Skip to content

Are You Playing Games?

July 15, 2008

Adakah yang pernah mengalami salah satu hal berikut ini saat bertengkar: Kita ingin mengatakan pada pasangan bahwa kita telah memaafkannya namun yang keluar malah kata-kata menyakitkan. Kita ingin pasangan memahami apa yang membuat kita kesal. Namun kita malah semakin kesal karena pasangan tidak berespons seperti yang kita inginkan. Kita ingin pasangan meminta maaf terlebih dahulu. Namun yang muncul malah rasa sakit hati karena ternyata pasangan bisa bertahan untuk tidak memulai berbaikan. Atau ketika sama-sama sedang marah, yang terucap adalah daftar kekesalan yang bertumpuk sehingga mengejutkan pasangan yang tidak menduga bahwa selama ini pasangannya menyimpan kekecewaan demikian besar.

Jika kita mengalami satu saja dari hal di atas, itu berarti kita sudah memainkan sebuah permainan (game) dalam hubungan kita dengan pasangan. Istilah permainan ini dikemukakan pertama kali oleh Eric Berne, pakar transactional analysis yang terkenal dengan bukunya berjudul Games People Play. Transactional analysis cukup dikenal dalam bidang komunikasi dan pemasaran. Namun Berne sendiri memakai konsep ini sebagai sebuah psikoterapi khususnya dalam masalah keluarga atau yang terkait dengan relasi. Dinamakan transactional analysis karena terapis yang menggunakan metode ini akan membantu kliennya untuk menganalisis interaksinya dengan orang lain. Interaksi-interaksi yang tidak tepat akan membawa kedua pihak pada hubungan yang tidak sehat.

Untuk dapat menganalisis interaksi, kita harus memahami lebih dahulu bahwa tiap individu memiliki tiga kondisi ego (ego states) yang menggambarkan keberfungsian dari keadaan dirinya. Kondisi ego ini  adalah anak (child), orangtua (parent), dan dewasa (adult). Kita dikatakan sedang dalam kondisi ego anak jika menampilkan karakteristik anak-anak seperti spontan, impulsif, berpusat pada diri sendiri, mencari kesenangan, senang bermain-main, berorientasi pada perasaan, cemas, mencari persetujuan orang lain, patuh, kooperatif, ataupun membantah. Contoh yang paling sederhana adalah,”Yuk kita bermain.”

Ego kita dalam kondisi orangtua jika kita menampilkan karakteristik yang khas orangtua baik sebagai orangtua yang mengasuh (nurturing) ataupun mengontrol (controlling). Sifat mengasuh muncul dalam memuji, menenangkan, dan membantu. Contohnya, ” Ya sudah yang sabar ya.” Sifat mengontrol dapat berupa tidak menyetujui suatu perilaku, menemukan kesalahan orang lain, ataupun berprasangka. Contohnya, “Kamu kalau jalan pakai mata dong.” Sedangkan kondisi ego yang dewasa tampil dalam bentuk pernyataan atau sikap yang rasional, objektif, dan penuh pertimbangan. Contohnya, “Kamu sudah memikirkan resiko berbisnis dengan dia?” Perlu diperhatikan kondisi ego dewasa di sini tidak selalu mengacu kepada sikap yang dewasa. Dapat pula sekedar menyatakan data faktual, misalnya, “Hari sudah larut malam.” Atau, “Sekarang sudah pukul 12.”

Kondisi ego ini tidak ada kaitannya dengan usia seseorang. Seorang anak kecil dapat saja menampilkan kondisi ego orangtua ketika menghibur temannya agar tidak menangis lagi. Seorang kakek dapat menampilkan kondisi ego anak ketika menginginkan es krim cokelat sementara ia terkena diabetes. Seorang remaja dapat menampilkan kondisi ego dewasa ketika membatalkan kencannya karena harus belajar untuk ujian akhir. Seorang anak balita juga dapat menampilkan kondisi ego dewasa dengan mengatakan bahwa hujan sedang turun.

Selain itu tidak ada yang buruk ataupun baik dari masing-masing kondisi ego. Yang terpenting adalah ketiga kondisi ego ini tampil seimbang dalam diri kita dan kita fleksibel dalam menggunakannya sesuai dengan keperluan.

Sebagai contoh, ada pasangan suami istri bernama Anton dan Deisy. Suatu hari Deisy mengajak Anton menonton film Kungfu Panda. Ajakan Deisy ini menunjukkan kondisi ego anak yang ingin bersenang-senang dengan menonton film. Yang Deisy inginkan tentunya jawaban yang mendukung keinginannya untuk menonton (bersenang-senang). Dengan perkataan lain, Deisy menginginkan Anton menjawab dengan kondisi ego anak juga. Jika Anton menjawab, “Wah boleh juga idemu,” Deisy tentu akan senang karena respons Anton sesuai dengan yang diharapkan. Atau bila Anton menjawab dengan ego dewasa, “Memang apa yang menarik dari film itu?”, responsnya pun masih belum bertentangan dengan tuntutan Deisy. Interaksi yang seperti ini antara Anton dan Deisy dinamakan dengan complementary transactions karena saling melengkapi. Transaksi seperti ini adalah transaksi yang positif dalam sebuah relasi.

Namun jika Anton menjawab,” Kamu ini sudah tua kok senangnya nonton film anak kecil,” Kritik Anton jelas menampilkan kondisi ego orangtua. Dengan respons seperti ini dapat dibayangkan perasaan Deisy yang kesal karena tidak direspons dengan tepat. Respons Anton ini membuat interaksi di antara mereka menjadi crossed transactions. Crossed karena respons yang diberikan tidak sesuai dengan tuntutan lawan bicara kita. Sampai di sini Deisy dapat mengembalikan situasi menjadi complementary transactions jika ia mencoba untuk lebih objektif dengan menampilkan kondisi ego dewasa seperti, “Tapi film itu sarat dengan nilai-nilai positif lho.”

Sayangnya yang sering terjadi adalah respons yang tidak sesuai dengan keinginan kita akan kita tanggapi dengan respons yang juga tidak tepat. Deisy misalnya akan merajuk yang berarti Deisy kembali menampilkan kondisi ego anak. Bukan tidak mungkin akan terjadi pertengkaran karena masalah sepele terkait dengan film Kungfu Panda ini. Anton akan mengomentari sikap kekanakan Deisy sementara Deisy akan mengatakan Anton tidak pernah mempedulikan keinginannya. Kondisi seperti inilah yang disebut Berne dengan melakukan permainan. Secara khusus permainan antara Deisy dan Anton ini disebut dengan kegemparan (uproar) karena berakhir dengan pertengkaran. Permainan ini dapat diartikan sebagai interaksi yang akhirnya membawa kita pada perasaan yang negatif.

Selain crossed transactions, ada lagi yang dinamakan dengan ulterior transactions. Misalnya Anita mengatakan kepada Iwan, suaminya, “Aku benci sama kamu. Kamu jahat.” Iwan yang mendengarnya akan menanggapi dengan, “Ya aku memang jahat. Aku pantas untuk dibenci.” Padahal Anita tidak sungguh-sungguh membenci Iwan. Yang ia inginkan dari perkataannya itu adalah Iwan merespons dengan meminta maaf dan mengatakan bahwa ia mencintai Anita. jadi dalam ulterior transactions, pesan yang terucap tidak sama dengan pesan yang ingin disampaikan. Ada makna lain yang terselip di dalamnya. Atau sering disebut sebagai pesan tersembunyi (hidden message). Pesan seperti ini tentu sulit dipahami bahkan oleh pasangan yang telah menikah puluhan tahun sekalipun. Akhirnya ulterior transactions pun dapat membawa pasangan ke dalam permainan berjenis uproar.

Sayangnya dalam berelasi, kita sering melakukan permainan-permainan ini. Kita senang dengan permainan karena kita senantiasa berharap dapat memenangkan permainan. Padahal dalam sebuah hubungan, siapapun yang memenangkan permainan itu tidak akan membuat hubungan itu menjadi lebih baik. Sebaliknya yang terjadi adalah membuat hubungan menjadi lebih buruk. Berne bahkan dengan tegas mengatakan bahwa siapapun yang memainkan permainan adalah pecundang. Karena dengan bermain, mereka menghindari interaksi yang sehat dan bermakna.

Dengan demikian permainan hendaknya tidak dimulai. Jika sudah telanjur dimulai, permainan ini harus dihentikan. Bukan berarti kita harus menanggapi semua keinginan pasangan agar respons selalu sesuai tuntutan pasangan. Kadang memang ada baiknya keinginan itu ditanggapi secara rasional dengan menampilkan kondisi ego yang dewasa. Dengan perkataan lain, yang terpenting adalah menciptakan complementary transactions yang positif.

Hal lain yang lebih penting adalah menghindari percakapan yang mengandung pesan-pesan tersembunyi (ulterior transactions). Percakapan seperti ini membuka celah untuk terjadinya kesalahpahaman. Kita harus ingat bahwa relasi tentu bukan persoalan tebak menebak. Jadi katakan saja kebutuhan kita apa adanya dengan perkataan yang mudah dipahami. Jika telanjur sudah terjadi, maka ulterior transactions ini harus dihentikan. Caranya dengan mencoba memahami pasangan untuk dapat mengambil makna tersembunyi. Atau langsung menanyakan kepadanya apa sebenarnya yang ingin disampaikan pasangan atau tindakan apa yang ia harapkan dapat kita lakukan untuknya. Cara ini lebih mudah dan dapat menyadarkannya bahwa kita sangat ingin menyenangkannya namun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dengan demikian, kita akan terhindar dari permainan yang hanya dapat membawa kita pada pertengkaran yang lebih hebat.

So, are you playing games? Please, stop it right now.

5 Comments leave one →
  1. July 23, 2008 3:52 am

    Bukankah hidup ini bagian dari sebuah “game”?, tentu saja ada konsekuensi logis dari setiap game yg kita lakukan. Menurut saya tidak selamanya game membutuhkan “pemenang”, ada kalanya game ini hanya sekedar menciptakan sebuah “kesenangan” tentu saja tanpa harus “menyakiti” pihak lain.
    Wah…Wati ini hebat banget kalau ngulas sesuatu…jadi semakin penasaran nih mas sama Wati.

  2. esterlianawati permalink*
    July 29, 2008 4:50 am

    Hehe, thanks utk masukannya, Mas Abie. Emang ada game yg gak butuh pemenang, tp umumnya org lbh senang utk menang😀.

  3. pho3nix permalink
    July 31, 2008 4:22 pm

    im spending my time – Roxette

    “my frens keep telling me ‘hey life will go on’
    time will make sure..i’ll be over u..
    this silly game of love…u play u win only to lose….😉 ”

    kayanya maksud artikel lu udah agak terwakili deh oleh lagu itu
    heuahuahua….

    saat terlibat dalam arguement..we tend to think it as a battle a.k.a game that we -our EGO- HAVE to win..instead of NEED to find solution…
    yg terakhir itu baru kpikiran kalo udah 2-3hr lewat….hheuahuah

    kpn mam sushi beb???

  4. esterlianawati permalink*
    September 18, 2008 7:38 am

    Sulceeeeee, EGO yg elo mksd kan beda ama EGO nya Eric Berne.. Hiks.
    Sushi sushi, jd pengen lagi. Yuuuk..;)

  5. January 15, 2010 2:43 pm

    nice blog, coba bahas hal2 yang lebih unik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: