Skip to content

Kenapa Bisa Depresi?

April 2, 2008

Sebenarnya penyebab depresi dapat dipandang dari berbagai pendekatan, yaitu medis, psikologis, dan sosiokultural. Dalam tulisan ini akan dibahas penyebab depresi dari pandangan psikologi.

Menurut teori psikoanalisis, depresi dapat dialami oleh individu yang mengalami fiksasi pada tahap oral. Individu ini akan mengembangkan dependensi terhadap figur tertentu (awalnya ibu), dan memiliki mekanisme pertahanan berupa introyeksi. Dengan melakukan introyeksi, berarti individu menyerap hampir seluruh nilai, sikap, dan karakteristik dari figur tempatnya bergantung. Ketika orang yang dijadikan tempat bergantung ini tidak ada lagi (pergi atau meninggal dunia), maka individu ini menjadi marah. Kemarahannya sebenarnya ditujukan kepada orang tersebut. Namun dengan dependensi dan introyeksinya, individu tidak dapat mengungkapkan kemarahannya. Rasa marah tersebut malah ditujukan ke dalam diri (introjected hostility), sehingga menghasilkan kebencian terhadap diri yang akhirnya menimbulkan rasa putus asa (Freud, dikutip oleh Davison et al, 2004). 

Lebih lanjut, teori psikoanalisis menyatakan bahwa seseorang yang mengalami depresi akan menampilkan regresi ego superego. Ketika dihibur, ia akan menyadari bahwa yang dikatakan oleh orang yang menghiburnya itu benar. Sayangnya, ia akan mengalami regresi superego sehingga  tidak lama kemudian ia akan kembali mengeluh, merasa bersalah, lelah, tidak berdaya, dan sebagainya. Kondisi ini juga sering disebut dengan narcissistic supply, yakni bahwa penghiburan dari orang lain telah menyuplai kebutuhan individu yang mengalami depresi untuk mengagumi dirnya, merasa bahwa dirinya benar dan berguna (Kaplan & Sadock, 1991).

Sementara itu berdasarkan pandangan humanistik, depresi merupakan hasil kegagalan individu untuk mencapai hidup yang lengkap dan otentik. Kegagalan ini membuat individu merasa bersalah karena gagal membuat suatu pilihan yang tepat, mengambil tanggung jawab, dan mengembangkan potensi-potensinya.

Para ahli psikologi perilaku (behavioral) menyatakan bahwa  seseorang mengalami depresi karena kurang memperoleh penguat positif (positive reinforcement) dalam hidupnya. Pandangan ini berangkat dari fakta bahwa depresi seringkali muncul sebagai reaksi terhadap peristiwa yang menekan seperti putusnya hubungan, kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, atau penyakit medis yang serius (Frank et al, 1994). Kondisi keuangan dan perkawinan yang buruk juga ditemukan sebagai salah satu sumber penyebab terjadinya depresi (Kessler, Davis, & Kendler, 1997). Tekanan-tekanan dalam hidup ini menunjukkan kurangnya positive reinforcers dalam kehidupan orang tersebut.

Ditambah dengan kurangnya keterampilan sosial, selanjutnya orang-orang tersebut menjadi menarik diri dari lingkungan. Semakin ia menarik diri, maka semakin berkurang penguat positif yang mungkin diperolehnya. Semakin berkurang penguat, maka ia pun semakin menarik diri. Demikian selanjutnya, seperti rantai yang semakin memperkuat depresinya (Lewinshon, dikutip oleh Nolen-Hoeksema, 2001).

Tidak diperolehnya penguat positif juga memungkinkan terjadinya learned helplessness. Learned helplessness merupakan suatu kondisi tidak berdaya yang dipelajari (Seligman, dikutip oleh Davidson et al, 2004). Dengan tidak memperoleh penguat positif untuk berbagai hal yang ia lakukan, maka individu belajar bahwa hal-hal yang dilakukannya tidak menghasilkan sesuatu yang positif. Lambat laun, ia pun mengembangkan rasa putus asa dan tidak berdaya. 

Sementara itu menurut teori kognitif, bukan peristiwa hidup negatif yang dapat membuat seseorang menjadi depresi. Interpretasi individu terhadap peristiwa itulah yang dapat mengarahkan seseorang menjadi depresi (Beck, dikutip oleh Nolen-Hoeksema, 2001). Seseorang yang cenderung menyimpulkan peristiwa negatif itu memang memiliki dampak negatif yang parah akan lebih rentan untuk depresi. Hal ini terbukti dengan tidak semua orang yang mengalami peristiwa hidup menekan akan mengalami depresi. Malah banyak di antaranya yang justru bangkit dan membuat hidupnya menjadi lebih baik (Davison et al, 2004).

Secara lebih khusus, Beck menyebut persepsi negatif tersebut sebagai negative cognitive triad. Menurutnya, orang menjadi depresi karena memiliki pandangan negatif terhadap tiga hal, yakni dirinya sendiri, lingkungan, dan masa yang akan datang. Orang-orang ini menurut Beck mengembangkan distorsi dalam cara berpikirnya. Salah satunya melakukan pemikiran semua atau tidak sama sekali. Misalkan jika tidak mendapatkan nilai A dalam satu ujian, ia akan menganggap dirinya sebagai mahasiswa yang gagal. Biasanya hal ini terkait dengan distorsi lain, yaitu musturbation, yaitu menuntut dirinya terlalu banyak dengan kata ‘harus’ (must). Misalnya ia harus menjadi siswa teladan sehingga dengan memperoleh satu nilai buruk, ia merasa telah hancur.

Teori learned helplessness juga dapat dijelaskan berdasarkan teori kognitif, yang kemudian dinamakan reformulated learned helplessness theory (Peterson & Seligman, dikutip oleh Davison et al. 2004). Teori ini menekankan penyimpulan yang dilakukan seseorang mengenai penyebab suatu peristiwa (causal attribution). Individu dapat mengalami learned helpnessness yang berkepanjangan dan turunnya harga diri (self-esteem) jika melakukan penyimpulan kepada faktor internal yang bersifat stabil dan global. Internal berarti individu menyimpulkan suatu peristiwa negatif sebagai akibat kesalahan dalam dirinya. Stabil menunjukkan bahwa faktor kesalahan dalam dirinya relatif stabil sehingga dapat terjadi lagi di masa yang akan datang. Global berarti individu menganggap kesalahan tersebut dapat mempengaruhi area kehidupannya yang lain.  

Penyimpulan kesalahan yang bersifat internal, stabil, dan global disebut dengan pessimistic attributional style. Hasil penelitian Alloy, Abramson, dan Francis (1999) menunjukkan gaya penyimpulan semacam ini dapat memprediksikan terjadinya depresi berat dan kekambuhan gangguan tersebut. Sebanyak 17% individu yang pesimis akan menderita depresi dibandingkan 1% individu optimis. Dua puluh tujuh persen individu pesimis yang mengalami depresi akan cenderung kambuh lagi. Jumlah ini tergolong besar dibandingkan hanya 6% individu optimis yang kembali mengalami depresi untuk kedua kalinya.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: