Skip to content

Menghargai Ibu dengan Lebih Baik

December 20, 2009

Setiap tanggal 22 Desember kita memperingati hari ibu yang dimaknai sebagai perayaan peran ibu dalam keluarganya. Sebuah peringatan yang salah kaprah karena penetapan hari ibu ditujukan untuk memperingati perjuangan perempuan Indonesia. Sejarahnya dimulai pada tanggal 22-25 Desember 1928 ketika para pemimpin organisasi perempuan se-Nusantara berkumpul untuk membahas isu-isu perempuan yang harus diperjuangkan. Sepuluh tahun kemudian dalam Kongres Perempuan III mereka menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu.

Sangat disayangkan kita mengembalikan peran perempuan pada kerangka yang tradisional dalam perayaan hari ibu dewasa ini. Sekaligus hal ini mencerminkan betapa kuatnya masyarakat melekatkan peran perempuan sebagai ibu. Sejak kecil, anak-anak perempuan ditekankan bahwa menjadi ibu adalah sesuatu yang natural. Padahal menjadi ibu bukanlah sesuatu yang kodrati sifatnya. Hanya karena perempuan memiliki rahim tidak membuat perempuan terlahir untuk menjadi ibu. Ann Oakley, penulis sekaligus sosiolog, mengatakan dengan tegas bahwa masyarakatlah yang telah membentuk perempuan untuk menjadi ibu. Menjadi ibu bukanlah instink biologis, dan karenanya menjadi ibu bukan kemampuan bawaan.

Coba perhatikan para ibu yang menyusui, menggendong, dan memandikan bayi untuk pertama kali, mereka umumnya mengalami kesulitan dan perlu membiasakan diri terlebih dahulu. Bahkan sebagian besar ibu, setidaknya di Indonesia memilih untuk tinggal dengan ibunya saat melahirkan anak pertama. Bukan karena semata-mata nenek bahagia mendapatkan cucu dan ingin ikut merawat. Namun, nenek dianggap berpengalaman mengurus bayi dibandingkan ibu yang melahirkan anak pertama.

Sejak remaja ketika alat-alat reproduksi sudah berfungsi, perempuan mulai ditanamkan bahwa menjadi ibu itu menyenangkan. Gambaran bayi mungil yang lucu atau anak yang berceloteh menggemaskan, sering dilontarkan agar perempuan segera memiliki momongan. Senyum pertama, langkah kaki pertama, dan kata pertama, adalah insentif bagi perempuan untuk menjadi ibu. Apalagi kata pertama anak umumnya adalah kata mama, yang meskipun  dapat dijelaskan secara psikolinguistik, namun sering digunakan untuk meyakinkan perempuan akan panggilan alamnya untuk menjadi ibu. Perempuan yang menyangkal panggilan ini seolah akan kehilangan pengalaman paling berharga dalam kehidupan.

Menjadi ibu mungkin dapat saja seindah itu. Akan tetapi menjadi ibu juga bisa sangat melelahkan dan membuat frustrasi. Menjadi ibu membutuhkan pengorbanan sepanjang hidup. Bisa jadi inilah pekerjaan tersulit bagi perempuan. Penelitian Rhoda Unger, psikolog feminis dari Montclair State University menunjukkan tingkat stres perempuan pada masa ini umumnya paling tinggi di antara periode hidup lainnya. Penelitiannya juga mengungkapkan kesejahteraan perempuan menurun pada masa-masa ini. Kesejahteraan mereka kembali meningkat setelah anak besar dan tidak membutuhkan sosok ibu secara intensif.

Menariknya lagi, penelitian dengan menggunakan kuesioner tidak dapat mengungkapkan hal ini. Hal ini baru terungkap dalam penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam. Lewat pengakuan mereka pula, Jane Ussher, menuliskan dalam bukunya Managing the Monstrous Feminine, bahwa banyak perempuan merasa gagal dan bersalah ketika tidak bisa menjadi ibu yang selalu gembira atau ketika anak-anak mereka tidak memenuhi harapan mereka. Dengan perkataan lain, banyak ibu tidak bahagia karena merasa tidak dapat menjadi sosok ibu ideal seperti yang dicitrakan masyarakat. Namun ketimbang mencari dukungan, mereka justru berusaha menutupinya. Dan tentu sangat mudah menutupinya dalam sebuah kuesioner.

Lantas jika ternyata menjadi ibu tidak seindah yang digambarkan, dan bahkan bisa menjadi sumber stres, apakah perempuan sebaiknya melepaskan diri dari peran menjadi ibu? Saya kira bukan itu pula solusinya. Tidak ada yang salah dengan menjadi ibu. Namun yang perlu diubah adalah sikap kita sebagai masyarakat. Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan.

Pertama, kita sebaiknya berhenti melekatkan peran ibu kepada perempuan. Menjadi ibu bukanlah keharusan, melainkan sebuah pilihan dan tidak ditentukan oleh fungsi rahim kita sebagai perempuan. Kedua, berhentilah memberi gambaran fantasi tentang menjadi ibu. Berikan gambaran realistis bahwa menjadi ibu bisa jadi menyenangkan namun juga bukan suatu tugas yang mudah untuk dilakukan. Dengan demikian, perempuan bisa menentukan hendak menjadi ibu atau tidak, dan mempersiapkan serta membekali diri bila menjadi ibu adalah keputusannya.

Ketiga, jangan melekatkan tugas-tugas domestik yang dimaknai sebagai tugas keibuan kepada perempuan. Seperti yang dikatakan Kamla Bhasin, aktivis gerakan sosial dan feminis terkemuka dari India, perempuan memang melahirkan dengan rahimnya, namun perempuan tidak memasak dengan rahimnya. Maksudnya adalah tugas-tugas domestik yang sekian lama dianggap sebagai tugas perempuan sebagai ibu, sebenarnya hasil bentukan masyarakat. Lantas, bagaimana ibu tidak tertekan jika pada saat yang sama dengan ia mengasuh anak, ia juga harus memasak, mencuci pakaian, dsb. Ketika ia bekerja di luar rumah, mengurus rumah tangga pun tetap menjadi tanggung jawabnya.

Terkait dengan hal ketiga, maka poin keempat adalah perlunya pelibatan laki-laki dalam proses perempuan menjadi ibu. Laki-laki seyogianya tidak hanya menanam benih pada rahim perempuan untuk kemudian melepaskan diri dari tugas pengasuhan. Seorang ayah tidak hanya perlu melibatkan diri dalam proses pengasuhan, namun akan jauh lebih baik bila ikut membantu istri mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Bukan semata untuk kepentingan perempuan, namun untuk kepentingan terbaik anak. Mengutip Adrienne Rich penyair feminis dari Amerika, “tidak ada seorang pun yang bisa selalu baik dan gembira kecuali jika kebutuhan fisik dan psikisnya juga terpenuhi.” Rich ingin mengatakan bahwa seorang ibu dapat menjalankan perannya dengan senang hati jika ia sendiri pun bahagia. Dalam hal ini, perlu ada dukungan ayah (suami) secara konkret agar beban ibu menjadi lebih ringan sehingga ibu tidak tertekan. Berikan kesempatan pada ibu untuk memiliki ruang bagi dirinya sendiri, untuk dapat bertumbuh secara personal.

Karena seorang ibu yang sejahtera akan menghasilkan anak-anak yang sejahtera pula. Kondisi psikis anak akan terganggu jika ia melihat ibunya sering menangis atau marah-marah akibat stres. Selain itu, anak akan tumbuh memiliki kepribadian yang baik jika kedua orang tua terlibat dalam proses pengasuhan. Atmosfer menyenangkan yang tercipta dari kebersamaan orang tua akan mempermudahnya dalam menyerap nilai-nilai positif. Maskulinitas perlu didekonstruksi dengan melibatkan laki-laki dalam ranah yang dianggap tidak maskulin. Belum lama ini sekelompok aktivitis feminis memunculkan gerakan bernama Laki-laki Baru dengan salah satu agendanya adalah fatherhood, yang secara konkret melibatkan laki-laki dalam tugas-tugas yang dianggap keibuan. Sejumlah laki-laki sudah bergabung dalam gerakan ini tanpa kehilangan kejantanan mereka. Saya kira kita perlu menyambut baik gerakan semacam ini.

Adalah sebuah tindakan positif jika kita memberikan penghargaan terhadap ibu. Namun menghargai ibu dalam satu hari sementara kita menuntutnya menjadi ibu yang sempurna sepanjang sisa hari lainnya dalam satu tahun, akan menjadi semacam pembodohan. Empat cara di atas kiranya dapat menjadi langkah awal kita menghargai ibu dan perempuan dengan lebih baik. Selamat hari ibu.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: