Skip to content

Self-serving Bias

October 3, 2009

Seminggu lalu, seorang mahasiswa tidak lulus dalam sidang skripsi. Masih di dalam ruang sidang, ia menyalahkan adiknya yang menurutnya telah mengajarkan metode statistik yang salah. Keluar dari ruang sidang, ia mengeluhkan dosen pembimbingnya. Tidak tahan dengan sikapnya yang menyalahkan orang lain, saya bertanya kepadanya, “Bukankah nama-nama mereka sudah kamu masukkan dalam ucapan terima kasih? Seandainya kamu lulus, apakah kamu akan menyalahkan mereka?” Ia tertawa mendengar pertanyaan saya. Kami berdua sama-sama tahu ia sedang melakukan sebuah bias, yang dalam psikologi dikenal self-serving bias atau self-serving attribution bias.

Self-serving bias adalah kecenderungan seseorang untuk melayani (serve) dirinya, memenuhi keinginan diri, atau memandang dirinya secara positif. Hal ini dapat dilakukan dalam beberapa hal. Pertama, dalam menjelaskan suatu peristiwa, seseorang akan memandang dirinya sebagai pihak yang paling berperan ketika ia berhasil, dan menyalahkan orang lain ketika ia gagal. Hal ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh di atas adalah salah satunya.

Bentuk kedua dari self-serving bias adalah keyakinan yang tidak realistis atau yang disebut dengan optimistic bias. Simak saja pasangan yang hendak menikah akan merasa yakin bahwa hubungan mereka bisa langgeng sampai tua. “Pasangan lain boleh tidak bahagia, tetapi kami saling mencintai dan akan bahagia selamanya,” demikian ucapan kedua mempelai dengan binar keyakinan di matanya. Bentuk self-serving bias yang satu ini juga bisa terlihat pada kecenderungan menunda pekerjaan. Kita yakin bahwa akan menyelesaikannya dengan waktu yang singkat. Kenyataannya, kita membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menuntaskannya.

Bentuk ketiga dinamakan dengan false consensus bias, yakni kecenderungan seseorang untuk menganggap orang lain memiliki sikap, pandangan, atau minat yang sama dengan dirinya sendiri. Kita biasanya keheranan bila orang lain tidak menyukai hal yang sama dengan kita. Seolah-olah kita mengharapkan ada semacam kesepakatan (consensus). Misalnya kita menyukai cokelat dan bingung ketika orang lain tidak menyukainya. Atau seorang ibu yang sering memaksa anaknya untuk mencicipi masakannya yang menurutnya enak sementara si anak sama sekali tidak menyukainya.

False consensus bias juga bisa terjadi ketika kita cenderung menganggap orang lain juga memiliki sifat buruk atau hal-hal buruk lainnya yang sama dengan kita. Seorang pria yang ketahuan berselingkuh oleh kekasihnya bukannya meminta maaf, malah balik bertanya,”Iya, saya berselingkuh. Tapi, bukankah hampir semua laki-laki melakukannya?”

Perhatikan bahwa hanya hal buruk yang kita anggap orang lain juga sama dengan kita. Sedangkan dalam kelebihan yang kita miliki, kita cenderung menganggapnya unik. Hal ini merupakan bentuk keempat dari self-serving bias yang dinamakan dengan false uniqueness bias. Ada seorang rekan yang merasa lebih banyak pengalaman hidupnya dibanding orang lain. Suatu kali, saya mendengarnya berkata, “Kamu sebaiknya banyak mengobrol dengan orang-orang yang hidupnya susah seperti itu. Matamu jadi akan terbuka.” Tanpa ia ketahui, sebenarnya orang yang sedang diajaknya bicara adalah praktisi di bidang hak asasi anak dan telah bergelut dengan persoalan anak-anak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Bentuk kelima adalah yang dinamakan dengan BIRG-ing atau bask in reflected glory. BIRG-ing merupakan kecenderungan seseorang untuk ikut menikmati kejayaan atau keberhasilan orang lain dengan mengasosiasikan diri terhadap orang yang sedang sukses tersebut. Contoh saja manakala seseorang dengan bangganya mengatakan ia masih ada hubungan saudara dengan Agnes Monica.

Bentuk keenam, bertolak belakang dengan BIRG-ing adalah cut off reflected failure, yakni kecenderungan manusia untuk melepaskan diri atau tidak dekat-dekat dengan orang yang gagal atau melakukan kesalahan. Contohnya sering terjadi ketika orang menjauhi temannya yang sudah bangkrut dan jatuh miskin.

Dampak Negatif

Apakah ada di antara Anda yang melakukan salah satu saja dari enam hal di atas? Tidak usah malu mengakuinya. Self-serving bias adalah salah satu bias yang sangat manusiawi. Tidak ada seorang pun manusia yang tidak melakukannya. Sebenarnya, dalam kadar tertentu, self-serving bias cukup positif untuk meningkatkan harga diri (self-esteem) namun biasanya hanya bersifat sementara karena tidak menyentuh persoalan sesungguhnya. Yang jelas, dampak negatifnya akan lebih banyak ketimbang positifnya.

Pertama, kita tidak akan bisa memperbaiki diri karena self-serving bias mencegah kita untuk belajar dari kesalahan ataupun mengenali kekurangan kita. Hal ini bukan hanya terjadi karena  kita menyalahkan orang lain dan tidak menginstropeksi diri. Senantiasa mengkaitkan diri kita dengan orang yang sukses tanpa kita sendiri berusaha untuk mengembangkan diri juga dapat menghambat kita untuk belajar menjadi lebih baik. Kedua, jika kita senantiasa menganggap diri kita adalah yang terbaik, kita tidak pernah dapat dengan rendah hati belajar dari orang lain yang mungkin memang lebih baik atau lebih kompeten dari kita di bidang tertentu. Ketiga, self-serving bias juga mencegah kita untuk mengantisipasi persoalan yang mungkin akan muncul. Akibatnya nanti kita tergagap-gagap saat persoalan itu datang dan malah jadi sulit menyelesaikannya. Hal ini khususnya terjadi bila kita memiliki optimistic bias. Keempat, kita akan sulit menyikapi perbedaan pendapat dan sulit menerima keragaman, bila cenderung menginginkan orang lain memiliki kesamaan dengan kita. Akibatnya lingkup pergaulan kita pun akan terbatas. Kelima, merusak atau memperburuk hubungan kita dengan pasangan ataupun orang lain. Jika hanya saling menyalahkan, kita tidak akan belajar menyelesaikan konflik yang sedang kita hadapi dengan pasangan. Selain itu, orang yang sering melakukan self-serving bias akan terkesan sombong. Tentunya tidak akan ada yang betah berlama-lama dengan orang sombong yang senang menyalahkan orang lain dan tidak dapat melihat kekurangan diri.  

Jadi meskipun melakukannya adalah sebuah kesalahan manusiawi, bukankah lebih baik kita segera menghentikannya jika sudah berlebihan?

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: