Skip to content

Merentang Waktu, Merawat Cinta

February 14, 2008

Time after time I tell myself

That I’m so lucky to be loving you

So lucky to be the one you run to see

In the evening when the day is through

I only know what I know

The passing years will show

You’ve kept my love so young, so new

And time after time

You’ll hear me say

That I’m so lucky to be loving you

Hari Valentine (Valentine’s day) awalnya ditetapkan untuk menghormati Santo Valentine yang mati martir pada tanggal 14 Februari. Perayaan ini tidak dikaitkan dengan unsur cinta sampai pada tahun 1382, seorang penyair dari Inggris, Geoffrey Chaucer, membuat puisi yang menyatakan tanggal 14 Februari adalah hari ketika burung-burung memilih pasangan.

Sejak itu, Valentine identik dengan cinta dan dirayakan dengan pemberian hadiah. Bunga dan cokelat dijadikan sebagai simbol cinta, membuat keduanya laris manis menjelang Valentine. Dan setelah Esther Rowland memproduksi kartu Valentine untuk pertama kalinya pada tahun 1847, milyaran kartu Valentine terjual setiap tahunnya, menempati posisi kedua terbesar setelah kartu Natal.

Perayaan hari Valentine menunjukkan satu hal : cinta masih menjadi topik penting, jika bukan yang terpenting, bagi banyak orang. Sejumlah pakar pun telah berusaha mendefinisikan cinta. Namun apapun definisinya, tampaknya lebih penting untuk memperhatikan bagaimana menjaga cinta. Karena berdasarkan survei pasar, kartu dan hadiah Valentine dikirimkan terbanyak oleh pasangan yang belum ataupun yang baru menikah.

Kebanyakan orang mengatakan merasa tidak pantas lagi merayakan hal-hal seperti Valentine karena masalah usia yang sudah menua. Namun ternyata semakin lama pasangan itu bersama, semakin rendah frekuensi mereka merayakan Valentine, terlepas dari berapapun usia mereka. Jadi permasalahannya tidak terletak pada usia masing-masing, melainkan pada usia hubungan itu sendiri. Tampaknya cinta tidak lagi dirasa menggebu setelah hubungan berjalan sekian lama. Lantas menjadi pertanyaan tidak dapatkah kita menjaga api cinta tidak memudar?

Dua bait di atas merupakan penggalan dari sebuah lagu lawas, Time After Time, yang pernah dilantunkan Frank Sinatra. Lagu ini dinyanyikan kembali oleh Claire Danes yang berperan sebagai Ann Grant dalam film Evening yang dirilis pertengahan 2007 lalu. Film ini menceritakan cinta Ann Grant yang tak pernah mati untuk kekasihnya, meskipun masing-masing telah menikah dengan orang lain.

Menarik untuk disimak bahwa cinta tampaknya dapat abadi justru ketika tidak berlanjut dalam suatu hubungan. Selain film Evening, masih banyak film lain yang menceritakan kisah sejenis. Yang terbaru adalah film Love in the Time of Cholera, yang diadaptasi dari novel karya Gabriel García Márquez. Film ini bercerita tentang Florentino Ariza yang mencintai Fermina Daza, yang dipaksa menikah dengan pria lain. Keduanya tetap saling mencintai sampai lebih dari setengah abad kemudian setelah suami Fermina meninggal dunia, Florentino datang kembali menemui Fermina.

Sayangnya ketika cinta dilanjutkan dalam sebuah hubungan, kompleksitas hubungan itu sendiri akan menyulitkan kita untuk tetap menjaga agar cinta tidak memudar. Hal inilah yang mendorong produser film Bridget Jones’ Diary,’ untuk membuat sekuel film ini guna menggambarkan realita bahwa memulai cinta tidak sesulit menjalani hubungan itu setelahnya. Jadi seandainya kisah Cinderella dilanjutkan, bukan tidak mungkin kita akan menemukan konflik-konflik dalam relasinya dengan pangeran.

Saat mulai menjalin hubungan, kita umumnya mengalami optimistic bias, yakni terlalu optimis dalam memprediksikan kelanggengan cinta. Kita mengenakan rose-coloured glasses sehingga semua tampak indah. Kita yakin dapat mencapai semboyan Cinderella : bahagia selamanya (happily ever after).

Namun seiring waktu, kita mulai melihat kekurangan pasangan. Bahkan yang awalnya sebuah kelebihan kini kita persepsikan sebagai berlebihan, sehingga kelebihan itu pun kini menjelma menjadi suatu kekurangan di mata kita. Kekurangan-kekurangan yang awalnya dapat ditoleransi kini terasa melampaui kekuatan kita untuk menerimanya.  “Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah” yang didendangkan Andra and The Backbone tidak lagi berlaku dalam kondisi begini.

Masing-masing dari kita menuntut pasangan untuk menjadi seperti yang kita inginkan. Jika tidak sesuai, kita menjadi marah karena menganggapnya tidak memahami kebutuhan kita. Dalam kondisi ini, yang muncul adalah sikap saling menyalahkan. Kita mengklaim diri kita yang benar dan pasangan yang salah, namun tidak menyadari masing-masing menyumbang terhadap pertengkaran itu. Kata-kata yang terucap adalah yang meninggikan ego masing-masing, sehingga malah semakin saling menyakiti.

Tidak jarang dalam pertengkaran, akan terungkap kekecewaan yang bertumpuk dan mengungkit pengorbanan masing-masing. Alih-alih berempati, kita terkejut ternyata pasangan menyimpan kekesalannya sedemikian rupa dan kemudian kita pun menuduhnya tidak tulus selama ini. Bila sudah begini, masalah awal pemicu pertengkaran tidak tertangani, dan pertengkaran malah memicu munculnya masalah baru. Lama kelamaan, pertengkaran-pertengkaran semacam ini akan mengikis cinta dan memupuk emosi negatif kepada pasangan.

Jika kita mau mengintrospeksi diri, kita cenderung mencintai dengan cara yang kita anggap baik, bukan menyesuaikannya dengan kebutuhan pasangan. Akhirnya kita menganggap telah melakukan banyak hal untuk pasangan. Kita bingung dan merasa upaya kita tidak dihargai ketika pasangan mengeluh tidak pernah merasa cukup dicintai. Hal ini sebenarnya dapat dihindari jika kita mencintai secara produktif dan altruistik, sebagaimana dikemukakan Erich Fromm, seorang filsuf dan psikolog asal Jerman, dalam bukunya The Art of Loving.

Cinta menurut Fromm mengandung unsur kepedulian (care), tanggung jawab (responsibility), respek (respect), dan pengenalan (knowledge). Respek bukanlah rasa takut atau segan, melainkan menghargai keunikan pasangan dan meyakini ia dapat bertumbuh dengan keunikannya. Oleh karena itu dibutuhkan pengenalan lebih dalam terhadap pasangan, termasuk mengenali kebutuhan-kebutuhannya. Ketika respek dan pengenalan ini disertai dengan tanggung jawab untuk peduli terhadap pasangan, maka cinta kita dapat membuat pasangan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Oleh karena itulah dalam pandangan Fromm, cinta tidak pasif melainkan aktif bertindak. Sebuah contoh sederhana adalah kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mencintai bunga jika kita tidak menyiramnya. Karena cinta yang peduli dan bertanggung jawab adalah cinta yang memberi, untuk memperkaya pasangan dan diri kita sendiri, memperkaya relasi itu sendiri. Itulah sebabnya konsep cinta yang ditawarkan Fromm disebut sebagai cinta yang produktif dan altruistik.

Dengan tujuan memperkaya relasi, maka memberi bukan berarti menuruti semua keinginan pasangan. Namun perlu diperhatikan jika kita respek dan peduli terhadap pasangan, kita tidak menjadikan persepsi kita sebagai patokan dalam menilai kebutuhan pasangan perlu dipenuhi atau tidak.  Kita perlu menimbang apakah dengan memberikan itu hubungan kita dapat menjadi lebih baik dan apakah permintaannya sedemikian sulit untuk dipenuhi atau mengorbankan banyak pihak?

Sebagai contoh, pasangan meminta kita untuk meneleponnya saat jam makan siang sebagai bentuk perhatian. Sebelum menganggapnya sebagai romantisme yang tidak perlu, ada baiknya dipikirkan apakah meluangkan waktu 5 menit dari 24 jam yang ada untuk meneleponnya sedemikian sulitnya sehingga dapat menjungkirbalikkan dunia kita? Jika jawabannya tidak, dan jika melakukannya justru dapat melekatkan hubungan, ketimbang berpikir negatif bahwa hal itu suatu kemanjaan, lebih baik kita lakukan dengan sukacita.

Konsep cinta yang ditawarkan Fromm tentu tidak akan berhasil jika hanya salah satu pasangan yang menjalankannya. It takes two for tango, demikian pula dalam mencintai. Jika hanya sepihak yang melakukan, hubungan menjadi tidak seimbang. Bukan tidak mungkin satu saat ia merasa lelah , dan apa yang telah dilakukannya untuk memberi kini dirasakannya sebagai pengorbanan. Padahal memberi menurut Fromm bukanlah mengorbankan sesuatu. Tidak ada yang diambil dari diri kita, karena tujuannya justru memperkaya diri kita dan pasangan. 

Oleh karena itulah, kedua pihak harus saling memberi dengan respek, empati, peduli, dan penuh tanggung jawab sehingga tercipta sebuah hubungan yang dewasa. Dalam hubungan semacam ini, kita tidak akan meributkan hal-hal sepele yang membuang energi. Bukan berarti hubungan seperti ini akan bebas konflik. Pertengkaran akan selalu ada dalam setiap relasi. Namun pertengkaran tidak selalu buruk jika kita mengembalikan pada tujuan kita mencintai. Karena pertengkaran dapat mengungkap kebutuhan pasangan yang mungkin belum diutarakan. Pertengkaran dapat menjadi cermin apakah selama ini kita mencintai dengan cara kita, bukan dengan cara yang diinginkan pasangan.

Mencintai adalah sebuah proses, bukan sekedar perayaan dalam satu hari bernama hari Valentine. Kekuatan cinta justru teruji dalam keseharian relasi kita dengan pasangan. Mungkin kita tidak lagi mengalami getar yang sama seperti awal hubungan. Namun dengan senantiasa memberi, penuh respek, peduli, dan terus belajar mengenal pasangan, bukan tidak mungkin kita dapat merasakan sensasi yang lain. Sebuah getar tak terlukiskan saat menemukan dari waktu ke waktu, betapa beruntung kita dapat mencintainya selama ini. Happy Valentine’s Day.

— Pour toi, mon Neverland. Je t’aime toujours–

(Tulisan ini dapat disimak pula di www.suarapembaruan.com (edited version, of course🙂 . Thx to Mas Argo dari Suara Pembaruan yang udah bikinin judul utk tulisan ini. Sy sempat bingung judulnya apa, tapi editor emang kreatif ya :P )

12 Comments leave one →
  1. February 15, 2008 7:53 am

    Menjaga cinta, menjaga perasaan, itu emang yang paling susah, dan harus dari 2 belah pihak ya. pengalaman pribadi, mati2an berusaha pertahanin cinta, tapi lama2 ngerasa ga worth, karna cintanya ga “diisi” juga🙂
    lama2 hambar, walaupun sekali2 membara lagi. tapi, ya, masih worth ga si yang “membara” itu untuk dibuat lebih membara lagi, kalo cuman sendirian… uwh, cape loow……
    so, on this valentine, on every next valentine (i hope),
    goodbye my love…
    semoga gue bisa nemuin orang lain, yang mau menjaga cinta sama-sama gue.
    pray the best for u also, wat🙂

    hugs,
    nita

  2. 02-113 permalink
    February 19, 2008 3:09 pm

    kelebihan + berlebihan = posesif -> needy -> intolerable…
    at all!!hahhaa…..

    ada baiknya dipikirkan apakah meluangkan waktu 5 menit dari 24 jam yang ada untuk meneleponnya sedemikian sulitnya sehingga dapat menjungkirbalikkan dunia kita?
    –> uughh…got me there!! heuahauhua

    respek, empati, peduli, dan penuh tanggung jawab = hubungan yang dewasa. –> wer do u put trust n honesty then honey bunny?? ;p

    Dalam hubungan semacam ini, kita tidak akan meributkan hal-hal sepele yang membuang energi. Bukan berarti hubungan seperti ini akan bebas konflik. –> agree, fighting isnt always bad…but wen u often find urself fighting over nothing…. grrrrrrr…. it’s like watching d history repeated itself… n it also means..there IS sumting wrong wif ur relationship… seriously… it’s either fixable..or crashed and burn.🙂

    it takes two to tango…yah bener juga, lama2 cape juga kan kalo cm satu pihak doank yg berusaha memperbaiki hubungan….kuncinya yah.. waktu… klise memang, tp waktu jugalah yg akan membuktikan apakah pasangan kita masih layak untuk dipertahankan..despite smua kekurangan..
    toh memang intinya…harus diakui, BANYAK org masih make rose-coloured syndrome itu dgn berbagai motif…
    akhirnya kita pasti akan tau kok wen enough is enough!! literally… :p

    ‘loving is not about loving d perfect person, but loving an imperfect person..perfectly’
    perfectly dlm arti….bukan dgn cara yg kita mau, tp sesuai yg kita berdua inginkan… hahhaha

    miz u cil….. heuahuahuaha
    P.S : nice article. love it.

  3. Maria permalink
    February 20, 2008 5:53 am

    judulnya keren ya Wat….hahahah….huhuy :p

  4. mamik permalink
    March 8, 2008 9:22 am

    Mencinta memang tidak sebangun dan sejalan alias identik atau selalu dikaitkan dengan dengan siapa kita menjalin relasi perpacaran/perkawinan. Mencinta memang berada di konteks yang bisa saja berbeda dengan pelembagaan relasi percintaan. Bagi ku, cinta akan mampu menemukan kejujuran dan keindahan serta ketulusannya jika ia dibiarkan merdeka dari belenggu relasi percintaan, terlebih yang dilembagakan seperti perkawinan. Bahkan dalam relasi perpacaran dan perpasangan di luar relasi perkawinan pun, nikmatnya cinta, kebesaran cinta, banyak dikorup, direduksi oleh aturan, nilai dan norma, harapan, yang manusia buat sendiri seolah semua itu adalah kiriman dari ‘langit’. Aku suka sekali dengan penjelasan Kahlil Gibran tentang Cinta.
    Buat ku, mencinta adalah kemampuan sekaligus rahmat..maka mencintailah sebanyak kita mampu dan merugilah orang-orang yang tidak mengenal dan merasai cinta yang lain, selain dari pacar, pasangan nya, baik dalam relasi homoseksual maupun heteroseksual…Selamat merasakan indahnya mencinta..syukur-syukur dicinta olehnya..

  5. Cinta bukan pikiran permalink
    June 8, 2008 7:28 pm

    Mhmdfsl.blogspot.com

  6. July 13, 2008 4:02 am

    duh bnyk amat tulisannya..aku si cinta keluarga.. http://blog.aprillins.com

  7. esterlianawati permalink*
    July 15, 2008 4:47 am

    Hehe, smg gak memusingkan krn bnykya. Salam kenal ya.

  8. andohar purba permalink
    August 1, 2008 7:22 pm

    Cinta hanya mungkin dihidupi dalam kesadaran bahwa AKU bukan ENGKAU. Cinta hanya ada dalam jarak. Seperti Gabriel Marcel bilang: cinta menjaga jarak antara AKU dan Engkau.

  9. yasien permalink
    August 12, 2008 7:17 am

    cinta tidak bisa diminta…tp klu cinta datang maka sambutlah dng kasih sayang…cinta bukan mainan…krn cinta sangat sakral…dan jgn sembarangan km memberikan cinta…maka pikirkan dan renungi…hehehehe..!!!

  10. Rena permalink
    August 21, 2008 2:25 pm

    Haloooooooooooooooooooo Ibu Watie yg cantiiiik..
    Wha kangen deh sama Ibu, seneng bgt bisa ktemu lagi walopun di dunia maya. How are you doing, Bu?
    Ibu sdh ga m’ngajar lagi ya di Untar?

    One word, Salut bangeed utk Ibu! =D (eh itu mah tiga ya???)

    Btw, Hidup cinta pkonya mah.

    Saya setuju banget dengan formula “ajaib”-nya Fromm: respek, empati, peduli, dan penuh tanggung jawab. Oya, untuk 02-113, trust+honesty bisa aja lhow tercermin dan terwakili dari keempatnya. Umpama nih, seseorang peka dan responsif terhadap emosi/kebutuhan pasangannya, saya yakin ia bisa dipercaya dan nggak macam2;) karena ia mampu berempati a.k.a menyelami perasaan pasangan dan bertanggung jawab dengan komitmennya. Salam kenal, pisss yo!:D

    Selama kita dan pasangan punya huge capacity untuk empat hal di atas, mau memperbaiki kesalahan dan belajar darinya, we both can tango for a long time. N then after reading artikel Ibu, jadi makin sayang sama pasangan xixixixixi… ^_^

    C u and take care yah Bu.
    Kapan2 saya mampir lagi kemari hehhee

  11. esterlianawati permalink*
    August 26, 2008 4:36 am

    Alo rena yg muaniieees😉
    Seneng liat km nongol di blogku.
    Msh ngajar kok, tp emang cm satu mata kul aja. Abis nya dah gak ada km sih hihi.
    Wah, akhirnya km yg jawab si 02-113 tuh. Dah coba dijelasin tp dia kaga ngerti2 hihihi..
    Tengkyu ya ren, smg tmbh sayang lg sama yayang😛

  12. November 5, 2008 2:47 am

    perti rumah adalah kita tingal nyaman disana dan merawat rumah itu ,sebuah rumah kekbasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: