Skip to content

Menikmati Masa Senja yang Indah

November 23, 2007

Hampir setiap manusia menginginkan umur yang panjang. Kita bahkan mendoakan orang lain dengan menyanyikan lagu selamat panjang umur dalam perayaan ulang tahun. Kita juga mengkaitkan umur panjang dengan kebahagiaan, sebagaimana tertuang dalam lirik, “Selamat panjang umur dan bahagia.”

Namun hidup manusia cenderung paradoksikal. Di satu sisi, manusia menginginkan umur panjang, namun di sisi lain ia tidak ingin menjadi tua. Ketika harapan berumur panjang ini menjadi kenyataan, tidak serta merta setiap orang berbahagia sebagaimana yang diperkirakannya semula.

Manusia jauh lebih menyukai kemudaan karena kemudaan identik dengan menarik. Media telah mengkonstruksi sedemikian rupa bahwa yang menarik mata adalah yang berkulit kencang, yang dimiliki mereka yang belia. Iklan kosmetika dipapar sedemikian rupa dalam berbagai produk yang menentang ‘ketuaan’ seperti  krim penghilang keriput pada area wajah.

Tua lebih identik dengan stereotip negatif seiring dengan penurunan fungsi fisik dan kognitif. Pikun, cerewet, kesepian, menyusahkan orang lain, tidak dapat mandiri, tidak menarik, dan sebagainya, akan menjadi label sehari-hari yang harus diterima orang yang mulai memasuki usia tua.

Manusia memang cenderung berpikir stereotipikal untuk mempermudah proses berpikir otak. Dalam stereotip tidak dibutuhkan waktu lama untuk mengasosiasikan satu label dengan label lain, sampai tercipta suatu kumpulan label yang dapat kita lekatkan pada orang yang bersangkutan. Padahal pelabelan semacam ini dapat membawa dampak negatif, yakni bahwa label yang diberikan justru akan menjadi kenyataan.

Padahal mungkin tidak akan terjadi demikian jika orang yang bersangkutan tidak dilabel semacam itu. Kondisi ini dinamakan dengan ramalan pemenuhan diri (self-fulfilling prophecy), karena akhirnya terjadi sesuai dengan ramalan/prediksi diri kita terhadap orang tersebut.

Bukan tidak mungkin lansia menjadi seperti yang distereotipkan kepada mereka, lebih sebagai dampak dari label masyarakat. Hal ini tampak jelas dalam penelitian yang saya lakukan terhadap sejumlah lansia beberapa waktu lalu. Mereka yang mengeluhkan dirinya memang sudah tua akan tampak demikian rapuh dan tidak bersemangat. Mereka mengeluh tidak bahagia, dan tidak ada teman ataupun anggota keluarga yang mau setia mendampinginya.

Satu hal yang khas mereka ucapkan adalah, ” Ya, maklum, saya sudah tua.” Sementara lansia lain yang justru menentang stereotip akan mengatakan bahwa meskipun mereka tua, tetapi mereka tetap ingin melakukan sesuatu yang berguna dalam sisa umur mereka.

Tertarik dengan masalah pelabelan negatif terhadap lansia, psikolog sosial Ellen Langer dan Judith Rodin berusaha menunjukkan kondisi sebaliknya jika lansia dihargai dengan diberikan kontrol dan tanggung jawab. Penelitian Langer dan Rodin ini mematahkan pelekatan panti werdha dengan kejompoan dan kepasifan lansia. Dalam panti yang memberikan kontrol dan tanggung jawab kepada lansia, justru lansia ini akan jauh lebih puas dan memandang hidup lebih positif. Jangan bayangkan kontrol dan tanggung jawab yang besar. Cukup dengan membiarkan lansia memilih menu makanan dan busana yang akan mereka kenakan, sudah dapat membuat lansia merasa memiliki kendali atas hidup mereka.

Penurunan fisik dan kognitif pada lansia memang tidak dapat dielakkan. Penurunan fungsi fisik tampak dalam wujud pengerutan kulit, kerapuhan tulang, gangguan/masalah pada penglihatan dan atau pendengaran, penurunan fungsi pada indra perasa, kurang efisiennya kordinasi sensori motorik, lambatnya waktu reaksi, tubuh lambat menyesuaikan diri terhadap udara dingin, penurunan efisiensi sistem urinasi, penurunan sistem kekebalan, dan penurunan kekuatan otot. Sedangkan penurunan fungsi kognitif meliputi kemampuan-kemampuan dasar dalam memproses informasi yang menjadi kurang efisien pada usia lanjut, seperti berpikir dan mengingat informasi baru.

Namun demikian, tidak serta merta lansia menjadi invalid atau lemah. Sekalipun jelas bahwa penurunan yang sistematis telah terjadi namun tidak berarti bahwa usia tua dicirikan dengan penyakit, ketidakmampuan, atau kelemahan. Diane Papalia dan Sally Wendkos Olds, pakar psikologi perkembangan menyatakan bahwa yang terpenting adalah bagaimana lansia dapat melakukan penyesuaian terhadap menurunnya kekuatan dan kesehatan fisik. Penyesuaian ini dapat dilakukan pertama-tama dengan menerima keterbatasan fisiknya dan mengatasi kepedulian yang berlebihan terhadap kondisi tubuh. Selanjutnya, lansia dapat melakukan aktivitas yang tidak terlalu membutuhkan kemampuan fisik.

Dalam hal ini mungkin kita perlu mencermati kata-kata bijak dari Logan Pearsall Smith, penulis terkenal dari Amerika, bahwa masa muda adalah masa petualangan tubuh, tetapi masa tua adalah kemenangan jiwa/pikiran (youth is the time for adventures of the body, but age for the triumphs of the mind). Jadi seorang lansia mungkin tidak dapat lagi melakukan aktivitas yang menuntut kemampuan fisik seperti ketika ia masih muda. Namun ia dapat mulai mendefinisikan kebahagiaan dan kenyamanan dalam hal lain di luar aktivitas fisik. Pendefinisian baru ini dapat saja berupa hubungan interpersonal yang memuaskan ataupun aktivitas-aktivitas mental yang kreatif, di mana tidak terganggu oleh turunnya kesehatan fisik.

Dalam hal ini perlu diketahui meskipun kemampuan lansia menurun dalam memproses informasi baru, namun mereka justru memiliki kelebihan dalam aspek inteligensi yang telah mengkristal (crystallized intelligence). Inteligensi yang mengkristal ini merupakan akumulasi pengetahuan yang telah dicapai seseorang sepanjang hidupnya. Dengan inteligensi ini, tidak heran jika lansia lebih bijaksana dalam menyelesaikan problema kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya terus melabel lansia secara negatif akan menghambat lansia untuk memunculkan sisi positif lain yang justru berkembang seiring bertambahnya  usia. Lansia mungkin tidak semudah ketika masih muda dalam mempelajari rumus aritmatika atau senyawa kimia. Namun lansia dapat diajak berdiskusi dan dijadikan penasihat dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan praktis sesuai dengan bidang pengalamannya.

Jadi lansia dapat melakukan selective optimization with compensation, yakni melakukan sesuatu sesuai dengan bakat dan bidang yang mereka kuasai. Lansia dapat menggunakan kemampuan khusus ini untuk menggantikan kehilangan di area-area lain. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Pablo Picasso dapat terus produktif dalam dunia seni pada saat ia telah berada pada tahap usia lanjut. Bahkan banyak tokoh terkenal yang justru lebih produktif pada masa tuanya. Sebut saja Erik Erikson, teorinya tentang perkembangan manusia yang terkenal di dunia psikologi justru digagasnya saat ia berusia lanjut.

Jika Pablo Picasso ataupun Erik Erikson dianggap terlalu tinggi untuk dijadikan sebagai pembanding, marilah sejenak memberi perhatian kepada sejumlah lansia yang mengikuti aktivitas sosial dan keagamaan. Di sejumlah gereja, saya menemukan para lansia yang mengatur sendiri jadwal aktivitas mereka. Mereka mengadakan acara kebersamaan secara rutin setiap minggunya. Mereka menerbitkan sebuah buletin meskipun terbatas pada komunitas mereka. Mereka bahkan menyelenggarakan seminar khusus untuk para lansia. Tidak ada satu keluhan pun terucap dari mereka mengenai ketuaan mereka. Yang ada adalah keinginan mandiri sebagai sebuah komunitas. Mereka juga menantang stereotip dengan meminta masyarakat untuk tidak memandang mereka tidak dapat melakukan sesuatu sebagai lansia.

Tampaknya benar apa yang dikatakan Satchel Paige, pemain baseball Negro terkenal, “Age is a question of mind over matter. If you don’t mind, it doesn’t matter.” Menjadi tua hanyalah sebatas pikiran kita apakah ingin menjadikannya suatu masalah atau tidak. Ketika kita tidak melihatnya sebagai masalah, maka masa tua pun bukan suatu masalah. 

Lansia memang merupakan suatu masa di mana seseorang mengalami banyak kehilangan. Namun demikian, bukan berarti lansia harus tenggelam dalam kehilangan-kehilangan itu. Lansia dapat memilih untuk meratapi kemudaannya yang tidak dapat lagi dikembalikan, atau justru berusaha menemukan aktivitas dan tujuan alternatif guna mengisi hari tuanya secara positif. Yang pasti, jika lansia memilih yang kedua, ia akan menikmati sebuah senja yang indah, sebelum malam tiba.

17 Comments leave one →
  1. mr mahmood permalink
    December 4, 2007 9:03 am

    tua tua keladi, makin tua makin menjadi orang
    makin wise, bijak, makin mampu kontrol diri, makin menjadi suar, panutan
    i love you mr mahmood, come to me mr mahmood !

  2. Dwi Puspa Rani permalink
    December 5, 2007 1:39 pm

    Dementia merupakan kemerosotan dalam fungsi kognitif akibat kecederaan atau penyakit pada otak melebihi dari apa yang dijangka dalam proses penuaan biasa. Namun tidak semua orangtua mengalaminya. Kawasan yang mempunyai kesan khusus ingatan, perhatian, bahasa dan menyelesaikan masalah, walaupun terutamanya pada tahap akhir penyakit, pesakit mungkin kabur tentang masa (tidak tahu hari apa, minggu, bulan, atau tahun), tempat (tidak tahu di mana mereka berada) dan orang (tidak mengenali diri sendiri). Contohnya saja, salah satu artisyang sudah berusia di atas 60 tahun, yaitu Titiek Puspa, dia masih memiliki ingatan yang bagus, walaupun usia nya yang sekarang sudah 70 tahun, dia masih bisa exist di dunia entertainment. Contoh lain, misalnya Nenek saya. Semasa tuanya, dia masij memiliki fungsi kognitif yang baik sekali. Saat dia berusia 80 tahunan, dia masih menonton sinetron, bahkan hapal dengan alur ceritanya. Bukan hanya satu sinetron saja, loh… (seperti Marimar, Maria Mercedes, Maria Cinta yang Hilang, Tersanjung, Janjiku, dan sebagainya). Sampai-sampai dia hapal jadwal tayang tiap sinetron favoritnya. Bahkan saya sendiri, yang waktu itu sudah remaja, tidak begitu mengikuti drama di televisi. Hebatnya lagi, dia bisa mengekspresikan emosinya ketika menonton drama. Misalnya saat pemeran utama dijahati oleh pemeran antagonis, nenek saya tiba-tiba kesal sendiri dan gemas sendiri, sampai kadang-kadang mengucapkan, “Ih, kunaon jahat pisan nya?” (artinya, ih, kenapa jahat sekali yah? nb. Bhs Sunda).
    Selain itu, dia juga mampu mengingat semua nama anak-anaknya (8 orang), cucu-cucu (kurang lebih 30 orang) serta cicit-cicitnya (9 orang). Tidak hanya nama, dia juga tidak lupa hal-hal yang berkaitan dengan kami.
    Itulah, orang selalu melakukan ageism, mereka mengganggap orang yang sudah tua tidak bisa apa-apa, hanya bisa menyusahkan, tapi tidak melihat sisi positif yang ada pada orangtua. Sikap ini mungkin dikarenakan adanya stereotype yang sudah melekat di masyarakat tentang orangtua. Padahal, jika dari awal kita sering memberikan stimulus yang baik untuk memelihara ataupun mencegah penurunan yang drastis pada kemampuan kognitifnya, kemungkinan orang yang sudah tua dapat terhundar dari penyakit dementia. Misalnya dengan mengajak mereka mengobrol atau memberikan mereka kesibukan agar mereka tidak hanya diam dan melamun.

    Laki-laki dan Perempuan dalam konteks aging

    Laki-laki sama halnya dengan perempuan, mengalami yang disebut dengan aging (proses penuaan). Saat perempuan mengalami penurunan pada hormon, laki-laki juga mengalaminya. Meskipun tidak sama persis, dalam kehidupannya kaum lelaki juga dapat mengalami suatu gejala yang mirip seperti menopause pada perempuan. (betul ga, Bu? he3..). Pada perempuan ditandai dengan berhentinya haid, merasa diri tua, takut, gelisah, mudah marah, sering sakit kepala, mudah nyeri kepala dan otot pinggang, kulit mulai keriput (tidak selentur sewaktu muda), dan sebagainya. Pada laki-laki terjadi andropause, yaitu menurunnya hormon testoteron, serta fungsi seksual maupun fertilitas (kesuburan) tidak berhenti sama sekali pada laki-laki yang mengalami gejala andropause, namun terjadi penurunan secara bertahap. Pada laki-laki juga terjadi kulit keriput. Namun, karena adanya stereotype pada perempuan yang harus memiliki penampilan yang sempurna, maka lebih banyak perempuan yang mengalami ketidakpercayaan diri pada usia tua. Maka dari itu, lebih banyak perempuan usia tua yang melakukan perawatan pada kulit atau tubuhnya (pada usia muda saja perempuan lebih banyak melakukan perawatan pada seluruh tubuhnya dibandingkan dengan laki-laki).
    Perempuan lebih takut menghadapi masa tua karena pada masa tua mereka mengalami penurunan percaya diri, bahkan mereka lebih berkemungkinan mengalami stress berat akibat proses penuaan tersebut. Mereka juga takut suami mereka meninggalkan mereka dan mencari perempuan lain yang lebih muda. Pada laki-laki jarang terjadi hal tersebut karena mereka tidak memiliki stereotype yang mengatakan laki-laki harus cantik atau terlihat menarik. Jadi, tidak proses penuaan tidak terlalu membebani kaum laki-laki. Mereka juga tidak selalu memiliki rasa ketakutan ditinggal istri, karena mereka berpikir bahwa istri mereka lebih disibukkan untuk berdandan, mempercantik diri.

  3. DWI CHRISTINE SATYA permalink
    December 6, 2007 11:25 am

    Menurut saya yang ibu bahas adalah masa senja yang bebas dari masalah penyakit. Masa tua seharusnya di maknai sebagai waktu dimana seseorang menjadi lebih wise. Namun, seringkali kita temukan juga bahwa ada beberapa orang tua yang sudah berusia lanjut, melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Saya setuju dengan tulisan ibu mengenai pemberian tanggung jawab kepada mereka agar paling tidak mereka dapat masih tetap memegang kontrol atas diri mereka sendiri. Saya yakin, dengan pemberian ‘tugas’ dan tidak memberikan deadline, paling tidak dapat membuat mereka memiliki aktifitas. Yang terpenting adalah dukungan dari orang sekitar apalagi lingkungan keluarga. Dengan begitu, waktu untuk melamun, membayangkan hal yang tidak-tidak karena tidak adanya aktifitas atau tidak adanya teman bicara (salah satu pasangan telah meninggal terlebih dahulu) dapat dipakai untuk ‘menghasilkan’, walaupun mungkin menghasilkan tersebut dapat diartikan sebagai menghasilkan untuk kepentingan mereka sendiri.
    Beberapa kasus yang pernah marak di media pemberitaan, bahwa, telah ditanggkap seorang kakek yang mencabuli cucunya sendiri, telah ditanggkap seorang cucu karena membunuh kakeknya karena dianggap menyusahkan saja, Seorang nenek di bunuh oleh cucunya sendiri karena dianggap bawel, dan lain sebagainya, membuat saya semakin bertambah yakin bahwa, dukungan dan pengertian serta kesabaran dari anggota keluarga menjadi kunci penting dalam pemberdayaan lansia dan pemaknaan hidup lansia itu sendiri.
    Ibu, dibawah ini saya sertakan 1 puisi yang saya dapat dari warta gereja saya, saat bulan keluarga yang mempertegas komentar saya.

    -KETIKA AKU SUDAH MENJADI TUA-

    Ketika aku sudah menjadi tua, bukan lagi aku yang semula.
    Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadapku.
    Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa
    Bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana
    Dahulu aku mengajarimu.

    Ketika aku tak paham sedikipun tentang teknologi
    Dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
    Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar
    Menjawab setiap pertanyaan darimu.

    Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku,
    Jangan marah padaku.
    Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara
    Untuk membujukmu mandi?

    Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang
    Sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah
    Mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
    Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang
    Cerita yang telah beribu-ribu kali ku ceritakan agar
    Kau tidur.

    Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita,
    Berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku,
    Apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau
    Disampingku dan mendengarkan, aku sudah bahagia.

    Ketika kau memandang aku yang mulai menua,
    Janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku,
    Seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar
    Menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk
    Bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku
    Menjalankan sisa hidupku. Beri aku cinta dan kesabaran, aku
    Akan memberikan senyum penuh rasa syukur.
    Dalam senyum ini terdapat cinta yang tak terhingga untukmu, anakku.

    ( Sebuah isi hati dari orangtua kepada anak-anak mereka yang sudah mulai beranjak dewasa )

    Mutiara Kata : Allah merancang sosok orang tua sebagai pribadi yang lembut dan tangguh, oleh karena itu kasihilah dan hormatilah orang tuamu

  4. esterlianawati permalink*
    December 7, 2007 4:14 am

    Thx ya, especially puisinya. Sempat kucari lagi itu, tp gak nemu, tau2 dpt dr km🙂
    Someday, kita juga bakal menjadi tua ya…;)
    Btw, rani, utk tulisanmu yg terakhir itu justru kita hrs mulai memperbaiki lho,
    biar perempuan gak terlalu khawatir ama kemenarikan fisiknya lagi,
    krn msh bnyk hal lain yg patut kita hargai selain fisik toh.

  5. immanuel victor permalink
    December 7, 2007 2:16 pm

    menurut saya, para lansia pasti akan mengalami perubahan pada diri mereka, baik itu secara fisik maupun cognitif. hal ini menyebab mereka kehilangan daya tahan tubuh dan daya ingat yang lambat. banyak orang berpersepsi bahwa orang lansia itu akan mengalami kepikunan karena faktor usia, sehingga banyak diantara mereka yang dalam keluarganya terdapat lansia akan menitipkannya ke panti jompo, dengan alasan mereka tidak dapat mengurusnya karena kesibukan mereka atau tidak tahan merawatnya. tidak menutup kemungkinan para lansia akan merasa putus asa dengan adanya perlakuan seperti itu, sehingga mereka akan merasa kesepian dan larut dalam masa tuanya, padahal orang lansia masih bisa melakukan beberapa pekerjaan-pekerjaan kecil. di Indonesia banyak para lansia masih bisa melakukan pekerjaan, seperti dipedesaan mereka masih bertani atau merajut, bahkan ada beberapa kasus pencabulan yang dilakukan para lansia tersebut.
    dalam pandangan psikologi orang lansia didiagnosis akan mengalami beberapa gangguan, seperti delirium, dementia, dan amnestic. dari ketiga gangguan tersebut yang sering kita dengar tentang persepsi orang mengenai lansia adalah gangguan dementia atau bahasa awamnya pikun, dimana mereka mengalami kemunduran fungsi otak, yang melibatkan kehilangan ingatan, ketidakmampuan mengenali objek dan masalah dalam perencanaan dan penalaran abstrak.
    jadi kesimpulannya, belum tentu semua lansia tidak dapat melakukan berbagai pekerjaan dan tidak selayaknya mereka di jauhi, karena jika mereka merasa dijauhi mereka akan merasa tidak berguna.

  6. Diana Listianingsih permalink
    December 13, 2007 6:13 am

    Saya jadi ingat dengan nenek saya dia sangat menikmati seperti judal yang ibu tulis karena dia masih energik, daya ingatnya pun masih lengkap. Jadi stereotip tentang bahwa tua itu lambat, fungsi motorik menurun tidak berlaku buat nenek saya. Kadang-kadang lansia diidentikan dengan stereotip itu tapi tidak semua lansia seperti itu.

  7. Dwi Puspa Rani permalink
    December 14, 2007 12:21 pm

    Yup, bener c , musti diubah…
    But, how…
    Kan ada pepatah yang bilang
    “Kenapa Perempuan lebih memilih kelihatan cantik daripada pintar ?
    Karena laki-laki lebih memilih untuk melihat daripada berpikir….”
    Tuh, gimana dunk…
    Berarti yang harus diubah dari laki-laki nya dulu x ya…
    He3…Jangan liat secara fisik aja, tapi liat inner beauty na…

  8. banu hadi pranowo permalink
    December 17, 2007 1:06 pm

    Saya terkesan dengan tulisan ibu terutama “saat ulang tahun orang ingin di doakan supaya umur panjang, tetapi dilain sisi menginginkan untuk tetap muda” ini bagaikan kedua sisi mata uang logam yang sulit untuk mencari solusinya. Memang setiap makhluk hidup akan mengalami penuaan, begitu juga dengan manusia. Ini akan menyulitkan orang yang mengalami penuaan tersebut, karena menurut teori evolusi dan seleksi alam bahwa yang lebih kuatlah yang menang, mengapa….? karena yang lebih muda belum kena pengapuran tulang, penyakit seperti delirium, dementia, dan amnestic. Wanita cantik kebanyakan wanita muda, mengapa…? karena para pria akan mencari wanita yang kulitnya kencang dan masih berada pada masa reproduksi. Seringkali mereka para orangtua juga telah mendapat steriotape negatif dari lingkungan sekitar misalnya seorang bapak pegawai negeri yang ketika mudanya dipuji namun ketika sudah tua dan masuk masa pensiun dianggap ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dianggap tidak berguna, dan dikucilkan. Tentunya ini akan menimbulkan rasa tidak berguna bagi si bapak dan merasa hidup hanya menyulitkan orang lain, hampa, putus asa, dan hilang harapan hidup.

    Tapi, dari semua yang saya ungkapkan diatas yang paling banyak terjadi pada usia senja adalah brain disorders yaitu:
    1.dementia
    a.gangguan memori
    misalnya tidak dapat memperlajari informasi baru, tersesat, kehilangan barang-barang karena lupa meletakan, lupa identitas pribadi, dan lupa mengenali sanak saudara.
    b.satu atau lebih gangguan berikut
    Aphasia(gangguan bahasa), agnosia(tidak mampu untuk mengenali suatu objek, tetapi fungsi sensorik baik), Apraxia(gangguan koordinasi motorik), dan susah mengambil keputusan.
    c.penurunan fungsi kognisi diikuti oleh penurunan fungsi sosial dan pekerjaan
    2.delirium
    a.menurunnya kesadaran pada lingkungan yang disertai dengan menurunya kemampuan untuk, memusatkan dan mempertahankan dan mengalihkan perhatian
    b.berkurangnya daya ingat seperti pada delirium
    c.gangguan berlangsung singkat dan berfluktuatif sepanjang hari.
    3.amnestic
    a.mengalami hambatan dalam meningat hal-hal baru
    b.menurunya fungsi sosial dan pekerjaan
    c.gangguan memori tidak terjadi secara eksklusif.

    Contohnya ketika kita ngobrol dengan orangtua seringkali mereka mengulang-ulang cerita yang seringkali pula telah mereka ceritakan kepada kita, sering ketinggalan kacamata, sering menyebutkan dengan salah nama-nama cucunya, dan lain-lain.

    Sehingga menurut saya solusinya adalah sejak muda mulailah dengan gaya hidup sehat dengan olahraga teratur, istirahat yang cukup, mengkonsumsi makanan sehat dan gizi berimbang, dan rutin mengkomsumsi vitamin terutama vitamin yang dapat menghambat proses penuaan dengan cara mengurangi radikal bebas dan zat karsinogen dalam tubuh seperti vitamin E, vitamin A, dan vitamin C. dan yang juga penting adalah selalu positif thinking dan beribadah sesuai dengan kepercayaan. Untuk yang sudah usia senja selalu asah pikiran seperti ketika hendak tidur malam coba berusaha untuk mengingat kembali aktifitas selama seharian tadi.

    Akhir kata, saya harap tips-tips ini dapat membuat kita tersenyum ketika meniup lilin ulangtahun. (“-“)

  9. banu hadi pranowo permalink
    December 17, 2007 1:15 pm

    bagi yang sudah terkena 3 gangguan diatas mungkin bisa menggunakan warna misalnya lemari, sikat gigi, dan pintu rumah sang klien diberikan warna tertentu.

  10. sri masiang permalink
    March 31, 2009 8:41 am

    mba, mon pemisi tulisan ini saya copy ya. untuk data penelitian saya. riset saya adalah membongkar ageism dalam iklan makasih sudah menulis ini.

  11. esterlianawati permalink*
    April 1, 2009 8:28 am

    iya, mbak sri. thx jg ya, seneng banget ada yg permisi copy. andai semua spt mbak sri hehe. gudlak risetnya ya mbak🙂.

  12. April 4, 2009 12:08 am

    mbak yg cantik….permisi y…nad mw copy tulisan ini…mks y..>n_n<

  13. esterlianawati permalink*
    April 6, 2009 3:24 am

    Alo nancy,
    Silakan aja di copy, thx jg ya dah bilang2🙂
    Oya buat mbak sri jg, kl perlu sumber yg lbh resmi, tulisan ini ada di Suara Pembaruan, 22 November 2007. Gudlak🙂

  14. Chotimah permalink
    June 11, 2009 5:58 am

    Alhamdulillah, saya temukan artikel mbak yang bagus. Saya minta izin copy ya mbak. ya untuk tambahan pengetahuan saya and teman-teman di organisasi, Maklum di kampung saya terlibat di BKL ( Bina Keluarga Lansia ) dan Kelompok Lansia aserta Mitra Keluarga. Thanks. Mbak udah membuat multilevel kebaikan dengan banyaknya saudara-saudara yang baca and copy. Ikhlas ya!

    • esterlianawati permalink*
      June 12, 2009 9:01 am

      tentu ikhlas, mbak🙂
      terima kasih jg dah baca n mau bagikan ke teman2 lain.
      salam buat para lansia di sana ya, mbak.
      smg terus menikmati senja yg indah🙂

  15. Niken permalink
    October 2, 2010 8:00 am

    Halo Mbak Wati…saya baru main di blog ini…tulisan mbak bagus-bagus sekali dan inspiratif. saya suka membacanya. terima kasih telah berbagi.

    • Ester Lianawati permalink*
      October 27, 2010 7:53 pm

      makasih bnyk, mbak Niken. maaaaap ya blum kirim2 jg tulisan utk konferensi ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: