Skip to content

Konseling Laki-laki Pelaku KDRT: Mari Membangun Dunia Tanpa Kekerasan

January 15, 2010

Sejauh ini upaya penanganan KDRT lebih berfokus kepada korban. Pelaku seolah berada pada kutub berlawanan sehingga hampir tidak tersentuh. Padahal menangani KDRT butuh pendekatan yang komprehensif. Kita tidak bisa hanya melibatkan satu pihak (baca: korban), melainkan juga perlu memasukkan pelaku sebagai bagian dari upaya penanganan. Bukan hanya korban yang membutuhkan konseling, namun pelaku tidak kurang membutuhkannya.

Perlunya konseling pelaku sudah terpikirkan sejak awal pembuatan UU PKDRT. Dalam pasalnya yang ke 50 tertulis bahwa konseling pelaku dapat diberikan sebagai pidana tambahan. Meski menjadikannya sebagai pidana tambahan mungkin berguna untuk ‘memaksa’ pelaku mengikuti konseling, namun saya pribadi tidak melihat perlunya konseling pelaku dalam konteks hukuman. Dalam pandangan saya, konseling pelaku diperlukan lebih dari sekedar kewajiban melaksanakan hukuman.

Konseling pelaku mutlak diperlukan karena beberapa alasan. Pertama, sebagian besar korban tidak menginginkan pelaku masuk penjara. Keinginan mereka adalah pelaku berubah menjadi suami dan ayah yang baik dalam arti tidak lagi melakukan kekerasan. Dengan demikian, konseling pelaku menjadi penting dalam upaya memenuhi kebutuhan korban. Kedua, masih dalam kaca mata kepentingan korban, rekonsiliasi korban dengan pelaku diperlukan dalam proses pendamaian korban dengan dirinya sendiri. Mengapa saya yang mengalami hal ini, mengapa dia tega melakukan ini kepada saya, adalah pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghantui korban sepanjang hidupnya. Korban mempertanyakan esensi dirinya, bahkan mengubah persepsi dirinya menjadi pribadi yang pantas menerima perlakuan kasar pelaku. Ketika pelaku mengakui bukan diri korban penyebabnya, melainkan dialah pihak yang bertanggung jawab atas tindakannya, akan menjadi momen penting yang berperan bagi proses penyembuhan psikis korban. Untuk dapat melakukannya, seorang pelaku membutuhkan penyadaran. Konseling dapat membantu pelaku untuk mencapai kesadaran ini, yang selanjutnya membantu proses pembentukan kembali jati diri korban sebagai manusia yang layak dicintai.

Terkesan bahwa alasan pertama dan kedua mengakomodir kebutuhan korban. Namun mari kita simak alasan ketiga dan keempat agar terbuka pemahaman yang lebih dalam mengenai konseling pelaku. Ketiga, kekerasan tidak akan pernah terhapuskan jika pelakunya tidak pernah belajar pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan agar ia tidak lagi melakukan kekerasan. Konseling akan membantu pelaku mempelajari ketiga hal tersebut. Hukuman pidana berupa kurungan penjara mungkin saja memberi efek jera. Namun hukuman ini tidak akan efektif untuk mengubah pola kekerasan yang sudah mengakar dalam diri pelaku. Bukan tidak mungkin pelaku kembali melakukan kekerasan setelah ia selesai menjalani pidana. Karena hukuman pidana hanya mengajarkan bahwa perilakunya salah tanpa memberitahukan caranya bagaimana supaya ia tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Keempat, terkait dengan alasan ketiga, dan ini yang terpenting menurut saya, konseling pelaku bermanfaat untuk kepentingan masyarakat karena sifatnya preventif untuk jangka panjang. Sekalipun korban tidak lagi bersama pelaku, akan sangat mungkin ada korban-korban selanjutnya dari pelaku yang sama. Interaksi pelaku dengan masyarakat pascaproses hukum akan membuka peluang terjadinya pola kekerasan berulang meski pada korban yang berbeda. Ini berarti membuka peluang akan terjadinya pelaku-pelaku baru. Kita mungkin sudah mengetahui bahwa anak yang diasuh dengan kekerasan berpotensi menjadi pelaku kekerasan. Dengan demikian, penanganan pelaku mutlak diperlukan untuk membangun budaya anti kekerasan dalam masyarakat kita.     

Mungkin kita sulit untuk menerima gagasan ini, terutama bagi kita yang ikut mendampingi korban. Kita terlalu sering mendengar penderitaan korban akibat kekejaman pelaku. Kadang kita terlarut di dalamnya sehingga tidak mudah bagi kita untuk bersimpati kepada pelaku. Kita bahkan mungkin mengutuk mereka. Namun kegeraman ini tidak akan menyelesaikan masalah. Berhentilah memandang pelaku sebagai pelaku. Tidak ada seorang pun yang terlahir sebagai pelaku kekerasan.  Pelaku juga adalah korban. Mereka terbentuk oleh pengalaman hidupnya dalam keluarga, lingkungan pergaulan, bahkan oleh pola pendidikan kita yang menumbuhsuburkan budaya kekerasan. Kita sendiri terlibat di dalam pelestarian budaya ini jika tidak segera menghentikannya.

Konselor yang akan memberikan konseling kepada pelaku harus meyakini bahwa perubahan sangat mungkin terjadi pada pelaku. Sesuatu yang terkonstruksi akan dapat didekonstruksi. Terkait dengan perilaku, sebagaimana yang diyakini para pakar dalam pendekatan perilaku (behavioral approach) bahwa jika sebuah perilaku terbentuk, maka perilaku itupun dapat dibentuk ulang. Sangat terbuka kemungkinan seorang pelaku kekerasan menjadi pribadi baru yang anti kekerasan. Pelaku adalah klien laki-laki yang akan belajar dari program konseling untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.

Oleh sebab itu, meskipun konseling pelaku secara hukum dijadikan sebagai pidana tambahan, hendaknya penanganan ini tidak dipandang sebagai sebuah hukuman. Alangkah jauh lebih baik bila kita memandangnya sebagai upaya pemulihan, tidak hanya bagi laki-laki pelaku kekerasan namun bagi masyarakat secara keseluruhan. Mari bersama kita libatkan laki-laki pelaku KDRT dalam membangun dunia tanpa kekerasan.  

-buat papanya T-Lo, thx :)-

4 Comments leave one →
  1. Hendra permalink
    March 14, 2010 12:14 pm

    Congratz buat bukunya Bu, amazing kalo kata tukul….:p….”jadi nebeng tenar dong….yg nulis dosen gw neeh…:p”, saya dah beli bukunya dan sedang “dipelajari” ama Widya sang mantan kekasih…hehe,
    setuju Bu kalau rekonsiliasi antara pelaku dan korban dijadikan prioritas untuk meminimalisir KDRT dan membuka “kran komunikasi yg lebih baik” (diharapkan…) antara suami dan istri (kedua2nya bisa saja korban dmn salah satunya berevolusi menjadi pelaku akibat trauma masa lalu/emang punya masalah kejiwaan),….pertanyaan saya…kenapa perempuan berdiam diri (konteks KDRT) dan kenapa KDRT bisa terjadi dan DITERIMA oleh banyak masyarakat…??? apakah karena cinta yg keblinger dgn maknanya yang banyak dan susah dipahami, hukum yang kurang melindungi, atau hal lain yang lebih kompleks lagi…
    ….saya setuju dengan Prof Irwanto di acara bedah buku kemarin yg mengatakan bahwa Struktur & Kultur penerapan Hukum + Budaya dmn pelaku dan korban berada perlu lebih diperhatikan serta dikolaborasikan dengan baik…
    …saya mungkin masih belum mencapai tahapan ‘mengerti n paham’ tentang masalah ini sepenuhnya…tapi satu hal yang masih saya pelajari dan usahakan yaitu….MEMAHAMI PEREMPUAN….:p…..Karena wanita ingin dimengerti kaya kata ADA BAND bu….hehe,…..koma terus….masih jauh dari titik….
    congratz ya Bu Wati…..makin sukses…GBU…

    • Ester Lianawati permalink*
      March 14, 2010 2:56 pm

      Bnyk terima kasih, Hendra dan Widya🙂
      Smg kita bisa sama2 terus bljr memahami persoalan-persoalan perempuan, hukum, dsb, ya.

  2. Lyus permalink
    July 28, 2010 1:44 pm

    Saya ada satu pertanyaan.

    Mungkinkah dunia tanpa kekerasan?
    Bahkan dengan pengetahuan segala ilmu psikologi dan pemahaman akan kekerasan?
    Sure, we are more civilized now. But isn’t violence a part of us as a human being?

    • Ester Lianawati permalink*
      July 30, 2010 10:54 pm

      wow, menarik utk didiskusikan, pak. mnrtku bergantung pd bgmn kita memandang kekerasan n kemungkinan itu sendiri😉
      kekerasan apa yg dimksd, berdasarkan teori apa dan siapa? bgmn kita memandang kemgknan?
      tp mnrtku keyakinan bhw dunia bs tanpa kekerasan itu membawa satu harapan utk kita berjuang memerangi kekerasan itu sndr.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: