Skip to content

Dunia Kelaparan

January 29, 2008

Ketahanan pangan yang diharapkan masyarakat dunia ternyata belum tercapai. Awal Maret 2007 lalu di Nyeleni, Mali, Afrika Barat,  sebanyak 600 orang dari 98 negara berkumpul dalam Forum Kedaulatan Pangan Sedunia. Indonesia adalah salah satu negara yang mengirimkan delegasinya. Acara itu disponsori La Via Campesina, sebuah organisasi petani internasional yang berkedudukan di setiap negara. 600 anggota delegasi tersebut mewakili 120 organisasi petani, nelayan, buruh, perempuan, dan petani penggarap dari 98 negara yang menyuarakan ketiadaan ketahanan pangan di negara-negara mereka. Forum ini memang lahir dari adanya keinginan dan harapan dari kaum-kaum tak bersuara untuk dapat berdaulat atas pangan; untuk memiliki kekuatan atas pangan, yang belum mereka miliki saat ini. Pemerintah Mali sendiri bertekad untuk membangun kekuatan pangan dan tidak bergantung pada konglomerat, importir, dan negara produsen. Pemerintah menginginkan pangan dikuasai oleh masyarakat Mali sendiri. Menurut Presiden Mali, Amadou Toure, pangan merupakan kebutuhan mendasar dan merupakan hak asasi warga Mali. Karena itu ia tetap ingin memprioritaskan bidang pertanian. 

Pernyataan Amadou tersebut mengingatkan pada teori kebutuhan manusia yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, seorang tokoh psikologi humanistik. Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan berjenjang mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk diterima orang lain, kebutuhan akan harga diri (self-esteem), dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri[1]. Dalam teori Maslow ini, kebutuhan fisiologis, termasuk di dalamnya adalah makan, merupakan kebutuhan dasar. Kebutuhan ini harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang beranjak ke kebutuhan lain di tingkat selanjutnya.

Teori yang dikemukakan Maslow ini sangat masuk akal. Dalam keadaan lapar, seseorang tentunya sulit untuk dapat menikmati hak-hak lainnya. Misalnya saja dalam kondisi lapar, tiap individu akan sulit untuk berkonsentrasi guna belajar dengan baik. Tidak hanya lapar, tetapi makan dengan gizi buruk juga dapat membawa dampak negatif. Seseorang yang tidak makan berhari-hari ataupun makan dengan asupan tanpa gizi juga dapat menjadi sakit, dan pada akhirnya tidak mampu berupaya memperoleh hak-haknya yang lain. Kondisi lapar dan gizi buruk, atau meminjam istilah Maslow adalah kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan fisiologis, dapat menghambat individu untuk mengoptimalisasikan potensi-potensi yang dimilikinya.

Permasalahannya adalah banyak orang di seluruh dunia yang kebutuhan dasarnya atas makanan belum terpenuhi. Berdasarkan data FAO, lebih dari 800 juta orang di seluruh dunia tidak dapat terpenuhi kebutuhan makannya. Lebih dari 50 negara, terutama negara-negara di Afrika, tidak dapat menghasilkan pangan dalam jumlah yang cukup untuk seluruh populasi. Mereka juga tidak mampu mengimpor atau membeli komoditas pangan yang dibutuhkan.  Atau dalam hal ini pangan tidak tersedia.

Dua puluh sembilan ribu anak meninggal tiap harinya, sebagian besar di antaranya diakibatkan malnutrisi. Dengan data harian seperti ini, tidak heran jika lebih dari enam juta anak per tahun meninggal hanya karena satu sebab, yaitu malnutrisi. Ditambah lagi dengan data lain bahwa dua puluh sembilan persen masyarakat dunia memiliki berat badan jauh di bawah rata-rata. Dan 199 juta anak di bawah lima tahun menderita kekurangan energi dan protein, baik akut maupun kronis.

Bahkan dalam negara yang dapat memproduksi pangan cukup besar pun tidak menjamin pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat dalam negara itu. Dalam hal ini berarti pangan tersedia, namun tidak dapat diperoleh dan digunakan rakyat. Contohnya saja di negara-negara Asia Selatan, khususnya India. Berdasarkan data FAO, India dan negara-negara Asia Selatan lainnya telah mengalami peningkatan signifikan dalam dua dekade ini. Di antara negara-negara berkembang, hanya Asia Timur yang melampaui Asia Selatan dalam pertumbuhan produksi makanan per kapita. Tapi tetap saja Asia Selatan tercatat sebagai wilayah yang paling rendah kemampuannya dalam mengurangi malnutrisi rakyatnya.

Bahkan di samping data FAO yang menunjukkan peningkatan produksi di India, ada realita terkini yang terungkap dalam Forum Kedaulatan Pangan bulan lalu di Nyeleni. Dalam forum tersebut, Vijay Jawandhia, dari organisasi petani India menyatakan kehidupan petani di India saat ini dalam kondisi tidak menyenangkan. Sebagian besar sumber daya alam telah habis, harga pupuk naik, produksi menurun, kebutuhan pokok terus melonjak, dan mengakibatkan biaya hidup semakin tinggi sehingga petani pun tidak berdaya[2].

Berita terbaru juga datang dari Filipina, yang berhasil diliput Kompas, 9 April 2007. Saat ini di Filipina ada sekitar 3,4 juta keluarga sedang mengalami kelaparan. Sebenarnya jumlah keluarga yang mengalami kelaparan mulai meningkat sejak Juni 2004. Di sebagian wilayah ibu kota Manila, jumlah keluarga yang kelaparan mencapai 17,7% pada November 2006, dan bertambah hingga 20,7% pada Februari 2007. Demikian juga dengan Pulau Luzon dan Mindanao, angka kelaparannya saat ini telah meningkat menjadi 22,7 persen.

Di Indonesia sendiri, masalah ketidaktersediaan pangan mulai memadati berita di media massa sejak bulan Mei 2005. Saat itu kasus busung lapar dan kurang gizi menyeruak di seluruh pelosok negeri ini. Tidak hanya NTB, NTT, Lampung, Sumatra Barat, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi, tetapi juga di Pulau Jawa seperti Situbondo, Banten, Purwakarta, Banten, Rembang, dan Cianjur yang terkenal dengan produksi berasnya[3].

Saat ini kasus busung lapar memang sudah tidak lagi menjadi pemberitaan utama. Namun bukan berarti kasus tersebut sudah dapat diatasi. Kasus busung lapar dan gizi buruk tetap saja terjadi di negara ini. Bahkan kini di banyak wilayah, rakyat tidak lagi mendapatkan makanan yang cukup. Kondisi ini diperburuk dengan adanya masalah harga gabah, berkurangnya stok beras, pengurangan jatah raskin, dan melonjaknya harga beras. Permasalahan-permasalahan ini kini semakin ramai dibahas di berbagai media. Tidak ada satu haripun terlewat tanpa pemberitaan masalah kesulitan pangan yang dihadapi rakyat negeri ini.

Hasil panen petani di banyak wilayah Indonesia saat ini memang sedang menurun. Harga gabah anjlok sehingga nasib petani semakin memprihatinkan. Kondisi ini dialami para petani, mulai dari Karawang sampai ke Kalimantan. Harga beras pun melonjak, dan mengakibatkan rakyat semakin kesulitan mendapatkan pangan. (Tentunya dalam kondisi semacam ini, kelompok orang tertentu yang memiliki daya beli tetap dapat menikmati pangan). Jatah beras miskin juga semakin berkurang dan mengakibatkan jutaan rakyat miskin tidak lagi terpenuhi kebutuhannya untuk makan. 

Kondisi ini tidak hanya terjadi di NTB ataupun Sulawesi Selatan[4], melainkan juga daerah Jakarta khususnya Jakarta Timur dan Utara[5], dan wilayah Pulau Jawa lainnya. Di Pulau Tunda, misalnya seluruh masyarakat tidak dapat makan pada bulan Januari lalu. Di Baros, Serang, puluhan keluarga tidak mampu lagi membeli beras seperti yang tercatat di Kompas pada tanggal 24 Maret 2007. Seluruh keluarga mengurangi jatah makan sejak harga beras naik. Ada yang makan sehari hanya sekali, dan bahkan kadang tidak makan. Sebuah keluarga bahkan ada yang tidak makan sampai tiga hari, dan hanya minum air putih. Tragisnya Wakil Bupati Serang, Andy Sujadi, masih menilai bahwa itu bukan kesulitan pangan, melainkan hanya dampak kemalasan warga.

Pada awal tahun 2008 ini, kasus kekurangan pangan malah semakin bertambah parah. Terutama setelah banjir menghantram sentra-sentra utama produksi beras di Pulau Jawa. Diberitakan di Harian Kompas tanggal 25 Januari lalu, penduduk Cirebon kembali makan nasi aking karena tak kuat membeli beras. Bukan hanya penduduk dewasa, tetapi juga balita yang tentunya memerlukan gizi jauh lebih besar. Nasi aking ini juga kini menjadi menu sehari-hari penduduk Indramayu. Sementara warga Tegal mengganti beras dengan ubi. Sedangkan masyarakat Purwakarta kini mengurangi jatah makan mereka. Ditambah lagi kasus kedelai yang juga sangat terasa dampaknya bagi jutaan penduduk miskin di negara kita. Meskipun tahu dan tempe adalah makanan rakyat yang tidak mengenal status sosial ekonomi, namun kita tahu bahwa makanan ini adalah satu-satunya jenis makanan bergizi yang dapat dikonsumsi oleh rakyat miskin karena harganya yang (semula) murah.

Saat ini kelaparan bahkan tidak hanya terjadi pada negara-negara berkembang seperti Indonesia saja. Data FAO menunjukkan bahwa ada 34 juta rakyat di negara maju yang kekurangan makan. Data ini menentang asumsi umum selama ini bahwa hanya masyarakat di negara berkembang yang tidak mendapatkan asupan makanan. Hal ini juga menunjukkan adanya distribusi pangan yang tidak merata di seluruh negeri. Apalagi jumlah total produksi pangan dunia ternyata masih melebihi kebutuhan populasi dunia. Jadi pangan sebenarnya tersedia, namun rakyat tidak mendapatkannya, apalagi menggunakannya.


[1] Abraham Maslow, dalam William C. Compton, “An Introduction to Positive Psychology, 2005. hal. 161.

[2] “Forum Nyeleni Suarakan Kaum Tak Bersuara”, dalam Kompas, 20 Maret 2007.

[3] Mariana Amiruddin dan Lita Purnama, Juli 2005, “Tragedi ‘Kelaparan Nasional’ dan Feminisasi Kemiskinan”, dalam Jurnal Perempuan 42, hal 20.

[4] “Stok Beras Bulog Menipis”, dalam Kompas, 23 Maret 2007.

[5] Urban Poor Consortium.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: