Skip to content

Perjalanan Psikologi Feminis

March 17, 2008

Psikologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat dikatakan androsentris. Psikologi berdiri dan berkembang oleh para ilmuwan laki-laki. Teori-teori dasarnya pun diambil dari kehidupan laki-laki. Misalkan saja Erik Erikson yang mengemukakan teori perkembangan manusia padahal penelitiannya hanya didasarkan pada kehidupan tiga remaja laki-laki[1]. Atau jika teori itu didasarkan pada kehidupan perempuan, yang diambil adalah pasien perempuan yang neurotik. Misalnya saja teori besar dari Sigmund Freud yang didasarkan pada kehidupan pasien-pasien perempuannya yang neurotik[2]. Namun teori ini justru dijadikan salah satu teori utama dalam psikologi.

Dalam perkembangannya, psikologi kemudian melihat ketimpangan-ketimpangan gender dalam ilmunya. Psikologi berusaha melihat lebih jauh, dan sebenarnya ini sudah dimulai sejak 1876 ketika Mary Putman Jacobi menyatakan bahwa perempuan membutuhkan istirahat fisik dan mental secara khusus saat menstruasi[3]. Disusul kemudian oleh Helen Thompson Wooley, Leta Stetter Hollingworth, dan masih banyak lagi psikolog feminis lainnya. Mereka perlahan mulai membuka jalan untuk teori-teori psikologi mengenai perempuan dikaji ulang meskipun pengkajian ini sulit dilaksanakan. Bahkan sekitar akhir tahun 1970-an, Erik Erikson masuk dengan teori barunya mengenai perkembangan manusia, yang kini bahkan begitu populer di kalangan psikologi perkembangan.

 

Namun perjuangan para psikolog yang feminis tidaklah usai. Di tahun 1970-an ketika kaum feminis mengangkat isu KDRT ke publik, seorang psikolog feminis, Lenore Walker, mengguncang dunia psikologi dengan hasil penelitiannya mengenai sindrom perempuan teraniaya (battered women’s syndrome)[4]. Meskipun banyak dikritik, di antaranya oleh Mary Ann Dutton, teori Lenore Walker tentang dampak dan siklus kekerasan membuka pemahaman baru mengenai kondisi psikologis korban. Hasil penelitiannya ini bahkan diaplikasikan dalam bidang hukum, khususnya dijadikan sebagai landasan untuk membela korban KDRT yang menjadi pelaku pembunuhan terhadap suaminya[5]. Salah satu kasus yang terkenal adalah Kiranjit Alwuhalia, seorang perempuan India yang akhirnya dibebaskan dari penjara di London. Pembunuhan yang dilakukannya dianggap sebagai dampak sindrom perempuan teraniaya.

 

Setelah Lenore Walker, tokoh psikologi yang kembali menggaungkan isu perempuan adalah Carol Gilligan. Ia mengkritik perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg, yang menempatkan perkembangan moral perempuan pada posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Menurut Gilligan, perempuan memiliki tahap perkembangan moral tersendiri karena perempuan bertumbuh dengan pengalaman yang berbeda dibandingkan laki-laki[6]. Ia kemudian mengembangkan konsep etika kepedulian, yang berlawanan dengan etika keadilan milik laki-laki. Konsep ini kemudian membuat kaum feminis mulai berpikir untuk melihat kelebihan perempuan, menjadikannya sebuah keunikan, dan bukan malah menghilangkannya. Dampak teori Gilligan pada perkembangan teori hukum feminis juga sangat besar.

Bersamaan dengan bertumbuhnya gerakan feminis gelombang kedua pada tahun 1970an itu, psikologi mengembangkan sebuah terapi yang dinamakan terapi feminis (feminist therapy). Terapi ini dimulai di Iowa kemudian menyebar ke Oklahoma. Selanjutnya terapi ini digunakan untuk menangani kasus-kasus kekerasan domestik dan perkosaan, yang sebelumnya diabaikan dalam bidang kesehatan mental. Di tahun 1982, Institut Terapi Feminis didirikan dan tahun 1987 diciptakan kode etiknya yang kemudian diperbaharui pada tahun 1999[7].

 

Terapi feminis sangat berbeda dengan psikoterapi lain dalam hal menggunakan konteks sosial yang lebih luas dalam melihat permasalahan individu. Terapi ini terbentuk atas dasar keyakinan bahwa masalah intrapsikis seringkali bersumber dari luar diri klien seperti seksisme, diskriminasi, kekerasan, dan sebagainya. Terapi ini juga membawa isu kekuasaan (power). Oleh karena itu, terapi ini berfokus pada perubahan sosial, bukan sekedar perubahan individu[8].

Namun perlu diingat bahwa untuk bukan hanya perempuan yang membutuhkan terapi, tetapi juga laki-laki. Jika hanya kesejahteraan perempuan yang diperhatikan, maka pada akhirnya nanti hanya akan menimbulkan opresi dengan korban baru, yaitu laki-laki. Tambahan pula, dalam kehidupan di dunia ini yang jelas terisi oleh perempuan dan laki-laki, maka kesejahteraan perempuan pun dipengaruhi oleh interaksinya dengan laki-laki. Dengan demikian, dunia yang lebih baik hanya akan tercapai jika kesejahteraan laki-laki dan perempuan sama-sama diperhatikan.

Sementara itu, laki-laki bentukan budaya patriarki bukanlah laki-laki yang senang mendiskusikan masalah pribadinya dengan orang lain. Laki-laki juga diajarkan untuk tegar menghadapi masalahnya sendiri dan sedapat mungkin tidak mencari bantuan. Laki-laki dididik untuk tidak mengekspresikan kesedihan dan kecemasannya. Hal-hal seperti ini tentu menghambat laki-laki untuk menemui seorang konselor. Padahal laki-laki bukannya tanpa masalah. Sebagai contoh saja, dibesarkan dalam masyarakat yang menekankan perannya sebagai pencari nafkah, laki-laki yang tidak sukses berkarir akan rentan terkena stres.

Mengingat hal-hal di atas, terapi feminis pun dimodifikasi menjadi terapi sensitif gender (Gender Sensitive/Gender Aware Therapy). Terapi ini melihat masalah laki-laki dalam konteks gender. Terapi ini juga berbeda dengan terapi lain yang sesinya didominasi oleh ‘bercerita’, terapi ini lebih menekankan kepada sesi melakukan kegiatan. Hal ini dikarenakan interaksi laki-laki lebih bersifat action based, dan bukan talk-based.

Sampai saat ini, psikologi feminis terus berusaha memperjuangkan yang terbaik bagi kaum perempuan. Dalam perjuangan ini, kesejahteraan kaum laki-laki pun tidak diabaikan. Karena tujuannya bukan menukar korban opresi dari perempuan menjadi laki-laki, melainkan meniadakan opresi tersebut.

[1] Williams, Juanita H. Psychology of Women. Behavior in a Biosocial Context. 3rd ed. (USA : W.W. Norton & Company, Inc. 1987) 57.[2] Setelah ditelusuri lebih lanjut, para perempuan ini neurotik karena bentukan budaya patriarkis.[3] Crawford, Mary & Unger, Rhoda. Women and Gender : A Feminist Psychology. 3rd ed. USA : McGraw-Hill Companies. 2000.

[4] Oleh Barnett, Ola W & LaViolette, Alyce. D. (1993). It Could Happen to Anyone : Why Battered Women Stay. USA : SAGE Publications.

[5] Oleh Geneva Brown, dalam When The Bough Breaks : Traumatic Paralysis-An Affirmative Defense For Battered Mothers.

[6] Dalam In a Different Voice, 1982.

[7] http://austinfeministtherapist.com/history.html

[8] Crawford, Mary & Unger, Rhoda. Women and Gender : A Feminist Psychology. 3rd ed. USA : McGraw-Hill Companies. 2000.

7 Comments leave one →
  1. June 9, 2008 5:58 pm

    Hi, saya mau tahu lebih banyak tentang feminisme, gender, ataupun hal2 lainnya yang berkaitan. Emm…mungkin kita bisa saling kontak. thanks!

  2. esterlianawati permalink*
    June 10, 2008 6:27 am

    Hi, salam kenal. Ku-link blogmu ya biar lbh gmpg kontaknya😉

  3. feb permalink
    June 18, 2009 11:51 am

    hihi ^^
    ak ge cari psikolog feminis therapy tapi malah ktmu ini..

  4. diljerti permalink
    October 30, 2011 4:51 pm

    hai mau nanya kenapa feminis terapi g populer di indonesia?

    • Ester Lianawati permalink*
      November 4, 2011 10:21 pm

      Hai Diljerti, mnrt sy mmg blum populer krn kita msh dlm proses menuju ke sana.
      msh sdkt fak psikologi yg memberikan mata kuliah psikologi perempuan dan gender sbg slh satu mata kuliah, apalagi mengajarkan terapi feminis. jd mhsw psikologi dan psikolog pun blum terpapar dgn terapi feminis.

  5. Anonymous permalink
    November 8, 2011 9:53 am

    mungkinkah ketidak populeran feminis terapi krn budaya indonesia?

    • Ester Lianawati permalink*
      November 14, 2011 11:17 pm

      dlm konteks saat ini, bisa saja. tp sbnrnya budaya patriarkal justru menjadi dsr tercetusnya terapi feminis krn terapi ini memang bertujuan utk menghapuskan budaya tsb. Berbeda dgn terapi lain dlm psikologis yg sifatnya personal, terapi ini merupakan sebuah gerakan sosial krn dimaksudkan utk memberdayakan perempuan agar berperan dlm menghapuskan budaya patriarkal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: