Skip to content

Harapan dalam Keterbatasan

November 13, 2007

Rabu lalu bersama seorang teman, saya melakukan outreach ke sebuah desa di Cilamaya. Kami mengunjungi seorang Tenaga Kerja Wanita (sebut saja S) yang upahnya tidak dibayar selama bekerja 2 tahun di Jordania. Ia malah diadukan ke agennya, dan di tempat agen tersebut ia dianiaya.

Selama berhari-hari ia harus berdiri dengan satu kaki diangkat dan satu tangan menyentuh telinganya, persis di-setrap ala murid SD di depan kelas. Ia tidak boleh bergeser sedikitpun dari garis batas ubin yang ditetapkan untuknya. Dalam posisi itulah, kepalanya terus dipukuli hingga lama kelamaan ia pun tidak lagi dapat merasakan sakit saat dipukuli. Ia juga tidak diberi makan selama berada dalam posisi itu. Ketika malam hari tiba, ia baru diizinkan untuk makan dan tidur. Namun esok paginya, penganiayaan itu akan kembali berulang. Sampai suatu hari setelah berminggu-minggu hal itu berlangsung, ia diberi obat yang membuatnya mengalami demam dan sakit kepala hebat. Dalam kondisi seperti itu, ia diusir untuk kembali ke Indonesia.

Dengan bantuan seorang sopir, ia berhasil sampai ke rumahnya. Namun akibat penganiayaan dan obat yang entah apa itu, selama kurang lebih 2 bulan ia tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya. Menurut keluarganya, ia tidak dapat diajak bicara, bicaranya meracau, hanya meributkan soal upah yang tidak diterimanya. Saat kami temui, ia sudah dapat menceritakan pengalamannya sendiri (meskipun dengan bahasa Jawa bercampur Arab, yang terkadang membuat kami bingung memahaminya).

Satu hal yang membuat saya ‘cukup’ heran adalah ketika ditanyakan apa yang akan ia lakukan setelah sembuh, ia ingin kembali bekerja di Timur Tengah. Menurutnya, pengalaman buruknya kemarin disebabkan ia tidak beruntung mendapatkan majikan yang pelit dan tidak mau membayar upahnya. Jika ia mendapatkan majikan yang sama dengan majikan sebelumnya, ia yakin ia tidak akan mengalami  hal itu.

Sebelumnya ia pernah bekerja di Saudi Arabia, dan mendapatkan majikan yang sangat baik hati menurutnya. Hasil kerjanya sudah dibelikan sebidang tanah di Cilamaya. Ia ingin kembali bekerja sebagai TKW agar mendapatkan uang untuk membangun rumah dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Apalagi suaminya ternyata telah menikah kembali dengan perempuan lain saat ia kembali dari Jordania. Jadi ia harus mencari nafkah untuknya dan anak-anak.  Sementara ia hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 2 SD. Jika di Cilamaya ia hanya dapat bekerja sebagai tenaga penggebuk gabah, yang upahnya sangat tidak sebanding dengan apa yang bisa ia dapatkan sebagai TKW.

Sepertinya memang menjadi buruh migran merupakan pekerjaan yang diidamkan para penduduk di desa itu. Sebagian  besar penduduknya, terutama kaum perempuan, menjadi TKW. Sebagian di antara mereka berhasil, membawa pulang uang banyak, yang setidaknya cukup untuk membangun rumah mereka dengan lantai keramik dan melengkapinya dengan furniture.  

Mungkin bagi kita yang mendengarkan kisah penganiayaannya, sangat tidak masuk akal jika ia masih mau pergi lagi bekerja di negeri orang. Namun ia hanyalah seorang ibu yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Ia hanya seorang ibu yang mencoba untuk berharap, memiliki asa agar masa depannya menjadi lebih baik. Dengan keterbatasan-keterbatasannya, ia mencoba mencari cara. Meskipun cara yang dipilihnya dapat membahayakan nyawanya.

Tentunya kami tidak dapat menentang keputusannya. Karena menentang keputusannya berarti tidak menghargai harapannya untuk merajut masa depan. Kami hanya memintanya untuk mencatat beberapa nomor telepon pentinng untuk dihubungi jika nantinya di luar negeri ia harus mengalami hal buruk di luar harapannya.  Dan selanjutnya kami hanya dapat mendoakan agar harapan Ibu S dapat terpenuhi. Atau setidaknya, tidak lagi mendapatkan penganiayaan.

Selamat bekerja, Ibu S.

2 Comments leave one →
  1. mr mahmood permalink
    December 4, 2007 9:06 am

    selamat tinggal indo. engkau tak mampu memberiku pekerjaan.
    terpaksalah aku ke negeri seberang. merantau mencari uang. walau derita tidak terhindarkan. rindu akan kampung halaman. terpaksalah aku tahan demi sebuah harapan dan kehidupan.
    i love you mr. mahmood, come to me mr. mahmood

  2. esterlianawati permalink*
    December 7, 2007 4:27 am

    Mr. Mahmood, noraaaaaak dasar😛
    I love you, Mr. Mahmood😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: