Skip to content

Chick Lit, Postfeminism or Backlash Feminism?

February 19, 2008

Sejak kemunculan sebuah buku berjudul Bridget Jones’s Diary pada tahun 1997, istilah chick lit[1] mulai dikenal. Buku ini menjadi buku terlaris di negara asalnya pada saat itu, yakni Inggris. Sejak itu buku-buku serupa bermunculan, tidak hanya di negara asalnya tetapi juga merambah ke Amerika Serikat.

Di kedua negara tersebut, chick lit mendapatkan mencatat angka fantastis dalam penjualan. Bridget Jones’s Diary bahkan terjual sebanyak 10 juta kopi dalam kurun waktu lima tahun sejak pertama kali diterbitkan. Sejak kemunculannya, buku karya penulis terkenal seperti John Grisham dan Tom Clancy menurun angka penjualannya. Novel romantis seperti Harlequin juga mengalami penurunan angka penjualan yang drastis (Marsh, 2002). Sampai-sampai Harlequin merasa perlu untuk meluncurkan Red Dress Ink, yaitu divisi khusus yang menerbitkan buku serupa chick lit.

Melihat sambutan yang begitu hangat terhadap chick lit, para penerbit di berbagai belahan dunia pun tertarik untuk membeli hak cipta chick lit dan menterjemahkannya. Termasuk Indonesia, yang menerbitkan chick lit terjemahan sejak bulan Maret 2003. Hak ciptanya dipegang oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama yang saat itu langsung meluncurkan empat buah chick lit. Keempat chick lit tersebut telah dicetak ulang dan terjual sebanyak belasan ribu eksemplar hanya dalam waktu satu tahun.

Chick lit sepertinya telah menjadi fenomena dunia. Ia dianggap membawa warna baru dalam khasanah bacaan hingga dianggap perlu memberi nama genre baru, yakni chick lit untuk membedakannya dari bacaan lain. Mulai dari kemasannya, chick lit memang sudah tampil berbeda. Sampulnya berwarna pastel, ceria, dan diberi ilustrasi ala kemasan boneka Barbie. Gambar-gambar berupa sepatu wanita dengan hak tinggi, gelas martini, lipstik, tas belanja, atau gambar lain yang identik dengan perempuan, biasanya melengkapi ilustrasi di sampul chick lit. Tidak ketinggalan pula label bertuliskan chick lit dan frase “being single and happy” (menjadi lajang bahagia), disertai gambar perempuan dengan rok mini yang sedang duduk menyilangkan kaki. Label ini ditempelkan di setiap chick lit, untuk menjadi penanda bahwa buku tersebut adalah chick lit.

Chick lit diceritakan dengan bahasa yang ringan. Judulnya pun terdengar ringan. Sebut saja Buku Harian Bridget Jones (Bridget Jones’ Diary), Bos Paling Kejam Sedunia (The Devils Wears Prada)[2], atau Besar itu Indah (Does My Bum Look Big in This). Judul-judul ini tentu jauh berbeda dengan fiksi romantis ala Mira W atau Marga T, seperti Seribu Tahun Ku Menanti, Di Bahumu Kubagi Lukaku, ataupun Badai Pasti Berlalu.

Pembaca juga tidak perlu banyak berpikir untuk memahami isi cerita karena dalam chick lit tidak pernah dibahas permasalahan filsafat, budaya, agama, atau topik serius lainnya. Chick lit hanya berbicara seputar perempuan, belanja, kosmetika, pakaian, sepatu hak tinggi, alkohol, seks, karir, dan kebutuhan perempuan akan laki-laki. Itulah sebabnya istilah chick dikonotasikan dengan pengertian ringan, yang menunjuk kepada makna kurang berbobot.

Oleh karena itu terlepas dari angka penjualan yang fantastis, chick lit pun banyak menuai kritik dalam jumlah yang fantastis pula. Sebagai literatur, chick lit diragukan kualitasnya. Menurut Maureen Lynch Cooke, banyak ahli sastra yang tidak mengakui chick lit sebagai sebuah karya sastra. Chick lit dianggap bukan bacaan bermutu, bahkan mendapat julukan sebagai bacaan pantai, karena saking ringannya, dapat dibaca sambil berjemur di tepi pantai, dan setelah itu dilupakan.

Selain dari kelompok orang yang menggeluti sastra, kehadiran chick lit juga menarik perhatian feminis. Banyak feminis yang mengkritik bahwa chick lit bukan karya baru, melainkan hanya sebuah penulisan ulang fiksi romantis yang melanggengkan stereotipe perempuan hasil konstruksi budaya patriarki. Bahkan istilah chick lit itu sendiri pun dianggap sudah merendahkan perempuan, karena chick itu juga berarti ayam.

Namun sebagian feminis menganggap chick lit merupakan karya yang menampilkan sosok perempuan yang sesuai dengan cita-cita feminis. Hal ini karena chick lit menggambarkan kehidupan perempuan lajang dengan akhir cerita yang bukan pernikahan. Bahkan chick lit dianggap sebagai representasi perempuan masa sekarang, yang disebut sebagai generasi posmodern.

Cris Mazza, Michele M. Glasburgh, Jennifer Scanlon, adalah beberapa orang yang  menyetujui chick lit sebagai literatur posfeminis. Mereka mencoba memaparkan posfeminisme (postfeminism) dalam chick lit dengan alasan masing-masing. Namun setelah berusaha mencerna pendapat-pendapat Mazza, Scanlon, Glasburgh, saya justru mempertanyakan apakah benar chick lit merupakan literatur posfeminis. Dalam pandangan saya, mereka hanya mengambil istilah-istilah dalam posfeminisme untuk kemudian mengklaim chick lit sebagai posfeminisme tanpa memahami ide dasar dari istilah-istilah tersebut.

Saya mencoba mengangkat ide-ide dari Rosalind Gill, Elena Herdieckerhoff, Susan Bordo, Susan Faludi, Bonnie J. Dow, dan Hélène Cixous, untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya chick lit bukanlah literatur posfeminis. Chick lit hanya merupakan dampak dari backlash feminism yang seringkali disalahartikan sebagai posfeminisme.

(Bagi teman-teman yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh artikel ini, dapat menghubungi saya di blog ini atau email ke esterlianawati@yahoo.com)  


[1] Chick lit berasal dari kata chick yang berarti perempuan muda dan literature yang berarti tulisan. Chick lit adalah sebuah tulisan yang menceritakan kehidupan perempuan lajang di usia lebih dari dua puluh atau tiga puluh tahun.

12 Comments leave one →
  1. Maria permalink
    February 20, 2008 5:47 am

    hidup chicklit…hihihi😀

  2. Novita Dewi permalink
    April 7, 2009 8:08 am

    Terimakasih untuk artikel Ester yang cerdas ini. Saya ingin baca versi lengkapnya. Saat ini saya sedang meneliti ChickLit bernuansa Islami. Tokoh-tokoh utamanya siswa/siswi pesantren. Sejauh ini saya baru melihat adanya logika pembentukan identitas para remaja yang biasanya tidak selalu gayut dengan (pel)ajaran yang didapat dari ortu, sekolah, guru agama, dsb. Singkatnya, identitas mereka dibentuk dan ditemukan lewat pengalaman sehari-hari dengan kawan sebaya.

  3. Novita Dewi permalink
    April 7, 2009 8:24 am

    Terimakasih untuk artikel Ester yang cerdas ini. Saya ingin baca versi lengkapnya. Saat ini saya sedang meneliti ChickLit bernuansa Islami. Sejauh ini saya baru melihat adanya logika pembentukan identitas para remaja yang biasanya tidak selalu gayut dengan (pel)ajaran yang didapat dari ortu, sekolah, guru agama, dsb. Singkatnya, identitas mereka dibentuk dan ditemukan lewat pengalaman sehari-hari dengan kawan sebaya.

  4. Novita Dewi permalink
    April 7, 2009 8:42 am

    Ups, maaf keposting 2X. Agak gaptek dan baru kali ini coba-coba komunikasi lewat blog.

    Kalau boleh dilanjutkan,
    Akankah ChickLit Islami terus berkembang? Walau cahayanya mulai meredup sekarang,latihan menulis ini masih amat diperlukan.

    Numpang tanya: apakah ada ChickLit semacam dari kelompok/agama lain yang cukup substansial untuk bisa menjadi sebuah genre?

  5. esterlianawati permalink*
    April 14, 2009 8:52 am

    Hai Mbak Novita,
    maaf ya br balas koment mbak.. Aku kirim versi lengkapnya ke email mbak ya😉 mohon kritik dan saran skalian hehe.
    Sy kira chicklit Islami bs saja trs berkembang. Kl ttg chicklit dr agama lain, trs terang sy blum baca. Tp kl dr klmpk lain, sy prnh baca chicklit dr negara lain spt Cina dan India. Yg dr India lbh bagus mnrt saya, lbh keliatan nuansa budayanya. Perbenturan dgn nilai2 yg tradisional lbh keliatan.
    Sukses ya Mbak buat penelitiannya. Nanti kl boleh hslnya di share biar jd bljr lbh bnyk ttg chicklit Islami yg trus terang aku jg msh awam :)Tengkyu, mbak.

  6. Silka permalink
    June 25, 2009 4:24 am

    Lam kenal Mba Ester..

    sy lagi cari2 bhan untuk thesis nih.. trus ktm blog mba ini.. kyknya seru jg klo bisa diskusi soal chicklit disini, apalagi kan ada pembahasan post-feminis ama feminisnya..
    sy ambil topik chick lit buat thesis, tapi sy lebih bahas ke sisi consumerism yg digambarin di dalem novel chicklit.. klo chicklit luar mrk uda ada penelitian sdikit ttg itu.. nah sy mau ngelakuin hal yg sm buat novel chick lit Indo.. ada temen yg sama2 tertarik untuk studi ttg chick lit kyknya seru jg.. bs sharing info
    klo mba pernah ngbahas sisi gambaran cerita dlm chicklit yg nggambarin realita hidup, kyk lifestyle wanita kota jaman skr.. mungkin bs sharing ke sy.. thx..

  7. Silka permalink
    June 25, 2009 4:27 am

    eh iya.. sblmnya thx yah mba atas infonya.. =)

  8. esterlianawati permalink*
    June 30, 2009 7:27 am

    hai silka, coba kukirim tulisanku ini ke kamu ya, brgkali bs tmbh info🙂 share jg tesismu nanti ya😉 gudlak to u, silka.

  9. yoedha permalink
    April 8, 2010 4:33 pm

    salam knal mbak ester.. sy seorang mhsiswa FH di slh satu Unvrstas ngeri du Bdg. mbak.. sy skrg lg nyusun skripsi ttg penelantaran rumah tangga, tp sy kesulitan bahan rfrensinya. di mbak yg tbaru ‘tiada keadilan tnp kepedulian KDRT’ sngt sdkt mbhas penelantaran rmh tngga. dari mn sy bs mendapatkan bahan” ilmiah terkait mslh tsb mbak.mohon bantuannya mbak. sy ucapkan terimakasih sebelumnya.

    • Ester Lianawati permalink*
      April 11, 2010 2:41 am

      Slm kenal jg, Yoedha. Memang utk penelantaran ekonomi belum bnyk saya bahas di buku. Sy jg br saja mau mencari2 utk penjelasan ilmiahnya dr jurnal2 luar krn mmg utk kekerasan ekonomi ini kasusnya jg sulit diangkat oleh kepolisian. Tp kl utk data2nya, mgkn km bs hub LBH APIK. Sy krg tau alamat LBH APIK di Bandung, tp coba km tny LBH APIK Jakarta di 021-87797289. Atau km jg bs hub Rifka Annisa di Yogyakarta, utk kontaknya bs liat di http://www.rifkaannisa.or.id. Setau saya, kedua lembaga ini cukup aktif menuliskan hsl pendampingan atau pemantauan mrk di lapangan dlm bentuk buku2. Ok, good luck ya.

  10. ela permalink
    December 29, 2010 12:27 pm

    suka banget dengan tulisan mba.
    saya berencana menulis tesis tentang postfeminism di film sex and the city series. tapi masih bingung tentang aspek” apa saja yang bisa dikaji.
    apa mba ada saran? mungkin bisa di share ke saya.
    terimakasih sebelumnya ^__^
    salam kenal =)

    • Ester Lianawati permalink*
      April 18, 2011 12:54 am

      Dear mbak Ela,
      mohon maaf utk respons yg sgt terlambat ini. Smg mbak Ela sudah mendapatkan ide utk tesis.
      Sy kirimkan tulisan lengkapnya, smg saja msh bs bermanfaat.
      Salam hangat.
      Ester

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: