Skip to content

Mematuhi Nurani

December 10, 2008
tags:

Dalam dunia psikologi sosial dikenal sebuah penelitian yang sangat kontroversial pada tahun 1965. Penelitian yang dirancang oleh Stanley Millgram dari University of Yale ini sampai diliput berbagai media cetak dan elektronik. Bahkan sempat difilmkan dengan William Shatner, pemeran dalam film Star Trek, memainkan tokoh Millgram.

Penelitian ini hendak melihat tingkat kepatuhan seseorang terhadap perintah yang berdampak merusak (destructive orders). Sebanyak 40 orang yang berpartisipasi dalam penelitian ini sengaja ditempatkan sebagai pengajar tanpa sepengetahuan mereka. Sementara 40 orang lainnya, yang sebenarnya adalah para asisten Millgram, berperan sebagai siswa. Peran ini diatur sedemikian rupa, seolah-olah mereka mendapatkannya berdasarkan hasil undian, bukan dipilih secara sengaja.

Masing-masing siswa dan pengajar dipasang-pasangkan. Setiap pasangan ditempatkan dalam ruangan terpisah. Ruangan mereka hanya dihubungkan oleh sebuah alat guncangan listrik. Setiap pengajar akan melatih sejumlah pasangan kata kepada siswa. Jika siswa tidak dapat mempelajarinya, pengajar harus mengalirkan tegangan listrik sebagai hukuman.

Tegangan listrik ini berkisar dari 15 volts sampai 450 volts. Setiap tegangan akan dinaikkan sebesar 15 volts tiap kali siswa tidak dapat menjawab. Setiap kali ‘menerima’ tegangan (yang sebenarnya tidak mereka terima), siswa akan berteriak. Teriakannya mulai dari sekedar meneriakkan kata,”Aduh”, mengeluhkan jantungnya sakit, mengatakan sudah tidak tahan lagi, dan meminta kepada peneliti untuk dikeluarkan dari ruangan itu. Bahkan kemudian mereka menolak untuk menjawab, dan respons terakhir adalah mereka terdiam tanda tidak mampu lagi menjawab.

Millgram ingin melihat sampai sejauh mana pengajar akan menaikkan tegangan listrik meskipun mendengar teriakan siswa. Setiap kali pengajar enggan untuk menjawab, Millgram akan meminta mereka tetap melanjutkan. Millgram akan mulai mengatakan, “Lanjutkan saja!”, “Penelitian ini menuntut Anda untuk melanjutkan!”, Sangat mutlak diperlukan untuk Anda melanjutkan!”, dan sampai “Anda tidak memiliki pilihan lain, Anda harus melanjutkan!”.

Hasilnya adalah 26 dari 40 pengajar melanjutkan tegangan listrik sampai 450 volts. Dengan perkataan lain, ternyata 65 persen peserta dalam penelitian Millgram bersedia patuh terhadap perintah yang destruktif. Fakta ini sempat mengguncang Millgram dan publik saat itu. Mengapa orang biasa, orang yang dikenal di lingkungan sekitarnya sebagai orang baik-baik dan tidak pernah melakukan tindak kriminalitas, tega memberikan tegangan listrik sedashyat itu kepada orang yang sudah berteriak kesakitan dan memohon untuk dilepaskan?

Saya kira, Paulo Coelho, penulis terkenal asal Brazil, telah menemukan jawabannya yang ia tuangkan dalam salah satu karyanya, The Devil and Myss Prym. Sebelumnya, kita perlu memahami bahwa dalam pandangan Coelho, perintah jahat tidak selalu datang dari orang yang berstatus lebih tinggi. Perintah jahat dapat datang dari siapa saja dan dalam bentuk apapun. Coelho memaknai lebih luas lagi perintah yang destruktif ini sebagai perintah Iblis. Karena memang perintah Iblis untuk kita bertindak jahat dan tak bermoral selalu dapat kita temui setiap harinya dalam berbagai bentuk godaan. Ada yang mengambil bentuk dalam wujud perintah dari atasan atau mungkin sekedar bujukan dari teman dan keluarga.

Perintah destruktif dapat mendatangi siapapun, kapanpun, dimanapun. Selama kita hidup, setiap harinya kita akan menemui berbagai godaan yang memerintahkan kita untuk melakukan hal buruk. Oleh sebab itu, menurut Coelho, baik dan jahat tidak dapat didikotomikan secara kaku karena batas antara keduanya sangat tipis. Orang baik dapat patuh terhadap perintah yang buruk, orang baik dapat melakukan hal yang buruk.

Hanya satu yang akan menentukan orang akan bertindak baik atau jahat, yakni pengendalian diri. Saat seseorang dapat mengendalikan diri, ia dapat melepaskan diri dari kepatuhan terhadap perintah jahat dalam dirinya. Dan untuk dapat mengendalikan diri, kita perlu menengok hati nurani. Orang yang mengacu kepada nuraninya akan dapat memutuskan apakah ia harus patuh terhadap perintah atau justru menentang perintah.

Esok, umat Muslim akan merayakan Idul Adha. Idul Adha mengingatkan saya akan kepatuhan Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail sendiri terhadap Allah Swt. Dapat dibayangkan perasaan Ibrahim dan Siti Hajar, yang namanya kerap terlupakan, saat anak satu-satunya harus dipersembahkan sebagai kurban. Demikian pula dengan Ismail, yang harus rela mengurbankan dirinya sendiri. Namun mereka patuh kepada perintah Allah Swt untuk mengurbankan Ismail.

Mengapa Ibrahim dan keluarganya mematuhi perintah itu meskipun mereka tidak mengetahui maksud Tuhan dengan perintah itu? Sebuah perintah yang dapat dikatakan tidak masuk akal. Sekian lamanya mereka menanti-nantikan kehadiran seorang anak dan ketika mereka sudah memperolehnya, mereka harus mengurbankannya. Namun toh mereka tetap mematuhinya karena meyakini perintah itu datang dari Tuhan yang mereka imani sebagai pembawa kebaikan. Dan benar demikian, Allah Swt tidak mengizinkan darah Ismail tertumpah dalam mezbah pengurbanan itu. Ia meminta Ibrahim mengganti Ismail dengan hewan kurban yang sudah tersedia saat itu.

Inilah yang sering kita lupakan ketika menerima perintah. Kita tidak bertanya kepada Dia, satu-satunya figur otoritas yang perintahNya harus dipatuhi. Daya penilaian Tuhan tidak dapat diragukan. Ia sudah memberikan alat kepada kita untuk mendeteksi apakah perintah yang kita terima harus dipatuhi atau tidak. Alat itu berupa hati nurani.

Jika kita ragu, cemas, atau bimbang terhadap suatu perintah, jangan mentoleransi apapun juga, beranilah untuk tidak patuh. Jika kita sudah berusaha mencari pembenaran untuk melaksanakannya, itu pertanda bahwa seharusnya kita tidak melaksanakannya. Masih dalam buku Coelho berjudul The Devil and Myss Prym, tiap tokoh dalam buku itu yang hendak membunuh seseorang demi harta, mencoba untuk mendamaikan diri mereka sendiri dengan berbagai alasan yang mereka cari untuk membenarkan tindak pembunuhan itu.

Dalam hidup sehari-hari, kita juga sering melakukan pembenaran semacam ini tiap kali kita melakukan hal yang buruk, tiap kali kita patuh kepada perintah si jahat dalam diri kita. Padahal untuk menguji sebuah perintah tidaklah sulit. Perintah yang benar akan mendatangkan kedamaian ketika kita mematuhinya. Jika yang kita patuhi bukanlah perintah yang baik, hanya penyesalan dan kesia-siaan yang akan kita temui. Nurani kita akan berbicara, nurani kita tidak akan menipu. Bersyukurlah selama nurani kita masih dapat melakukannya. Karena pada orang-orang dengan gangguan kepribadian antisosial atau yang dikenal sebagai psikopat, mereka tidak lagi memiliki nurani untuk bercermin.

Salah satu hal yang membuat penelitian Millgram menjadi kontroversial adalah seusai penelitian, kelompok pengajar keluar ruangan dengan berbagai simtom negatif. Nurani mereka mendesak untuk menentang perintah Millgram, namun mereka tidak melakukannya. Hasilnya adalah sebagian gemetar, gugup, terus menggigit bibirnya, dan berkeringat dingin. Sebagian lagi tak dapat menghentikan tawa gugupnya. Ada pula yang gagap, dan bahkan tidak dapat berkata-kata. Mereka mengalami trauma psikologis yang berlangsung sampai beberapa tahun kemudian. Mereka meragukan integritas dirinya bahkan mereka meyakini diri mereka sekejam Nazi.

Kisah kepatuhan Ibrahim dan keluarganya mengingatkan kita bahwa kita punya satu figur otoritas yang perintahNya selalu membawa kebajikan. Tuhan telah memberikan nurani untuk menuntun manusia menang dalam pergumulan baik dan buruk. Yang harus kita lakukan adalah melihat perintah dengan nurani, yang sama artinya dengan memandang kepada Yang Di Atas. Bila kita tidak merasa damai untuk melakukan sesuatu, akan sangat mungkin bahwa yang akan kita lakukan itu juga dapat membawa ketidakdamaian pula bagi orang lain. Jika perintah itu baik adanya, kita tidak akan pernah merasa tidak nyaman dengan kepatuhan kita.

Ibrahim dan keluarganya tidak pernah menyesali kepatuhannya. Buah yang muncul adalah suka cita. Bahkan lebih dari itu, tindak kepatuhan mereka mendatangkan kebaikan bagi banyak orang hingga sekarang. Selamat Idul Adha.

-Taufik, thx 4 ur helpšŸ˜‰

4 Comments leave one →
  1. January 7, 2009 4:53 am

    Benar…Patuh bukanlah “nurut yang membabi buta” apalagi “Yes Man”…Patuh lebih berarti ketaatan yang beralasan. Kalau cuma Nurut perintah aja kaya ( kebo dicucuk irunge ) atau kuda delman yang senantiasa nurut kemana sang kusir perintah.
    Ulasan yang cukup berbobot…

  2. esterlianawati permalink*
    January 7, 2009 10:29 am

    tengkyu mas abie..

  3. denny oktavianto permalink
    July 11, 2009 6:10 pm

    maaf,bila tidak keberatan saya mau comment.kalau boleh saran untuk kalimat pada alinea terakhir, mungkin sebaiknya adalah bukan mendatangkan kebaikan bagi banyak orang hingga sekarang, akan tetapi intinya adalah menjadi hikmah bagi seluruh umat manusia sesudah beliau(moga damai selalu melingkupi mereka).karena prosesi ini dianggap sebagai ritual atas bentuk kepatuhan dan kesabaran manusia pada TUHANnya.Alhamdulilah sampai detik ini tempat itu masih ada dan dinamakan “hijr ismail”.letaknya di sebelah kanan maqam( baca tapak kaki nabi ALLAH Ibrahim AS di batu)karena setelah itu sang nabi berdoa “ya ALLAH berkati dan rahmati penduduk di sekitar tempat ini. oleh karenanya sampai detik ini ada ritual haji dan doa itu terkabul dgn kayanya tanah suci mekkah.
    maaf,tanpa bermaksud apapun untuk menilai secara kontekstual perihal artikelmu tentang pasutri islam, kalau boleh saya ingin menyarankanmu untuk membaca novel “perempuan di titik nol karya nawal el saddawi (warga mesir),laila majnun karya syeikh nizami ( warga turki )dan seribu satu malam (cerita rakyat iraq)terbitan mizan.ke semuanya dapat dikompilasikan dan ditarik benang merahnya dengan membaca karya2 kahlil gibran.Atau bila kamu berkenan, saya dapat memberikan informasi perihal pasutri dalam dunia islam di semua negara timur tengah dan didasarkan atas latar belakang negara masing2.alhamdulilah saya telah melakukan penelitian dan pengamatan dan terjun secara langsung.namun, saya mohon maaf bila riset saya ini tidak memiliki metode apapun dan hanya berdasarkan pengalaman hidup saya saat di negara mereka.atau saya dapat membantumu dengan memberikan beberapa referensi para ahli dan dosen, serta lulusan yang tinggal di timur tengah.
    mohon dibukakan pintu maaf bila kurang berkenan.insya ALLAH saya hanya bermaksud menyampaikan realitas yang saya temui tanpa dipengaruhi oleh sekte.heee……ciao

  4. esterlianawati permalink*
    July 13, 2009 6:41 am

    trm ksh buat mskannyašŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: