Skip to content

Menerapkan “Trauma Therapy”: Selalu Ada Kesempatan Untuk Bangkit

March 10, 2009

Tidak banyak yang mengetahui bahwa hari ini, 8 Maret 2009, adalah hari perempuan sedunia. Padahal penetapan hari perempuan sedunia sudah dilakukan sejak tahun 1911 atas usul Clara Zetkin, pejuang perempuan dari Jerman. Meskipun saat itu memang bukan tanggal 8 Maret yang dipilih, melainkan 19 Maret. Pergeseran tanggal ini baru dilakukan pada tahun 1913.

 

Saat itu Zetkin merasa perlu adanya satu hari dalam setahun dimana perempuan dapat mengutarakan tuntutan atas hak-hak mereka. Seiring mulai bergeraknya upaya perjuangan perempuan, hari perempuan sedunia kini lebih dijadikan sebagai momen perayaan pencapaian perempuan dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial.

 

Selain merayakan apa yang sudah berhasil dicapai, saya kira hari perempuan sedunia juga dapat menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi mengenai hal-hal yang masih perlu dikembangkan dan diperbaiki agar tercipta kehidupan perempuan yang lebih baik. Saya pribadi berpendapat bahwa pencapaian perempuan seharusnya tidak hanya dinilai dari segi ekonomi, politik, dan sosial, melainkan juga aspek yang paling mendasar, yakni kesehatan mental. Perempuan dapat berkarya, bertumbuh secara optimal, dan bahkan mampu mencapai aktualisasi diri, jika tidak hanya tubuhnya yang sehat, melainkan juga kondisi psikisnya.

 

Sayangnya, perempuan rentan untuk menjadi tidak sehat secara psikis. Bukan hanya karena tuntutan peran yang dilekatkan kepada perempuan sedemikian rupa menjadi beban tersendiri bagi mereka. Lebih dari itu, perempuan secara umum dibandingkan laki-laki lebih rentan untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang dapat mengganggu kondisi psikisnya, bahkan berdampak panjang karena peristiwa tersebut berpotensi menimbulkan trauma.

 

Pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga yang dapat terjadi dalam berbagai bentuk, dan lain sebagainya adalah beberapa di antaranya yang akan sangat mungkin dapat dialami oleh perempuan. Lebih dari itu, masalahnya tidak seketika selesai dengan berlalunya klimaks peristiwa. Mungkin peristiwa itu segera terlupakan bagi orang lain yang hanya sekedar mengetahuinya. Namun tidak semudah itu bagi mereka yang mengalaminya. Luka-luka fisik mungkin dapat hilang (kecuali yang tergolong parah), namun dampak psikisnya cenderung akan bertahan.

 

Dampak psikis yang umumnya muncul biasanya dikenal dengan istilah gangguan stres pasca peristiwa traumatis (posttraumatic stress disorder). Teringat-ingat akan peristiwa buruk yang telah terjadi, mimpi buruk mengenai peristiwa itu, merasa atau bertindak seolah-olah peristiwa itu kembali terjadi, menghindari percakapan dengan topik peristiwa itu, seringkali tidak dapat berkata apa-apa dan hanya dapat meneteskan air mata, sulit tidur, dan mudah terkejut adalah beberapa respons yang mungkin muncul setelah peristiwa traumatis.

 

Gejala lainnya adalah kecenderungan melakukan stimulus generalization, yakni menyamakan semua stimulus yang mirip dengan stimulus awal yang menimbulkan trauma. Misalnya setiap kali melihat pria yang wajahnya mirip dengan pelaku pemerkosaan, akan muncul rasa takut terhadap orang itu. Atau setiap kali melihat ikat pinggang, akan teringat ikat pinggang yang dulu pernah dilecutkan pelaku ke tubuhnya.

 

Salah satu adegan dalam film Perempuan Berkalung Sorban menggambarkan dengan jelas contoh stimulus generalization ini. Anisa, yang diperankan Revalina S. Temat, tidak dapat melakukan hubungan seksual dengan suami keduanya meskipun ia sangat mencintainya. Sentuhan lembut sekalipun membangkitkan kembali kenangan pahitnya saat suami pertamanya menyentuhnya dengan cara yang kurang lebih sama sebelum akhirnya memperkosanya. Semua peristiwa muncul dalam ingatannya dan membuatnya takut yang ditunjukkan oleh tubuh yang gemetar dan berkeringat dingin. 

 

Gangguan stres pasca peristiwa traumatis hanya salah satu dari sekian banyak dampak yang mungkin muncul. Dampak dari berbagai peristiwa traumatis dapat berbeda pada tiap orang, bergantung pada banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah usia saat mengalami peristiwa itu, frekuensi dan intensitas peristiwa, jenis peristiwa, pelaku (orang dekat atau orang asing), dan implikasi lebih lanjut dari peristiwa itu. Misalnya pascapemerkosaan, perempuan menghadapi kehamilan tidak diinginkan. Jika kehamilan dipertahankan ataupun sebaliknya dilakukan aborsi, keduanya akan menimbulkan dampak tersendiri yang akan menambah panjang kepahitan yang harus dialami perempuan.

 

Tanpa mengalami kehamilan pun, pemerkosaan berpotensi menghancurkan harga diri perempuan. Hal ini disebabkan pemerkosaan berimplikasi pada persoalan virginitas. Perlu diperhatikan, pemaknaan perempuan mengenai virginitas seringkali berbeda dengan pendefinisian virginitas secara medis. Perempuan mendefinisikan keperawanan secara luas, tidak hanya rusaknya selaput dara melainkan tersentuhnya anggota tubuh tanpa ada keinginan tulus dari dirinya sendiri untuk disentuh. Dengan kata lain, pelecehan seksual yang paling ringan sekalipun atau bahkan sentuhan dari pacar yang sebenarnya terpaksa diterimanya karena takut diputuskan dapat membuat perempuan merasa diri tidak utuh dan tidak berharga. Lebih lanjut perasaan semacam ini dapat menghambat relasinya dengan priia lain karena khawatir tidak ada pria yang mau menerima dirinya dalam kondisi seperti itu.

 

Namun demikian, sepahit apapun pengalaman perempuan dan seburuk apapun dampaknya, selalu ada kesempatan bagi perempuan untuk dapat bangkit mengatasi trauma itu. Para pakar terapi trauma (trauma therapy) meyakini satu pandangan yang sama: trauma can result in growth. Peristiwa negatif, jauh melampaui potensinya untuk merusak dan menghancurkan hidup seseorang, seringkali mendorong orang untuk berkembang dalam cara-cara yang positif.

 

Perempuan korban KDRT dapat belajar kemandirian/otonomi setelah tidak lagi hidup bersama pelaku. Atau jika ia menerima KDRT dari ayah atau ibunya semasa kanak-kanak, ia akan belajar memaafkan dan mencintai. Seorang korban pemerkosaan dapat belajar menemukan kelebihan-kelebihannya yang jauh lebih berharga untuk diolah secara optimal ketimbang berkutat pada kekhawatirannya akan virginitasnya. Mereka tidak lagi menyandang gelar korban, melainkan penyintas (survivor). Dinamakan penyintas bukan hanya karena mereka bertahan, melainkan lebih dari itu mereka mampu bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik pasca hantaman yang hebat dalam hidup mereka.

 

Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa penyembuhan diri tidak dapat dibebankan begitu saja pada perempuan yang pernah mengalami peristiwa traumatis. Kita hanya akan menambah dampak buruk bila menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada korban. Pemulihan psikologis perlu diberikan kepada korban, baik oleh konselor atau terapis trauma (trauma therapist), dan juga kita sendiri, sebagai orang-orang yang terdekat dengannya.

 

Mungkin kita tidak dapat menerapkan teknik-teknik khusus sebagaimana yang dilakukan trauma therapist. Namun kita dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar dari terapi trauma. Pertama adalah menampilkan sikap yang empatis. Sikap ini dapat kita tunjukkan dengan tidak menyalahkan korban (victim blaming). Berapa banyak di antara kita yang alih-alih berempati pada korban pemerkosaan, malah menyalahkan caranya berpakaian yang ‘mengundang’. Atau menuduh korban KDRT adalah perempuan yang banyak tuntutan sehingga membangkitkan amarah suaminya? Pandangan-pandangan semacam ini akan semakin menambah panjang durasi trauma perempuan. Sayangnya pandangan ini masih banyak ditemui dalam masyarakat kita.

 

Kedua, kita perlu membangkitkan sikap realistis namun tetap optimis. Realistis dalam bentuk penerimaan bahwa peristiwa buruk yang sudah terjadi memang tidak dapat diubah lagi. Optimis dalam bentuk pemahaman baru bahwa tidak semua yang dihasilkan dari peristiwa negatif hanyalah yang negatif saja. Kita perlu menggugah keyakinan mereka bahwa meskipun sudah tidak dapat diubah, namun kehidupan tidaklah berhenti sampai di sini, masa depan yang lebih baik masih sangat mungkin dapat dimiliki.

 

Ketiga, terkait dengan prinsip sebelumnya, kita perlu menumbuhkan harapan pada korban. Hal ini perlu dilakukan terutama pada korban yang terpapar pada kekerasan berulang yang dapat menimbulkan dampak ketidakberdayaan karena semua yang dilakukannya untuk menghindari kekerasan itu tidak berhasil. Keberadaannya saat ini dalam kondisi sehat, aktivitas sehari-hari yang masih dapat dilakukannya, keterlibatannya dalam proses hukum, bahkan mungkin kehadirannya dalam sesi-sesi terapi, merupakan bukti bahwa ia masih memiliki kekuatan, kemampuan beradaptasi, dan harapan akan masa depan. Dalam hal ini, kita juga perlu menghargai proses kemajuan korban, sekecil apapun, selambat apapun. Karena kemajuan seperti apapun bentuknya, menegaskan adanya harapan.

 

Dengan melakukan ketiga prinsip dasar dari trauma therapy, kita dapat membantu korban menjadi penyintas. Dengan sendirinya, kita pun berkontribusi untuk menjadikan kehidupan perempuan lebih sejahtera.

 

Hari ini saat kita memperingati hari perempuan sedunia, saya berharap kita tidak hanya merayakan pencapaian ekonomi, politik, dan sosial. Melainkan kita juga merayakan pencapaian psike perempuan. Perempuan mampu keluar dari kepahitan dan menjadi pribadi resilien yang terus bertumbuh.

 

Selamat hari perempuan.

 

-mas argo, thx ya buat judulnya :)-

 

7 Comments leave one →
  1. March 21, 2009 8:56 am

    trauma therapy untuk membangkitkan semangat laiknya aroma therapy..
    ulasan yang cerdas..

    salam kenal mbak..

  2. esterlianawati permalink*
    March 23, 2009 5:38 am

    makasih, mas muhamaze, buat komentar yg jg cerdas, pake analogi dgn aroma therapy:)
    salam kenal ya..

  3. March 27, 2009 2:08 pm

    Salam kenal mba’
    Alhamdulillah kami juga sering membantu orang2 yang memiliki trauma dengan tehnik yang sangat mudah dan efektif.

  4. esterlianawati permalink*
    March 30, 2009 8:56 am

    Salam kenal jg ya.
    wah seneng ada teman2 yg membantu teman2 lain yang msh memiliki trauma. smg rumah terapinya harum senantiasa ya🙂

  5. Ana permalink
    May 23, 2009 5:03 am

    Aku jg korban perkosaan aku bersyukur dpt memiliki suami yg bs menrma apa adanya tp sjak memasuki thn ke5 perkwnanku ia kdng menginginkan seorang prwan..aku sdh saat mendngr nya!tp aku tetap sbr mendngr kata2nya..aku bingung jg menjwb apa!

  6. sari permalink
    August 30, 2009 12:33 am

    to mba ester… ak jg pnah mengalami hal itu, itu semua berat bwt ak…… ak ingin banget melupakan hal itu, tp gmana cara na…

    dirumah gak da yg pernah dukung ak……….

    tolong aku

  7. esterlianawati permalink*
    August 30, 2009 5:04 am

    Hai mbak sari, ada yg bilang smkn keras usaha kita utk melupakan, kita malah akan makin teringat. krn pd saat kita ingin melupakan, otomatis saat itu kita terpikir mengenai peristiwa/hal2 yg ingin kita lupakan itu.
    akan jauh lbh baik bagi kita utk mencari aktivitas2 yg sesuai dgn minat dan kemampuan kita. bukan semata utk menyibukkan diri, ttp utk mengembangkan diri kita. dgn beraktivitas, kita bertemu dgn bnyk teman, kita kembangkan bakat dan minat kita, dgn sendirinya kita akan menikmati hidup yg sdg kita jalani. pengalaman buruk yg sdh terjadi bukanlah hambatan bagi manusia utk menjadi lbh baik. pengalaman itu justru bisa menjadi suatu awal bagi kita utk memulai hidup yg jauh lbh baik. mmg akan lbh menyenangkan jika ada yg mendukung.
    tp jk tidak, hidup kita sepenuhnya bergantung pd kita sendiri yg sudah diberi hidup oleh yg empunya hidup🙂
    tetap smgt ya mbak..mbak pasti bisa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: