Skip to content

Kekerasan Terhadap Perempuan Di Seluruh Dunia

June 25, 2008

Sikap dunia yang mengutuk kekerasan terhadap perempuan sebenarnya telah dimulai sejak negara-negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menandatangani Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/CEDAW) pada tahun 1972. Upaya ini dilanjutkan dengan diserukannya Rekomendasi Umum No 19 Tahun 1992 yang juga mengandung butir-butir rekomendasi khusus untuk dilakukan negara-negara yang turut meratifikasi CEDAW.

Selanjutnya Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia (HAM) di Wina tahun 1993, telah menciptakan suatu terobosan bagi perjuangan kekerasan terhadap perempuan. Dalam Program Aksinya, Deklarasi Konferensi Wina 1993 menyebutkan bahwa kekerasan berbasis gender, apapun jenisnya, merupakan pelanggaran terhadap harkat dan martabat kemanusiaan, dan oleh karenanya harus dihapuskan.

Sejak itulah kekerasan terhadap perempuan ditetapkan sebagai suatu isu global. Kekerasan berbasis gender pun mulai didefinisikan dan disepakati secara internasional, tepatnya pada Desember 1993, saat Sidang Umum PBB mengadopsi Deklarasi Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan (Declaration on The Elimination of Violence Against Women). Definisi tersebut dicantumkan dalam Pasal 1 Deklarasi Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan, yakni:

“Setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, dan psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum, atau dalam kehidupan pribadi.”

 Tahun 1993 itu sering dianggap suatu awal bagi perjuangan perempuan secara internasional untuk membebaskan diri dari tindak kekerasan. Suatu awal yang patut dihargai meski sebenarnya sangat terlambat mengingat kekerasan terhadap perempuan telah terjadi berabad-abad lamanya di dunia kita yang patriarkis ini. Baik itu kekerasan secara fisik, seksual, maupun psikologis. Baik terjadi dalam keluarga, masyarakat, maupun negara.

Sejak sebelum Masehi, Kitab Perjanjian Lama telah mencatat peristiwa pemerkosaan Tamar, anak Raja Daud, oleh Amnon, kakak tirinya. Pada zaman Nabi Muhammad, kekerasan seksual juga telah dilakukan terhadap perempuan hingga turunlah ayat pengenaan jilbab untuk melindungi para istri Nabi saat itu. Penolakan Perdana Menteri Jepang Shinzho Abe mengenai jugun ianfu sebagai eksploitasi seksual juga kembali menguak kisah lama tentang kekerasan terhadap perempuan Asia saat Perang Dunia II. Ketika itu para perempuan Asia dipaksa untuk menjadi budak seks yang harus melayani kebutuhan seksual para tentara Jepang.

Hingga kini kekerasan terhadap perempuan belum juga terhenti. Dalam film yang diperankan Jennifer Lopez tahun lalu, berjudul Bordertown yang diangkat dari kisah nyata, kita dapat menemukan kekerasan terhadap perempuan pekerja di sebuah perusahaan multinasional di Meksiko. Setiap harinya perempuan yang bekerja shift malam dan turun terakhir dari bus akan diperkosa oleh sopir bus yang dibantu pula oleh salah seorang pemilik perusahaan. Kasus ini tidak pernah dapat diangkat ke media karena terkait dengan nama perusahaan besar milik Amerika Serikat. Bahkan hingga film ini mulai ditayangkan di sinema-sinema dunia beberapa pekan ini, kasus ini masih terus diperjuangkan.

Oprah Winfrey’s Show seringkali menampilkan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Tayangan yang sukses dipandu Oprah ini, yang juga pernah menjadi korban kekerasan, menampilkan langsung para korban kekerasan di berbagai belahan dunia. Ada kasus perempuan di Arab yang menjadi korban kekerasan suami. Ada pula pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap ketiga anak perempuannya (kandung) di Australia.  Tidak ketinggalan pula kasus pemerkosaan seorang tokoh agama terhadap jemaatnya di Afrika.

Di Amerika Serikat, Kristi Poerwandari, pendiri Yayasan Pulih, mencatat 25% perempuan dianiaya dalam proses perkawinannya. Ia juga mencatat satu dari sepuluh perempuan di Kanada adalah korban kekerasan terhadap istri. Selain itu, satu dari lima perempuan yang meminta layanan konseling keluarga teridentifikasi sebagai korban kekerasan saat pertama kali mendaftar untuk meminta bantuan. Bahkan perkiraan FBI adalah bahwa sekurang-kurangnya ada satu perempuan dianiaya berat setiap 18 detik di Amerika Serikat.

Dua puluh delapan negara di Afrika, masih mempraktikkan sunat perempuan untuk mereduksi seksualitas perempuan. Praktik ini paling banyak terjadi di Somalia. Sebanyak 2 juta perempuan hampir kehilangan nyawa per tahunnya dari praktik mutilasi yang mengusung nama budaya dan religiusitas ini. Masih di Afrika, khususnya Afrika Selatan, UNFPA menemukan bahwa tingkat perkosaan di wilayah ini merupakan yang tertinggi dibandingkan negara-negara lain di dunia.

Di Ghana, 43% laki-laki memukuli istrinya karena menggunakan metode keluarga berencana tanpa persetujuan mereka. Sedangkan di Mesir, 80% perempuan di daerah pedesaan dipukuli suami bila menolak berhubungan seks. Mesir juga merupakan salah satu negara yang terkenal dengan tindakan honour killing, yaitu pembunuhan perempuan untuk menjaga kehormatan keluarga. Selain Mesir, negara-negara yang melakukan pembunuhan ini adalah Bangladesh, Brazil, Ekuador, India, Israel, Italia, Jordania, Moroko, Pakistan, Swedia, Turki, dan Uganda. Bila ditotalkan, sekitar lima ribu perempuan per tahunnya menjadi korban honour killing di negara-negara tersebut. Mereka yang dibunuh adalah perempuan yang diperkosa atau hamil di luar nikah karena dianggap mempermalukan keluarga. Hal ini terkait dengan masalah virginitas yang sangat dituntut dari perempuan dalam budaya patriarkis.

Sementara itu di RRC dan India, kekerasan terhadap perempuan bahkan terjadi sejak dalam kandungan dan masa bayi. Kekerasan itu terjadi dalam bentuk pembunuhan terhadap janin (foeticide) dan bayi-bayi perempuan (infanticide). Di India, National Commision for Women mencatat kasus pembunuhan istri karena mahar mencapai 536 kasus sepanjang tahun 2000. Sedangkan jumlah kekerasan karena mahar yang belum sampai kepada kematian mencapai 1072 kasus sepanjang tahun 2003. Belum terhitung kasus pelecehan dan pemerkosaan yang mencapai ribuan kasus. Ataupun kasus sati, yaitu pembakaran diri setelah kematian suami, yang ternyata masih saja terjadi. Dan dalam banyak kasus sati, perempuan tidak membakar diri dengan kerelaan melainkan dipaksa oleh masyarakat dan keluarga.

Masih banyak lagi tindak kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Baik yang telah terdata, maupun yang belum terdata karena berbagai alasan. Tidak heran jika para aktivis di seluruh dunia terus berusaha memperjuangkan hak asasi perempuan untuk hidup dengan bebas, termasuk bebas dari kekerasan.

Di negara kita, Indonesia, kaum perempuan pun tidak luput dari kekerasan. Berbagai jenis tindak kekerasan terjadi di seluruh pelosok negeri ini. Kekerasan tersebut tidak mengenal kelas, suku, tingkat pendidikan, ataupun agama. Kekerasan tersebut terjadi dalam berbagai bentuk, seperti pelecehan, pemerkosaan, pornografi, trafiking, penganiayaan, dan sampai pada pembunuhan. Kekerasan tersebut terjadi di mana saja : rumah, tempat kerja, bahkan dalam media. Kekerasan tersebut dapat dilakukan oleh siapapun, baik suami, ayah, kakek, kakak, tetangga,  dosen, guru, orang tak dikenal, jurnalis, pemuka agama, aparat penegak hukum, dan bahkan negara. Berikut ini akan disebutkan beberapa contoh kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan Indonesia.

Honour killing yang banyak terjadi di Asia Barat memang tidak ditemukan di negara kita. Sedangkan sunat perempuan, meskipun tidak sebanyak yang dilakukan di Afrika, namun masih dipraktikkan di beberapa wilayah Indonesia. Penelitian yang dilakukan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada misalnya menunjukkan adanya praktik sunat di masyarakat Yogyakarta dan Madura. Dalam dua kelompok masyarakat ini ditemukan praktik sunat perempuan dilakukan dengan cara memotong atau menggores ujung klitoris dan secara simbolik. Dalam pemotongan klitoris, yang dipentingkan adalah keluarnya sedikit darah sebagai tanda bahwa prosedur itu sah menurut agama. Sedangkan secara simbolik adalah melakukan pemotongan kunyit yang dilekatkan pada alat kelamin perempuan. Meskipun praktik sunat perempuan tergolong rendah di Indonesia, namun tetap saja daerah klitoris merupakan bagian yang sangat sensitif. Oleh karena itu menurut Debu Batara Lubis, tindakan sunat perempuan dengan memotong klitoris tetap harus diperhitungkan sebagai tindak kekerasan terhadap perempuan.

Kekerasan terhadap perempuan juga banyak dilakukan oleh media. Salah satunya adalah media menampilkan perempuan sebagai objek seks. Banyak majalah dan tabloid yang mengumbar tubuh dan seksualitas perempuan, menjadikannya sebagai obyek bagi laki-laki. Iklan-iklan baik dalam televisi maupun media cetak juga merepresentasikan perempuan hanya sebagai obyek. Kadang perempuan juga dilecehkan dalam iklan, terutama dalam hal konstruksi tubuh. Khususnya tubuh perempuan yang gemuk dianggap harus diperangi sedemikian rupa karena dianggap memalukan dan tidak sedap dipandang (laki-laki). Gaya bahasa dan penggunaan kalimat dalam liputan di media juga seringkali melecehkan perempuan. Misalkan saja dalam menuliskan kasus pemerkosaan, digunakan istilah digagahi atau direnggut kehormatannya. Seolah laki-laki itu gagah sehingga berhak memperkosa atau perempuan tidak lagi terhormat setelah diperkosa.

Pemerkosaan itu sendiri memang kasus kekerasan yang cukup banyak terjadi di Indonesia. Kasus pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Tionghoa saat kerusuhan Mei 1998 yang lalu adalah salah satu tragedi kekerasan yang masih dapat diingat dengan mudah. Belum lagi kasus-kasus pemerkosaan lainnya yang terjadi di banyak wilayah namun seringkali tidak terungkap karena banyak faktor. Alasan yang utama adalah karena akan merusak nama baik keluarga, apalagi bila pelakunya masih anggota keluarga sendiri.

Selain pemerkosaan, kekerasan dalam bentuk trafiking anak dan perempuan juga bukan hal baru lagi di negara ini. Ada yang dipekerjakan untuk mengemis di jalanan. Ada pula yang dijadikan sebagai pekerja rumah tangga. Dan jumlah terbanyak adalah dijadikan sebagai pekerja seks komersial (PSK).  Wilayah tertentu seperti Indramayu sudah terkenal sebagai sending area, yaitu daerah pengirim (anak-anak) perempuan untuk dijadikan PSK. Tragisnya, orangtua mereka sendiri yang melakukannya agar dapat membantu pemenuhan kebutuhan keluarga.

Di Papua, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan wilayah-wilayah lain tempat berdirinya perusahaan asing atau pertambangan, maka perempuan daerah setempat akan disediakan untuk menemani para pekerja asing ataupun pekerja Indonesia dari luar daerah. Di Kalimantan, khususnya di daerah Singkawang dan sekitarnya, para perempuan keturunan Tionghoa yang umumnya miskin juga banyak dijual kepada laki-laki Taiwan. Tidak jarang perdagangan ini dilakukan dalam bentuk perkawinan lintas negara dengan laki-laki Taiwan tersebut. Jika mereka menolak, hanya akan menambah tingkat kekerasan yang mereka terima. Jika mereka menerima, maka bentuk kekerasan lain akan mereka terima dari suaminya yang umumnya hanya memperlakukan mereka sebagai pekerja rumah tangga dan budak seks.

Dan tidak jauh-jauh di Jakarta sendiri, kita mengenal kawasan Mangga Besar sebagai tempat prostitusi yang dilindungi aparat. Atau di Prumpung, kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, puluhan anak perempuan telah dilacurkan secara terselubung dengan menjadi penjual teh botol. Anak perempuan ini bukan hanya dieksploitasi oleh para mucikari, namun juga oleh para aparat keamanan setempat. Mereka harus membayar sejumlah uang kepada para aparat keamanan yang sering merazia mereka. Namun ironisnya, petugas yang meminta uang mereka dalam razia tersebut adalah juga petugas yang membayar jasa mereka.

Perempuan yang menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT) juga rentan terhadap kekerasan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman, tidaklah seaman dan senyaman itu bagi PRT. Kenyamanan sudah jelas tidak akan  sebanding dengan berada di rumah sendiri. Sedangkan keamanan kadang jadi hal yang tidak diperoleh karena banyaknya kekerasan yang ditujukan majikan terhadap PRT. Jam kerja yang tidak terbatas dapat menimbulkan kelelahan fisik bagi PRT. Padahal gaji yang diberikan kepada PRT jauh di bawah upah minimum regional (UMR). Dengan gaji minim tersebut, PRT dituntut menampilkan kinerja yang optimal.  Bila hasil kerjanya dinilai tidak memuaskan majikan, maka kekerasan mulai dari bentuk caci maki hingga tindakan yang melukai fisik sangat mungkin akan diterimanya. Belum lagi kekerasan seksual dari majikan laki-laki ataupun anak majikan, juga kerapkali harus dialami PRT. Mulai dari bentuk permintaan pijat/kerokan hingga melayani kebutuhan seksual mereka. Kasus mantan suami Imaniar yang memperkosa pekerja rumah tangganya merupakan salah satu contoh kasus kekerasan yang menimpa PRT di negara kita.

Kekerasan lain yang terjadi pada perempuan Indonesia adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang sering disebut pula sebagai kekerasan domestik. Masyarakat umumnya menganggap tempat yang berbahaya adalah di luar rumah, namun banyak perempuan justru mengalami kekerasan dalam lingkup personal di rumahnya. Pelakunya biasanya masih memiliki ikatan dengan korban, bisa jadi berupa ikatan perkawinan atau hubungan darah. Kasus ayah yang memukul anak dengan maksud mengajarkan disiplin sekalipun dapat tergolong sebagai kekerasan dalam rumah tangga. Apalagi tentunya ayah yang menganiaya atau bahkan memperkosa anaknya sendiri, baik anak kandung ataupun tiri. Demikian pula dengan kakek yang memperkosa cucunya sendiri, atau paman yang memperkosa keponakannya.

Kekerasan suami terhadap istri juga banyak terjadi. Belum lama ini sebuah berita pagi di Trans TV menampilkan suami yang memotong kedua payudara istrinya. Kasus tersebut terjadi di sebuah kompleks pemukiman di pusat kota Jakarta. Koran Kompas tanggal 3 April 2007 juga mencatat kasus penganiayaan istri di Ciledug. Mata korban memar dan membengkak, demikian juga tulang iga dan perutnya. Kadang kekerasan yang dilakukan suami ada yang berujung pada kematian istri. Misalnya kasus yang terjadi pada anak seorang mantan dekan di sebuah universitas di Jawa Tengah. Melalui penuturan si ibu dalam sebuah semi loka diketahui bagaimana anaknya terus mengalami kekerasan dari suami hingga berakhir dengan kematian korban setelah dibakar suami.

Namun bukan hanya di tengah kota saja kekerasan terhadap istri itu terjadi. Di pedalaman Indonesia, pada perempuan suku Asmat misalnya, Dewi Linggasari mendapati bagaimana mereka menerima kekerasan fisik, ekonomi, dan psikologis dari suaminya. Mereka harus memenuhi kebutuhan logistik suami dengan mencari sagu di hutan yang harus ditempuh dengan perahu selama 2 jam. Mereka menokok dan mengolah sagu tersebut sambil mengasuh anak. Pekerjaan domestik lainnya seperti mencuci pakaian dan berkebun juga mereka lakukan tanpa bantuan suami. Termasuk pula mengambil air di sungai untuk keperluan mandi suami. Jika tugas-tugas itu tidak dilaksanakan dengan baik, suami merasa berhak untuk melakukan kekerasan fisik. Belum lagi poligami yang dilakukan suami sungguh menambah penderitaan kaum perempuan Asmat.

Masih banyak lagi bantuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan di Indonesia ataupun negara-negara lain. Jika dituliskan seluruhnya di sini, mungkin tulisan ini akan jadi panjaaaaaaaang sekalee😉

 

 

 

8 Comments leave one →
  1. June 27, 2008 5:24 am

    wawawwwwww
    Yap atas nama tubuh perempuan di belahan dunia manapun kekerasan itu terjadi. baik itu kota kecil atau kota besar.
    Sayangnya selalu ada legalitas atau ilegal pengakuan atas nama diskriminasi ini dari pihak2 yang harusnya menjadi pelindung ini…

    Salahkah terlahir menjadi perempuan???

  2. esterlianawati permalink*
    June 27, 2008 7:29 am

    Gaaaak salah😀
    Yg salah sistem patriarki yg dah menindas perempuan..

  3. Larasatie permalink
    July 19, 2008 1:56 pm

    apa ya yang bisa kita lakukan sebagai sesama perempuan..
    memandangnya dari kacamata perempuan..
    bikin film dokumenter mgk? dengan melibatkan perempuan2 sebagai crew .. sepertinya menarik.. mungkin bs memberikan pembelajaran bagi perempuan lainnya..

  4. esterlianawati permalink*
    July 22, 2008 12:52 am

    Ide Mbak menarik..Gmn kl kita jalanin?😉

  5. September 22, 2008 7:08 pm

    …Dan jumlah terbanyak adalah dijadikan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Wilayah tertentu seperti Indramayu sudah terkenal sebagai sending area, yaitu daerah pengirim (anak-anak) perempuan untuk dijadikan PSK. Tragisnya, orangtua mereka sendiri yang melakukannya agar dapat membantu pemenuhan kebutuhan keluarga.

    pengn di qoute smua tp kayanya kbanyakan🙂
    jd gini mba, ada sumber artikel ini yg bisa saya jadiin refrensi resmi g?
    refernsi buat skripsi saya mba
    kebetulan ttg psk🙂

    btw ak jg ikut mndukung deh apa yg dikatakan mba larasatie
    mo ikutan cm udah d cekal duluan nih jenis kelamin saya😀

  6. esterlianawati permalink*
    September 25, 2008 7:09 am

    Hai Taufik,
    bagian yg km kutip itu ditulis oleh
    Yani Mulyani, 2007, “ Trafiking Anak di Indramayu”, dalam jurnal perempuan 51, hal 43-50.

    Kl yg ttg AYLA di Prumpung, kebetulan itu sy prnh melkkan pendampingan di sana. Kl gak salah Mbak Nurul Arifin jg pernah, dan bahkan beliau sempat menulis di Kompas ttg anak-anak itu bbrp tahun lalu. Mungkin bisa dicari di kompas online😉

    Good luck ya buat skripsi mu.

  7. Dewi Linggasari permalink
    December 11, 2008 1:26 am

    Ada empat hal yang dapat melepaskan kaum perempuan dari segala macam bentuk penindasan: (1) Dukungan dari pihak keluarga, bahwa hak laki-laki dan perempuan adalah sama, (2) Kepedulian masyarakat terhadap existensi perempuan, (3) Kebijakan Pemerintah dalam melindungi hak-hak kaum perempuan, (4) Upaya dari perempua yang bersangkutan.

    Perempuan tidak tampil sebagai exixtensi tunggal, akan tetapi sangat tergantung kepada keluarga, lingkungan, pemerintah, dan terutama dirinya sendiri!

  8. esterlianawati permalink*
    December 11, 2008 2:47 am

    Mbak Dewi Linggasari,
    Makasih buat masukan mbak. Senang sekali mbak berkunjung ke sini, stlh cukup sering aku mengutip tulisan2 mbak. Hehehe. Thx a lot, mbak.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: