Skip to content

Jangan Pernah Berhenti Berharap

June 6, 2009
tags:

Pernahkah Anda berpikir bagaimana jika tiba-tiba Anda didiagnosis terkena penyakit berbahaya? Jantung, kanker, stroke, atau HIV/AIDS, misalnya? Atau Anda mengalami kecelakaan yang mengakibatkan rusak atau bahkan hilangnya anggota tubuh Anda? Atau bagaimana jika usia Anda diperkirakan tinggal dalam hitungan bulan atau tahun? Apa yang akan Anda lakukan? Atau jika Anda sudah atau sedang mengalaminya, bagaimana Anda menyikapinya?

Pertanyaan itu muncul di benak saya saat pertama kali memberikan penguatan psikologis kepada para pasien di sebuah klinik stroke. Jujur saja, awalnya saya tidak tahu penguatan seperti apa yang hendak saya berikan. Saya membayangkan perasaan mereka yang semula sehat walafiat. Sebagian bahkan sedang mencapai puncak tertinggi dari karir mereka. Dan kini, pada waktu yang tidak mereka duga sebelumnya, mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuh mereka. Malah sebagian di antara mereka tidak dapat lagi mengucapkan satu patah kata pun. Muncullah pertanyaan kedua dalam benak saya, penghiburan apakah yang dapat saya berikan untuk orang-orang ini jika saya sendiri tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika mengalami seperti yang mereka alami? Namun akhirnya, dari merekalah saya menemukan jawaban dari kedua pertanyaan saya.

Menerima kenyataan akan kondisi kesehatan yang tiba-tiba memburuk tentu bukan suatu hal yang mudah. Perasaan terguncang dengan kondisi yang kini jauh berbeda memang sulit untuk dihindari. Kita hanya manusia biasa yang menginginkan kebaikan terjadi pada diri kita, bukan keburukan. Ketika keburukan itu datang, umumnya kita tidak siap menerimanya.

 

Bentuk penolakan ini banyak macamnya. Sebagian pasien yang saya dampingi enggan dibawa ke dokter, terutama mereka yang masih tergolong ringan stroke-nya. Ada pula yang minta segera dipulangkan atau dibawa ke dokter lain untuk mencari second opinion meski sudah jelas mereka mengalami kelumpuhan. Reaksi kedua ini umumnya juga banyak dilakukan oleh para penderita kanker yang cenderung menolak diagnosis yang diberikan dokter. Persoalannya adalah seringkali mereka tidak cukup dengan second opinion, melainkan berusaha mencari the third, fourth, dan seterusnya.

 

Ketika mau tidak mau mereka sadar bahwa mereka tidak dapat menyangkal penyakit yang ada, belum tentu mereka akan segera menerima kondisi yang ada. Sebagian besar di antara mereka akan memasuki tahap kemarahan. Marah, mengapa mereka harus mengalami kondisi tersebut atau bahkan mempertanyakan mengapa harus mereka yang mengalaminya.

 

Apa yang mereka alami kurang lebih sama dengan tahapan berduka cita yang dikembangkan Elizabeth Kübler-Ross, seorang dokter yang menangani para pasien yang sudah tahu bahwa mereka hanya tinggal menunggu datangnya ajal. Ia menemukan 5 tahap yang dialami para pasiennya, yakni penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar (mereka minta diberikan kesembuhan atau usia hidup lebih lama), depresi, dan penerimaan.

 

Dua tahapan pertama juga saya temukan pada para pasien stroke. Namun tidak semua mengalami tawar-menawar dan depresi. Ada sebagian di antara mereka yang dapat langsung bergerak menuju tahap penerimaan. Namun, jika tahapan Kübler-Ross berhenti sampai pada penerimaan, menurut saya masih ada tahap berikutnya. Tahap ini akan membantu mereka menjadi lebih cepat sembuh atau setidaknya tetap bersemangat dalam menikmati hidup mereka. Tahap ini akan membedakan antara mereka yang akan melesat jauh dalam proses kesembuhannya dengan mereka yang hanya stuck dalam tahap menerima saja.

 

Kebersamaan saya dengan para pasien stroke mengajarkan saya mengenai tahap tersebut. Saya melihat sebagian pasien yang menerima penyakitnya cenderung bersikap pasrah. Mereka memang bersedia menjalani pengobatan, namun hampir tanpa semangat. Mereka menganggap terapi sekedar sebagai kewajiban. Kadang mereka enggan mengikuti rangkaian terapi karena seperti tidak ada kemajuan yang dihasilkan. Sebagian bahkan marah manakala mereka belum juga dapat menggerakkan anggota tubuhnya.

 

Berbeda halnya dengan mereka yang mengikuti terapi dengan gembira. Dalam keseharian mereka di klinik, mereka juga tampak bahagia. Mereka senang bernyanyi, memainkan alat musik, bercakap-cakap meski terbata-bata, dan bahkan melemparkan gurauan. Ada apa dengan mereka? Ternyata mereka bukan sekedar menerima penyakit mereka. Mereka telah melewati tahap itu, dan kini mereka telah sampai pada tahap memiliki sesuatu yang dashyat, sesuatu yang bernama harapan.

 

Harapan adalah sebuah keyakinan akan datangnya suatu kondisi atau peristiwa yang baik dalam kehidupan seseorang. Orang yang memiliki harapan akan meyakini bahwa sesuatu yang positif akan terjadi bahkan meskipun kondisi yang ada menunjukkan hal tersebut tidak akan mungkin.

 

Bagaimana harapan dapat membawa perubahan? Pertama, harapan memberi ketenangan karena mampu mengatasi kecemasan yang ada. Rollo May, seorang psikolog, pernah dirawat selama tiga tahun di sebuah sanatorium karena menderita TBC. Saat itu (tahun 1940 an), belum ditemukan obat yang tepat untuk TBC. Hampir 2 tahun, May cemas melihat sejumlah pasien yang meninggal. Ia juga merasa tidak berdaya karena hidupnya ditentukan oleh informasi dari sinar X setiap bulannya mengenai kondisi paru-parunya.

 

Sampai akhirnya ia menyadari bahwa mereka yang kondisinya memburuk adalah mereka yang pasrah. Sementara mereka yang memiliki harapan bahwa mereka masih dapat sembuh akan berhasil mengatasi rasa cemas jikalau penyakit akan mengantarkan mereka pada kematian. Dan dampaknya, mereka pun cenderung lebih cepat sembuh. Sejak itu, ia berjuang melawan penyakitnya dan mengatasi rasa cemasnya akan kematian.

 

Bukan hanya kecemasan akan kematian atau tidak akan sembuh yang sering menghantui mereka yang terkena penyakit semacam stroke atau kanker. Mereka juga cemas akan masa depan mereka. Terutama mereka yang sudah diberhentikan dari pekerjaannya sementara biaya pengobatan mahal, akan rentan untuk menjadi cemas. Namun harapan bahwa mereka akan sembuh dan dapat segera membereskan persoalan yang timbul akibat penyakit yang mereka derita akan mampu menurunkan tingkat kecemasan mereka.

 

Kedua, harapan memberikan semangat. Ada yang pernah mendengar kisah Carl Brashear, Negro pertama yang menjadi master diver sekaligus orang pertama yang kakinya diamputasi yang mendapatkan sertifikasi sebagai diver di Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat? Ia merelakan kakinya diamputasi karena terkena ledakan bom saat bertugas. Dengan diamputasi, otomatis Brashear dibebastugaskan. Namun Brashear dengan gigih menjalani terapi agar dapat segera berjalan dengan kaki palsunya. Ia memperjuangkan sertifikasi agar diperbolehkan kembali bertugas. Untuk itu, ia harus menahan nyeri yang amat sangat agar dapat lulus tes kelayakan yang sangat berat.

 

Sebagaimana yang ditunjukkan Brashear, harapan memberi semangat karena dalam harapan, ada pemikiran mengenai tujuan yang ingin dicapai (goals thinking). Tujuan akan mendorong kita untuk berpikir bahwa ada jalan untuk meraihnya (pathway thinking). Brashear sendirilah yang meminta kakinya diamputasi karena ia tahu jika kakinya terkena infeksi, ia malah harus menjalani perawatan bertahun-tahun. Dengan diamputasi, ia akan punya kesempatan untuk segera mengupayakan sertifikasi meski dengan kaki palsunya.

 

Rollo May juga melakukan berbagai tindakan seperti berolah raga, mengupayakan asupan bergizi, dan kembali aktif menulis selama ia dalam perawatan. Satu tahun kemudian, ia dinyatakan sembuh. Tulisannya diterbitkan sebagai buku dengan judul The Meaning of Anxiety. May kemudian dikenal sebagai psikolog eksistensialis. Ia berhasil menunjukkan eksistensinya dengan memilih untuk sembuh, bukan terus sakit atau bahkan mati.

 

May dan Brashear adalah dua contoh yang menunjukkan bahwa orang yang memiliki harapan akan mencari tahu cara-cara untuk mencapai tujuan yang ia harapkan. Hal ini juga yang ditunjukkan oleh para pasien stroke yang saya dampingi. Mereka yang memiliki harapan dapat menyadari bahwa untuk sembuh mereka harus disiplin, semangat, dan dengan senang hati menjalani fisioterapi, terapi bicara, terapi pijat, dsb.

 

Ketiga, harapan menumbuhkan keyakinan. Bukan sekedar keyakinan bahwa orang yang sakit akan mampu melakukan cara-cara untuk mencapai kesembuhan. Namun juga keyakinan bahwa mereka masih dapat melakukan kebaikan dalam sisa hidup mereka bahkan meskipun kondisi mereka tidak dapat lagi kembali seperti semula.

 

Hal inilah yang dilakukan Christopher Reeve, pemeran Superman, ketika ia mengalami kelumpuhan akibat terjatuh saat berkuda. Ia bukan sekedar Superman dalam film, namun juga dalam kehidupan nyata. Ia menerima kelumpuhannya dan bahkan mendirikan Christopher Reeve Foundation yang didedikasikan untuk mengkaji penanganan yang tepat bagi penderita kelumpuhan. Apa yang membuatnya dapat melakukan hal itu? Jawabannya sebagaimana yang ia katakan mengenai harapan, “Once you choose hope, anything’s possible.”

 

Harapan memang terbukti membawa dampak positif, tidak hanya bagi kesembuhan fisik namun juga kesejahteraan psikis. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa harapan meningkatkan toleransi terhadap rasa nyeri. Harapan juga memungkinkan kesembuhan dan peningkatan sistem kekebalan tubuh bahkan bagi para penderita kanker dan HIV. Dan yang pasti, harapan dapat menguatkan kita bahwa ada hal positif yang dapat kita lakukan meski mungkin kondisi fisik kita tidak lagi sama seperti sebelum penyakit menyerang, atau bahkan kita tahu bahwa kematian sudah akan menjemput kita. Jadi, jangan pernah berhenti berharap, karena pengharapan adalah sauh yang kuat bagi jiwa kita.

(thx to dr.lazuardi, bpk & ibu di klinik anugerah, mama pys, fridolin,  & mas mayong.. )

4 Comments leave one →
  1. frdolin permalink
    June 13, 2009 6:53 am

    Orang yang mempunyai harapan adalah orang yang mempunyai masa depan dan dia tidak akan pernah mati..

  2. esterlianawati permalink*
    June 17, 2009 10:12 am

    thx buat idenya ttg org yg lg sakit, pak🙂

  3. December 31, 2010 7:59 am

    Thanks Mbak, Great Inspiration jua …
    sukses selalu buat anda🙂

    • Ester Lianawati permalink*
      February 27, 2011 11:19 pm

      Sama-sama ya, mksh jg🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: