Skip to content

Tips untuk Korban KDRT dalam Menjawab Pertanyaan Aparat Penegak Hukum

August 19, 2008

Menjalani proses hukum tentu bukan sebuah pengalaman yang menyenangkan, khususnya bagi korban KDRT. Dengan sistem hukum objektif yang berlaku di negara kita, seorang korban juga akan turut ‘diadili’. Dalam rangka pembuktian, kesaksian korban pun dipertanyakan kebenarannya. Jawaban yang kontradiktif, jawaban yang menggantung, dengan sikap takut-takut, sering membuat aparat penegak hukum meragukan kesaksian korban. Aparat kurang memahami bahwa KDRT merupakan peristiwa yang kompleks. Sangat wajar jika korban sulit mengungkapkan kompleksitas pengalamannya dalam dua kategori jawaban saja : ya dan tidak, seperti yang umumnya diinginkan aparat. Apalagi KDRT sarat dengan isu power antara korban dengan pelaku. Menghadapkan korban dengan pelaku sudah sangat berpotensi menimbulkan kecemasan pada diri korban. Oleh sebab itu, sebenarnya sangat dimaklumi jika korban pun menampilkan sikap takut dan ragu.

Sayangnya, hal-hal semacam ini masih sulit dipahami aparat penegak hukum. Apalagi aparat masih mengusung tinggi nilai objektivitas yang mengandung netralitas dan rasionalitas. Mengubah sudut pandang yang sudah terinternalisasi itu pastinya akan membutuhkan waktu yang panjang (namun tetap harus diubah tentunya). Lantas apa yang dapat dilakukan korban? Mau tidak mau korban harus mampu menyiasati kekakuan hukum kita. Dalam hal ini adalah tugas pendamping untuk menguatkan dan memberdayakan korban selama menjalani proses hukum.

Tips-tips berikut ini mungkin dapat bermanfaat bagi korban dalam menjawab pertanyaan aparat penegak hukum saat dalam tahap penyidikan ataupun persidangan:

a) Memberikan jawaban yang sama dalam setiap pemeriksaan (konsisten)
b) Menjawab hanya yang ditanyakan polisi/jaksa/hakim/pengacara pelaku
c) Tidak memberi penjelasan panjang jika tidak diminta
d) Suara tegas, tidak menggunakan gumaman yang terkesan ragu/tidak pasti
e) Tidak memberikan jawaban menggantung
f) Menjawab hanya yang benar-benar diyakini terjadi. Lebih baik tidak menceritakan peristiwa jika tidak yakin atau belum dapat mengingat dengan baik peristiwa tersebut.
g) Tidak menampilkan ledakan emosi seperti rasa marah atau benci terhadap pelaku meskipun sangat ingin melakukannya
h) Tidak membantah perkataan pelaku atau saksi lain jika belum dipersilakan petugas/aparat
i) Jangan merasa gentar ataupun merasa tidak dipercaya jika keterangan atau kesaksianmu dipertanyakan/diragukan. Tujuan proses hukum adalah membuktikan kebenaran jadi memang jawaban korban sekalipun tetap akan dipertanyakan. Tetap tenang dan percaya diri.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: