Skip to content

Are You Must-urbating?

August 9, 2009

Dalam Festival Sinema Perancis ke-14 beberapa waktu lalu, ada sebuah film komedi yang menarik berjudul Villain. Film ini tidak hanya mengundang gelak tawa dari awal hingga akhir, namun sarat akan pesan. Sesuai dengan judulnya yang dapat diartikan sebagai buruk rupa, nakal, atau jahat, film ini mengisahkan tentang Melanie, gadis buruk rupa yang sering dimanfaatkan orang karena ‘kebaikannya’. Ia tidak pernah menolak permintaan orang lain ataupun melawan penghinaan dan penindasan atas dirinya. Sampai satu hari batas kesabarannya berakhir. Ia berubah menjadi agresif dan tidak segan-segan membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitinya.

Seorang teman, sebut saja namanya Donna, dalam satu bulan ini sudah bertengkar dengan dua rekan kerjanya. Wajahnya tampak selalu tegang, seolah banyak hal yang ia pikirkan. Usut punya usut, ia ingin tampil seoptimal mungkin dalam setiap pekerjaannya. Ia lembur hampir setiap hari namun tetap merasa tidak cukup produktif. Belakangan, ia mengeluh kepada rekan-rekannya bahwa beban pekerjaannya terlampau berat. Mereka menasihatinya agar tidak terlalu ngoyo. Merasa tidak dipahami,  emosi Donna meledak, dan kedua rekannya menjadi korban luapan amarahnya.

Tidak jauh berbeda, ada Peter yang mendapat serangan stroke di usia relatif muda, baru tiga puluh tahun. Dalam sesi konseling terungkap bahwa ia tertekan karena belum mencapai jabatan yang ia inginkan. Ia seharusnya memperoleh posisi lebih tinggi dari yang berhasil dicapainya saat ini agar dapat menyenangkan hati orang tuanya, demikian keyakinannya. Padahal orang tuanya tidak pernah menuntutnya untuk itu.

Ada pula Vera yang selalu bertengkar dengan pasangannya tiap kali kekasihnya itu mengubah jadwal kencan. Bukan karena ia tidak dapat segera bertemu kekasihnya, tetapi karena apa yang sudah ia persiapkan menjadi berantakan. Vera memang selalu mempersiapkan yang terbaik untuk pasangannya, mulai dari pilihan busana sampai dengan hadiah kejutan. Jadilah ketika si kekasih membatalkan sementara ia sudah penuh persiapan, ia akan uring-uringan. Demikian pula bila kekasihnya datang mendadak, ia sama uring-uringannya karena saat itu tidak dalam kondisi siap menyambut kekasihnya.

Lain lagi halnya dengan Rita, yang hampir setiap hari menderita sakit kepala. Berbagai obat tidak lagi manjur mengatasinya. Pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya kelainan neurologis. Setelah dirujuk ke psikolog, ia mengaku sedang pusing dengan masalah finansial yang dialami adik-adiknya. Rita merasa bertanggung jawab atas persoalan mereka. Padahal ia sendiri sedang bermasalah dengan suaminya yang berselingkuh. Ia ingin bercerai namun malu terhadap keluarga besarnya. Perceraian menurutnya akan mengungkap kegagalannya dalam berumah tangga. Padahal selama ini ia dipandang sebagai anak yang paling berhasil di keluarganya dan kehidupannya hampir tanpa cacat.

Kasus-kasus di atas sekilas tampak berbeda. Namun sebenarnya semua memiliki akar masalah yang sama. Tanpa disadari, manusia membuat keharusan-keharusan yang tidak perlu. Kita menetapkan standar bagi diri kita sendiri. Anehnya, kita merasa bahwa standar itu ditetapkan orang lain atas diri kita. Padahal jika ditelusuri, keharusan-keharusan itu bermuasal dari diri kita sendiri. Pikiran-pikiran yang mengharuskan diri sendiri ini merupakan bagian dari pikiran manusia yang irasional. Secara khusus, Albert Ellis, salah satu penggagas terapi kognitif, menyebut keharusan-keharusan ini sebagai must-urbation (dibaca seperti kata masturbation).

Ada lima must-urbation yang tergambar dalam kasus-kasus di atas, yang bukan tidak mungkin ada dalam diri kita. Pertama, keharusan untuk dicintai. Kita sering berusaha menyenangkan orang lain, bahkan sampai mengabaikan hak-hak kita sendiri. Kita tidak berani berkata tidak, seolah karena tidak ingin mengecewakan orang lain. Padahal tanpa disadari, alasan sesungguhnya berada jauh di belakangnya. Kita takut orang lain akan marah kepada kita. Kita khawatir tidak dicintai. Melanie adalah contohnya.

Kedua, keharusan untuk bertanggung jawab atas masalah orang lain. Hal ini bisa jadi ada kaitannya dengan must-urbation pertama. Kita ingin menyenangkan orang lain dengan berusaha membantu penyelesaian masalahnya. Namun must-urbation ini dapat pula terkait dengan peran-peran yang kita lekatkan kepada diri kita sendiri. Dalam kasus Rita misalnya, ia meyakini bahwa sebagai anak yang berbakti kepada orangtuanya, ia harus menjalankan perannya sebagai adik dan kakak yang baik.

Ketiga, keharusan untuk menjadi yang terbaik. Kita meyakini bahwa kita harus tampil sebagai yang paling cerdas dan berkompeten. Kita tidak ingin dipandang tidak mampu. Kita merasa harus mengerahkan segala daya upaya untuk menjadi yang terbaik dalam setiap hal yang kita kerjakan. Must-urbation ini khususnya dilakukan oleh Donna dan Peter. Dalam kasus Peter, persoalannya menjadi lebih berat karena must-urbation ini berpadu dengan must-urbation pertama mengenai orang tuanya.

Keempat, keharusan agar segala sesuatu berjalan seperti yang direncanakan. Kita meyakini bahwa kita harus memiliki kontrol atas segala sesuatu. Dan ketika terjadi di luar kendali, kita menjadi gelisah dan bahkan marah karena seolah hal mengerikan telah terjadi. Contohnya adalah Vera yang sering uring-uringan tiap kali apa yang ia rencanakan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kelima, keharusan untuk mencapai kesempurnaan. Kesalahan sekecil apapun akan dianggap sebagai cacat yang merusak keindahan diri kita. Sayangnya kesalahan ini seringkali bukan kesalahan yang sesungguhnya. Yang kerapkali terjadi adalah kita sendiri yang mempersepsikan bahwa kita telah melakukan kesalahan, padahal mungkin kenyataannya tidak demikian. Rita adalah contoh orang yang menginginkan kesempurnaan dalam hidupnya. Sebagai pribadi yang selama hampir 40 tahun selalu menjadi kebanggaan,  persoalan rumah tangganya menjadi suatu kesalahan terbesar dalam hidupnya. 

Sayangnya jika masturbation dapat memberikan kepuasan, tidak demikian halnya dengan must-urbation. Keharusan-keharusan yang kita tetapkan atas diri kita hanya akan membuat kita lelah secara emosional. Kita akan tertekan bukan hanya saat standar itu tidak tercapai. Namun juga saat kita berupaya melakukan keharusan-keharusan itu.

Bila sudah tertekan, akan ada dampak lain yang mungkin terjadi dan sifatnya seperti lingkaran setan dengan alur yang dapat terjadi dari berbagai sisi. Dampak-dampak lain ini secara garis besar terkait dengan pekerjaan, relasi interpersonal, dan kesehatan fisik. Perasaan tertekan dapat menghambat kita untuk bekerja secara optimal. Pekerjaan yang tidak terselesaikan dengan baik dapat menambah stres. Semakin stres, pekerjaan pun akan semakin kacau. Demikian seterusnya.

Stres juga berpotensi merusak hubungan interpersonal dalam dua cara. Stres dapat membuat orang menarik diri dari lingkungan dan stres dapat membuat orang menjadi mudah marah. Pada orang-orang yang melakukan must-urbation, mekanisme kedua lebih umum terjadi. Hal ini disebabkan saat kita melakukan must-urbation, kita cenderung mempersepsikan lingkungan yang menuntut kita. Akibatnya kita jadi menyalahkan pihak lain ketika standar yang kita tetapkan tidak tercapai. Contohnya Donna yang bertengkar dengan rekan kerjanya. Selanjutnya, hubungan yang kurang baik dengan orang lain dapat meningkatkan stres yang sudah ada. Demikian seterusnya.

Di samping hubungan langsung antara stres dengan pekerjaan dan relasi interpersonal, pekerjaan dan relasi itu sendiri dapat saling mempengaruhi. Di satu sisi, pekerjaan yang berantakan dapat membuat relasi dengan orang lain menjadi terganggu. Sebaliknya relasi yang kurang harmonis juga dapat berdampak negatif pada pekerjaan.   

Selain itu, dampak lain yang mungkin terjadi adalah stres muncul dalam bentuk penyakit. Penyakit ini dapat berupa psikosomatis, yakni keluhan tentang kondisi fisik yang memang ada gejala fisiknya secara nyata dan dapat dijelaskan secara medis meskipun penyebab sebenarnya adalah tekanan psikologis. Misalnya saja sakit maag. Sedangkan somatoform adalah keluhan fisik yang tidak disertai gejala fisik yang nyata terlihat dan keluhan yang ada tidak masuk akal secara neurologis. Misalnya rasa nyeri tanpa ada penyebab yang jelas.

Masalah finansial juga dapat menjadi dampak turunan lainnya dari stres. Contohnya saja pekerjaan yang tidak selesai dengan baik akan berdampak pada penilaian buruk dari atasan. Selanjutnya bukan tidak mungkin PHK akan menanti di depan mata. Penyakit juga sangat mungkin dapat menguras keuangan dalam proses penyembuhannya. Apalagi penyakit akibat stres cenderung sulit sembuh sampai akar masalahnya terselesaikan.

Wah, sungguh berat risiko yang harus ditanggung orang yang senang melakukan must-urbation. Lantas apa yang sebaiknya dilakukan jika kita telanjur telah ber- must-urbation? Atau apa yang sebaiknya dilakukan agar kita tidak ber-must-urbation?

Pertama, lakukan penentangan terhadap pemikiran irasional yang Anda miliki. Saat Anda berpikir bahwa Anda harus menjadi yang terbaik, tanyakan pada diri sendiri siapakah yang mengharuskan demikian? Benarkah orang lain yang menuntut, atau diri Anda sendiri yang menetapkan standar itu? Atau saat Anda merasa bahwa tidak ada satu pekerjaan pun yang berhasil dilakukan, coba daftarkan hal-hal yang telah Anda lakukan. Mungkin Anda akan terheran-heran karena ternyata Anda sudah sangat produktif dengan menyelesaikan beberapa hal dalam satu hari.

Masih ingin Anda sangkal bahwa Anda memang telah berhasil menyelesaikan tugas Anda namun belum mencapai hasil maksimal? Stop, penyangkalan pertama masih dapat ditoleransi. Tapi penyangkalan kedua setelah Anda mencoba memikirkan ulang penyangkalan pertama akan mengantarkan Anda semakin mendekati tahap siaga 1 menuju gangguan mental. Jadi berhentilah menyangkal, dan mulailah belajar menaruh hormat pada diri Anda sendiri.

Kedua, belajarlah mencintai orang lain. Dalam mencintai, ada keinginan untuk membuat orang lain dan diri sendiri bertumbuh ke arah yang lebih baik. Dengan mencintai, kita tidak akan dengan buta menyatakan kesediaan untuk melakukan apapun yang diinginkan orang lain. Cinta tidak akan membuat kita kehilangan identitas diri dengan mengikuti kemauan-kemauan orang lain. Cinta dengan sendirinya akan membantu kita untuk memilah apa yang perlu dibantu dan bantuan seperti apa yang sebaiknya diberikan. Cinta tidak akan membuat orang lain bergantung pada kita, namun justru membuat mereka menjadi pribadi yang mandiri tanpa perlu kehilangan relasi yang indah dengan kita.

Ketiga, belajarlah menerima bahwa kita adalah manusia yang tidak sempurna. Kita memiliki keunikan, dan oleh karenanya kita tidak harus menjadi yang terbaik dalam seluruh bidang. Lakukan yang terbaik yang Anda bisa, dan bukan yang terbaik yang Anda haruskan. Sebagai manusia yang tidak sempurna, kita juga tidak luput dari kesalahan dan kegagalan. Keduanya hendaknya dapat memacu kita menjadi lebih baik, bukan terus terkungkung dalam rasa malu berlebihan atas ketidaksempurnaan kita yang sesungguhnya sangat manusiawi.

Keempat, kita juga perlu belajar terbuka bahwa hidup penuh dengan kemungkinan dan kesempatan. Keteraturan dalam hidup memang dapat memberi rasa aman. Namun spontanitas dapat memberi warna lain dan menghindarkan manusia dari rutinitas yang membosankan. Sebagaimana yang dikatakan Kevin Costners dalam film Rumor Has It, “Life should be a bit nuts sometimes— otherwise, it’s just a bunch of Thursdays strung together.”

Kelima, pekalah terhadap ciri-ciri must-urbation. Apakah Anda mulai merasa tertekan dan terhimpit beban kerja yang berat? Apakah Anda merasa perilaku orang-orang di sekitar Anda sudah melampaui batas toleransi Anda sehingga Anda menjadi mudah marah? Apakah Anda merasa dituntut berlebihan oleh orang tua, pasangan, teman, atau atasan Anda? Atau Anda sering menderita sakit kepala, nyeri, dan penyakit lain yang tak kunjung sembuh? Jika ada satu atau lebih gejala di atas, jangan repot mencari penyebab di luar diri Anda. Tanyakan dahulu pada diri Anda sendiri, apakah Anda sedang melakukan must-urbation? Jika ya, hentikan segera, sebelum dampak negatifnya menjadi lebih buruk😀

-Mas Mayong, thx again🙂

8 Comments leave one →
  1. August 13, 2009 3:30 am

    Wah tulisan yang menarik. Terkadang memang kita merasa ada tuntutan dari orang lain terhadap kita meski sebenarnya tidak ada apa-apa.

  2. esterlianawati permalink*
    August 15, 2009 11:57 am

    mksh ya dah mampir en buat koment nya jg🙂

  3. Dodi permalink
    August 17, 2009 4:03 pm

    Salam kenal, mbak ester.
    Benar skl yg mbak tulis. Sy sng musturbating nih mbak. thx dah buka mata sy. oh ya mbak, tulisan ini dimuat dimana ya? apa di blog ini saja? sy pengin jdkan referensi, boleh nih mbak? trm ksh.

    • esterlianawati permalink*
      August 20, 2009 9:18 am

      Slm knl jg, mas dodi.
      Syukurlah tulisan ini bs ks insight buat mas🙂
      Boleh kok kl mau dijdkan referensi.
      Tulisan ini ada di Intisari Mind, Body, and Soul, volume 7.
      Thx jg ya🙂

  4. sindy permalink
    January 6, 2010 3:30 am

    Hi Mb.Ester…
    tulisannya bagus, bermanfaat pula…kaya’nya sy sedang mengalami bbrp gejala must-urbating niy. tp lmyn kesulitan jg buat mengurangi tekanan2 itu…sering nulis d intisari Mind, Body and Soul y.

    • esterlianawati permalink*
      January 6, 2010 10:49 am

      Hai Mbak Sindy,
      mksh utk koment nya ya. Aku br bbrp kali kok nulis di MBS.Ttg musturbation, emang agak susah ngatasinnya utk pertama2..Tp kl dah bs ngenalin pikiran irasionalnya sih udah jd langkah awal, tinggal butuh latihan utk bikin penentangan thd pikiran2 irasional yg kita miliki. Mau dibantukah bikin penentangannya?😉 Silakan hub ke emailku aja ya.

  5. Harry permalink
    February 19, 2010 9:23 pm

    Wah, terimakasih ya Mbak Ester buat tulisannya.
    Dari sini nampaknya aku mempelajari sesuatu yang baru🙂
    Bisa jadi bahan buat refleksi diri, hehe…
    Nampaknya dari yang aku lihat 5-5nya termasuk =_=
    Mbak, aku juga boleh minta cara untuk penentangannya?

    • Ester Lianawati permalink*
      March 14, 2010 2:53 pm

      Sama-sama, mas Harry.
      Boleh aja, mas, tapi penentangannya itu khas, mksdnya bergantung pd musturbation yg dilakukan. Jd kl boleh, mas Harry sharing dulu ya musturbationnya apa aja. Lewat email jg boleh, di esterlianawati@yahoo.com🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: