Skip to content

Ayat-ayat Cinta

March 24, 2008

Duh susahnya dapat tiket untuk nonton film Ayat-ayat Cinta. Bahkan sampai di bioskop yang biasanya sepi  pengunjung pun, saya tetap sulit mendapatkan tiketnya. Awalnya saya tidak tertarik untuk menonton film ini. Saya ingat sempat membaca novelnya beberapa halaman pertama dan langsung memutuskan untuk tidak melanjutkan membacanya. Entah mengapa saat itu saya merasa cara penuturan dalam bukunya agak membosankan. 

Film ini bertutur tentang cinta, perasaan, jodoh, relasi laki-laki dan perempuan, yang tentunya sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Konflik yang dibangun memang menarik, cukup membangkitkan kebingungan harus bersimpatik pada tokoh yang mana, dan ditutup dengan sangat menyentuh. Film ini menghentakkan tentang nilai-nilai yang sebenarnya universal dan tidak melekat pada satu agama tertentu. Film ini mengajarkan bagaimana menjalani hidup, menyelesaikan konflik, dan menghadapi konsekuensi-konsekuensi atas tindakan yang kita perbuat.  

Film ini juga bisa jadi semakin laris karena membawa isu poligami yang masih diperdebatkan hingga saat ini. Bahkan isu poligami dalam film ini menuai kritik bahwa film ini mendukung praktik poligami. Film ini juga dikatakan bermaksud mengubah keyakinan seseorang untuk memeluk agama Islam.  Tetapi justru kritik-kritik seperti ini semakin membuat film ini diminati. Apalagi isu agama sangat sensitif di negara ini. Namun menurut saya, film ini tidak bertujuan mendukung poligami. Bahkan jika film ini dibuat dengan tujuan seperti itu pun, saya justru berpendapat tujuan tersebut tidak tercapai.

Film ini memperlihatkan praktik poligami membawa ketidaknyamanan bagi semua pihak, baik istri pertama, istri kedua, dan pihak suami sendiri. Ketiga tokoh diceritakan mengalami kebingungan, dan kedua istri pun merasa terluka saat suami sedang bersama yang lain.  Jika pada akhirnya konflik ini ditutup dengan masing-masing tokoh mencoba untuk ikhlas terhadap kondisi yang ada, bukan berarti membenarkan praktik poligami itu sendiri.  Karena sepertinya pesan yang ingin disampaikan bukanlah berpoligami atau tidak berpoligami, tetapi keikhlasan seseorang dalam menjalani pilihan hidupnya. 

Oleh karena itu menurut saya tidak tepat mengkritik film ini sebagai film patriarkis. Apalagi jika mau dilihat lebih objektif sesungguhnya ada bagian-bagian dalam film yang mendobrak pandangan yang konvensional tentang peran perempuan dan laki-laki. Hal ini salah satunya tampil dalam sikap para perempuan yang mencintai Fahri. Mereka berusaha mengungkapkan cintanya dengan cara masing-masing. Ada Maria yang senantiasa siap sedia membantu Fahri, memberi Fahri minuman kesukaan, dan menempatkan dirinya di posisi sahabat. Sementara Noura bahkan jauh lebih berterus terang dengan mengungkapkan perasaannya lewat surat,” Aku ingin menjadi yang halal bagimu yang kan kau kecup keningnya.”  

Demikian pula dengan Aisyah yang menanyakan mengenai Fahri kepada pamannya, yang kemudian memungkinkan terjadinya taaruf antara dirinya dengan Fahri. Taaruf itu sendiri dikritik menempatkan perempuan sebagai objek karena membiarkan laki-laki menilai dirinya layak dijadikan istri atau tidak. Namun dalam film ini, Aisyah telah terlebih dahulu tertarik kepada Fahri, sengaja menanyakan Fahri kepada pamannya yang ia yakin telah mengenal Fahri, sampai kemudian taaruf itu dilakukan.  

Setelah Fahri ditangkap atas tuduhan memperkosa Noura, saya justru tidak melihat Fahri sebagai tokoh utama. Aisyah-lah yang tampil sebagai pengambil keputusan. Aisyah bukan tokoh utama perempuan yang secara umum ditampilkan dalam film atau sinetron kita : perempuan tertindas yang terus menangisi ketertindasannya tanpa mampu berpikir rasional mengenai tindakan yang harus diambilnya. Aisyah justru berjuang mencari tahu terlebih dahulu seperti apa karakter dan kehidupan suaminya yang sebenarnya.  

Selanjutnya Aisyah pun mampu berpikir taktis mengenai hal yang harus dilakukan untuk menyelamatkan suaminya dari ancaman hukuman mati. Ia yang meminta Fahri menikahi Maria. Dalam hal ini, Aisyah juga telah mendobrak stereotip dan dikotomi perempuan baik dan jahat. Ia bukan perempuan berhati selembut bidadari yang mengorbankan kepentingannya untuk orang lain, seperti dalam film dan sinetron. Ia meminta Fahri untuk menikahi Maria bukan semata untuk menyelamatkan Maria. Tetapi ia tahu bahwa menyelamatkan Maria berarti menyelamatkan Fahri, yang adalah ayah dari bayi yang sedang dikandungnya.  

Secara materi Aisyah juga jauh lebih kaya daripada Fahri. Kekayaan materi merupakan simbol kekuasaan (power) yang selama ini dilekatkan dengan laki-laki. Namun tampak bahwa ternyata hal ini hanya permasalahan konstruksi budaya selama ini. Ketika perempuan memiliki lebih banyak harta dibanding suami, ia pun merasa memiliki power, dan suami pun kehilangan power. Pelekatan materi dengan laki-laki menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri Fahri, anak pedagang tape yang mendapatkan beasiswa di Kairo, dan belum bekerja saat menikah dengan Aisyah. Konflik internal telah dilaluinya ketika akhirnya ia mengucap bahwa ia ikhlas menerima Aisyah yang lebih kaya dibandingkan dirinya. Keikhlasan Fahri juga dapat mencerminkan Ayat-ayat Cinta sesungguhnya mendobrak pola tradisional bahwa seorang suami harus lebih mapan dibandingkan istrinya.  

Oleh karena itu saya pikir tidak tepat mengkritik film ini sebagai film patriarkis. Namun membelanya sebagai sebuah film feminis pun, akan terjebak pada inkonsistensi-inkonsistensi. Tokoh Maria merupakan contoh perempuan mistis menurut Simone de Beauvoir. Perempuan mistis terbelenggu oleh cinta sehingga tidak dapat melakukan tindakan lain yang lebih bermakna selain meratapi nasib ditinggal laki-laki yang dicintainya. Sosok ini hadir dalam diri Maria yang merana karena cinta dan hanya sembuh setelah menikah dengan Fahri. Maria jelas bukanlah tokoh perempuan yang berdaya dalam kaca mata feminisme, khususnya feminisme eksistensialis.

Inkonsistensi itu juga tampil dalam upaya Fahri mencoba menjelaskan posisi perempuan dalam Islam sesungguhnya tidak rendah. Feminisme yang berusaha ditampilkan dalam film ini akhirnya terkesan nanggung karena kata dharaba dan kaitannya dengan tindak kekerasan suami terhadap istri akan jauh lebih kompleks dibandingkan penjelasan Fahri dalam film. Penafsiran kata dharaba dapat disimak dalam buku Asma Barlas yang berjudul Cara Quran Membebaskan Perempuan

Oleh karena itu mengkritik Ayat-ayat Cinta sebagai film patriarkis, atau membelanya sebagai sebuah film feminis, hanya akan membuat kita terjebak pada inkonsistensi satu sama lain. Memang film ini berusaha menampilkan derajat perempuan yang tidak lebih rendah dibandingkan laki-laki namun sepertinya bukan itu tujuan utamanya. Saya lebih melihat unsur eksistensialisme yang kuat dalam film ini yang pada akhirnya berhasil dilakoni Fahri dan Aisyah. Fahri menyebutnya sebagai keikhlasan. Saya melihatnya sebagai salah satu bentuk bertanggung jawab atas pilihan hidup yang telah diambil. 

Film ini menceritakan ketaatan seseorang pada ajaran agamanya. Jalan hidupnya sangat dipengaruhi oleh kepatuhannya pada apa yang diyakininya tersebut. Kita dapat saja menyebut bentuk kepatuhan Fahri sebagai suatu kekakuan. Karena seandainya saja Fahri tidak ‘terkungkung’ oleh keyakinannya itu, bukan tidak mungkin ia akan memilih Maria sejak awal tanpa mempersoalkan agama. Maria tidak perlu jatuh sakit, dan ia tidak perlu masuk penjara karena pastinya jika Maria menikah dengannya sejak awal, Noura pun tidak akan berani memfitnahnya. (Lantas tidak ada konflik seperti yang ingin ditampilkan dalam film ini, dan film pun tidak akan ada tentunya).  

Namun menilai kepatuhan Fahri sebagai kekakuan tentu juga bukan penilaian yang tepat karena masalah keyakinan adalah masalah yang sangat personal. Oleh karena itu tanpa menyebut itu baik atau buruk, saya justru belajar dari film ini bahwa saat kita sudah meyakini sesuatu dan memilih untuk menjalani hidup dengan apa yang kita yakini, kita harus siap menjalani konsekuensi-konsekuensinya dan terus mengambil tindakan untuk dapat menghadapinya. Fahri dan Aisyah menunjukkannya dengan berupaya ikhlas, meskipun tidak mudah untuk sampai kepada keputusan itu. Namun eksistensi mereka jauh lebih terlihat dibandingkan Maria yang tidak siap bertanggung jawab atas pilihannya untuk mencintai Fahri. 

Namun tokoh Maria juga sarat pergolakan batin, terutama mengenai masalah iman. Satu hal yang baik dari tokoh ini adalah ia tidak memilih untuk memeluk Islam hanya karena menikah dengan Fahri. Pergulatannya sudah ada sebelum Fahri datang. Ia tetap bergulat dengan konflik itu sampai akhirnya meminta Fahri dan Aisyah mengajarinya sholat sebelum ia memejamkan mata untuk selamanya. Jika film ini dikritik atas masalah Islamisasi, saya rasa juga tidak tepat. Fahri dan Aisyah tidak pernah menyinggung perihal agama dengan Maria. Tidak ada satu tokohpun dalam film yang memaksakan keyakinannya pada Maria.

Permasalahannya adalah agama menjadi isyu sensitif di negara ini, dan membuat kita terkotak-kotak. Undang-undang kita juga turut berperan dalam pengkotakan itu. Sebut saja UU Perkawinan yang hanya mensahkan perkawinan dua orang yang sama agamanya. UU semacam ini hanya akan membuat kesenjangan antar agama semakin terasa, seolah-olah ada in group dan out group, kelompok agamamu dan agamaku. Kita semakin menganggap agama kita yang paling benar, dan agama lain adalah salah. Padahal mungkin tidak banyak di antara kita yang mengetahui sejarah agama masing-masing dan inti pengajarannya.

Praktik dari UU semacam itu juga menimbulkan banyak masalah. Tidak mudah untuk mengubah apa yang telah diyakini seseorang selama kurang lebih belasan atau puluhan tahun. Apalagi tiap agama memiliki ritualnya masing-masing, yang jika mau jujur, ritual ini seringkali lebih mengikat dibandingkan ajaran itu sendiri. Ada memang yang dapat melaluinya, berpindah agama dan menjalaninya tanpa masalah. Namun tidak sedikit mereka yang merasa bersalah karena meninggalkan agama yang lama. Saya pernah menangani seorang ibu yang mengalami depresi berat beberapa kali sepanjang hidupnya karena hal ini. 

Keyakinan adalah masalah yang sangat personal. Tiap orang memiliki pengalaman religiusnya masing-masing yang tidak dapat kita hakimi sebagal salah atau benar. Pernah dalam sebuah wawancara dengan orang-orang yang pernah mati suri, masing-masing menyebutkan bertemu dengan tokoh yang sesuai dengan iman mereka. Mereka yang beragama Kristen mengaku bertemu Yesus Kristus, yang beragama Islam menceritakan pertemuan dengan Nabi Muhammad, yang beragama Budha melihat Sang Budha. Lantas apa kita terus terjebak untuk menilai penglihatan mereka salah, atau itu adalah ulah iblis yang bermaksud mengacaukan. Semakin terkungkung kita pada penilaian benar dan salah, kita akan terus terjebak untuk mencari pembenaran atas keyakinan masing-masing. 

Orang-orang seperti Maria bisa jadi dipandang murtad oleh kelompok agamanya yang semula, namun disambut baik oleh kelompok agama pilihannya. Lantas, apakah Maria akan masuk surga atau neraka? Menurut pandangan agama mana kita mau melihatnya? :P

<Ulasan ini saya ambil dari filmnya, maaf jika mungkin ada perbedaan dengan bukunya. Btw, thx buat yg udah nemenin loncat dr satu bioskop ke bioskop lain di tengah hujan en macet. Niat banget ya, tp gak nyesel, I love this movie). Sekalipun ada bbrp adegan yg ‘aneh’😀 )

9 Comments leave one →
  1. esterlianawati permalink*
    April 2, 2008 2:08 am

    Tnyt sama spt filmnya yg kontroversial, tulisan sy ini jg mengundang kontroversi ya🙂 Utk Anday Purwanday en frens, tengkyu buat masukannya. Sbg org yg melabel dirinya psikolog feminis hehe, sy menentang poligami dlm kondisi en bentuk apapun. Sy gak belain poligami dlm film Ayat-ayat Cinta, en saya gak belain film Ayat2 Cinta, sklpun sy suka film ini. Yg sy pengen bilang cm film ini serba nanggung kl ditinjaunya dr mslh feminis-patriarkis. Kl mslh surga en neraka, hahaha, otak gw emang jahil ya Nday? Kl mslh iman, gw suka yg dibilang first naivity en second naivity. Kpn2 gw bahas ya.

  2. Mamik permalink
    April 2, 2008 9:20 am

    Film percintaan yang mengharubiru dengan kemasan “Islami” ini cukup cerdas memlintir propaganda poligami menjadi seperti, seolah-olah, ini adalah kisah, nilai, wacana, yang justru hendak mengatakan, “ternyata memang ga gampang ya, punya istri dua”…Sehingga perlu kecermatan dan kecerdasan serta kekuatan berpijak, utk dapat memahami pesan yg ingin disebarluaskan oleh si pemilik film.

  3. esterlianawati permalink*
    April 2, 2008 9:53 am

    Dpl, gw kurang cermat, krg cerdas, en krg kuat pijakan dong Ndut. Hihi.

  4. Mamik permalink
    April 2, 2008 10:15 am

    huahahahahahaha………kata mas Ebiet, “tanya lah pada rumput yang bergoyang”, tapi kata gue, “apapun elu, gue tetep sayaanng sama elu”.

  5. esterlianawati permalink*
    April 2, 2008 10:27 am

    Sayang mana, gw ato gagak :p
    Ato elo mem-poli perasaan ya? Hihi. Kl yg di-poli itu perasaan, patriarkis gak? ;;)

  6. bose permalink
    April 2, 2008 7:36 pm

    kamu dah punya suami atau pacar belom???
    kalo belom boleh gak saya ngajak kamu nonton film?

  7. esterlianawati permalink*
    April 3, 2008 3:35 am

    Hai Bose. Duh pake tanya2 suami/pacar :p emang knp kl nontonnya bertiga? Hehehe. SaLam kenal ya.

  8. Pemantik Kehidupan permalink
    April 3, 2008 8:33 am

    Sudah terlalu banyak yang ngegombal ayat-ayat cinta, sampai para pejabat rame-rame nonton filmnya. lupa kalau ada ayat-ayat kemiskinan, ayat-ayat penderitaan, ayat-ayat ketidakadilan.
    kapan dibahas?

  9. esterlianawati permalink*
    April 3, 2008 10:00 am

    Iya neh kyknya sy jg kena gombalnya ayat-ayat cinta sampe lupa ama ayat-ayat laen yg anda sebutkan😉
    Makasih buat masukannya ya. Kpn2 coba kubuat ayat2 yg laen itu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: