Skip to content

Teror, Stroke, dan Me-maintain

June 9, 2008

Sudah pernah dapat teror?

Beberapa tahun ini hidup saya diwarnai teror. (Kasian deh gue..) Memang kebanyakan terornya lewat handphone, sekalipun ada satu dua yg teror langsung. Kadang teror lewat handphone lebih mengganggu karena ngabisin batere handphone. Kalau teror langsung di tengah jalan pula, bisa langsung teriakin orang biar si penteror langsung ditangkap😉. Pernah dalam satu hari itu si penteror nelepon sampe lebih dari 100 kali. Kebayang gak sih betapa banyaknya waktu luang sih penteror. Tapi memang dia pengangguran sih hihi.

Dari pengalaman diteror itulah, saya belajar untuk jangan pernah mengangkat telepon si penteror, jangan menjawab sms-smsnya. Pokoknya jangan bereaksi apapun. Ketika kita bereaksi, negatif sekalipun, bisa menjadi penyemangat buat si penteror untuk terus menteror. Awalnya kalau saya belum tau, saya akan mengangkat teleponnya. Biasanya setelah diangkat, dia akan semakin gencar menelepon. Saya juga empat membalas sms seorang penteror. Tapi wah sekali dibalas, kok langsung ya sms nya engga berhenti-berhenti. Beberapa rekan juga sempat diteror, kami sama-sama diteror oleh orang yang sama waktu itu.Rekan-rekan saya sempat rajin meladeni si penteror. Hasilnya si penteror juga makin rajin menteror. Ketika rekan-rekan saya menghentikan responsnya, si penteror juga mulai berhenti. Biasanya sih dua minggu si penteror masih aktif. tapi setelah itu dia mulai berhenti untuk kemudian sesekali aktif lagi. Tapi kalau tidak diladeni, ‘sesekali’ nya itu akan berhenti juga.

 
Teror ini membuat saya jadi ingat konsepnya Eric Berne tentang stroke. Stroke itu secara sederhana bisa diartikan sebagai respons seseorang terhadap stimulus. Menurut Berne, kita bisa bereaksi secara positif, negatif, atau justru tidak memberi stroke sama sekali. Kadang kita pikir kalau kita memberi reaksi negatif, orang lain akan nyadar bahwa kita tidak suka sama perilakunya. Tapi ternyata engga gitu. Karena sekalipun negatif, tetap aja itu respons. Dan buat sebagian orang, respons negatif lebih baik dibandingkan tidak berespons sama sekali. Jangan pernah juga kasi respons positif sekalipun cuman sesekali sama di penteror atau siapapun dia yang tidak kita sukai. karena respons positif sesekali itu malah bisa ngasih harapan sama orang yang bersangkutan bahwa suatu saat akan respons positif lagi.
Saya sering berpikir begini, kalau ada cowok/cewek yang naksir kita dan kita jelas engga suka, jangan kasi stroke sama sekali, yg negatif sekalipun. Tp kalau kita belum yakin mau nolak dia, kasi aja stroke positif sesekali..pasti okay banget buat me-maintain PDKT nya si cowo itu :)) Ini pikiran lagi iseng…

2 Comments leave one →
  1. June 16, 2008 6:26 am

    hi mbak,
    yah aku setuju tuh, kalau ada orang menteror sekalipun orang yang kini kenal jangan kasih respon apapun.
    Aku juga pernah kena teror sama mantan pacar ku bahkan sampai sekarang, tp aku ngk pernah memberi tanggapan/stroke. ya seh mungkin karena dia bosan ngk dapat tanggapan akhirnya dia berhenti dengan sendirinya.
    eh tp malah sang peneror yang notabene mantan pacar neh coba menteror dengan nomor hp lain dan makai strategi sok pingin kenalan dan makai nama lain via sms. Bete ngk seh???

  2. esterlianawati permalink*
    June 18, 2008 8:27 am

    Iya ngebetein banget para penteror itu, apalg mantan pacar ya. temenku sih ada jg yg akhirnya ganti no hp lho. trus gimana tuh berhentinya, yul?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: