Skip to content

Menyambut Menopause Tanpa Rasa Cemas

August 18, 2008

Perempuan terlahir dengan keunikan biologis yang membawa konsekuensi jangka panjang sepanjang hidupnya. Keunikan ini akan mengantarkan perempuan pada beragam peristiwa yang tidak mungkin dialami laki-laki. Peristiwa-peristiwa khas perempuan ini terkait dengan sistem reproduksi yang memang hanya dimiliki perempuan. Dimulai dari menarki atau menstruasi pertama yang menandakan mulainya kematangan perempuan secara biologis. Menstruasi akan memungkinkan perempuan untuk mengalami peristiwa selanjutnya, yaitu melahirkan dan menyusui. Sampai tiba waktunya kemudian, perempuan akan mengalami akhir dari kematangan reproduksinya, yaitu menopause.

Secara umum, menarki, melahirkan, dan menyusui merupakan tiga peristiwa besar yang memberikan kebahagiaan tersendiri bagi perempuan. Namun tidak demikian halnya dengan menopause. Jika tiga peristiwa sebelumnya menambah sesuatu kepada perempuan, menopause mengambil sesuatu dari tubuh perempuan. Hal ini mulai dirasakan perempuan kurang lebih sekitar 10 tahun sebelum tiba menopause. Fase ini dikenal dengan sebutan perimenopause Pada tahap ini, menstruasi mulai tidak teratur dan produksi sel telur mulai menurun karena hormon estrogen pun berkurang. Proses ini akan dilalui perempuan sampai menopause tiba yang ditandai oleh menstruasi yang akan terhenti secara total.

Selain menstruasi yang terhenti, menopause membawa dampak lain secara fisik. Berkurangnya lubrikasi atau dikenal dengan vaginal dryness, dan rasa gatal serta terbakar pada vagina, adalah gejala yang paling sering muncul ketika menopause tiba. Selain itu ada pula gejala yang dikenal dengan sebutan hot flash atau sensasi panas yang memasuki tubuh. Hot flash disebabkan berkurangnya hormon estrogen sehingga mempengaruhi pusat pengendali temperatur tubuh yang terdapat pada otak. Gejala-gejala fisik ini seringkali dikatakan mempengaruhi kehidupan seksual perempuan. Gairah seksual, frekuensi, dan intensitas orgasme yang berkurang, disebutkan sebagai dampak dari menopause.

Dampak fisik menopause akhirnya berdampak pada kondisi psikis perempuan. Menopause seringkali dikaitkan dengan kecemasan dan sejumlah penelitian psikologis menegaskan hal ini. Dari banyaknya penelitian, kecemasan saat menopause ternyata jauh lebih besar pada perempuan menikah dibanding lajang. Hal yang dicemaskan perempuan menikah yang menopause ini adalah mengenai pasangannya. Mereka khawatir suami akan mencari perempuan idaman lain karena mereka merasa tidak menarik lagi dan tidak mampu memuaskan kebutuhan seksual pasangan.

Perlu diperhatikan di sini bahwa kecemasan perempuan muncul bukan karena perubahan fisiknya, namun karena mengkaitkan perubahan fisik ini dengan pandangan pasangannya. Hal lain yang perlu dicatat adalah kecemasan perempuan bukan hanya terkait dengan dampak fisik dari menopause itu sendiri, namun juga lebih mengacu kepada dampak penuaan secara umum. Memang usia perempuan ketika mengalami menopause, yakni sekitar 45 sampai dengan 55 tahun, merupakan masa-masa dimana dampak penuaan sudah muncul secara lebih kentara. Menopause seolah menjadi alarm yang paling efektif untuk mengingatkan perempuan akan ke-tua-annya.

Dalam budaya kita yang mengagungkan kemudaan dan penampilan fisik yang menarik, menopause berpotensi membangkitkan kecemasan. Ditambah lagi, dalam masyarakat kita telah dipetakan kewajiban istri sedemikian rupa untuk dapat memuaskan suami. Namun demikian, bukan berarti kecemasan yang dialami perempuan menopause merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar lagi. Sejumlah hasil penelitian di bidang psikologi positif (positive psychology) mengungkapkan bahwa tidak semua perempuan cemas saat menopause atau setidaknya cukup banyak perempuan yang dapat mengatasi rasa cemasnya.

Dukungan suami ditemukan sebagai faktor eksternal paling ampuh dalam membantu perempuan untuk melalui masa menopause tanpa kecemasan berlebih. Suami yang tidak menuntut perempuan untuk tampil dengan kesempurnaan fisik dan meyakinkan pasangannya mengenai hal ini baik dalam perkataan maupun tindakan, akan sangat membantu perempuan untuk meyakini bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan ketika menopause tiba. Hal ini menunjukkan bahwa tuntutan lingkungan lah dan bukan menopause itu sendiri yang menyebabkan perempuan cemas.

Selain itu, pemahaman suami terhadap perubahan seksual yang muncul pada istrinya juga akan membantu perempuan menopause untuk tidak cemas. Perlu diketahui bahwa sesungguhnya gairah seksual perempuan tidak menurun ketika menopause karena memang bukan hormon estrogen yang berperan dalam hal ini, melainkan androgen. Jadi berkurangnya estrogen saat perempuan menopause tidak serta merta menjadikan perempuan kehilangan hasrat seksual.

Berkurangnya hasrat seksual pada perempuan menopause lebih terkait dengan kurangnya lubrikasi sementara kebanyakan suami umumnya tidak melakukan foreplay yang memadai. Akibatnya perempuan menopause rentan dengan rasa nyeri saat berhubungan seksual sehingga semakin lama akan semakin enggan melakukannya. Oleh sebab itu, dibutuhkan suami yang paham dan peduli terhadap kondisi istrinya agar sama-sama tetap dapat menikmati kehidupan seksual yang menyenangkan.

Di samping itu, pemaknaan seksualitas secara berbeda juga dapat mengurangi kecemasan perempuan menopause terkait dengan hal ini. Pasangan yang tidak sempit dalam memandang penetrasi sebagai satu-satunya cara untuk memberikan kepuasan seksual, justru akan mendapati bahwa menopause bukanlah akhir seksualitas perempuan. Menopause yang menandakan berhentinya kapasitas reproduktif mereka justru menjadi lambang kebebasan karena kini dapat melakukan aktivitas seksual secara lebih leluasa dengan pasangan.

Selain dukungan suami, saya melihat faktor lain yang penting untuk dimiliki perempuan menopause. Dukungan suami memang penting dalam membantu perempuan menjalani masa menopause, namun faktor internal dari dalam diri perempuan itu sendiri mutlak harus dimiliki. Karena seperti apapun suami memahami dan mendukung, akan sia-sia saja jika perempuan terus berkutat dengan pemikiran-pemikiran negatif mengenai perubahan fisik dan seksual yang mereka alami. Yang ada nantinya dukungan suami hanya meredakan kecemasan sementara. Bukan tidak mungkin jika suami pun akan bingung dan kesal karena kehabisan cara untuk menenangkan istri yang sedang cemas.

Dari sejumlah perempuan menopause yang tidak mengalami kecemasan, kita dapat belajar bahwa umumnya mereka memiliki sikap positif terhadap proses penuaan yang mereka alami, termasuk menopause. Mereka dapat menerima bahwa kemudaan itu tidak kekal. Mereka juga menyadari bahwa menopause adalah bagian kehidupan yang harus mereka jalani. Mereka juga mampu melihat aspek-aspek positif dari setiap tahap perkembangan. Bagi mereka, menjadi tua sama menyenangkannya dengan ketika mereka masih belia.

Perempuan yang tidak cemas saat memasuki usia menopause pada umumnya juga bukan pribadi yang terobsesi pada penampilan fisik. Mereka tidak tertarik dengan operasi sedot lemak, atau Botox penghilang keriput. Namun mereka lebih berorientasi pada kesehatan fisik. Menopause justru menjadi pemicu bagi mereka untuk lebih giat melakukan olahraga. Oleh sebab itu, bukan kecemasan yang menyertai mereka saat menopause, melainkan kebugaran.

Selain itu, mereka tidak berfokus pada ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh perubahan fisik dan seksual yang mereka alami. Jika terpaku pada ketidaknyamanan, justru ketidaknyamanan itu akan semakin terasa. Oleh sebab itu, mereka justru mencoba untuk menemukan aktivitas-aktivitas baru yang sesuai dengan minat mereka. Dengan aktivitas-aktivitas inilah mereka terbantu untuk tidak memusatkan perhatian pada ketidaknyamanan itu. Mereka bahkan menjadi produktif, memperluas lingkup pergaulan, dan juga menambah wawasan pengetahuan.

Dari pengalaman mereka, kita dapat belajar bahwa menopause memang sebuah proses alamiah yang tidak dapat dihindari, namun kedatangannya tidak satu paket dengan kecemasan. Cemas atau tidak, akan bergantung pada cara kita memaknai menopause. Dengan sikap yang positif, perempuan dapat menyambut menopause tanpa rasa cemas.

4 Comments leave one →
  1. March 8, 2010 11:42 pm

    Trim’s info yang menarik serta sangat berguna….🙂

    • Ester Lianawati permalink*
      March 14, 2010 2:54 pm

      sama-sama🙂

  2. Ida permalink
    July 26, 2010 6:09 am

    Terimakasih atas artikelnya.

    • Ester Lianawati permalink*
      July 26, 2010 11:15 pm

      Sama-sama, mbak Ida🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: