Skip to content

MARI BELAJAR HARGAI DIRI SENDIRI

October 13, 2008

Pernahkah Anda merasa ada yang salah dengan diri atau hidup Anda? Kok sepertinya apa yang Anda kerjakan tidak memuaskan, bahkan lebih buruk lagi tidak selesai? Atau Anda merasa tidak memiliki kelebihan dan tidak  ada hal positif yang dapat Anda lakukan?  Jika ya, seberapa sering Anda mengalaminya? Jika Anda menjawab sesekali saja, Anda masih dapat bernafas lega. Tapi jika Anda sering merasakan hal itu, Anda perlu waspada dan butuh penanganan segera.

 

Penilaian terhadap diri sendiri, atau dalam psikologi dikenal dengan sebutan harga diri (self-esteem) merupakan tindakan yang tanpa sadar sering dilakukan manusia. Penilaian ini mengacu kepada seberapa besar penghargaan yang kita berikan pada diri sendiri. Dengan perkataan lain seberapa positif kita menilai aspek-aspek dalam diri. Aspek-aspek diri ini mencakup semua yang ada dalam diri kita. Termasuk di dalamnya adalah penampilan fisik, tingkat intelektualitas, keterampilan yang dimiliki, ataupun identitas sosial seperti suku bangsa dan agama.    

 

Sebenarnya secara umum, harga diri (self-esteem) manusia cenderung berfluktuasi. Maksudnya dalam keseharian, ada saat-saat dimana tiap orang akan menilai diri secara negatif. Hal ini masih tergolong wajar jika kita tidak menilai diri negatif secara keseluruhan. Jadi kita hanya berfokus pada aspek-aspek tertentu yang memang jelas terlihat sebagai kekurangan. Lain halnya dengan mereka yang sering atau selalu menilai dirinya negatif. Orang-orang seperti ini umumnya akan menilai dirinya rendah dalam setiap aspek diri. Dan parahnya lagi penilaian ini relatif permanen. Jika tidak diatasi, lambat laun dapat membawa orang ke dalam kondisi depresi yang tentunya akan semakin sulit untuk ditangani.

 

Dua Tipe

 

Orang yang cenderung menilai rendah dirinya dapat dibedakan atas dua tipe. Pertama adalah orang-orang yang penilaian negatifnya seolah-olah dapat dibenarkan karena masih dapat dimaklumi. Seolah-olah, karena sebenarnya dengan ataupun tanpa alasan yang jelas, tiap orang tidak punya alasan untuk menjustifikasi perasaan diri tidak berharga. Namun orang-orang ini umumnya dapat menyebutkan alasan yang dapat membuat pihak luar manggut-manggut tanda mengerti mengapa ia menghargai dirinya begitu rendah. Kedua adalah mereka yang sama sekali tidak punya alasan untuk membenarkan perasaan diri tidak berharga yang mereka alami.

 

Jika Anda sempat menyaksikan film Wanted yang dirilis sekitar dua bulan lalu, si tokoh utama Wesley, yang diperankan James McAvoy, adalah gambaran yang tepat dari tipe pertama orang yang memiliki self-esteem rendah. Wesley  adalah pribadi yang rendah diri karena merasa gagal baik dalam pekerjaan maupun kehidupan percintaannya. Ia menggeneralisasikan kegagalan dalam dua aspek ini menjadi kegagalan dirinya secara menyeluruh. Ia merasa tidak mampu berbuat apa-apa dan meyakini dirinya tidak memiliki kompetensi untuk bekerja dengan baik. Ia bahkan tidak yakin apa yang sebenarnya hendak ia lakukan. Yang ia yakini secara pasti adalah bahwa ada yang salah dengan diri dan hidupnya.

 

Wesley punya alasan yang memaksa kita untuk memaklumi penilaian dirinya yang negatif. Setiap hari selalu ada hasil pekerjaannya yang dicela bosnya. Ia pun tidak luput dari caci maki bosnya. Sementara itu, kekasihnya berselingkuh dengan rekan kantor yang juga sahabatnya sendiri. Dan sama seperti bosnya, kekasihnya gemar memarahinya dan tidak menaruh respek terhadap Welsey. Wesley begitu rendah diri sampai-sampai menegur sahabat dan kekasihnya mengenai perbuatan mereka pun tidak dapat ia lakukan.

 

Lain lagi dengan seorang pemuda yang belum lama ini merasa sangat tertekan sehingga dibawa kekasihnya untuk menemui psikolog. Sebut saja namanya Anton. Baru saja lulus kuliah, ia sudah dipanggil untuk bekerja di sebuah perusahaan multinasional tanpa melalui proses lamar-melamar. Dua tahun kemudian, ia sudah dipromosikan sebagai manajer di perusahaan itu. Banyak rekan yang lain cemburu dengan keberhasilannya. Namun Anton sendiri seringkali mengeluhkan banyak hal.

 

Anton menganggap dirinya belum mencapai target pribadi yang ditetapkannya. Ia merasa karirnya tidak secemerlang rekan yang lain. Ia juga mengeluhkan penghasilannya yang menurutnya seharusnya bisa lebih besar lagi dari yang sekarang. Ia pun memutuskan untuk menunda pernikahannya karena khawatir jikalau kekasihnya akan memilih pria lain yang lebih sukses saat sudah menjadi istrinya kelak. Sementara kekasihnya bingung dengan sikap Anton yang selalu merasa ada yang kurang dengan dirinya sendiri.

 

Kondisi Anton menggambarkan tipe self-esteem rendah yang kedua. Jika kita mendengar keluhan Anton, sama seperti kekasihnya, kita akan bingung menanggapinya. Kita tidak akan habis mengerti mengapa bisa orang yang tergolong sukses seperti Anton masih merasa ada yang salah dengan dirinya.

 

Mengapa Menilai Rendah Diri Sendiri?

 

Martin Seligman, salah satu pelopor psikologi positif yang juga mengajar di University of Pennsylvania, adalah yang pertama kali mengemukakan istilah ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness). Dari penelitian yang dilakukan, ia menyimpulkan bahwa manusia dapat hilang kepercayaan atas kemampuan dirinya jika berulang kali terpapar pada kegagalan. Terus menerus menjumpai kegagalan, lama kelamaan orang itu akan belajar untuk meyakini bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan menghasilkan sesuatu. Dengan perkataan lain, kegagalan berulang sangat berpotensi untuk membuat seseorang menilai diri secara negatif.

 

Wesley adalah gambaran yang tepat dari orang yang menilai diri rendah akibat sering mengalami kegagalan. Seperti yang tadi dikatakan, penilaian diri negatif yang dilakukan Wesley atau orang-orang seperti Wesley masih memiliki penyebab yang secara umum dapat dimaknai sebagai hal yang tidak menyenangkan. Penghargaan rendah yang diberikannya terhadap dirinya seolah masih dapat dimaklumi karena memang ada peristiwa negatif (kegagalan) yang ia alami.

Namun perlu diperhatikan bahwa dengan atau tanpa alasan, mengalami perasaan diri tidak berharga secara terus menerus jelas menunjukkan kondisi tidak sehat secara psikologis. Karena tidak semua orang yang gagal akan menilai dirinya secara negatif. Ada hal yang membedakan antara orang gagal yang semakin gagal dengan orang gagal yang dapat  bangkit dari kegagalannya.

 

Albert Ellis, pencipta Rational Emotive Therapy, menjelaskan mengenai pembeda itu. Menurutnya, bukan sebuah peristiwa negatif yang akan membuat seseorang mengalami self-esteem rendah. Namun lebih kepada interpretasi orang tersebut pada peristiwa yang dialaminya. Kegagalan adalah hal yang dapat dialami siapapun, namun penilaian diri yang negatif hanya akan terjadi pada orang yang memaknai kegagalan itu secara negatif.

 

Pandangan Albert Ellis tidak hanya berlaku untuk kegagalan tetapi juga aspek-aspek diri yang lain. Kecenderungan orang yang memiliki self-esteem rendah adalah melihat kepada kekurangan-kekurangannya sebagai upaya pembenaran. Harus diakui hal itu akan sangat mudah dilakukan karena manusia memang tidak sempurna. Lihatlah satu persatu bagian wajah atau tubuh kita, tentunya tidak sulit untuk melihat bagian mana yang kurang. Atau cobalah tengok identitas sosial kita yang juga bisa membentuk self-esteem kita. Kelompok minoritas mungkin lebih rentan untuk menilai diri secara negatif. Namun kembali lagi toh tidak semua anggota kelompok minoritas melakukannya. Karena penghargaan terhadap diri kita sendiri tidak bergantung pada aspek diri semata, melainkan pada pemaknaan kita terhadap aspek diri tersebut.

 

Kita lihat saja kasus Anton di atas. Secara umum, pihak luar tidak akan menemukan kekurangan yang cukup berarti dalam dirinya. Ia terbilang sukses untuk orang seusianya yang belum genap 28 tahun. Namun ia memaknai dirinya sendiri secara negatif. Ia terpaku pada aspek dirinya yang kurang dan mengabaikan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Dalam pandangan Aaron T. Beck, penggagas terapi kognitif, Anton telah melakukan distorsi pikiran berupa penggeneralisasian berlebihan (overgeneralization). Jadi dari satu aspek negatif dalam dirinya, ia memaknai dirinya negatif secara keseluruhan.

 

Apa yang Harus Dilakukan?

 

Masalah self-esteem selalu dapat dilihat dari dua sudut pandang. Perspektif pertama dikenal dengan istilah bottom up. Maksudnya jika kita memiliki aspek-aspek diri yang positif, maka otomatis harga diri kita secara keseluruhan akan meningkat. Berdasarkan pandangan ini, jika kita ingin memandang diri lebih baik, maka kita harus berusaha untuk tampil lebih menarik, lebih cakap dalam bidang tertentu, lebih atletis, dan lebih dalam hal lain yang kita inginkan. Dengan meningkatnya aspek-aspek diri, menurut Jennifer Crocker dan Connie Wolfe yang menggagas pandangan ini, otomatis kita dapat lebih mudah dalam menghargai diri sendiri.

 

Pandangan ini sangat tepat jika diterapkan pada kasus Wesley. Lihatlah Wesley yang harga dirinya seketika meningkat begitu ia berhasil menguasai ilmu tembak-menembak. Tentu kita tidak perlu pandai berbaku tembak untuk dapat menghargai diri kita. Namun kita dapat belajar dari film Wanted ini bahwa untuk dapat menumbuhkan penghargaan diri positif pada seseorang yang rendah diri akibat sering terpapar pada kegagalan adalah dengan memberi kesempatan untuk ia dapat melakukan sesuatu dengan berhasil. Dalam hal ini benar perkataan Thomas Carlyle, penulis esai dan satir terkenal dari Skotlandia,”Nothing builds self-esteem and self-confidence like accomplishment.”

 

Untuk dapat berhasil mengerjakan sesuatu, kita dapat menemukan terlebih dahulu bakat atau kelebihan kita. Satu hal yang perlu diyakini adalah setiap manusia memiliki talenta masing-masing. Ketika seolah-olah kita tidak memilikinya, semata-mata itu hanya persoalan kita belum menemukannya. Karena aspek diri pada tiap orang tidak hanya satu. Di dalam diri kita masih banyak identitas diri yang lain. Gagal dalam satu atau dua hal tidak berarti kita gagal dalam seluruh diri kita. Jika satu aspek buruk, masih ada hal positif lainnya yang bisa kita temukan. Jadi jangan mengkontaminasinya dengan yang negatif.  

 

Selain itu, jika memang sering gagal, cari sumber kegagalannya. Apakah memang tidak berbakat atau sebenarnya belum cukup optimal upaya yang dilakukan. Bicara masalah interpretasi terhadap aspek diri dan kegagalan, kita dapat belajar dari Thomas Alfa Edison. Untuk dapat menemukan lampu pijar yang menyala, ia telah mengalami kegagalan sebanyak 9998 kali. Namun ia tidak pernah putus asa. Bahkan ia memaknai kegagalannya dengan sangat positif. Menurutnya, kegagalan itu telah membuatnya mengetahui ribuan cara agar lampu pijar tidak menyala.

 

Thomas Alfa Edison juga dapat dijadikan contoh pribadi yang memiliki keyakinan bahwa ia mampu (self-efficacy beliefs). Seseorang yang meyakini bahwa ia mampu umumnya benar-benar akan mampu melakukannya. Di sini sama sekali tidak mengandung unsur gaib. Penjelasannya sangat logis dan rasional. Ketika kita yakin bahwa kita bisa, kita tidak akan mudah cemas ataupun panik dalam melakukan sesuatu. Kita dapat lebih tenang, pikiran pun lebih jernih untuk menemukan cara-cara pengerjaan yang efektif dan efisien. Dengan ketenangan ini, kita tetap dapat  berusaha mencari jalan lain saat kita menemui kegagalan. Oleh sebab itu, keyakinan semacam ini akan sangat membantu ketika seseorang menghadapi kegagalan.

 

Perspektif yang kedua, yaitu top down, datang dari Jonathan Brown dan Keith Dutton. Menurut kedua psikolog ini, kita tidak perlu memiliki beragam aspek diri yang berkembang baik untuk dapat menghargai diri kita sendiri. Yang perlu dilakukan hanyalah kita mencintai diri sendiri. Jika kita dapat mencintai diri sendiri, otomatis kita dapat melihat kelebihan-kelebihan yang terpancar dalam diri kita.

 

Brown dan Dutton menganalogikan pandangannya ini dengan pasangan muda yang jatuh cinta pada bayi pertama mereka yang baru lahir. Otomatis semua yang ada pada bayi mereka akan terlihat begitu menarik. Karena mencintai si bayi secara keseluruhan, mereka dapat melihat betapa menggemaskannya mata, bibir, jemari, dan sebagainya. Orangtua baru ini tidak menilai terlebih dahulu kaki dan tangan si bayi untuk kemudian menentukan bobot nilai si bayi. Jadi kita tidak perlu melihat aspek diri yang berkembang baik terlebih dahulu untuk dapat memberikan penghargaan sebesar-besarnya pada diri kita. Cukup dengan mencintai diri, maka kita dapat melihat betapa berharganya diri kita.

 

Pandangan ini awalnya digunakan untuk menumbuhkan harga diri pada orang-orang seperti Anton. Anton adalah gambaran pribadi yang tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Padahal jika Anton mencintai dirinya sendiri, semestinya ia mampu melihat begitu banyak hal positif dalam dirinya.

 

Mengapa orang-orang seperti Anton tidak dapat mencintai dirinya sendiri? Albert Ellis pernah mengungkapkan bahwa kita terjebak dengan keharusan-keharusan (must-urbation) yang kita buat sendiri. Kita harus berhasil meraih nilai A untuk setiap mata kuliah, kita harus sudah naik pangkat dalam waktu sesingkat-singkatnya, kita harus berhasil menyenangkan orangtua, dan keharusan-keharusan lain yang kita ciptakan sendiri. Akhirnya kita memberikan conditional positive regard pada diri kita sendiri, kita mencintai diri sendiri dengan syarat. Mau seperti apapun pencapaian personal yang telah kita raih, kita akan merasa belum mencapai apa-apa jika syarat itu belum terpenuhi. Sementara syarat yang kita buat tidak mungkin terpenuhi karena satu keharusan yang telah selesai dicapai, akan berganti dengan keharusan lain.  

 

Anton juga memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang yang lebih darinya. Perbandingan semacam ini memang perlu untuk meningkatkan target diri agar dapat mencapai prestasi lebih baik lagi. Namun kita juga harus peka terhadap dampak perbandingan ini . Jika sudah membawa konsekuensi negatif terhadap diri kita, itu adalah pertanda kita harus melakukan yang sebaliknya. Dengan kata lain, sudah waktunya bagi kita untuk membandingkan diri dengan orang lain yang kemampuan atau aspek dirinya di bawah kita. Daripada memikirkan apa yang tidak kita miliki, lebih baik memikirkan apa yang tidak dimiliki orang lain namun justru ada pada kita. Tindakan ini akan sangat efektif untuk menumbuhkan rasa diri berharga.

 

Kita juga akan sulit mencintai diri bila memiliki self-destructive beliefs, yaitu keyakinan-keyakinan negatif yang merusak harga diri kita. Orang yang melekatkan karakter negatif pada diri sendiri akan membuatnya menjadi negatif seperti yang dipikirkan. Prinsip ini bukan mengikuti kaidah mistik. Secara rasional saja, ketika kita menganggap diri negatif, kita akan menarik diri dari lingkungan. Namun pada saat yang sama, kita berharap ada simpati dari lingkungan.

 

Padahal jika kita tampak murung dan menarik diri, orang luar juga akan menganggap kita bermasalah dan ingin menyendiri. Tidak banyak orang yang mau mendekati orang yang tampak murung. Perlu diingat bahwa keceriaan selalu lebih menarik dibanding kesedihan. Alih-alih mendekati, lingkungan justru akan beralih pada orang-orang lain yang lebih menyenangkan. Akhirnya kita akan semakin membenarkan pandangan kita sendiri tanpa menyadari bahwa justru sikap kita yang sudah menjauhkan kita dari lingkungan. 

 

Menurut saya, mencintai diri sendiri perlu dilakukan semua orang, bukan hanya untuk orang-orang seperti Anton. Sebagaimana yang dikatakan Sang Buddha, Sidharta Gautama, “You yourself, as much as anybody in this universe, deserve your love and affection.” Mencintai diri yang dimaksud di sini bukanlah sebuah bentuk narsisme atau kekaguman berlebihan pada diri. Mencintai diri sendiri adalah mampu menonjolkan kekuatan, memancarkan kelebihan, memperbaiki kekurangan, dan menerima aspek diri yang tidak dapat diubah.

Namun bukan berarti pandangan top down ini lebih baik dibandingkan bottom up. Untuk dapat mengembangkan harga diri, kita memang butuh mencintai diri sendiri. Namun tentunya tidak cukup dengan sekedar mencintai. Diperlukan juga usaha untuk benar-benar dapat menampilkan diri yang kita banggakan. Bagaimanapun caranya, yang terpenting adalah kita dapat belajar menumbuhkan penghargaan kepada diri kita sendiri.

 

Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan Eleanor Roosevelt, “Tidak ada yang dapat membuat kita merasa rendah diri tanpa seijin kita.” Nilai kita di mata orang lain akan ditentukan dari seberapa besar penghargaan yang kita berikan pada diri kita sendiri. Jadi mari kita belajar menghargai diri sendiri agar orang lain dapat melihat betapa berharganya diri kita.

 

  Thx a lot buat Mas Mayong utk kesempatan n editannya..

4 Comments leave one →
  1. October 17, 2008 3:09 pm

    Iya..Wati, kalau saya pribadi menjaga hubungan baik dengan keluarga ( ortu dan saudara ) atau istri/suami dan anak-anak itu akan menjadikan self esteem lebih kuat. apalagi kalau kita mampu juga menjaga hal tsb pada lingkungan kita, tp setidaknya dilingkup kecil spt keluarga akan memperkuat rasa percaya diri kita. Sebagai suami akan merasa mempunyai harga diri ketika kesadaran bahwa ada istri dan anak yg harus di nafkahi, hal ini akan membawa sang suami merasa dibutuhkan. begitu juga dengan Istri yang setiap saat kehadirannya dibutuhkan oleh anak-anaknya. Apalagi kalau pinter masak ( wah senangnya deh )…Tulisannya Wati makin berbobot aja nih, kayaknya susah deh mau ngeraih Wati ya…habis..pinter banget gitu loh.

  2. esterlianawati permalink*
    October 20, 2008 6:22 am

    Mas Abieeeee, kmn aja nih..
    Tengkyu ya masukannya..
    Mana yg lbh pinter, yg nulis atau yg kasi koment? Hihihi.

  3. Michael permalink
    November 1, 2009 6:11 am

    wah thanks ya ifonya. . .

    • esterlianawati permalink*
      November 1, 2009 3:21 pm

      sama-sama..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: