untuk menjelaskan hal ini. Seseorang menangkap ide dan cara bunuh diri dengan melihat orang lain terlebih dahulu melakukannya. Prinsipnya mengikuti teori belajar sosial dari Albert Bandura. Seseorang akan meniru perilaku orang lain dengan mengamati perilaku orang itu dan merasakan penguatan (reinforcement) yang diterima orang tersebut. Bahwa cara itu berhasil membuat orang itu meninggal dunia adalah reinforcement terkuat bagi mereka yang sedang depresi atau berkeinginan bunuh diri. Eksposure media menjadi penguatan tambahan bahwa setidaknya mereka bisa meninggal dengan cara yang menarik. Tingkat penularan bunuh diri semakin besar bila pelakunya adalah selebritis.

Perlu diketahui tidak semua orang sungguh-sungguh ingin mati ketika bunuh diri. Mereka yang sering mencoba-coba bunuh diri biasanya mengalami gangguan kepribadian borderline. Gangguan ini dicirikan dengan kondisi emosi dan penghargaan terhadap diri yang labil, sering berubah-ubah. Mereka tidak paham hendak dibawa kemana hidupnya, dan oleh karenanya sering merasa hampa. Mereka juga dependen dan memiliki kecemburuan besar kepada pasangan. Biasanya mereka melakukan upaya bunuh diri sebagai pengisi kehampaan atau agar pasangan tidak jadi memutuskan hubungan. Mereka sudah mengetahui cara-cara bunuh diri yang tidak akan menimbulkan kematian. Jika ada di antara mereka yang benar-benar meninggal biasanya itu faktor kebetulan saja. Oleh sebab itu tindakan mereka lebih sering dinamakan parasuicide atau suicide gesture karena sekedar memberi isyarat kepada orang lain mengenai keberadaan dirinya.

Namun tidak semua orang yang melakukan parasuicide ini berkepribadian borderline. Ada pula yang sesungguhnya memang ingin mati hanya saja tidak memahami cara yang memang dapat mematikan. Selain itu ada pula orang yang memang ingin menunjukkan bahwa mereka punya masalah. Tidak semua orang dapat menceritakan persoalan pribadinya bahkan kepada orang terdekat sekalipun. Dengan melakukan pencobaan bunuh diri, otomatis orang-orang terdekat akan menanyakan persoalan yang mereka hadapi. Namun perlu diketahui, apapun alasan yang mendasari seseorang untuk bunuh diri, biasanya mereka mengalami ambivalensi terlebih dahulu ketika hendak melakukannya. Mereka bimbang, takut, dan mempertimbangkan banyak faktor lainnya. Ambivalensi ini justru menggembirakan menurut Edwin Schneidman, pendiri American Association of Suicidology  karena menunjukkan bahwa tiap orang yang hendak bunuh diri sesungguhnya masih bisa dicegah untuk tidak melakukannya.

Pencegahan

 

Lantas, bagaimanakah cara pencegahannya? Pertama, adalah orang-orang terdekat yang berperan penting dalam pencegahan bunuh diri. Kita harus peka terhadap perubahan perilaku dari teman atau anggota keluarga kita. Mereka yang semula ceria tetapi kini lebih sering mengurung diri di kamar. Atau bahkan mulai memberikan sinyal-sinyal bunuh diri dengan mengemukakan idenya untuk bunuh diri baik secara eksplisit maupun tersamar. Bisa jadi mereka sekedar mengatakan bahwa hidup ini sudah tidak menyenangkan, atau lebih baik mati daripada hidup. Kedua, tawarkan bantuan kepada mereka. Jika mereka tampak ragu, katakan bahwa Anda siap membantu kapanpun mereka siap untuk bercerita. Atau berikan rujukan lembaga konseling atau nomor hotline yang dapat mereka hubungi jika mereka membutuhkan konselor/psikolog. Belum lama ini www.janganbunuhdiri.net sudah dibuat oleh tiga psikolog dari Universitas Indonesia yang peduli terhadap masalah ini. Yayasan Pulih juga siap membantu di hotline 021-9828-6398 dan 0888-181-6860 dari hari Senin-Jumat selama jam kerja.

Ketiga, jika mereka mau berbagi masalahnya kepada Anda, arahkan mereka untuk melihat pilihan-pilihan selain bunuh diri. Menurut Schneidman, dengan mendaftarkan saja opsi-opsi itu biasanya sudah dapat memberikan efek tenang. Yakinkan bahwa meski pilihan-pilihan itu bukan yang terbaik tetapi masih lebih baik dari bunuh diri. Keempat, dalam menayangkan berita bunuh diri, media hendaknya memberikan edukasi bagi masyarakat dengan memaparkan cara-cara pencegahannya, bukan hanya berfokus pada upaya menjelaskan penyebab mereka melakukannya. Kelima, pemerintah dan masyarakat dapat berperan aktif dengan mendirikan semacam pusat krisis bunuh diri. Bersama-sama, kita dapat membantu menyelamatkan jiwa sesama dengan mencegah mereka melakukan bunuh diri dan mengajarkan keterampilan menyelesaikan masalah yang efektif.

10 Comments leave one →
  1. March 27, 2010 12:02 am

    Salam Takzim
    Sahabat mohon maap mau ngajak ikutan Earth Hour nanti malam, ikutan yuk kesini
    Terima kasih
    Salam Takzim Batavusqu

  2. torang simatupang permalink
    April 17, 2010 4:07 pm

    keren… i do like it. seneng rasanya bisa baca ulasan yang mendalam gini… thx ya mbak udah mau sharing tulisannya. btw salam kenal ya mbak Ester.

    • Ester Lianawati permalink*
      April 20, 2010 1:57 pm

      Makasih bnyk. Salam knl jg ya🙂

  3. April 22, 2010 3:47 am

    Kayaknya gak ada yang perlu dipertanyakan lagi, semuanya dah gamblang..kagum,kagum,kagum
    Met hari “KARTINI” sis

    • Ester Lianawati permalink*
      May 1, 2010 3:04 pm

      Mas Abie, apa kabar nih?
      Makasih ya, mas. Met hr Kartini jg🙂

  4. Evi permalink
    May 29, 2010 4:57 am

    aslm, mbak ester, saya sangat menyukai artikel mbak tentang learned helplessness ini, dan kebetulan saya sedang menghadapi skripsi. disini saya juga mengambil tema tentang learned helplessness pada narapidana. apakah mbak bisa membantu saya untuk memberikan informasi mengenai itu?
    saya sangat mengharapkan bantuan mbak..
    sebelumnya saya ucapkan terimakasih.

    • Ester Lianawati permalink*
      July 30, 2010 11:10 pm

      dear Evi, aku dah kirim imel ke km alamat email kawanku, Apri yang jg sedang penelitian ke Lapas, mgkn kalian bs diskusi ya.

      salam,
      ester

  5. sofyan permalink
    September 13, 2011 8:10 am

    saya baru” ini meninggal istri di usia 31thun dan usia perkawinan 4tahun.meningalkan anak usia2 thun lebih,bgmna cara menghadapi hari” yang sepi dan kesedihan ini,

    • Ester Lianawati permalink*
      September 27, 2011 12:21 am

      dear mas sofyan,
      maaf saya br saja membuka kembali blog ini. sebelumnya saya turut berduka cita utk kepergian istri mas. sedih dan sepi tentu tidak bs dihapuskan dalam wkt singkat, dan sangat wajar bila mas sofyan merasakannya saat ini. biarkan seperti itu, jalani sbg bagian yg mmg normal dan wajar untuk mas sofyan jalani. di sisi lain, jangan lupakan bahwa ada si kecil yg juga membutuhkan perhatian ayahnya. kadang saat kita fokus pada kesedihan kita krn ditinggalkan org yg kita sayangi, kita lupa bahwa masih ada org lain yg juga kita sayangi dan membutuhkan kita. kesedihan dan kesepian tdk bs dihindari, tp tetap beraktivitas,melakukan hal-hal positif dan menyenangkan untuk diri sendiri dan orang-orang lain yg kita sayangi adalah salah satu cara terbaik menghadapinya. kdg kala kita jg perlu mengubah cara pikir kita. srg kali kita memberi excuse pd diri sendiri bhw kita sedang sedih dan tdk mgkn melakukan hal2 positif yg menggembirakan, pdhl yg perlu kita lakukan hanya melakukannya di samping semua rasa sedih dan sepi kita.
      saya sangat suka tulisan dr Miriam Greenspan, saya kirimkan di sini link nya, smg bermanfaat jg untuk mas sofyan.

      salam,
      ester

    • Ester Lianawati permalink*
      September 27, 2011 12:22 am

      maaf td lupa saya cantumkan link nya :
      http://www.miriamgreenspan.com/excerpt.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: