Skip to content

Pemimpin yang Merdeka

August 15, 2009

Dengan ini aku bersaksi
bahwa rakyat Indonesia belum merdeka

Bagaimana rakyat bisa disebut merdeka
bila birokrasi negara
tidak mengabdi kepada rakyat
melainkan mengabdi
kepada pemerintah yang berkuasa?

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa hati nurani itu meski dibakar
tidak bisa menjadi aku
hati nurani senantiasa bersemi
meski sudah ditebang putus dibatang

….

(Kesaksian Akhir Abad, WS. Rendra)

Tujuh belas Agustus 1945. Mengenang hari kemerdekaan selalu menghadirkan imaji perjuangan para pahlawan di benak saya. Pekik semangat mereka menyuarakan impian untuk bebas dari penjajahan. Perjuangan yang penuh kegigihan untuk mencapai satu harapan bersama: kemerdekaan. Saya membayangkan kebanggaan bercampur haru luar biasa saat harapan itu menjadi kenyataan.

Entah apakah perasaan itu masih dirasakan rakyat Indonesia saat ini. Yang saya tahu tiap tanggal 17 Agustus, kita bergembira mengikuti perlombaan-perlombaan yang terus terang saya tidak dapat melihat keterkaitannya dengan makna kemerdekaan. Kita jatuh dalam euphoria semangat lomba panjat pinang, balap karung, jepit sendok, dsb. Esoknya, kita kembali pada keseharian kita, dengan kondisi bangsa yang tidak jua menjadi lebih baik setelah 64 tahun kemerdekaan.  

Saya jadi bertanya-tanya kemana semangat perjuangan yang dulu kita punya? Apa kita tidak lagi memilikinya? Apa karena kita sudah mendapatkan kemerdekaan itu, lantas kita kehilangan arah karena tidak tahu lagi apa yang hendak dicapai? Atau seperti yang dikatakan WS.Rendra, penyair besar yang pernah dimiliki negeri ini, kita rakyat Indonesia sesungguhnya belumlah merdeka? Dalam puisi-puisinya, secara tegas Rendra mengkritik pemerintahan yang membuat kita belum dapat menjadi bangsa yang sungguh-sungguh merdeka.

Saya kira kritik Rendra ditujukan kepada pihak yang tepat, karena keberhasilan sebuah bangsa tentu akan bergantung kepada pemimpinnya. Saya yakin kita masih memiliki kesamaan tujuan yang dapat menggerakkan kita bersama dalam irama yang sama, yakni mencapai kehidupan yang lebih sejahtera. Persoalannya adalah keinginan ini harus diterjemahkan ke dalam tujuan-tujuan yang spesifik, lengkap dengan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapainya. Di sinilah pemimpin bangsa akan mengambil peranan besar.

 

Untuk itu, kita tidak butuh pemimpin yang saling mengkritik dan sibuk mencari kesalahan lawan politiknya. Kita tidak butuh pemimpin yang intelektualitasnya hanya dipakai untuk berstrategi memenangkan pemilu, dan tidak dapat legowo mengakui kekalahannya ketika strateginya gagal. Lantas pemimpin seperti apa yang kita butuhkan? Menurut saya, ada satu kualitas yang sangat esensial, yang wajib dimiliki pemimpin bangsa ini. Untuk menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, kita membutuhkan pemimpin yang sudah merdeka. Pertanyaannya adalah, seperti apa pemimpin yang sudah merdeka, dan bagaimana pemimpin seperti ini akan mampu membawa kita menuju harapan bersama?

 

Dalam sebuah drama karya Hans Sachs, penulis naskah sandiwara dari Jerman, dikisahkan percakapan Diogenes, seorang filsuf Yunani, dengan Alexander Agung. Dioegenes berkata bahwa Alexander Agung, tidak pantas disebut sebagai penguasa dunia karena ia sendiri masih belum merdeka. Diogenes mengatakan demikian karena Alexander Agung dianggapnya belum mampu mengatasi hawa nafsu, rasa takut, dan kemarahan dalam dirinya. Dengan perkataan lain, Diogenes masih menjadi budak dari inner world-nya.

 

Pemimpin yang merdeka seharusnya memiliki inner freedom, atau dalam perkataan Diogenes, ia harus mampu menjadi tuan dari dirinya sendiri. Meski sudah berlalu sekian abad, namun ucapan Diogenes saya kira masih berlaku hingga saat ini. Akan begitu banyak godaan ketika tampuk kekuasaan sudah di tangan. Peluang korupsi atau menerima suap hanya akan menjadi dua di antaranya. Namun pemimpin yang sudah merdeka akan mampu mengatasi godaan-godaan seperti ini karena ia tidak lagi terbelenggu oleh kebutuhan memuaskan diri sendiri. Meminjam istilah Sigmund Freud, ia adalah manusia dewasa yang tidak dikendalikan id nya, karena memiliki ego yang memungkinkannya dapat mengatasi hasrat-hasrat yang tidak selalu harus dipenuhi.

 

Pemimpin yang sudah merdeka juga tidak akan dikuasai rasa marah meski mungkin banyak kritik ditujukan kepadanya. Ia justru akan mengelola kemarahannya untuk memikirkan solusi yang lebih baik bagi bangsa ini berdasarkan kritik tersebut. Seorang pemimpin merdeka juga bebas dari rasa takut dan karenanya ia akan mampu memberi ketenangan bagi rakyatnya, bukan membangkitkan kekhawatiran.  

 

Pemimpin yang merdeka juga memiliki outer freedom. Maksudnya, ia bebas dari pengaruh atau tekanan pihak-pihak eksternal. Pemimpin yang merdeka  memiliki otonomi untuk menentukan yang terbaik bagi rakyatnya. Menurut Thomas Pink, penulis buku Psychology of Freedom, hal ini dimungkinkan karena pemimpin yang merdeka memiliki rational self-determination. Maksudnya, ia mampu mandiri dalam mengambil keputusan terbaik berdasarkan akal sehat. Karena pemimpin yang merdeka berarti memiliki rasionalitas praktis (practical rationality). Dalam rasionalitas semacam ini terkandung dua hal, yakni kemampuan untuk menimbang masak-masak (deliberative capacity), dan kemampuan melaksanakan keputusan hasil pertimbangan matang tersebut (executive capacity). Jadi pemimpin yang merdeka tidak hanya bisa mengggagas sesuatu tetapi juga melaksanakan gagasan tersebut.

 

Pemimpin yang memiliki outer freedom tidak akan terikat dengan orang-orang yang harus ia pikirkan kepentingannya karena alasan politis tertentu. Pemimpin merdeka akan berfokus pada kepentingan rakyat. Ia tidak akan terjebak dalam permainan politik yang tidak sehat. Karena pemimpin yang merdeka tidak hanya mengandalkan logika, namun juga nurani. Ia tidak akan menyangkal true self-nya. Atau mengutip puisi Rendra di atas, pemimpin merdeka dapat membakar nuraninya.

 

Dengan memadukan logika dan nurani, pemimpin yang sudah merdeka akan mampu menentukan yang terbaik bagi rakyatnya. Kata yang terbaik perlu digarisbawahi. Karena bebas dari tekanan pihak eksternal bukan berarti pula ia berhak semena-mena mengambil  keputusan yang menyengsarakan rakyat. Pemimpin yang merdeka seyogianya mengadopsi nilai-nilai universal, seperti kebaikan, kebenaran, dan kejujuran. Oleh karenanya,  kebijakan-kebijakan yang diambilnya akan membawa kebaikan bagi rakyatnya. Pemimpin semacam ini akan paham bahwa tidak ada seorang pun yang sesungguhnya merdeka ketika orang lain tertindas.

 

Dalam konsep inner dan outer freedom, juga ada satu kunci, yaitu tanggung jawab. Kemerdekaan membuka jalan bagi tanggung jawab untuk muncul dan berkembang dalam diri orang yang merdeka. Ketika seorang budak dinyatakan merdeka, bukan berarti ia bebas berbuat sekehendak hatinya. Tetapi justru mulai saat itu, ia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Untuk itu ia harus mulai memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakannya. Pemimpin tentulah bukan budak. Namun untuk dapat disebut sebagai pribadi yang merdeka, ia hendaknya berorientasi masa depan, memikirkan resiko dari tindakan-tindakan yang ia ambil, dan dapat mempertanggungjawabkannya.

 

Hari ini, satu hari menjelang perayaan kemerdekaan, izinkan saya meminta kepada pemimpin negeri ini, untuk merenungkan sudahkah Anda menjadi pemimpin yang merdeka, agar bangsa yang Anda pimpin ini dapat benar-benar menjadi bangsa yang benar-benar merdeka?

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: