Skip to content

Siasat ‘Fun’ Saat Anak Sulit Makan

October 22, 2008

Ketimbang memaksa, lebih baik bersiasat saat menghadapi si kecil yang sulit makan.

          Kala si kecil mengatupkan mulutnya rapat-rapat saat disuapi, apa yang Anda lakukan? Membelainya sambil berkata,”Ayo dong sayang, Mama janji deh kalau makan satu sendok lagi. Nanti dibeliin es krim cokelat.” Atau mata Anda akan melotot padanya dan berujar,”Ayo makan gak!, Nanti Mama enggak ajak jalan-jalan ya!”

Semua itu sebenarnya wajar, siapa sih yang mau melihat anaknya kelaparan apalagi kurang gizi lantaran enggak mau makan. Hanya saja terkadang cara-cara yang kita lakukan, terutama paksaan, tidak berjalan efektif. Okelah si kecil mungkin mau membuka mulut dan rela memasukkan makanan ke dalam mulutnya pada waktu itu, cuma perlu diwaspadai akan dampaknya. Bila pemaksaan ini berlangsung secara terus menerus, anak akan memperoleh gambaran buruk soal makan ini, dampaknya ia akan tambah menolak untuk makan. Ini lantaran ia beranggapan bahwa makan itu bukan sesuatu yang  menyenangkan namun sebagai suatu hukuman.

          Nah, enggak mau kan si kecil tumbuh seperti itu. Jadi sebaiknya jauhi cara-cara yang tidak menyenangkan dan pikirkanlah metode yang lebih fun. Soal hasil, tentu saja tidak bisa instan. Sekali coba lantas anak akan lahap terus makannya, tidak. Di sini tetap diperlukan ketelatenan dan sifat tidak mudah putus asa bila sesekali si kecil menolak cara yang kita terapkan. 

Ingat lo Bu-Pak, mengubah suatu kebiasaan bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. 

DARI TIDAK LAPAR HINGGA HIDANGAN TAK ENAK 

Sebelum masuk pada cara, tampaknya kita perlu memahami dulu penyebab umum mengapa si kecil sampai sulit  makan. Ini beberapa di antaranya:

*Tidak merasa lapar.

Pada prinsipnya mudah; saat perut anak keroncongan kemungkinan besar ia untuk melahap makanannya akan semakin besar. Sebaliknya, bila ia dalam keadaan kekenyangan, normal saja kalau ia jadi malas makan. Berkaitan dengan ini, coba perhatikan camilan si kecil. Bukannya ia enggak boleh makan snack lo, boleh-boleh saja. Begini, tujuan kita memberi camilan sebenarnya sekadar untuk menganjal rasa lapar menjelang waktu makan. Sayangnya, tanpa disadari camilan yang diberikan memiliki rasa manis sehingga kalori atau energinya cukup banyak sehingga menimbulkan rasa kenyang. Tak heran saat  memasuki waktu makan, si batita malah malas menyentuh makanannya.

Tambahan lagi, orangtua juga kerap menyodorkan susu di antara 2 waktu makan. Ini bisa juga menjadi salah satu peyumbang rasa kenyang pada perut batita. Jadi dapat dibayangkan cukup banyaknya asupan yang dikonsumsi si batita sebelum waktu makannya tiba. Wajar kalau ia jadi  menolak makanan yang disodorkan.

 Lalu bagaimana bila si kecil sudah lapar sebelum waktu makan tiba? Boleh berikan camilan dalam bentuk potongan buah segar. Atau untuk mengabaikan rasa lapar, ajaklah si batita melakukan permainan yang menyenangkan sehingga ia  melupakan rasa laparnya. Kalau ia  sudah dikondisikan lapar, doharapkan si batita sangat antusias untuk menyantap makanannya.

*Ingin menunjukkan kemandirian.

Menurut Erik Erikson, pakar perkembangan anak, usia 1-3 tahun adalah masa anak ingin menunjukkan otonominya atau kemampuannya, yang salah satunya kemampuan untuk makan sendiri. Tapi orangtua justru menginginkan menyuapi batitanya demi menghindari suasana yang berantakan. Nah, karena tak diberi kesempatan untuk makan sendiri maka si batita malah menolak untuk makan.

 *Tak tertarik dengan makanan yang disajikan.

Memasuki usia 1 tahun,  anak mulai mengonsumsi makanan keluarga. Sayangnya, bentuk dan warna makanan keluarga terkadang tidaklah menarik. Padahal batita menyukai sesuatu yang sedap dipandang mata sehingga dapat  mengugah seleranya. Ini juga termasuk dengan pilihan peralatan makan yang digunakan. Piring, mangkuk, gelas yang bagi batita tidak menarik terkadang memicunya untuk menolak menyantap hidangan yang telah tersedia.  

 * Meniru perilaku orangtua

Orangtua adalah model bagi anaknya. Bila orangtua menunjukkan perilaku sulit makan atau pilih-pilih makanan, bisa jadi anak akan meniru perilaku tersebut. Ingat sesuatu yang dilihat dan diamati oleh si batita dapat dengan mudah ditiru oleh si batita.

KREASIKAN MAKANAN

Jika sudah tahu penyebabnya, kita akan lebih mudah mencari solusinya, bukan begitu Bu-Pak? Ini beberapa inspirasi cara untuk mengatasi batita yang sulit makan: 

*Berikan kesempatan untuk memilih peralatan.

Peralatan makan yang warna-warni dengan gambar-gambar yang menarik dapat menjadi pengugah selera makan si batita. Tak ada salahnya memilihkan peralatan makan dengan tokoh kartun yang sedang disenangi si batita.

*Kreasikan makanan dengan bentuk yang menarik

Sajikan makanan dalam bentuk menarik sehingga mampu mengugah selera makan anak. Misalnya, nasi dibentuk menyerupai boneka dengan hiasan sayuran aneka warna, atau dibuat menjadi aneka badut atau tokoh kartun yang sedang disenangi anak-anak. Pilihan lainnya, kreasikan makanan menyerupai komik cerita yang menarik.

*Berikan kesempatan untuk memilih menu

Tawari anak untuk menentukan sendiri menu makanan yang akan disantap. Niscaya dengan menu pilihan sendiri dapat membuat si batita lebih bersemangat mengonsumsi makanannya. Namun, upayakan tetap memerhatikan rambu-rambu gizi yang seimbang dan variasi menu dan bahan makanan yang diolah. Semakin beragam variasi yang disajikan, niscaya akan mampu mengugah selera makan si batita. 

*Makan bersama

Anak mengimitasi dari lingkungan terdekat. Untuk itu, ciptakan kebiasaan makan bersama sehingga si batita mengetahui bahwa semua anggota keluarga juga membutuhkan makan. Biarkan ia duduk di kursinya sendiri dan menyantap sendiri hidangannya meski hasilnya mungkin akan membuat berantakan meja makan. Pada intinya, ciptakan suasana yang mengembirakan ketika makan dengan begitu  anak memperoleh kesan makan adalah kegiatan yang fun. 

*Makan di restoran

Suasana makan yang berbeda kerap membangkitkan semangat makan. Jadi tak ada salahnya sesekali mengajak batita makan di luar. Pilihlah tempat makan yang menyajikan makanan sehat dan bergizi. Jangan izinkan anak  makan di arena bermain anak. Biarkan ia menyelesaikan makannya, kemudian berikan izin untuk main di arena bermain anak yang banyak disediakan di restoran-restoran.

Selamat mencoba!

 

MAKAN SAMBIL JALAN-JALAN

Makan sambil mengajak batita berjalan-jalan kerap menjadi pilihan orangtua dengan berbagai alasan. Pertama tentu, karena menikmati pemandanagn, si kecil tidak merasa kalau mulutnya disuapi makanan, jadi seakan ia lebih mudah makannya. Kedua, dengan berjalan-jalan, waktu makan si kecil jadi lebih cepat. Namun perlu diketahui, kebiasaan ini sebaiknya dihindari karena menyimpan  dampak yang tidak baik, salah satunya menyebabkan anak tersedak.  Terutama, bila si batita makan sambil lari-larian atau lompat-lompatan. Selain itu ada kemungkinan makanan yang diberikan tercemar. Sebab, di udara terbuka di pinggir jalan bisa jadi terdapat debu, virus, bakteri yang dapat menjadi pencetus terjadinya penyakit. Selain juga, ada kemungkinan si batita dapat tersedak bila aktivitas makan dilakukan sambil bermain, berlarian atau loncat-loncat di jalanan.

Idealnya, ciptakan kebiasaan makan pada sambil duduk. Langkah awal, lakukan kesepakatan dengan si batita bahwa wilayah makannya hanyalah sebatas lingkaran atau persegi panjang. Buat pembatas  lingkaran atau persegi panjang dari kapur atau tambang dengan ruang yang tidak terlalu luas, umpama, area dengan diameter 50 cm. Sampaikan bahwa si batita tidak boleh bergerak keluar dari areal kesepakatan tadi atau melewati batas yang telah disepakati bersama.

Letakkan beragam mainan yang mampu menarik perhatiannya. Sehingga, ia tak tergoda untuk bergerak keluar dari area yang telah ditentukan. Kalau pun, ia ingin berjalan-jalan hanya terbatas pada areal tersebut. Lambat laun, si batita akan terbiasa untuk makan sambil duduk karena lebih menyukai bermain dan mengamati mainan menarik yang ada di sekitarnya dibandingkan berjalan-jalan atau berlari-lari ke sana kemari..

          Cara lain, tentunya dengan membiasakan makan bersama dengan seluruh anggota keluarga. Dengan mengamati bahwa orangtuanya dan anggota keluarga lainnya makan bersama di meja makan, maka yang tertangkap oleh otaknya adalah bila makan memang harus duduk bersama di meja makan. Bukan sambil berjalan-jalan. Akhirnya, perilaku inilah yang ditiru dan terekam dalam memorinya. Sehingga, ketika si batita makan pun akan lebih menyukai duduk daripada berdiri.

(Mbak Utami Sri Rahayu, thx a lot ya, tulisannya boleh dimuat di sini. Kok bisa sih merangkai obrolan jd begini ;)  Ttp semangat meski dikejar deadline ya, Mbak..hehe)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: