Skip to content

Bahasa dan Feminisme Posmodern

March 12, 2008

Feminisme posmodern (postmodern feminism) adalah sebuah pendekatan terhadap teori feminis yang memadukan teori posmodern dan postrukturalisme. Para tokoh feminisme ini menghindari istilah-istilah yang mengisyaratkan adanya suatu kesatuan yang membatasi perbedaan. Mereka menolak untuk mengembangkan penjelasan dan penyelesaian yang menyeluruh mengenai opresi terhadap perempuan. Meskipun hal ini menghadirkan masalah besar bagi teori feminis, namun penolakan ini juga memperkaya pluralitas dalam feminisme.

Feminis posmodern mengundang setiap perempuan yang berefleksi dalam tulisannya untuk menjadi feminis dengan cara yang diinginkannya. Tidak ada satu rumusan tertentu untuk menjadi ‘feminis yang baik’. Pada dasarnya feminisme posmodern memang menentang karakterisasi. Namun demikian, sebenarnya kita dapat menemukan satu tema atau orientasi yang sama pada konsep-konsep yang ditawarkan para feminis posmodern. Tema tersebut yaitu bahwa seksualitas dikonstruksi oleh bahasa; pengalaman manusia terletak pada bahasa, termasuk di dalamnya adalah mengenai opresi terhadap perempuan yang bersumber pada bahasa. Karena kekuasaan (power) terjadi melalui bahasa yang telah membatasi realitas manusia. Oleh karena sumber opresi adalah bahasa, maka lewat bahasa pula kita dapat mengatasi opresi terhadap perempuan.

Dengan bertolak dari eksistensialisme dari Simone de Beauvoir, dekonstruksionisme dari Jacques Derrida, dan psikoanalisis-nya Jacques Lacan, para feminis posmodern seperti Hélène Cixous, Luce Irigaray, dan Julia Kristeva menawarkan pandangan masing-masing mengenai bahasa. Misalkan saja dengan mengadopsi konsep différance milik Derrida, Hélène Cixous mengkontraskan tulisan feminin (l’écriture feminine) dan tulisan maskulin. Tulisan yang berkualitas adalah tulisan yang mengandung ‘gairah’ sebagaimana yang terdapat dalam tulisan feminin, bukan mengandung rasio (reason) seperti pada tulisan maskulin. Ia mengajak untuk menulis jenis tulisan feminin dengan terus mengeksplorasi seksualitas, erotisme, dan femininitas. Menurutnya seksualitas feminin dan tubuh perempuan adalah sumber dari tulisan perempuan.

Pendapat Hélène Cixous ini disetujui oleh Luce Irigaray, yang lebih lanjut berbicara tentang bahasa perempuan yang bukan bahasa laki-laki atau bahkan bahasa netral gender sekalipun. Ia mengkontraskan implikasi singularitas organ seksual laki-laki dengan implikasi organ seksual perempuan dengan memusatkan suara perempuan pada labia,”dua bibir”, yang menampilkan pluralitas dari seksualitas perempuan. Sedangkan pengkontrasan yang dilakukan Julia Kristeva adalah antara tahap semiotik (pra-Oedipal) dengan simbolik (pos-Oedipal).

Berbeda dengan Hélène Cixous dan Luce Irigaray, Kristeva menolak ide tentang tulisan feminin. Hal ini dikarenakan ia menentang identifikasi feminin dengan perempuan biologis dan maskulin dengan laki-laki biologis. Oleh karena itu menurutnya laki-laki dapat menulis dengan modus feminin, dan sebaliknya perempuan menulis dengan modus maskulin. Bahkan menurutnya, tulisan feminin dari seorang laki-laki lebih memiliki potensi revolusioner dibandingkan tulisan feminin perempuan.

Saya tertarik dengan permasalahan bahasa yang diangkat oleh para feminis posmodern. Pertama adalah penjelasan Luce Irigaray bahwa bahasa ibunya, yaitu bahasa Perancis, mengandung banyak bias gender. Misalkan saja kata ganti untuk mereka akan selalu menggunakan ils, bentuk jamak dari laki-laki (il). Meskipun dalam kumpulan trilyunan manusia hanya ada satu laki-laki, tetap saja kata ganti yang digunakan adalah ils. Demikian pula dengan perubahan bentuk kata kerja. Jika subyek lebih dari satu dan ada laki-laki di dalamnya meskipun hanya seorang, maka perubahan kata kerja akan disesuaikan mengikuti bentuk kata kerja untuk laki-laki. Misalkan saja kalimat-kalimat berikut ini :

Pierre (laki-laki) est parti. Marie (perempuan) est partie.

**[Jadi kata kerja untuk perempuan akan mendapat tambahan e, sedangkan laki-laki tidak].

Catherine et Marie (keduanya perempuan) sont parties. Pierre et Marie (salah satu adalah laki-laki) sont partis. **[Jadi terlihat ketika ada laki-laki, maka aturannya mengikuti aturan laki-laki].

Dalam bahasa ibu kita, Indonesia, bias gender inipun tidak terhindarkan. Mulai dari konotasi sebutan feminin dan maskulin. Misalkan untuk sebutan yang feminin kita kenal, seperti “ibu kota, induk semang, nenek moyang, dewi malam (‘bulan’), putri malu (sejenis bunga), ibu pertiwi, dan ratu adil, dan bukan *bapak kota, *jago semang, *kakek moyang, *dewa malam, *putra malu, *bapak pertiwi, dan *raja adil”. Dengan memakai ibu, induk, nenek, dewi, putri, dan ratu, nuansa kesan yang memancar adalah kedamaian, kepasifan, ketenangan, kesabaran. Menurut Jupriono, agaknya sudah menjadi “kodrat”, bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif, diam, dan damai. Sedangkan sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai, agresif, dan pemberani akan dilekatkan kepada laki-laki. Misalkan raja hutan (‘singa, macan’), raja siang (‘matahari’), dewa maut, dewa perang, bapak pembangunan, bapak koperasi, bapak pendidikan nasional, atau jago matematika. Dan bukan *ratu judi, *ratu copet, *ibu pembangunan, *ibu koperasi, *ibu pendidikan nasional, atau *babon matematika.

Atau coba kita bandingkan dua kalimat berikut ini :

♣ Laki-laki atletis itu terlihat malu-malu.

♣ Perempuan seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri.

Kita akan lebih melekatkan konotasi positif kepada kalimat kedua. Mengapa demikian? Menurut Jupriono, kata yakin dan percaya diri merupakan ciri-ciri yang dianggap maskulin. Jadi yang maskulin dilekatkan kepada yang feminin maka konotasi positif yang akan muncul. Tetapi ketika malu-malu yang feminin dilekatkan kepada laki-laki, konotasinya akan menjadi negatif.

Selain permasalahan bias gender dalam bahasa, saya tertarik untuk mengomentari bahwa tulisan feminin laki-laki lebih berpotensi revolusioner menurut Julia Kristeva. Saya belum dapat menilai apakah tulisan almarhum Pramoedya Ananta Toer adalah tulisan feminin. Namun banyak feminis berpendapat demikian. Dan sepertinya dampak tulisan beliau memang mengguncangkan.

Berbicara tentang posmodern, juga tidak akan lepas dari chick-lit. Banyak yang berpendapat bahwa tokoh-tokoh yang diperankan dalam chick-lit merupakan representasi perempuan yang dimaksud oleh feminisme posmodern. Demikian pula dengan film-film seperti Sex and the City, Ally MacBeal, dan Bridget Jones’ Diary yang sebenarnya juga diangkat dari chick lit. Perempuan-perempuan dalam chick-lit dan film-film tersebut digambarkan seksi, cerdas, independen dalam banyak hal (finansial salah satunya). Mereka bahkan tampil ‘genit’ menggoda (flirty) namun juga confrontational, sehingga seringkali dipadukan menjadi flirtational. Namun mereka juga tetap membutuhkan laki-laki, dan terlibat dalam romansa heteroseksual. Bahkan akhir cerita biasanya perempuan akan bersama dengan laki-laki yang dicintai dan mencintainya. (Menurut saya pribadi, chicklit bukan sebuah karya feminisme posmodern, melainkan hasil dari backlash feminism).

Jadi sepertinya benar bahwa seksualitas dan keperempuanan itu plural sifatnya. Kita tidak dapat menentukan feminisme seseorang. Perempuan dapat menjadi feminis dalam bentuk apapun yang dipilihnya. Oleh karena itu ketika banyak perdebatan mengenai feminisme Ayu Utami, ia sendiri mengatakan dirinya bukan feminis. Namun demikian salah satu redaksi penerbit Jalasutra dalam kata pengantarnya terhadap buku Postfeminism and Cultural Studies menyatakan bahwa mungkin Ayu Utami merupakan gambaran feminis posmodern. Berbicara tentang kontroversi mengenai feminisme Ayu Utami dalam tulisan-tulisannya, saya jadi berpikir apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan tulisan feminin. Banyak yang mengatakan bahwa tulisan Ayu adalah tulisan perempuan, namun ada juga yang berpendapat tulisannya masih mengandung falosentrisme. Seperti yang dikemukakan oleh Katrin Bandel misalnya, dalam tulisannya mengenai heteronormatifitas dan falosentrisme Ayu Utami. Jadi sepertinya perempuan pun belum mempunyai definisi yang seragam mengenai apa itu tulisan feminin. Unsur subyektifitas masih sangat kental dalam memberikan penilaian. Namun mungkin memang itu yang dimaksud dengan pluralitas dalam feminisme posmodern. kita sendiri sebagai perempuan yang berhak menentukan feminisme kita.

Jakarta, 22 November 2006.

11 Comments leave one →
  1. June 10, 2008 5:33 pm

    saya kira esensi Feminisme adalah “memanusiakan wanita” (baca: menghargai hak2 wanita sbg manusia, membebaskannya dari tirani dan hegemoni laki-laki/patriarki) dan bukan “me-lelaki-kan wanita” spt dalam pemikiran Feminis-radikal/posmo itu..

    salam kenal..

  2. ninid permalink
    October 17, 2008 4:52 am

    haluu salam kenal,,hehehe,,btw aku tuh maw bikin mkalah buat filsafat tentang postmodernism,,dan yang aku ambil feminisme,,tapi fenomenanya pengenya tentang Caleg2 cewek yang mulai berperan aktif di kancah dunia politik,,pernah denger tentang Seyla Benhabib gak??aku maw dung link2 yang memuat tentang tokoh itu tyus ada tokoh lain gak yah yang menunjang makalah itu ,,aku maw dung infonya,,makasih yah kak esterr,,kalo bisa balesanya ke email ajah,,hehehe,,gud day

  3. esterlianawati permalink*
    October 20, 2008 6:00 am

    Hai Ninid, salam kenal jg ya.
    Sudah kubalas ke emailmu ya non.
    gud day, too.;)

  4. sapto permalink
    October 30, 2008 3:50 pm

    Halo Ester, buku FEMINISM AND SOCIALISM Putting
    the Pieces Together mungkin bisa memberikan inspirasi (jika belum baca lho..). memang kental sosialisme-nya, tapi bisa memberikan gambaran bagaimana “perjuangan” feminisme.

  5. esterlianawati permalink*
    October 31, 2008 8:45 am

    Hai Mas Sapto,
    Aku blum baca kok😀
    Tengkyu ya

  6. kribo permalink
    October 31, 2008 10:56 am

    Apakah feminisme hanya untuk perempuan?
    Postmodern bukan tanpa batasan, lebih pada adanya ruang bagi variasi karakter dan cara dalam memperjuangkan feminism. Bagaimana batasan feminism?
    Feminism tanpa karakterisasi?? Feminism bukan sekedar aktualisasi diri, karena jika itu yang terjadi maka dimungkinkan perempuan melawan perempuan dibawahnya karena kekuasaan yang dipegangnya. Usaha untuk mewujudkan diri tidak dapat dicapai tanpa adanya akses, kesempatan dan penghargaan yang layak. Atas logika tersebut, maka sangat tidak layak apabila feminism dituangkan dengan mengabaikan atau justru menerima batasan-batasan di dalamnya.
    Feminism menempatkan landasan perempuan adalah termarginalisasi, terbelenggu dan tertindas baik secara ekonomi, sosial dan budaya. Hal tersebut menyetarakan feminism dengan gerakan lain yang memperjuangkan kaum marginal, dimana keadilan, kesetaraan dan kesejahteraan sistematik dapat tecapai.
    Bahasa = percaya pembatasan kelamin, mengabaikan kemampuan persepsi dan interpretasi individu. Bahasa tidak dapat dipungkiri sangat kental dengan muatan patriarkhi, karena bahasa itu sendiri muncul dari budaya patriarkhi. Kebebasan dari ikatan bahasa dan patriarkhi dapat dilakukan dengan asumsi bahwa sebuah gerakan feminsim itu sendiri tidak terbatas dengan sifat-sifat feminim seperti…. namun lebih pada bagaimana perempuan, yang dinyatakan/diidentikkan dengan feminim dapat menciptakan kesetaraan dan kebebasan ruang dari budaya patriarkhi. Apabila asumsi dasar diletakkan pada bahasa, maka kesulitan sudah muncul sebelum gerakan itu sendiri berjalan, karena bahasa sebagai bentuk budaya yang paling dasar lebih sulit untuk dirubah bahkan dibanding tujuan dan nilai-nilai sakral budaya itu sendiri. Dan hal itu akan membunuh kemungkinan perjuangan feminism itu sendiri, kecuali menuju titik rumit yang menjauhkan perjuangan dari realita dan membatasi pada telaah semantik.
    Bahasa yang patriarkhi? Jika feminism itu sendiri mampu melepaskan diri dari ikatan dan batasan kelamin maka keberpihakan bahasa akan mengalami degradasi nilai seiring dengan pemahaman masyarakat terhadap skema nilai, struktur dan pembagian sosial. Proses persepsi dan skema kognitif.
    Chicklit dan feminsim? Sampah yang membunuh perempuan dari dalam, menghanyutkan permpuan muda dalam romantisme murahan, sekaligus memperkuat pencitraan perempuan sebagai “feminim”. Sekadar tulisan yang berorientasikan keuntungan, seperti halnya produk kecantikan yang seolah “membantu” perempuan seolah mengekspresikan diri walau sebenarnya mengikat perempuan dengan ikon-ikon kecantikan yang menjerumuskan (mereka sama-sama pencari uang!!!!). kesalahan terbesar dari penilaian tersebut adalah karena chicklit ditulis perempuan maka menjadikannya sebuah karya yang diidentikkan dengan feminism.
    Laki-laki feminis, mungkinkah? Sebagai sebuah gerakan yang tidak terbatas pada klasifikasi kelamin, maka hal ini jelas mungkin…

  7. esterlianawati permalink*
    November 6, 2008 3:54 am

    Yup bener, orang sering menyamakan posfeminis sbg tanpa batas, apa aja masuk, akhirnya bablas. Pdhl shrsnya ttp melihat tujuan feminis itu sndr.

    Mmm, emang sih bukan skdr aktualisasi diri, tp aku gak setuju jg kl krn aktualisasi diri itu malah jd menindas perempuan lain di bawahnya. Krn aktualisasi mnrtku mengandung nilai-nilai positif, didasarkan pd teori humanistik. Aktualisasi diri yg sejati seharusnya gak boleh merugikan org lain.

    Ttg chick lit, aku setuju tuh. Mnrtku chick lit adlh hasil backlash feminism yg mengartikan posfeminisme scr salah. Sayang jg ya bnyk yg mengartikannya sbg karya posfeminis.

    Laki2 feminis, emang jelas mgkn. Sklpun dia gak ngalamin sendiri jd perempuan, tp dia bs bljr dr pengalaman perempuan lainnya utk bs jd feminis..🙂

  8. arin permalink
    December 1, 2008 7:56 am

    wah, senengnya bisa nemuin blog kak ester yg sering ngomongin gender dgn segala permasalahannya…

    kebetulan, aku lagi stuck bwt analisis skripsiku….
    lah koq, kebetulan yg aku pengen ada di blog kak ester…

    yah, yahh….
    aku lg pgn ngebahas stereotip gender yang dikaji dari bahasa yg dipake ma remaja…

    kalo blh,mhn sudi kiranya bertukar pikiran….

    makasih kak,
    salam kenal yah…

  9. esterlianawati permalink*
    December 10, 2008 5:02 am

    Salam kenal jg, arin.
    stereotip gender yg dikaji dr bhs yg dipake ama remaja..
    wah menarik ya. klmpk remaja yg km teliti itu scr umum ato lbh spesifik lg?

  10. mpusimud permalink
    April 11, 2011 12:12 pm

    k ester ak ambl datany bwat bhan paper q gpp y..
    sxan ak mw tny liyan itu ap y?tq

    • Ester Lianawati permalink*
      April 18, 2011 12:44 am

      Ok gpp. Senang tulisan ini bs bermanfaat🙂
      Liyan itu artinya “yang lain” (the other).
      mksdnya di sini adalah perempuan dipandang sebagai “yang lain dari laki-laki/bukan laki-laki/tidak “utuh atau lengkap” seperti laki-laki, sehingga perempuan cenderung ditindas/direndahkan. Smg penjelasan ini engga tambah bikin bingung ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: