Skip to content

Bermimpilah sebab Mimpi itu Indah

January 5, 2009

All men who have achieved great things have been great dreamers.

(Orison Swett Marde)

Saya teringat suatu kali seorang teman dengan gigih mengajak saya untuk mengikuti jejaknya bergerak di bidang asuransi. Ia menceritakan kisah kesuksesannya yang mengharukan. Ia ditolak berpuluh-puluh kali oleh calon kliennya. Namun, setiap kali ia mulai putus asa, ia mengingat kedua orangtuanya yang pernah menjual rumah untuk biaya kuliahnya. Ibunya stres ketika rumah dijual sehingga membutuhkan penanganan profesional.

Sejak itu, teman saya bertekad untuk membelikan rumah buat orangtuanya. Ia juga ingin mengajak mereka keliling dunia. Impian itu yang menggerakkannya untuk berusaha semaksimal mungkin, dan ia berhasil. Hanya dalam tempo kurang lebih setahun, sebuah rumah ia persembahkan untuk orangtuanya sekaligus bisa mengajak mereka berwisata ke luar negeri.

Setelah itu, ia tidak kehilangan impian. Ia mengimpikan kelak ia dipanggil naik ke atas mimbar untuk menerima applause karena berhasil mencapai posisi tertinggi.

Dalam kelelahannya membujuk saya, ia mengajukan pertanyaan terakhir kepada saya, “Apa elo enggak mau kalau satu saat elo dipanggil ke podium dan diumumkan sebagai salah satu leader yang berhasil?”

Saat itu saya tertawa bukan karena menertawakan impiannya. Saya menghargai impiannya, hanya saja saya memang tidak pernah mengangankan apa yang didambakannya. Namun, hari itu saya belajar satu hal penting darinya: betapa penting untuk memiliki sebuah impian.

Mengapa Penting?

Victor Hugo pernah mengatakan, “There is nothing like a dream to create a future.” Impian dapat menciptakan masa depan. Karena impian memberi motivasi untuk melakukan apa pun yang dapat membuat impian itu terwujud. Terlebih lagi, impian dapat menjaga agar motivasi itu tetap ada. Orang yang terus mengacu pada impiannya tidak akan kehilangan motivasi. Saat ia putus asa dengan kegagalan yang ada, impian dapat mengembalikan motivasinya. Hal ini disebabkan impian memberi harapan. Harapan dapat membuat kita yakin bahwa kita akan menemukan jalan untuk mencapai apa yang diimpikan.

Impian memberikan gairah kepada kita untuk mencoba kemungkinan-kemungkinan yang ada. Tanpa impian, kita tidak akan pernah tahu apa yang sesungguhnya dapat kita lakukan. Oleh sebab itu, impian juga menghindarkan kita dari kemungkinan mengalami counterfactual thinking. David G Myers, psikolog dari Hope College, Michigan, AS, mengartikan counterfactual thinking sebagai pemikiran berandai-andai. Tepatnya, membayangkan skenario dan hasil yang berbeda dari apa yang sedang terjadi. Pemikiran semacam ini dapat menimbulkan rasa penyesalan dan kekecewaan.

Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Mark Twain, penulis terkenal dari Amerika, dan dibuktikan oleh sejumlah penelitian psikologis, penyesalan yang paling besar ternyata bukan terhadap apa yang telah dilakukan, melainkan terhadap apa yang tidak dilakukan. Impian mendorong kita untuk melakukan berbagai hal dalam upaya mewujudkannya. Dengan sendirinya impian juga akan menghindarkan kita dari penyesalan terbesar yang dapat dirasakan manusia, yakni tidak pernah mencoba.

Terakhir, dan yang terutama, impian terkait dengan kesejahteraan psikologis. Impian dapat membuat orang menjadi lebih sejahtera bukan hanya saat memperoleh impian itu, melainkan juga saat dalam proses pencapaiannya. Memiliki impian, gigih berusaha mewujudkannya, mengalami hambatan, hampir putus asa, namun mampu bangkit kembali, sampai tiba pada momen terwujudnya impian, semua fluktuasi emosi ini justru memperkaya dinamika psikis seseorang yang dapat membuat hidupnya lebih berwarna.

Mewujudkan Impian

Saya adalah salah satu dari jutaan orang yang terpesona dengan karya Andrea Hirata. Bukan semata karena caranya menuturkan cerita. Namun, lebih pada apa yang ia coba sampaikan dalam tulisan-tulisannya. Pengalaman hidupnya yang disajikan dengan apik dalam tetraloginya mengajarkan saya mengenai cara mewujudkan impian.

Pertama, bersikaplah optimistis. Pernah satu waktu, Ikal, nama kecil Hirata, sebagaimana yang diceritakan dalam buku keduanya, Sang Pemimpi, pesimistis dengan impiannya untuk kuliah di Prancis. Hasilnya, peringkatnya di sekolah menurun dari tiga hingga 75. Dan apa nasihat dari Arai, saudaranya? “Kita tidak boleh mendahului nasib. Kita lakukan yang terbaik. Kita akan menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne! Apa pun yang terjadi!” Sebuah optimisme luar biasa dari seorang yatim piatu seperti Arai yang rela bekerja apa pun demi mengumpulkan receh demi receh yang kelak akan mengantarnya meraih impian.

Kedua, percaya diri. Orang dapat kehilangan optimismenya jika kurang percaya diri. Sayangnya, ketika hendak meraih impian, kita sering merasa tidak punya apa-apa. Sampai-sampai frase populer seperti from zero to hero; from nothing to something, sering ditujukan untuk memuji mereka yang berhasil menggapai mimpinya.

Padahal, kita sesungguhnya tidak memulai dari nol. Kita sudah memiliki potensi masing-masing dalam diri kita. Hanya saja kita sering tidak menyadarinya.

Ikal, sama seperti Arai, memiliki potensi itu. Mereka dikaruniai kecerdasan yang tidak semua orang dapat memilikinya. Hanya saja Ikal sempat mengalami masa- masa di mana ia kurang percaya diri. Namun akhirnya, impian yang dimilikinya kembali menggugahnya untuk mengoptimalisasikan potensi dirinya. Percayalah, impian memang dapat mendorong potensi kita yang mungkin masih tersembunyi untuk keluar, tampil merekah di hadapan diri kita sendiri dan orang lain.

Ketiga, berencanalah dan bertindaklah. Impian tidak akan menjadi kenyataan jika tidak ada tindakan. Jadi, daftarkan langkah-langkah konkret yang harus dilakukan untuk mencapai impian itu. Tentunya tidak cukup berencana mengenai langkah-langkah itu. Namun lebih dari itu, kita harus disiplin mengerjakannya. Kita harus mengacu kembali kepada impian itu setiap kali kita putus asa. Kegagalan adalah saat mengoreksi apakah kita salah mengambil langkah, bukan langsung berpikir untuk meninggalkan impian itu.

Keempat, persembahkanlah impianmu. Nancy Cantor & Catherine Sanderson menemukan bahwa impian yang berpusat pada diri sendiri untuk menjadi kaya, berkuasa, dan terkenal, ternyata dapat membuat orang menjadi cemas dan gelisah.

Lebih lanjut, Tim Kasser & Richard Ryan menemukan bahwa impian yang ditujukan untuk orang lain memang dapat lebih membawa kebahagiaan. Ikal dan seorang teman yang saya ceritakan di atas adalah dua di antara banyak orang yang mempersembahkan impiannya untuk orang lain. Mendedikasikan sebuah impian indah untuk orang yang kita kasihi memang terbukti lebih dapat memacu semangat ketika kita mengalami masa-masa putus asa.

Impian tidak mengenal status sosial ekonomi, keutuhan jasmani, dan hal-hal yang bersifat materiil atau lahiriah lainnya. Tidak perlu menjadi kaya atau memiliki kelengkapan anggota tubuh untuk bermimpi.

Jangan jadikan kemiskinan atau kekurangan fisik sebagai suatu hambatan. Siapakah Ikal dan Arai dapat mengejar impiannya sampai ke Prancis? Mereka hanya anak-anak dari keluarga miskin di sebuah desa di Belitong.

Namun, apa yang membedakan mereka dari yang lain? Lagi-lagi mengutip perkataan Arai, “Kita hanya bisa bermimpi. Tanpa impian, orang seperti kita akan mati.”

Empat hari lagi menuju tahun baru. Sudahkah Anda memiliki impian untuk diwujudkan pada tahun mendatang? Bermimpilah, sebab mimpi itu indah.

Selamat tahun baru. Selamat bermimpi.

-mas argo, thx buat editannya😉

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: