Skip to content

Mendekonstruksi Orgasme

December 7, 2007

Satu waktu
Temaram senja
Kita bercinta
Dengan Foucalt dan Derrida

Sampai tiba
Kenikmatan tergila
Orgasme pertama
Dalam intelektualita

Jika kita bicara tentang orgasme, umumnya kita selalu berpikir tentang tahap puncak kenikmatan seksual. Karena memang orgasme selalu dikaitkan dengan hubungan seks.Padahal kata orgasme itu sendiri berasal dari bahasa Latin, orgasmos, yang artinya adalah be excited. Jadi sebenarnya makna orgasme itu luas sekali. Saya menyamakannya dengan pengalaman puncak (peak experience) menurut Abraham Maslow. Jadi ketika kita mengalami hal-hal kecil apapun yang dapat menggugah dan memberikan kepuasan yang tak terlukiskan, buat saya, saat itu kita sedang mengalami orgasme.

Dalam sebuah edisi yang saya lupa kapan, Cosmopolitan membuat suatu istilah baru tentang orgasme psikologis. Orgasme psikologis ini bermakna kepuasan secara psikologis saat seseorang melakukan hubungan seksual. Dalam Cosmopolitan itu disebutkan bahwa orgasme jenis ini justru lebih bertahan lama efeknya dalam kemesraan hubungan si pasangan, dibandingkan orgasme seksual saja.

Orgasme psikologis sering dikaitkan dengan perempuan saja. Karena katanya hanya perempuan yang melibatkan emosi dan mencurahkan segenap perasaan saat bercinta. Padahal tidak demikian yang dimaksud dengan orgasme psikologis. Menurut saya, baik laki-laki maupun perempuan yang dapat merasakan orgasme psikologis saat bercinta tentu harus memiliki perasaan sayang terhadap pasangan bercintanya itu. Jika tidak, bagaimana ia dapat merasakan kepuasan psikologis itu?

Sebenarnya orgasme psikologis yang dimaksud Cosmopolitan itu sendiri belum lepas dari skema kognitif kita selama ini bahwa orgasme senantiasa dikaitkan dengan hubungan seksual. Jika kita kembali mengacu pada asal kata orgasme itu, maka menurut saya orgasme psikologis itu dapat kita rasakan tanpa perlu melakukan hubungan seksual. Saat kita merasa bahagia telah membantu orang lain itu juga sudah dapat dikategorikan sebagai orgasme psikologis. Atau kepuasan ketika kita berhasil meraih sesuatu yang sudah kita perjuangkan juga dapat saja disebut orgasme psikologis.

Masih banyak orgasme-orgasme lainnya, di antaranya orgasme spiritual. Ada seseorang yang merasakan kedamaian ketika berdoa, ada pula yang merasa takjub memandang keindahan alam, itu dapat saja dikategorikan sebagai orgasme spiritual menurut saya. Sama seperti Andrea Hirata dalam bukunya Laskar Pelangi, begitu terpesona pada keindahan desa kecil Edensor ketika ia membaca buku Seandainya Mereka Bisa Bicara. Ia menulis, ” ….rasanya aku dapat mencium harum bunga daffodil dan astuaria yang menjalar di sepanjang pagar peternakan di jalan itu.”

Orgasme lainnya adalah orgasme intelektual. Istilah ini saya ciptakan (entah jika sudah ada yang menciptakan sebelum saya, hanya saja saya tidak mengetahuinya ;) ), ketika waktu itu saya dan seorang rekan berbincang-bincang di suatu senja. Kami bercakap-cakap tentang Foucalt, Derrida, Judith Butler, Lacan, dan sebagainya. Dan saya merasa terkagum-kagum saat itu pada lawan bicara saya, dan rasa-rasanya dahaga akan pengetahuan saat itu terpenuhi.

Itulah orgasme intelektual pertama yang saya rasakan. Dan sejak itu saya jadi senang dengan istilah orgasme intelektual, bukan karena terdengar keren bagi saya, tapi lebih dari itu karena menyadarkan saya bahwa keluasan pengetahuan itu tiada batasnya. Sama seperti (lagi-lagi) Andrea Hirata, yang merasakan orgasme intelektual ketika berhadapan dengan Lintang, kawan sebangkunya yang luar biasa cerdas namun rendah hati itu.

Saya setuju dengan pendapat Andrea dalam bukunya Laskar Pelangi, bahwa orang yang sungguh-sungguh cerdas kebanyakan justru rendah hati karena orang cerdas memahami konsekuensi setiap jawaban dan menemukan bahwa di balik sebuah jawaban tersembunyi beberapa pertanyaan baru (halaman 111) ,….. karena orang cerdas memahami bahwa kepandaian itu luas tak terbatas (halaman 432).

Dalam sebuah film berjudul When Nietzsche Wept, orgasme intelektual ini dirasakan oleh Lou Salome, ketika ia terkagum-kagum pada kecerdasan Friedrich Nietzsche, seorang filsuf terkenal. Dalam film itu, Lou Salome menyatakan bahwa ia “seduced intelectually” (tergoda secara intelektual) oleh Nietzsche.

Trims untuk yang merasa sudah memberikan orgasme intelektual sore itu di sebuah taman ‘kebudayaan’, yang sudah membuat saya takjub dengan isi kepala Anda ketika membaca semua artikel jurnal yang dikirimkan kepada saya, dan untuk kerendahan hati dalam membagikan semua pengetahuan yang dimiliki.. Tulisan ini untuk seorang “Batu Karang”.

2 Comments leave one →
  1. April 22, 2008 3:11 am

    Menurut saya orgasme psikologis dalam bercinta sangat luar biasa, dan itu bisa kita dapatkan tanpa harus melalui real orgasme. Kebahagiaan, cinta yang mendalam lebih merupakan orgasme itu sendiri.
    Saya juga sempat mengalami “orgasme ” yang tidak tahu termasuk jenis orgasme apa ketika melihat film across the universe. Sebagai penggemar lagu Beatles dan blues saya sempat tegang ketika melihat Sadie menyanyi lagu Darling. Menurut saya paduan gaya menyanyi dan gaya petikan pemain gitarnya sangat luar biasa dan mendalam. Ada sesuatu yang entah saya tidak bisa menemukan kata katanya. Orgasme seperti ini termasuk orgasme apa ?

  2. esterlianawati permalink*
    April 22, 2008 4:18 am

    Hmm tergantung gmn perasaannya kali ya, kyknya lbh msk ke orgasme spiritual😉 Tp gak penting orgasme jenis apa, congrat buat mas datyo yg srg mengalami “orgasme”, krn scr psikologis sgt menyehatkan hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: