Skip to content

Kerentanan Perempuan dalam Ketahanan Pangan : Pentingnya Variabel Gender

January 29, 2008

Dalam hal tidak terpenuhinya hak atas pangan yang layak, perempuan dan anak perempuan adalah kelompok yang paling menderita. Dalam kondisi pangan tersedia dan dapat diperoleh sekalipun, belum tentu perempuan dapat menggunakannya.Data FAO menunjukkan bahwa di banyak negara, anak perempuan dua kali lebih banyak dibandingkan anak laki-laki yang meninggal. Penyebabnya adalah kurang gizi dan penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Demikian pula pada perempuan dewasa ditemukan jumlah yang menderita malnutrisi dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Pada perempuan yang sedang mengandung, kondisinya akan menjadi lebih buruk. Ibu yang tidak mendapatkan makanan dengan gizi cukup akan mempengaruhi kondisi janin atau anaknya kelak jika lahir. Banyak anak mengalami berat badan lahir rendah yang dampaknya akan buruk bagi kesehatan anak itu sendiri. Perempuan mengandung yang menderita anemia juga akan rentan terhadap kematian saat melahirkan. Semua ini disebabkan satu hal, yaitu tidak terpenuhinya hak perempuan atas makanan yang layak.

Padahal perempuan memegang peran utama dalam memproduksi dan menyiapkan makanan. Jumlah perempuan yang menangani pekerjaan agrikultural di seluruh dunia mencapai 51 %, bahkan 80% di Afrika sub-Sahara[1]. Termasuk di dalamnya adalah perempuan di pedesaan, hutan, dan pesisir  pantai. Perempuan petani secara umum menanam lebih banyak untuk konsumsi keluarganya. Perempuan pesisir juga mengeringkan, mengolah, dan menjual hasil laut. Perempuan yang tinggal di daerah hutan juga berperan mengambil kayu bakar, dan mengolah hasil hutan untuk dikonsumsi keluarga. Sebagai contoh adalah perempuan Asmat yang harus menokok sagu di hutan, yang untuk itu harus mendayung sendiri perahu selama kurang lebih dua jam ke hutan dan dua jam untuk kembali ke rumah[2].

Perempuan memiliki jam kerja yang jauh lebih banyak dibandingkan suami mereka. Karena selain mengurus masalah pengolahan dan penyediaan logistik keluarga, ia masih harus bertanggung jawab mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Sambil mendayung perahu dan menokok sagu di hutan, perempuan Asmat masih harus menggendong anak-anaknya[3]. Namun sungguh disayangkan, kontribusi perempuan terhadap permasalahan pangan tidak dianggap sebagai pekerjaan produktif, melainkan sebagai bagian dari tugas reproduktif mereka.


[1] “Women Feed The World”, http://www.fao.org/

[2] Dewi Linggasari, 2004, Yang Perkasa Yang Tertindas. Potret Hidup Perempuan Asmat. Yogyakarta : Bigraf Publishing, bekerja sama dengan Yayasan Adhikarya IKAPI dan The Ford Foundation. 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: