Skip to content

Opresi terhadap Perempuan Asmat

November 13, 2007

Asmat[1] adalah salah satu suku di Papua, yang terdiri dari 12 sub suku. Kedua belas sub suku itu adalah Joirat, Emari Ducur, Bismam, Becembub, Simai, Kenekap, Unir Siran, Unir Epmak, Safan, Armatak, Brasm dan Yupmakcain. Kedua belas sub suku ini menempati bagian selatan dari Papua, tepatnya di Kabupaten Asmat. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 29.658 km2 dan berpenduduk sekitar 70 ribu jiwa[2]. Para penduduk itu tersebar di 150 dusun dalam 7 distrik, yaitu Akat, Sawa Erma, Atsy, Fayit, Suator, Pantai Kasuari, dan Agats yang sekaligus merupakan ibukota kabupaten ini.

Suku Asmat merupakan suku yang paling terkenal di antara 255 suku yang ada di Papua. Asmat terutama terkenal karena ukirannya yang mengagumkan. Apalagi ukiran itu dibuat tanpa sketsa terlebih dahulu.  Selain itu, patung buatan orang Asmat bukan sekedar hiasan artistik. Di setiap guratannya terukir nilai sejarah yang menggambarkan hubungan mistis. Hal ini menjadikan patung Asmat mengandung nilai spiritual yang dalam. Berawal dari patung ukiran itulah, Asmat menjadi salah satu suku Papua yang banyak memperoleh perhatian dunia. Bahkan pada Februari 2004, Asmat ditetapkan sebagai situs warisan budaya dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kata Asmat itu sendiri memang bermakna sebagai manusia kayu atau pohon. Versi kedua mengenai makna kayu adalah masyarakat Asmat meyakini bahwa yang pertama kali muncul di permukaan bumi adalah pohon-pohonan[3]. Pohon-pohon itu adalah ucu (beringin) dan pas (kayu besi), yang diyakini sebagai perwujudan dua mama tua yaitu Ucukamaraot (roh beringin) dan Paskomaraot (roh kayu besi). Dengan keyakinan mistis mengenai kayu (pohon) ini tidak heran jika ukiran kayu yang dibuat orang Asmat terkesan sangat ‘berjiwa’.

Namun demikian, meskipun ukiran masyarakat Asmat telah dikenal di seantero dunia, Asmat masih merupakan suku terbelakang. Lebih dari itu, di balik pesona patung ukiran yang mereka ciptakan, tersimpan sebuah realitas yang tidak seindah ukiran-ukiran tersebut. Realitas itu berakar dari tradisi; realitas yang menurut saya menunjukkan kontradiksi dalam tradisi. Realitas itu seharusnya tidak terjadi jika mengingat salah satu falsafah mereka bahwa kehidupan bermula dari kayu yang diyakini sebagai perwujudan dua roh mama tua, roh perempuan.

Kecuali di sekitar wilayah Teluk Cenderawasih, pada dasarnya budaya Papua adalah patriarkal sehingga sangat mungkin perempuan akan teropresi.  Namun demikian, opresi yang terjadi pada perempuan Asmat tampak mengherankan karena pada dasarnya orang Asmat pun memberikan penghargaan tertinggi kepada perempuan. Bahkan penghormatan ini jauh lebih besar dibandingkan masyarakat Teluk Cenderawasih yang meninggikan harkat perempuan dengan mensimbolkannya sebagai burung cenderawasih.

Bagi orang Asmat, roh perempuanlah yang diyakini sebagai makhluk yang pertama kali muncul di dunia ini dalam bentuk pepohonan. Perempuan juga dipandang sebagai eram yang mendatangkan kesuburan dan kekuatan. Perempuan dalam suku Asmat juga disebut sebagai cem aman juri, yaitu anjing yang selalu menjaga serta menghadang musuh yang mengganggu tuannya. Anjing juga diyakini sebagai binatang pembawa api bagi manusia. Ia juga disebut sebagai kokoputs, yaitu penjelmaan roh nenek moyang yang memberikan kehangatan dan kehidupan bagi manusia.

Perempuan juga dipandang sebagai kuskus yang menggendong anak, yang mana kuskus bagi suku Asmat merupakan binatang sakral penjelmaan roh nenek moyang. Perempuan juga dipandang sebagai beyor atau burung nuri, dan ir (burung kakatua putih). Burung-burung itu adalah simbol kehadiran roh nenek moyang. Kepercayaan orang Asmat juga menempatkan perempuan sebagai taar, bunga bakung berwarna merah dan indah yang juga merupakan simbol roh nenek moyang. Sebagai taar, perempuan tidak hanya dianggap cantik parasnya tetapi juga cantik hatinya[4].

Simbolisasi perempuan dengan flora dan fauna yang berharga bagi masyarakat Asmat (pohon/kayu, kuskus, anjing, burung kakatua dan nuri, serta bakung), menunjukkan bagaimana sesungguhnya masyarakat Asmat menempatkan perempuan sebagai makhluk yang berharga. Namun ternyata dalam realita yang terjadi adalah sebaliknya. Keperkasaan perempuan dalam simbol kayu, anjing, dan burung, telah diputarbalikkan menjadi yang tertindas. Penindasan ini terjadi pada seluruh sub suku Asmat di seluruh distrik. Baik mereka yang tinggal dekat ibukota Agats[5] atau yang paling jauh sekalipun dari Agats, perempuan Asmat tetap tertindas.

Perempuan Asmat adalah pihak yang paling berperan, jika tidak dapat disebut sebagai pelakon tunggal, dalam menghidupi suku tersebut. Setiap harinya mereka harus menyediakan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Untuk itu mereka harus memangur dan meramah sagu di hutan dengan mendayung perahu yang memakan waktu kurang lebih dua jam. Dengan perhitungan waktu kembali ke rumah, berarti memakan waktu kurang lebih empat jam hanya untuk mendayung perahu.

Sementara itu memangur dan meramah sagu pun tidak dapat dilakukan dalam waktu sebentar. Mereka harus terlebih dahulu menebang pohon sagu, kemudian batang pohon sagu itu dibelah dua. Belahan tersebut dipukul-pukul dengan om agar seluruh isinya menjadi serpihan halus berwarna keputih-putihan. Untuk memukul-mukul pohon sagu itu membutuhkan waktu berjam-jam. Setelah itu sagu tersebut dicuci dalam palung yang terbuat dari daun sagu dengan cara dialiri air. Saat itulah sagu tersebut diramah, sehingga sagu mengucur berupa endapan kemerah-merahan. Air kucuran sagu itu disalurkan lagi ke daun sagu yang lain, baru kemudian ditampung pada batang pohon sagu yang isinya telah kosong.

Sampai di sini tugas memangur dan meramah sagu telah selesai. Namun bukan berarti sagu tersebut telah diolah. Karena perempuan Asmat harus membentuk sagu itu menjadi bola-bola sagu, lalu dibakar, untuk kemudian disediakannya untuk suami dan anak-anaknya. Perempuan Asmat pula yang harus menyiapkan tungku untuk membakar, yang berarti harus mengumpulkan kayu-kayu bakar terlebih dahulu.

Karena proses memangur dan meramah sagu membutuhkan waktu yang demikian lama, orang Asmat sering melakukannya dalam jumlah yang banyak sekaligus. Bila demikian, mereka harus berada di hutan berminggu-minggu sampai dua atau tiga bulan. Pada saat ini biasanya suami dan anak-anak ikut serta. Namun tetap perempuan yang lebih banyak melakukan tugas memangur dan meramah itu.

Selain memangur, meramah, dan mengolah sagu, perempuan Asmat juga kadangkala menjaring ikan di sungai. Terlebih bila suaminya sedang ingin makan ikan. Karena keinginan suami adalah perintah bagi istri suku Asmat. Tugas perempuan Asmat lainnya adalah berkebun terutama bila mereka tinggal dekat Distrik Agats sebagaimana yang dijelaskan di atas. Perempuan pula yang harus membawa hasil ikan dan kebunnya ke pasar bila ingin dijual. Kadang mereka juga harus menawarkannya dari rumah ke rumah karena memang pasar di Distrik Agats didominasi oleh pendatang yang memiliki lebih banyak modal untuk membayar kios.

Perempuan Asmat juga harus mengerjakan tugas domestik lain seperti mencuci pakaian dan perabotan makan. Bila hujan turun, tugas perempuan Asmat akan lebih ringan karena dapat menggunakan air hujan yang mereka tampung. Namun jika tidak ada air hujan, tugas mereka bertambah karena harus mengambil air di sungai ataupun pantai. Belum lagi tugas tetap lainnya dari perempuan Asmat adalah menjaga anak-anak. Jadi saat mereka mendayung, memangur, meramah, ataupun mengolah sagu, anak-anak tetap ada di bawah pengawasan perempuan.

Demikian berat beban perempuan Asmat, namun mereka masih harus menerima ‘tugas’ lainnya. Hampir setiap hari mereka menerima perlakuan kasar dari suaminya. Terutama jika makanan tidak tersedia saat suami sudah lapar, atau ketika tugas domestik lainnya tidak terselesaikan dengan baik. Dalam kondisi tersebut, minimal caci maki sudah pasti dilontarkan suami kepada mereka. Belum lagi dalam masyarakat Asmat, suami berhak melakukan poligami tanpa persetujuan istri. Biasanya istri pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya ini akan dibawa ke rumahnya untuk tinggal bersama mereka. Dengan rumah tanpa sekat, dapat dibayangkan bagaimana perasaan perempuan Asmat yang dimadu ini melihat kemesraan suaminya dengan perempuan lain. Namun perempuan Asmat tidak melakukan perlawanan apapun.

Biasanya para suami ini berpoligami setelah dua atau tiga tahun menikah. Salah satu alasan mereka adalah istri yang tidak menarik lagi. Memang setelah menikah, tubuh perempuan Asmat biasanya tidak lagi langsing. Wajah mereka juga akan tampak jauh lebih tua, seperti 10 tahun lebih di atas suaminya. Hal ini dikarenakan mereka sering mengandung dengan jarak antar anak yang terlalu dekat, tanpa perawatan pra, peri, dan pasca melahirkan. Selain itu, mereka sering pula keguguran karena terlalu lelah bekerja sehari-harinya.

Sementara itu kegiatan laki-laki Asmat sehari-harinya adalah menikmati makanan yang disediakan istrinya, mengisap tembakau, dan berjudi. Kadang suami membuat rumah atau perahu, namun dengan bantuan istri. Ada pula suami yang mau menemani istri mencari kayu bakar. Sayangnya mereka benar-benar hanya menemani. Mendayung perahu, menebang kayu, dan membawanya pulang adalah tugas istri.  Suami yang cukup berbaik hati akan membantu membawakan kapak istrinya.

‘Kegiatan’ rutin laki-laki Asmat lainnya adalah melakukan tindak kekerasan terhadap istri. Jika sagu atau ikan belum tersedia saat mereka sudah menginginkannya, maka istri akan menjadi korban luapan kemarahan. Jika mereka kalah judi, maka istri pula yang akan dijadikan obyek kekesalan. Mereka yang tinggal di Agats, kini terbiasa pula untuk mabuk karena minuman keras telah dijual bebas. Saat mereka mabuk, mereka lebih rentan untuk mengamuk sehingga istri pun akan lebih banyak menerima tindak kekerasan.

Kadangkala laki-laki Asmat mengukir jika mereka ingin atau jika hendak menyelenggarakan pesta. Ketika laki-laki mengukir, maka tugas perempuan akan semakin bertambah. Perempuan harus terus menyediakan sagu bakar dan makanan lain yang diinginkan suami mereka agar dapat terus bertenaga untuk mengukir. Semakin lama laki-laki mengukir, semakin banyak pula jumlah makanan yang harus mereka sediakan. Hal itu berarti akan semakin lelah perempuan Asmat karena harus memangur, meramah, dan mengolah sagu, dan bahkan menjaring ikan. Lebih tragisnya lagi, jika ukiran itu dijual maka uangnya hanya untuk suami yang membuatnya. Perempuan Asmat tidak menerima imbalan apapun untuk jerih payahnya menyediakan makanan. Padahal tanpa makanan itu, satu ukiran pun tidak akan selesai dibuat.


[1] Asmat dalam tulisan ini dapat mengacu kepada orang Asmat dan wilayah Kabupaten Asmat. “http://en.wikipedia.org/wiki/Asmat_people

[2] Ibid

[3] Dewi Linggasari, 2004, Yang Perkasa Yang Tertindas. Potret Hidup Perempuan Asmat. Yogyakarta : Bigraf Publishing, bekerja sama dengan Yayasan Adhikarya IKAPI dan The Ford Foundation. Hal. 22.

[4] Ibid, hal. 22-24

[5] Agats sudah didiami oleh banyak pendatang yang hidup secara modern. Di Agats sudah ada listrik, telepon, dan berbagai fasilitas publik seperti puskesmas dan sekolah. Di Agats juga sudah ada pasar tradisional, namun lebih didominasi oleh pendatang.

2 Comments leave one →
  1. Joko santoso permalink
    September 17, 2011 5:39 pm

    Mau tdk mau itulah budaya yg ada.. Beragam budaya kekayaan tradisi Indonesia..

    • Ester Lianawati permalink*
      September 27, 2011 12:05 am

      semoga kita bs trs mengupayakan perubahan ke arah yg positif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: