Skip to content

Memilih Pemimpin Ideal

April 6, 2009

Semakin mendekati Pemilu, kebingungan saya untuk memilih capres semakin bertambah. Harus saya akui, saya bahkan belum memiliki gambaran ideal mengenai pemimpin yang tepat bagi bangsa ini, lantas bagaimana saya tahu yang mana yang mau saya pilih?

 Sampai beberapa hari lalu saya membaca kembali pandangan Abraham Maslow, penggagas teori humanistik, yang terkenal dengan konsepnya mengenai hierarki kebutuhan. Berbarengan dengan itu, saya melihat kalender dan baru menyadari bahwa Pemilu tahun ini datang bersamaan waktunya dengan peringatan kematian Yesus, yang kita kenal juga sebagai Nabi Isa. Saya seperti mendapat pencerahan mengenai sosok ideal yang mungkin dapat membantu bangsa ini keluar dari keterpurukan.

Pada tahun 1943, Maslow mengemukakan idenya mengenai kebutuhan manusia. Menurutnya, kebutuhan itu tersusun secara hirarkis. Maksudnya kebutuhan yang berada pada urutan bawah harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan selanjutnya menuntut untuk dipuaskan. Kebutuhan yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, tidur, dan seks, diikuti dengan kebutuhan akan rasa aman (safety needs) seperti memiliki tempat tinggal dan pekerjaan. Di atasnya lagi ada kebutuhan akan cinta dan memiliki (belongingness and love needs), yakni ingin dicintai dan diterima sebagai bagian dari suatu kelompok. Selanjutnya ada kebutuhan untuk dihargai (esteem needs), baik dengan memiliki penguasaan atau kompetensi tertentu, maupun terkait dengan gengsi (prestige) seperti menjadi terkenal, diakui, dan berkuasa. Terakhir adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (need for self-actualization).

 

Kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta, dan penghargaan dinamakan Maslow sebagai kebutuhan dasar atau kebutuhan defisiensi (deficiency needs), karena defisiensi pada hal-hal ini akan membangkitkan dorongan pada individu yang bersangkutan untuk memenuhinya. Sedangkan aktualisasi diri disebutnya sebagai metaneeds atau growth needs, dan ditempatkan pada level tertinggi karena inilah kebutuhan yang paling hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Inilah kebutuhan manusia untuk mengembangkan potensinya seoptimal mungkin, bertumbuh seluas mungkin, dan mencapai kondisi paling puncak yang dapat diraih seseorang.

 

Saya kira dari sini saya mendapatkan kriteria mengenai pemimpin yang ideal, yakni pemimpin itu haruslah seseorang yang sudah mencapai tahap aktualisasi diri. Mencapai aktualisasi diri berarti pemimpin ini sudah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya yang lebih rendah. Pemimpin yang sudah terpenuhi deficiency needs-nya seharusnya tidak lagi tertidur kala rapat berlangsung. Ia tidak lagi memikirkan mobil atau rumah yang harus ia beli untuk memenuhi esteem needs-nya. Ia tidak perlu melakukan aksi suap untuk mendapatkan penerimaan dari lingkungan. Tentunya, ia pun tidak perlu korupsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Bukan berarti pemimpin yang telah beraktualisasi diri adalah pemimpin yang kaya secara materi. Terpenuhinya deficiency needs adalah relatif dan subjektif sifatnya, dalam arti tidak harus terpenuhi 100 persen dan kadar pemenuhannya akan berbeda pada tiap individu. Namun setidaknya orang itu harus merasa telah terpenuhi kebutuhan dasarnya. Oleh sebab itu, saya kira orang yang tidak mudah puas dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya tidak mungkin maju menuju aktualisasi diri, dan seyogianya ia belum pantas menjadi pemimpin.

Lebih lanjut, Maslow menemukan sejumlah karakteristik pribadi yang telah mencapai aktualisasi diri. Meski Maslow tidak mengaplikasikan karakteristik-karakteristik ini dalam hal kepemimpinan, beberapa di antaranya itu saya kira penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Pertama adalah berfokus pada masalah (problem-centering). Seorang pemimpin yang telah mencapai aktualisasi diri akan peduli terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar mereka. Tidak hanya peduli, mereka juga akan tergerak untuk menyelesaikannya dengan cara-cara yang efektif. Dalam menghadapi persoalan, mereka mampu berpikir strategik namun tetap berlandaskan pada etika.

Hal ini disebabkan mereka memiliki karakter kedua, yakni akurat dalam mempersepsikan realitas. Misalnya mereka mampu membedakan persoalan-persoalan besar dan kecil yang harus diselesaikan. Dengan perkataan lain, mereka mampu menentukan prioritas. Persepsi yang akurat ini juga termasuk dalam menilai orang lain. Mereka dapat melihat pribadi seperti apa yang dapat ikut membangun negeri dan sebaliknya yang justru merugikan Negara.

 Kemampuan mereka untuk berfokus pada masalah dan keakuratan mereka dalam memandang realitas didukung oleh karakteristik ketiga, yaitu kreatif. Mereka mampu berpikir fleksibel untuk menemukan beragam solusi pemecahan masalah. Daya kreativitas mereka memungkinkan dimilikinya karakteristik keempat, yakni menjadi pribadi yang otonom. Mereka memiliki pendapat sendiri yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka dapat patuh pada peraturan, namun bilamana perlu, mereka juga dapat mendobrak tatanan nilai yang sudah ada. Mereka mampu melakukan perubahan sosial bilamana itu membawa kebaikan.

 Otonomi yang mereka miliki bukan berarti memaksakan pendapat. Karena mereka memiliki karakter kelima, yakni pribadi demokratis yang menghargai pendapat orang lain. Sebagai pribadi demokratis, mereka bersedia dikritik, dan bahkan mau rendah hati belajar dari orang lain. Mereka juga tidak peduli dengan perbedaan superficial seperti suku , warna kulit, usia, dan jenis kelamin. Oleh sebab itu, mereka memiliki karakter keenam, yakni menjalin hubungan yang menyenangkan dengan orang lain. Dan karena kebutuhannya akan cinta dan penerimaan orang lain sudah terpenuhi, mereka tidak lagi mencari penerimaan itu. Pribadi seperti ini menurut saya, akan dapat mengembangkan hubungan yang tulus yang dilandasi kasih, bukan dilandasi kepentingan-kepentingan tertentu. Mereka juga mampu memberikan cinta kepada sesama, termasuk dalam membantu orang lain untuk bertumbuh menjadi lebih baik.

Selain karakter-karakter itu, mereka memiliki nilai-nilai yang Maslow sebut sebagai Being (B)-values. Beberapa di antaranya adalah kesempurnaan, holistik, kebenaran, dan kebaikan. Kesempurnaan dalam arti mereka bekerja sebaik mungkin bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan dasar, namun karena terpanggil untuk menikmati pekerjaannya. Mereka tidak melihat masalah hanya dari satu sudut pandang namun mampu melihat secara holistik untuk menemukan solusi yang bijaksana. Mereka mampu mengenali kebenaran dan berani mengungkapkannya. Mereka berani bicara manakala melihat hal-hal yang tidak benar, terutama yang melanggar kepentingan orang banyak karena kebaikan menjadi salah satu nilai yang mereka agungkan.

 Gaya kepemimpinan Yesus sudah banyak dibahas oleh para penulis dengan latar belakang yang bervariasi. Membaca teori Maslow di atas, saya menemukan satu lagi tinjauan lain terhadap kepemimpinan Yesus.

 Yesus jelas memiliki keenam karakter pribadi yang telah mencapai aktualisasi diri dan mengadopsi B-values. Kekuatannya menghadapi godaan Iblis mulai dari makanan sampai kemegahan dunia, menunjukkan Ia telah mampu mengatasi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Ia juga mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapkan kepadaNya. Perumpamaan dan metafora yang diucapkan untuk menjawab pertanyaan yang menjebak menunjukkan kreativitasNya.

Ia patuh terhadap aturan yang ada seperti membayar pajak. Tapi Ia juga berani membalikkan meja-meja penukaran uang di  Bait Allah demi menyatakan prinsipnya bahwa tempat ibadah bukan untuk bertransaksi. Lebih dari itu, Yesus berani membela perempuan yang saat itu posisinya sangat direndahkan. Ia bercakap-cakap dengan perempuan Samaria, sebuah tindakan kontroversial karena saat itu perempuan dilarang berbicara langsung dengan seorang guru. Terlebih lagi, perempuan itu seorang janda dan keturunan Samaria pula, yang kedua-duanya dipandang hina. Ia mengajak Marta untuk belajar, kegiatan yang saat itu  hanya boleh dilakukan pria, dan menyuruh Marta menghentikan tugas domestik yang dilekatkan sebagai kewajiban perempuan. Sebagaimana yang dikatakan Michael Youssef mengenai kepemimpinan Yesus: Ia menempatkan kebutuhan manusia di atas adat istiadat.

Bagi saya, Yesus adalah pribadi yang telah melakukan aktualisasi diri. PengorbananNya di kayu salib adalah bukti paling otentik B-values yang diadopsinya. Dalam hal meneladani Yesus, kita perlu melihatNya dalam bingkai ke-manusia-annya, agar tidak beralasan bahwa Ia adalah pribadi yang tak terjangkau. Selain itu juga perlu diketahui,  Yesus hanya salah satu contoh. Maslow sendiri telah menemukan banyak tokoh dunia yang dianggapnya sebagai pribadi yang telah mencapai aktualisasi diri.

 Semoga dalam Pemilu kali ini, ada sosok yang telah mencapai aktualisasi diri untuk menjadi pemimpin yang dapat membawa bangsa ini menuju gerbang kesejahteraan. Selamat menggunakan hak pilih Anda untuk memilih pemimpin yang ideal, the self-actualized person. Dan selamat merayakan pengorbanan Yesus, the self-actualized leader.

(Mas Argo, thx for editing ya🙂

2 Comments leave one →
  1. Pangeran permalink
    April 11, 2009 5:06 am

    Dear Ibu Peri yang cantiq dan baik hati,

    Saya setuju dengan pembahasan di atas, mungkin perlu dimasukkan jg dengan ajaran dasar dari Budha untuk lebih menarik : Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga)yang terdiri dari
    * Pengertian Benar (Sammã Ditthi)
    Pengertian Benar adalah pengetahuan yang disertai dengan pengertian terhadap Empat Kesunyataan Mulia (dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan untuk melenyapkan dukkha).

    * Pikiran Benar (Sammã Sankappa)
    Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari hawa nafsu (raga), kemauan buruk (byapada), kekejaman (vihimsa), dan semacamnya.

    * Ucapan Benar (Sammã Vãca)
    Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong (musãvãdã), memfitnah (pisunãvãcã), berucap kasar/caci maki (pharusavãcã), dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalãpã).

    * Perbuatan Benar (Sammã Kammantã)
    Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.

    * Penghidupan Benar (Sammã Ãjiva)
    Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. “Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari, yaitu: makhluk hidup, senjata, daging, minum-minuman keras, dan racun” (Anguttara Nikaya, III, 153).

    * Usaha Benar (Sammã Vãyama)
    Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.

    * Perhatian Benar (Sammã Sati)
    Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:
    o perhatian penuh terhadap badan jasmani (kãyãnupassanã)
    o perhatian penuh terhadap perasaan (vedanãnupassanã)
    o perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassanã)
    o perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassanã)
    Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.

    * Konsentrasi Benar (Sammã Samãdhi)
    Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam. Cara ini disebut dengan Samatha Bhãvanã. Tingkatan-tingkatan konsentrasi dalam pemusatan pemikiran tersebut dapat digambarkan dalam empat proses pencapaian Jhana, yaitu:
    o Bebas dari nafsu-nafsu indria dan pikiran jahat, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna pertama, di mana vitakka (penempatan pikiran pada objek) dan vicãra (mempertahankan pikiran pada objek) masih ada, yang disertai dengan kegiuran dan kesenagan (piti dan sukha).
    o Dengan menghilangkan vitakka dan vicara, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna kedua, yang merupakan ketenangan batin, bebas dari vitakka dan vicãra, memiliki kegiuran (piti) dan kesenangan (sukha) yang timbul dari konsentrasi.
    o Dengan meninggalkan kegiuran, ia berdiam dalam ketenangan, penuh perhatian dan sadar, dan merasakan tubuhnya dalam keadaan senang. Dia masuk dan berdiam dalam Jhãna ketiga.
    o Dengan meninggalkan kesenangan dan kesedihan, dia memasuki dan berdiam dalam Jhãna keempat, keadaan yang benar-benar tenang dan penuh kesadaran di mana kesenangan dan kesedihan tidak dapat muncul dalam dirinya.

  2. esterlianawati permalink*
    April 14, 2009 9:02 am

    Dear pangeran kodok yg gagah berani😉
    makasih buat ajaran sang Buddha nya ya..
    memang Maslow sendiri termasuk yg senang mempelajari psikologi timur, dia jg coba memadukan barat dan timur dlm konsepnya ttg aktualisasi diri. stlh membaca ajaran Buddha yang pangeran tuliskan, sy jd smkn paham yg Maslow maksudkan dgn kriteria2 org yg tlh mencapai aktualisasi diri.
    thx a lot,prince🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: