Skip to content

Mari Belajar Memaafkan

October 11, 2009

Masih segar dalam ingatan kita teror bom yang belum lama ini terjadi. Sembilan korban tewas dan puluhan lainnya menderita luka-luka. Beberapa di antara mereka menderita cacat permanen. Saya bertanya-tanya jika saya adalah salah satu dari mereka, dapatkah saya memaafkan pelakunya?

Saya kira semua orang pernah mengalami peristiwa menyakitkan. Tentu tidak harus dalam bentuk tragedi dengan cakupan luas seperti di atas. Dalam level personal, kita tidak dapat menghindari hal-hal menyakitkan, yang bahkan dilakukan oleh orang-orang terdekat. Mungkin Anda heran jika tahu bahwa tiap harinya ada korban kekerasan dalam rumah tangga yang melapor ke LBH ataupun pusat krisis. Terapis keluarga juga tidak pernah sepi dari klien dengan kasus perselingkuhan.

Atau cobalah ingat-ingat apakah Anda pernah mengalami satu saja dari hal-hal berikut? Digosipkan sahabat, difitnah rekan kerja hingga gagal dipromosikan, dikhianati pacar yang memilih untuk menikah dengan orang lain, didiamkan atau sebaliknya sering dimaki-maki mertua, ditipu saudara sendiri, dibohongi pria beristri, dsb? Apakah Anda masih mengingat peristiwa itu dengan jengkel, benci, atau marah? Jika iya, itu tandanya Anda belum memaafkan orang yang telah melakukan tindakan itu terhadap Anda.

Lantas kenapa jika belum memaafkan? Mengapa kita perlu memaafkan? Kita yang disakiti, mengapa kita masih harus berjuang untuk memaafkan? Pertanyaan-pertanyaan ini sempat menggelitik saya. Mengobati luka hati saja sudah sulit, kini ditambah satu tugas lagi, yakni memaafkan. Namun akhirnya saya paham pandangan ini keliru. Memaafkan dan menyembuhkan luka bukanlah bagian yang berdiri sendiri. Memaafkan adalah bagian dari proses penyembuhan itu sendiri.

 

Untuk dapat melihat dampak positif dari memaafkan, mari kita tengok sejenak dampak negatif dari tidak memaafkan. Tahukah Anda bahwa sulit memaafkan perbuatan seseorang yang menyakiti kita dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik? Guy Pettitt, seorang psikolog dari Selandia Baru menemukan bahwa memikirkan orang yang menyakiti kita dan belum kita maafkan akan membuat otot-otot menjadi tegang. Dengan sebuah alat pengukur ketegangan otot, ia menemukan otot-otot yang tegang terutama adalah di sekitar leher, punggung, tungkai, dan lengan. Ketegangan pada otot leher lebih lanjut dapat menimbulkan sakit kepala.

 

Masih menurut psikolog yang banyak meneliti mengenai proses memaafkan ini, tidak hanya otot yang tegang saat peristiwa menyakitkan itu mampir di pikiran kita, tetapi juga persendian. Ketegangan di sekitar sendi akan membuat aliran darah ke permukaan sendi menurun. Akibatnya, aliran oksigen dan nutrisi ke seluruh sel tubuh akan terhambat, demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme tubuh. Tidak hanya itu, aliran darah ke jantung juga terhambat. Sistem kekebalan tubuh juga terganggu sehingga mudah terkena infeksi. Tubuh pun menjadi lebih rentan untuk sakit.

 

Orang yang tidak dapat memaafkan biasanya juga sulit tidur terutama jika benaknya masih dipenuhi kekecewaan dan sakit hati. Padahal perbaikan jaringan tubuh paling besar justru terjadi saat kita tidur. Oleh karena itulah, jika hati kita masih diselimuti kekesalan terhadap orang yang menyakiti kita, regenerasi sel yang berguna bagi proses penyembuhan luka juga akan terhambat. Jika sudah begini, perawatan kulit di klinik kecantikan yang mahal pun tidak akan berdaya maksimal dalam mengatasi kondisi kulit yang memburuk. 

 

Yang menarik, Pettitt juga menemukan orang-orang yang tidak dapat memaafkan berisiko lebih tinggi untuk menderita sakit gigi dan rahang. Karena tanpa disadari, mereka tidur dengan posisi gigi yang mencengkeram kuat.

 

Itu baru dampak terhadap kondisi fisik. Dan perlu diingat, kondisi fisik ini dapat memengaruhi aspek lain. Aspek pekerjaan, misalnya. Siapa yang dapat bekerja optimal jika hatinya terus memaki sahabat yang memfitnahnya? Demikian pula dalam aspek hubungan interpersonal, dapatkah kita memberi perhatian kepada pasangan jika kita sedang sakit kepala? Jika kedua aspek ini terganggu, bukan tidak mungkin kondisi fisik semakin memburuk.

 

Sulit memaafkan juga berpotensi untuk memenjarakan kita dalam pikiran negatif. Pertama, kita berpikir negatif mengenai orang yang telah menyakiti kita. Semua perbuatan baik yang pernah ia lakukan akan hilang seketika saat ia melukai kita. Bahkan jika setelah itu ia mencoba untuk berbaik baik, kita tidak dapat menerimanya karena sudah dipenuhi asumsi negatif tentangnya.

 

Kedua, kita juga berpikir negatif terhadap orang lain yang tidak terkait dengan peristiwa itu. Hal ini disebabkan pandangan kita menjadi sempit jika belum memaafkan. Kita dapat terperangkap dalam seksisme, prasangka, dan diskriminasi. Misalnya kita menganggap semua pria itu tukang selingkuh. Atau kita membuat stereotipe negatif terhadap orang lain yang memiliki etnis, agama, atau aspek lainnya yang sama dengan orang yang telah menyakiti kita. Hal ini tentu berdampak buruk pada relasi sosial kita.

 

Ketiga, tidak dapat memaafkan juga membuat kita berpikir negatif tentang diri sendiri. Kita menyalahkan dan melabel diri sendiri sebagai orang bodoh sampai bisa tertipu atau dikhianati. Ditemukan bahwa pasangan yang dikhianati cenderung rendah diri karena mencari kekurangan diri sendiri seperti mungkin kurang cantik, tidak muda lagi, ataupun kurang mapan.

 

Memikirkan hal negatif memang lebih mudah dibandingkan yang positif. Namun berpikir negatif membutuhkan energi psikologis yang besar. Orang yang terus berfokus pada aspek negatif lama kelamaan akan mengalami lelah mental. Stres, cemas, dan depresi, akan dengan mudah menghampiri orang-orang seperti ini.

 

Sebaliknya, jika memaafkan, otomatis kita akan terhindar dari dampak-dampak negatif di atas. Ketika memaafkan, kita sebagai si pemaaf juga akan tersembuhkan. Memaafkan dapat memberi kelegaan. Lebih dari itu, memaafkan akan membantu kita untuk memulai lembaran baru. Dengan memaafkan, pikiran negatif hilang, beban berat terangkat, stamina tubuh terjaga, sehingga dengan mudah kita dapat memikirkan dan melakukan tindakan positif.

 

Baiklah, memaafkan memang berdampak positif bagi kesehatan fisik dan psikis. Namun tetap saja memaafkan itu satu tugas yang sulit.  Mungkin itu yang ada dalam benak Anda saat ini. Tidak salah jika Anda berpikir demikian. Memaafkan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun bukan berarti tidak dapat kita lakukan. Kita dapat belajar memaafkan, dengan menyimak hal-hal berikut ini.

 

Pertama, jangan menyangkal atau mencoba melupakan peristiwa yang melukai Anda. Akui bahwa ada seseorang yang telah menyakiti Anda. Namun lakukan secara objektif, jangan mengutuk orang yang menyakiti ataupun mengasihani diri sendiri.

 

Kedua, berempatilah untuk melihat dari sisi orang yang menyakiti. Pikirkanlah seandainya Anda menjadi dirinya. Kira-kira apa yang mendorongnya berbuat hal itu terhadap Anda? Bukan berarti Anda menyalahkan diri sendiri atau terus bertanya-tanya,” Kok bisa ya dia melakukan hal itu kepada saya.” Yang dimaksud dengan empati di sini adalah memahami bahwa tiap orang dapat berbuat kesalahan. Untuk dapat berempati, ingat pula tatkala Anda dimaafkan orang lain atas kesalahan yang pernah Anda perbuat. Jika Anda -mungkin- tidak pernah melakukan suatu kesalahan, pikirkanlah seandainya Anda melakukan hal yang sama dengan yang kini Anda alami, maukah Anda dimaafkan?

 

Ketiga, ingatlah bahwa memaafkan bukan berarti rekonsiliasi. Saya tidak memaksudkan agar Anda tidak perlu menjalin hubungan yang baik dengan pelaku. Jika Anda dapat melakukannya, silakan saja. Namun yang ingin saya katakan adalah rekonsiliasi bukan syarat yang harus dipenuhi dalam tindak memaafkan. Memaafkan adalah mengatasi luka yang ada, bukan melupakan peristiwa yang menyakitkan dan setelah itu berlaku seolah tidak pernah terjadi. Memaafkan lebih terkait pada kedamaian diri sendiri tanpa ada hubungannya dengan orang yang menyakiti kita.

 

Oleh sebab itu, hal keempat yang harus diperhatikan adalah mulailah memaafkan tanpa perlu menunggu orang yang bersangkutan meminta maaf. Tindakan memaafkan pada dasarnya merupakan tindakan internal, bukan eksternal. Diri kita sendiri yang bertanggung jawab atas perasaan, kesehatan, dan hidup kita secara keseluruhan. Bukan orang lain, apalagi orang yang menyakiti Anda.

 

Kelima, arahkan energi Anda untuk tujuan-tujuan positif yang ingin Anda raih, bukan rasa sakit, marah, dan emosi negatif lain yang tengah Anda alami. Tidak menyangkal peristiwa yang menyakitkan bukan berarti terpaku pada rasa sakit itu. Rasa sakit tidak akan terobati ketika kita bersikeras menghilangkannya. Rasa sakit hanya akan sembuh bila kita melakukan hal positif yang menyenangkan. Percayalah, energi positif jauh lebih kuat daripada energi negatif, asal kita tahu cara mengerahkannya. Terus berkutat pada rasa sakit, dendam, ataupun kecewa sama saja dengan membiarkan orang itu terus berkuasa atas hidup kita. Memaafkan justru menunjukkan bahwa kitalah, dan bukan orang yang telah menyakiti kita, yang berkuasa atas diri kita. Forgiveness is about personal power, demikian dikatakan Frederic Luskin, yang banyak membantu kliennya untuk memaafkan.

 

Idul Fitri baru saja berlalu. Anda mungkin sudah bermaaf-maafan di hari nan fitri itu. Syukurlah jika Anda telah memaafkan dengan sungguh-sungguh. Namun jika belum, mulailah belajar memaafkan. Karena memaafkan akan membawa kebaikan, jiwa dan raga.

Thx, mas mayong🙂

Temans, beli Intisari Mind Body & Soul Vol 8 donkz..😉

8 Comments leave one →
  1. November 11, 2009 6:07 pm

    Hi Ester,

    Aku sepakat pada prinsipnya memaafkan adalah hal yang dapat dilakukan oleh setiap manusia. Namun dalam beberapa hal, maaf dapat dijadikan alasan melakukan pelupaan. Aku menulis ini dalam konteks tindakan yang mengakibatkan trauma yang mendalam terhadap korbannya. Mereka sangat sulit memberikan maaf karena pelaku sering menggunakan untuk kata maaf sebagai senjata untuk melakukan pelupaan. Persis seperti point ketiga dalam pembahasanmu. Aku lebih sepakat dengan quote yang sering digunakan oleh Desmond Tutu “Forgive but Forget.”

    • esterlianawati permalink*
      November 14, 2009 11:53 am

      Tengkyu, Syaldi. Aku stuju pndpt km dlm konteks pelaku dan korban. Di tulisan ini aku emang ngmgin maaf dlm konteks yg general sifatnya🙂

  2. sutriana lasmo permalink
    December 2, 2009 11:28 pm

    maafkan juga tidak mudah…sebab sakit dikhianati emang amat sakittt…perasaan buruk sangka…merasa di permainkan dan ndak akan pernah lupa…

  3. March 12, 2010 1:08 am

    Memang sulit seh, tapi pasti bisa.

  4. karina roesdi permalink
    April 5, 2010 5:36 pm

    hi mba wati,
    keren bgt tulisan nya..tetapi selalu ada pertanyaan yang terlintas di pikiranku..
    TUHAN saja pemaaf..memaafkan manusia ciptaan NYA..tetapi mengapa manusia sulit untuk memaafkan sesama manusia..??

    • Ester Lianawati permalink*
      May 1, 2010 2:57 pm

      Ini Karin Ccf kah? Apa kbr, non? Kok bs mampir ke sini?😉
      Ya begitulah manusia, Karin, mmg cenderung terpaku sama yg negatif, termasuk mengingat kesalahan org lain.
      Krn scr proses kognitifnya emang lbh mudah, menghemat kerja otak mns..

  5. ilma permalink
    April 29, 2010 7:00 pm

    teman saya ank bimbingan anda, dia menyarankan untuk bertanya pd anda.. siapa tau bs ada referensi..
    begini..
    saya sedang membuat skripsi yg berhubungan dgn toleransi.. tp saya kesulitan mencari dimensi toleransi..
    apakah ada referansi buku ttg dimensi toleransi? terimakasih.. ^^

    • Ester Lianawati permalink*
      May 1, 2010 3:52 pm

      mohon maaf, sy blum pny referensi ttg dimensi toleransi.
      mgkn kl ada teman2 lain yg udah tau, bs tlg share di sini ya.
      trm ksh sblmnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: