Skip to content

Meraih Kebahagiaan Sejati, Bagaimana Caranya?

February 10, 2009

Ketika diajukan pertanyaan,”Apakah Anda ingin bahagia?, dengan tegas 100 % responden menjawab iya dalam survei yang dilakukan sebuah majalah gaya hidup beberapa waktu lalu. Namun ketika ditanya,”Apakah Anda bahagia?”,  hanya 38 % responden yang menjawab dengan yakin bahwa dirinya bahagia.

Kebahagiaan dalam hidup memang menjadi dambaan setiap orang. Orang berusaha meraihnya meski dengan cara yang berbeda-beda. Sayangnya, tidak semua orang berhasil mencapainya. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat benar-benar bahagia.

Mitos-mitos Sumber Kebahagiaan

Mengapa orang tidak mencapai kebahagiaan padahal telah berusaha untuk meraihnya? Manusia, setinggi apapun level kecerdasannya, ternyata tidak pandai dalam memprediksikan apa yang terbaik bagi dirinya. Dalam hal kebahagiaan, banyak orang menggantungkannya pada aspek yang salah. Ada beberapa sumber kebahagiaan yang sebenarnya mitos belaka. Kita berpikir dapat bahagia bila memilikinya, padahal tidak demikian. Apa sajakah itu?

Uang, kekayaan, dan pemenuhan keinginan

Berapa banyak di antara kita yang berpikir uang dapat membawa kebahagiaan? Jika kita mau jujur, pandangan bahwa orang kaya itu lebih bahagia pasti pernah hinggap dalam pikiran kita. Uang sering diidentikkan dengan kebahagiaan. Kita kerap berpikir dengan memiliki harta yang berlimpah, kita dapat membeli apapun yang diinginkan, dan sim salabim, kita pasti bahagia. Namun benarkah demikian?

Mungkin Anda pernah membeli pakaian baru setelah sekian lama menundanya karena belum cukup uang. Ketika akhirnya dapat membeli pakaian yang diidam-idamkan itu, apakah lantas Anda bahagia? Berapa kali Anda berganti handphone sejak pertama kali menggunakannya? Apakah Anda menggantinya karena memang sudah rusak? Atau karena tertarik dengan model baru yang lebih elegan, canggih, dsb? Ketika sudah membeli yang baru, apakah Anda senang? Bisa jadi saat itu iya. Namun maksimal dalam hitungan bulan, kesenangan semacam itu umumnya tidak lagi membekas.

Bukan berarti uang tidak terkait dengan kebahagiaan. Sampai titik tertentu, uang dapat membantu kita terhindar dari stres. Bayangkan mereka yang tidak punya uang, bahkan harus mengais sampah untuk mendapatkan sisa makanan. Namun perlu diketahui fungsi uang hanya sebatas pada terpenuhinya kebutuhan dasar. Setelah kebutuhan itu tercukupi, meningkatnya uang tidak lagi punya efek dramatis dalam meningkatkan kebahagiaan seseorang.

Bahkan Edward Diener, psikolog dari University of Illnois menemukan tingkat kecemasan orang yang sudah memiliki banyak uang lebih tinggi dibandingkan kebahagiaannya. Hasil penelitiannya pada 400 orang terkaya se-Amerika menunjukkan mereka mengalami reference anxiety, yakni kecemasan yang timbul setelah membandingkan kepunyaan mereka tidak sebagus milik orang lain. Bahayanya, reference anxiety ini semakin meningkat ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki barang-barang lebih mewah dan mahal.

Uang punya kuasa untuk membeli materi. Namun, untuk hal yang lebih bermakna dari itu, khususnya kebahagiaan, uang tidak berdaya untuk membelinya.

Aktivitas sesaat yang menyenangkan

Mengapa tempat-tempat hiburan dan objek wisata menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang?  Bahkan banyak orang berkeliling dunia sementara tempat-tempat menarik di negerinya sendiri pun belum semua dikunjungi. Namun apakah kegiatan ini membawa kebahagiaan? Ternyata tidak. Sepulang berlibur, kita akan dihadapkan kembali pada rutinitas yang dengan cepat meredakan sensasi kesenangan yang kita peroleh. Tidak heran jika ide bulan madu kedua pada pasangan yang ingin memperbaiki hubungannya seringkali tidak berhasil.

Status perkawinan dan anak

Berapa banyak orangtua yang mendesak anaknya untuk segera menikah? Perkawinan diyakini sebagai puncak kebahagiaan manusia. Sampai-sampai Erik Erikson, salah satu tokoh psikologi, menegaskan bahwa perkawinan merupakan tugas yang harus dipenuhi. Namun ternyata setelah masa bulan madu lewat, tingkat kebahagiaan orang yang menikah dengan yang lajang, ditemukan tidak ada bedanya.

Setelah menikah, pertanyaan lain akan menyusul: kapan punya momongan?  Seorang teman sempat stres akibat pertanyaan itu ketika belum juga mengandung setelah setahun perkawinannya. Setelah ia akhirnya dikaruniai anak, ia lebih merasa lega ketimbang bahagia. Saat ini, ia mengaku stres menghadapi kenakalan anaknya. Stres mengasuh anak juga diakui oleh 900 perempuan yang berpartisipasi dalam penelitian Daniel Kahneman, psikolog dari Princeton University. Ironisnya, sebelum memiliki anak, mereka mengaku sangat menginginkannya.

Mengejar Kebahagiaan, Mencari Kesenangan, atau Memenuhi Tuntutan?

Tahun 1999 lalu, dunia psikologi disemarakkan oleh hadirnya kajian baru bernama psikologi positif yang diperkenalkan oleh Martin Seligman. Kajian ini berusaha melihat sisi positif dari manusia, setelah sekian lama psikologi berkutat pada kondisi mental yang negatif. Penelitian Seligman, diikuti oleh sejumlah psikolog lainnya, menghasilkan temuan baru yang dapat memperluas cakrawala pemahaman kita tentang kebahagiaan dan apa yang dapat membuat kita bahagia.

Tampaknya kita sering salah dalam memaknai kebahagiaan. Kita menyamakan kenikmatan, kesenangan, dan kelegaan, sebagai kebahagiaan. Keinginan yang terpenuhi, yang dimungkinkan dengan adanya uang, bisa jadi memberi kesenangan. Berlibur ataupun aktivitas seksual mungkin memberikan kelegaan atau kenikmatan. Menikah dan memiliki anak bisa jadi melegakan karena telah memenuhi tuntutan lingkungan. Namun semua itu bukan kebahagiaan.

Kebahagiaan bersifat menetap, bukan sesaat. Kebahagiaan membawa ketenangan jiwa yang tetap dapat dirasakan saat seseorang sedang menghadapi persoalan. Karena bahagia merupakan pemaknaan seseorang terhadap hidupnya secara keseluruhan. Orang yang bahagia dapat dengan tegas mengatakan dirinya berbahagia tanpa perlu terlebih dahulu menghitung berapa banyak peristiwa menyenangkan yang sudah membuatnya merasa demikian.

 

Mencapai Kebahagiaan yang Sesungguhnya

Lantas apa yang harus dilakukan untuk dapat mencapai kebahagiaan? Jim Stovall pernah menulis buku berjudul The Ultimate Gift (2000) yang mengisahkan bagaimana seseorang dapat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Tokohnya, Jason, adalah pemuda manja yang keras kepala. Sejak kecil ia tidak mengenal kesusahan. Hidupnya berlimpah dengan uang, semua keinginannya selalu terpenuhi. Sampai suatu ketika, kakeknya memilihnya sebagai ahli waris. Ia berhak atas kekayaan kakeknya asalkan ia lulus tes yang sudah dirancang khusus untuknya.

Tes yang diberikan kakeknya mengajarkan kepadanya bagaimana ia harus menjalani hidup. Ia harus bekerja keras di sebuah daerah pertanian terpencil. Harta benda yang selama ini menemaninya diambil darinya termasuk apartemen dan mobil mewah. Ia menjalani kehidupan yang berbeda dari yang selama ini dijalaninya. Kini tidak mudah baginya untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Namun dalam kondisi itulah, ia belajar bagaimana caranya memberi. Tepatnya, ia belajar cara mencintai ketika seorang gadis kecil penderita kanker hadir dalam kehidupannya. Ia pun mengalami apa yang dinamakan kehilangan ketika gadis itu meninggal dunia.

Jason lulus dari ujian yang diberikan kakeknya. Sebagian dari uang yang diterimanya digunakan untuk membangun rumah sakit bagi penderita kanker. Ia menyadari kakeknya telah memberikan hadiah yang jauh lebih berharga dari harta yang semula sangat ingin dimilikinya, yakni bagaimana caranya meraih kebahagiaan yang otentik.

Berikut ini adalah lima aspek utama yang dapat menjadi sumber kebahagiaan sejati menurut Seligman dkk, yang diramu dengan manis dalam karya Stovall yang telah difilmkan dengan judul sama dan meraih penghargaan Heartland Truly Moving Pictures:

Menjalin hubungan positif dengan orang lain

Hubungan yang positif bukan sekedar memiliki teman, pasangan, ataupun anak. Status perkawinan dan kepemilikan anak tidak dapat menjamin kebahagiaan seseorang. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani hubungan dengan orang-orang yang kita miliki.

Untuk dapat berelasi secara positif, kita harus dapat mencintai. Dalam mencintai, kita memiliki kapasitas memberi yang akan memungkinkan kita untuk membantu orang lain. Bukan hanya secara materiil. Namun melampaui itu, kita membantu mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik, sebagaimana kita bertumbuh lebih baik oleh kehadiran mereka.

Itulah sebabnya membantu orang lain tidak hanya membawa kebahagiaan bagi mereka yang dibantu, tetapi juga bagi yang membantu. Mereka yang memiliki kapasitas memberi akan lebih mungkin untuk meraih kebahagiaan. Tidak heran Bunda Teresa disebut-sebut sebagai manusia yang paling berbahagia. Dan pasutri yang berbahagia adalah yang mendasarkan perkawinannya pada upaya membangun pasangannya satu sama lain secara positif.

Keterlibatan penuh

Bukan pekerjaan yang menghasilkan uang banyak yang dapat membuat orang menjadi bahagia. Melainkan bagaimana mereka melibatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan yang mereka tekuni. Keterlibatan penuh bukan hanya pada karir, tetapi juga dalam aktivitas lain seperti hobi dan aktivitas bersama keluarga. Keterlibatan penuh membutuhkan partisipasi aktif dari orang yang bersangkutan. Dengan melibatkan diri secara penuh, bukan hanya fisik yang beraktivitas, tetapi hati dan pikiran juga turut serta. Tidak heran kita bisa lebih bahagia.

Temukan makna dalam keseharian

Dalam keterlibatan penuh dan hubungan positif dengan orang lain tersirat satu cara lain untuk dapat bahagia, yakni temukan makna dalam apapun yang kita lakukan. Benjamin Franklin pernah mengatakan bahwa kebahagiaan bukan diperoleh dari suatu peristiwa besar atau keberuntungan yang sesekali terjadi, melainkan dari keseharian kita. Menikmati pekerjaan akan jauh lebih membahagiakan ketimbang merayakan pesta. Menghargai pasangan jauh lebih berarti ketimbang sensasi temporer dari perselingkuhan. Mengagumi keagungan Tuhan lewat ciptaanNya di sekitar kita juga dapat membuat hidup lebih bermakna.

Dua dekade sebelum Seligman, Abraham Maslow sudah mengemukakan salah satu resep berbahagia ini. Maslow menyebutnya sebagai pengalaman puncak (peak experience). Saat mengalaminya, kita merasakan luapan emosi penuh haru, syukur, kekaguman, ketergugahan, ataupun kepuasan yang tak terlukiskan. Pengalaman puncak dapat dirasakan sehari-hari, tidak perlu menunggu momen yang istimewa. Kita dapat merasakannya saat menikmati hangatnya mentari pagi, atau kala menggenggam tangan pasangan yang sudah menemani kita selama belasan tahun. Sering-seringlah mengalami kenikmatan semacam ini. Temukan makna dalam hal-hal kecil. Indahnya dapat tetap terasa sepanjang hidup.

Optimis, namun tetap realistis

Orang yang optimis ditemukan lebih berbahagia. Mereka tidak mudah cemas karena menjalani hidup dengan penuh harapan. Kita tahu harapan selalu menguatkan. Namun menurut Sandra Schneider, optimisme yang kita miliki tetap harus memijak bumi. Dengan kata lain, kita boleh optimis, tetapi harus realistis. Optimisme dapat membuat langkah kita menjadi lebih ringan. Namun untuk mewujudkan keyakinan itu, tetap dibutuhkan tindakan nyata yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan kita.

Menjadi pribadi yang resilien

Orang yang berbahagia bukan berarti tidak pernah mengalami penderitaan. Karena kebahagiaan kita tidak bergantung pada seberapa banyak peristiwa menyenangkan yang kita alami. Melainkan sejauh mana kita memiliki resiliensi, yakni kemampuan untuk bangkit dari peristiwa yang terpahit sekalipun. Tiap orang memiliki kapasitas resilien lebih dari yang mereka sadari. Sayangnya kita cenderung terpuruk dalam kegagalan dan larut dalam kesedihan. Padahal kita perlu yakin bahwa badai pasti berlalu dan bahkan ada pelangi setelah hujan. Peristiwa buruk tidak hanya akan berlalu, tetapi juga dapat membawa kebaikan. Inilah salah satu kunci kebahagiaan mengingat hidup tidak hanya berisikan hal-hal menyenangkan.

Baik tokoh-tokoh dalam karya Stovall maupun responden penelitian Seligman dkk, dapat mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya dengan memiliki hal-hal di atas. Jika Anda menganggap tokoh-tokoh Stovall hanya rekaan, responden dalam penelitian Seligman dkk tentu tidak dapat disangkal keberadaannya. Jika mereka dapat berbahagia, kita pun bisa. Hanya saja jangan lekatkan kebahagiaan Anda pada aspek yang salah. Mulailah meraih kebahagiaan sejati!

-beli Mind, Body, n Soul nya Intisari ya…;)

19 Comments leave one →
  1. February 10, 2009 9:37 am

    Mbak Ester,

    rupanya anda penganut etika eudaimonia Aristoteles ya…. tapi omong-omong apa yang dimaksud dengan kebahagiaan sejati? Kebahagiaan yang menetap, bukan sesaat, menurut mbak Ester…. lha … tapi apa ini ada? Tapi saya setuju sama mbak Ester … kebahagiaan bukan karena memiliki sesuatu.. tapi menjadi sesuatu…. walau itu tak selamanya…. hanya kematian yang sejati…

    Donny Danardono

  2. esterlianawati permalink*
    February 11, 2009 8:18 am

    Mas Dondon, pake2 mbak ester segala😛
    namanya jg positive psychology, melihat segala sesuatu yg paling positif yang bisa diraih manusia, jd ya pasti ada dong, mas..😉 Hehehe.

  3. mia permalink
    February 11, 2009 11:26 pm

    hallo…mba ESTER, kenalin nama saya Mia. Saya sangat tertarik dengan tulisan mba ester sangat membantu saya, karena saat ini saya lagi nyusun skripsi ttg psychological well being…..Tapi alangkah lebih bagusnya kalau tulisan pada blog mba ini dilengkapi dengan literaturya….jadi sebagi bukti formal aja…..ya hitung2 jg bs membantu saya menambah referensi dan literatur utk skripsi…he..he..he.., moga jg bermanfaat bagi orang lain….saya jg berharap qt bs saling sahring…., email saya m14_yanti@yahoo.com , tolong ya mba kasih tau saya literaturnya kaya Seligman,dkk yang kaya mba tulis di ats..dan segala sesuatu ttg PWB…trims…. SALAM KENAL MBA…

  4. esterlianawati permalink*
    February 12, 2009 8:42 am

    Hai mbak mia, mksh masukannya ya.
    Btw, emang tulisan ini gak dipakein literatur krn ditujukan sbg tulisan populer, bukan ilmiah. Tp kl mbak mia mau cari literaturnya seligman, bisa cari di buku Positive psychology – (William C. Compton, 2005), Authentic Happiness karya Seligman sendiri, atau silakan buka http://www.authentichappiness.net. Kl mengenai psychological well-being, bs cari hasil penelitiannya Carol D. Ryff. Aku ada bbrp jurnalnya, sayangnya bukan versi elektronik. Tp beliau welcome utk dikirimi email, nanti kucari dl alamat emailnya, kukirim ke email mbak mia kl dah ketemu ya.
    Aku seneng kl kita bisa saling sharing. Emailku di esterlianawati@yahoo.com.
    Thx ya. en gud lak🙂

  5. mia permalink
    February 12, 2009 10:04 am

    Thanks mba ester……, wah saya buru2 mau cari literatur yg mba kasih itu…
    Mba ester ini selain baik bgt, ternyata juga cantik..he..he..he… (bukan rayuan loch, tapi kenyataan..he..he..he)…makasih mba…

    • esterlianawati permalink*
      February 13, 2009 8:36 am

      duh.. mbak mia bikin ge-er aja nih, hehe
      sama2, tengkyu jg ya. smg cpt ketemu literaturnya😉

  6. willy suriano hariono permalink
    February 14, 2009 8:01 pm

    halo mbak, kayaknya udah lama gak masuk ke blogya mbak, gimana kabarnya? gini ya mbak, aku mau berbagi ideku bagaimana kebahagiaan itu bisa dicapai, jawabannya mudah dan gampang……kembali kepada Tuhan!!! kenapakah kita dicipta? Tuhan sengaja mengajar kita agar mencari potensi diri lewat kepayahan, di situ kita membina kekuatan hati dan mental, dari situlah juga akan lahir rasa kepuasan yang akhirnya bisa mencetuskan kebahagiaan di hati….nah!!!!!

  7. opx permalink
    February 17, 2009 4:46 am

    gw masih mencari…. dan cuman bisa bernyanyi wat…

    Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
    Dibalik awan hitam
    Smoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
    Menanti..
    Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

    …………
    ………………..

    Sampai nanti ketika hujan tak lagi
    Meneteskan duka meretas luka
    Sampai hujan memulihkan luka

  8. esterlianawati permalink*
    February 24, 2009 7:21 am

    hai willy, thx ya mampir lg ke sini. kbrku baik2, mencoba meraih kebahagiaan sejati😉
    thx ya buat masukanmu, wil.emang bener, salah satu aspek kebahagiaan itu emang spiritualitas dan religiusitas. mekanismenya salah satunya dgn yg km jelaskan itu🙂

  9. esterlianawati permalink*
    February 24, 2009 7:24 am

    piq, elo puitis banget..
    lg knp..😛

  10. March 3, 2009 8:19 am

    Apakah Cinta, Kasih dan Sayang masih belum cukup?

  11. esterlianawati permalink*
    March 5, 2009 9:29 am

    hai mas abiiiie.
    mnrtku sih, cinta itu akarnya. org yg mampu mencintai diri dan org lain akan bisa melakukan cara2 di atas😉

  12. eka kurniawan permalink
    August 19, 2009 12:15 pm

    Thank’s mba’…tulisannya manteb. terkadang orang memang salah mengartikan kebahagian sebagai kesenangan, beda” tipis seh. Tp kebahagian sesungguhnya tidak bisa dbeli dgn uang berapa pun besarnya.

    regart.
    eka

    • esterlianawati permalink*
      August 20, 2009 10:05 am

      mksh jg ..:)

  13. wenny permalink
    October 8, 2009 7:06 am

    mbak, tahu nggak judul buku apa yang ada teori tentang kebahagiannya? coz lagi nyari bahan neh untuk proposal skripsi,,banyak tahu teorinya tapi belum nemu buku yang mencantumkanteorinya neh,,,mohon bantuannya.thanks

  14. October 8, 2009 8:00 am

    mba tlgemalikan jawabannya ke smart_naya@yahoo.co.id ,
    thanks,,moga ilmunya nambah terus..

    • esterlianawati permalink*
      October 11, 2009 10:24 am

      hai wenny, sdh kuemail ya. gudlak🙂

  15. cornel permalink
    May 20, 2010 7:50 am

    hm tulisan yang baguz…setuju, scara teoritik emang gtu, rang banyak salah perspektifnya ttg bahagia…sakbenernya itu bahagia yah gampang dan susah didapetin, sulit jika ndak mo ngelakuin.so misal, kalo mo bahagia memberi aja…yang diberi juga bahagia ..apalagi yang ngelakuin pasti dh bahagia…, cuma dalam kontek hidup kita , gaya memberi ndak pernah diajarkan…maunya trima mlulu…wheleh whelhh…jadi kunci dapetin itu bahagia…ya memebri…memberi tidak selamanya kehilangan kan? so misalnya senyuman mba ester itu….wong namanya saja ester spt artinya… hhhhhhh, thxz

    • Ester Lianawati permalink*
      May 25, 2010 3:28 pm

      Hehe, mksh utk koment nya ya..
      Smg makin bnyk yg mau memberi stlh melht koment km🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: