Skip to content

Mengapa Lebih Banyak Perempuan Depresi Dibandingkan Laki-laki?

April 2, 2008

Banyak penelitian menunjukkan jumlah perempuan yang mengalami depresi dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki (Nolen-Hoeksema, 2001). Bahkan sejumlah penelitian menemukan perempuan tiga kali lebih rentan terhadap depresi dibandingkan laki-laki (Neale, Davis, & Kring, 2004). Hal ini berlaku baik pada depresi ringan, sedang, maupun berat. Perbedaan gender ini ditemukan pada sejumlah negara, suku bangsa, dan seluruh tahap usia dewasa. Menariknya, Angold, Costello, dan Worthman (1998) tidak menemukan perbedaan gender ini pada anak-anak. Namun demikian, sekitar usia 14 atau 15 tahun, depresi pada remaja putri mulai meningkat, sedangkan pada remaja putra tetap stabil (Nolen-Hoeksema & Girgus, 1994).

Perubahan rasio pada usia 14 atau 15 tahun tersebut tampaknya terjadi sebagai dampak pubertas terhadap remaja putri. Remaja putri tampaknya kurang menyukai perubahan fisik mereka ketika beranjak remaja, khususnya mengenai pertambahan lemak tubuh. Perubahan fisik ini dapat menyebabkan remaja putri seringkali merasa malu dan menutup diri terhadap lingkungan. Berbeda dengan remaja putra yang menyukai peningkatan massa otot yang mereka alami seiring pubertas (Dornbusch, Carlsmith, Duncan, dikutip oleh Nolen-Hoeksema, 2001).

Selain itu pada remaja putri yang mengalami pubertas dini, mereka cenderung terlibat dalam hubungan romantis yang lebih matang. Hal ini dikarenakan mereka umumnya menjalin hubungan dengan pria yang jauh lebih tua karena remaja pria sebayanya belum mengalami pubertas. Lebih lanjut, hubungan romantis dengan pria yang lebih tua tentunya memiliki tuntutan, tingkat keseriusan, dan permasalahan yang lebih kompleks (Hayward, Killen, & Wilson, 1993) . Hal ini tampaknya sulit dihadapi para remaja putri sehingga dapat mengarah kepada gangguan depresi.

Kecenderungan perempuan untuk melakukan ruminative coping dapat pula menjadi faktor penyebab tingginya tingkat depresi menurut Davison, Neale, dan Kring (2004). Ruminative coping merupakan cara mengatasi masalah yang tidak efektif. Dalam ruminative coping, masalahnya tidak diselesaikan melainkan hanya dipikirkan. Pikiran individu justru akan semakin bercabang karena memikirkan masalah-masalah lain yang terkait dengan masalah utama (Larson & Grayson, dikutip oleh Nolen-Hoeksema, 2001).

Para psikolog feminis juga membawa perihal budaya patriarkis telah berperan dalam menyebabkan perempuan cenderung depresif dibandingkan laki-laki. Dalam budaya patriarkis, perempuan dituntut banyak hal seperti menjadi istri atau ibu ideal. Tuntutan-tuntutan semacam ini dapat menekan perempuan. Selain itu budaya patriarkis juga menghambat perempuan untuk menunjukkan rasa marah atau ketidaksetujuannya. Lambat laun, menurut Davison et al (2004) hal ini dapat membawa perempuan ke dalam kondisi depresif.

10 Comments leave one →
  1. April 3, 2008 7:47 am

    Dan juga perempuan tuh cenderung tertutup ya mbak…maksud saya perempuan kalaupun “suka” ngerumpi jarang bisa terbuka tentang dirinya sendiri.

    Saya mirip ma temen mbak…?Asyik punya temen psikolog…Kapan ngisi acara di Batam?

  2. esterlianawati permalink*
    April 3, 2008 10:06 am

    Mmm bisa jadi gitu. Ada yg bilang cewe itu cuma tampak lbh ekspresif di luar, pdhl dia pny rahasia terdalam yg gak prnh dibagiin ke org laen😉
    Skrg dah gak mirip lg, mas, kan dah jd temen sndr hehe. Ngisi acara di Batam…Mmm kl diundang, ayuk aja. Jd kpn ngundang ke Batam?😀

  3. April 4, 2008 4:04 am

    oke mbak, biasanya mbak cenderung ke wanita atau umum ( maksudna audiens-nya?

  4. esterlianawati permalink*
    April 4, 2008 6:25 am

    umum sih, tp yg dtg kebnykan perempuan jg hehe. tp pengen skl2 ngmgin khusus mslh cewek deh;) tengkyu, mas abie.

  5. Mawar permalink
    April 19, 2008 3:32 am

    Yaaa, saya kira belum relefan simpulannya, laki-laki depresi sering disembunyikan, bener ngak?

  6. esterlianawati permalink*
    April 22, 2008 4:07 am

    Mksh Mbak Mawar buat tmbhannya🙂
    Depresi nya laki2 emang lbh srg mncl dlm bentuk neurasthenia kyk sakit kpl dsb. Mgkn krn laki2 gak terbiasa utk curhat, dituntut utk nyelesaiin mslhnya sendiri, jd laki2 kecil kemgknannya utk nangis2 kyk cewe kl lg depresi😉

  7. January 8, 2009 1:20 pm

    Salam kenal Mbak! saya Ronald. Oh iya, boleh ndak saya nanya tentang masalah depresi perempuan? kemungkinan besar boleh ya. Begini saya mempunyai teman yang memiliki seorang saudara perempuan. Keluarga itu cenderung untuk didik dengan cara keras yang bertanggungjawab. Saat ada kesalahan yang dilakukan oleh salah satu anak, maka semua anak yang terdapat dalam keluarga tersebut akan mendapatkan kualitas hukuman yang sama. Tetapi ketika itu terdapat seorang ayah yang masih hidup dan seringkali memberikan perhatian lebih pada anak perempuan tersebut. Kemudian ketika sang Ayah sudah meninggal dunia, dan peran mencari uang diambil oleh sang Ibu. Si anak perempuan tersebut sepertinya menjadi besar kepala dan berlaku seperti dia yang paling benar serta tidak menggangap pendapat Ibu maupun saudaranya. Menurut anda bagaimana cara mengatasinya? anak ini sulit untuk diajak bicara dari hati ke hati. Thanks sebelumnya

  8. esterlianawati permalink*
    January 9, 2009 10:53 am

    Slm knl jg. Sblmnya boleh sy tau bbrp hal: brp usia saudara perempuan teman km skrg dan ktk ayahnya meninggal, pekerjaannya apa, bagaimana perilakunya sblm ayah meninggal, bgmn ia menanggapi cara pendisiplinan ortunya, perhatian lbh spt apa yg diberikan ayahnya, bgmn sikapnya thd perhatian ayah itu, apa ayah hny memberi perhatian kpdnya saja atau anak2 lain jg, bgmn sikap ibu dan saudara2nya menghadapi perhatian ayah thdnya. Trus jg apakah dia lgsg berubah sikap begitu ayahnya meninggal, atau ada jeda waktu? Apa ada peristiwa2 lain yg terjadi jg selain kematian ayah? Besar kepala yg km mksd tepatnya spt ya? Bgmn sikap keluarga menanggapi perubahan perilakunya? Dan bgmn reaksinya? Sblm ini, usaha apa saja yang sudah pernah dilakukan ibu/saudaranya utk mengajaknya bicara, dan apa tanggapannya?
    maaf ya jd bnyk pertanyaan, utk memperjelas kasusnya dulu. thx jg ya🙂.

  9. February 28, 2009 1:21 am

    jadi apakah memang kebanyakan perempuan itu cenderung tertutup ?
    dibandingkan dengan laki-laki, mana yang lebih tertutup ?
    kalau boleh saya tau seperti apa ciri perempuan yang sedang depresi ?
    satu lagi, saya kurang mengerti tentang ruminative coping . sebenarnya seperti apa ruminative coping itu ? apakah seseorang memikirkan masalahnya sendiri tanpa mencari solusi dengan berdiskusi dengan orang lain ? atau bagaimana ?
    terimakasih.
    .abidabida.

  10. esterlianawati permalink*
    March 2, 2009 9:42 am

    Hai Fa, slm kenal ya.
    Sbnrnya scr umum, perempuan lbh ekspresif dibandg laki2. Sygnya kecenderungan ekspresif nya ini lbh ditampilkan kpd sahabat ato org lain yg tdk terkait dgn mslh yg sdg ia hadapi. Misalnya ktk sdg ada mslh dgn seseorang, ia curhat pd org lain bukan lgsg menghadapi sumber mslhnya. Akibatnya mslhny gak slsi.
    Khususnya dlm hub dgn pria, spt pcaran ato ktk sdh ada ikatan suami istri, kebnykan perempuan justru krg mampu mengungkapkan pendapatnya. Hal ini bs jd krn budaya kita yg lbh menyukai prmpuan untuk nurut, manut2. Jd akhirnya lbh memendam ketdknyamanannya, kekecewaannya, ketdksetujuannya, dsb. Jd ‘keterbukaan’ prmpuan agak berbeda. Smntr laki2 sklpun emang kurang ekspresif scr umum, ttp bisa dengan tegas menyatakan ketdksetujuannya. Jd ekspresif manakala perlu. Balik2 lagi tanpa disadari sbnrnya ini mslh patriarkisme itu. Pria lbh didukung scr sosiokultural utk berani mengungkapkan pendapatnya.
    Ciri perempuan yg depresi relatif sama dgn org depresi pd umumnya, spt yg aku tulis dlm tulisanku “Mengenali Depresi”(baca ya…😉 .
    Ruminative coping… ruminative itu sendiri artinya memikirkan lagi, lagi, dan lagi. Jd mksdnya ruminative coping adlh cara mengatasi stres dengan terus berkutat memikirkan mslh yg dihadapi. Yg dimksd berpikir di sini sygnya bukan mencoba mencari jalan keluar, ttp lbh berfokus kpd memikirkan topic mslhnya itu. Akhirnya mslh pun engga selesai, yg ada bs jd tmbh stres krn pikirannya makin bercabang2. Slh satu contoh ruminative coping itu misalnya mempertanyakan mengapa ya bisa kena mslh ini, kok bisa gue yg kena, dst. Jd sbnrnya engga tepat sih kl disebut coping, krn emang engga efektif.

    Ok, smg dah lbh jelas ya Fa. Thx dah mampir ke sini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: