Skip to content

Feminisme, negatifkah?

November 13, 2007

Banyak orang awam melabel feminisme dengan negatif. Kata feminis selalu dilekatkan dengan berbagai stereotip negatif, semisal perempuan yang dominan, menuntut, galak, mencari masalah, berpenampilan buruk, tidak menyukai laki-laki, lesbian, perawan tua (lajang), sesat, sekuler, dan sebagainya. Label negatif ini tidak hanya diberikan oleh laki-laki, namun juga kaum perempuan sendiri.

Padahal feminisme adalah sebuah paham/aliran yang berusaha memahami ketertindasan terhadap perempuan, dan mencari upaya bagaimana mengatasi ketertindasan itu. Oleh karena itu, seorang feminis adalah seseorang yang berusaha memahami opresi terhadap perempuan dan berupaya mengatasinya.

Dengan sendirinya seorang feminis tidak harus perempuan, laki-laki pun dapat menjadi feminis (meskipun hal ini masih diperdebatkan). Nur Imam Subono, Donny Danardono (yang satu ini lebih menyukai dirinya disebut sebagai posfeminis), Rocky Gerung, Martin Sinaga, Romo Madya, adalah segelintir orang yang saya kenal sebagai laki-laki feminis, yang mengajar saya di program pascasarjana Kajian Wanita.

Mengkaitkan feminisme dengan lesbian dan perawan tua juga adalah sebuah illusory correlation, yakni menghubungkan dua hal yang sebenarnya tidak berhubungan atau hanya memiliki sedikit korelasi saja. Tengoklah para aktivis perempuan, ataupun para pengajar dan mahasiswi di Program Studi Pascasarjana Kajian Wanita UI, berapa banyak yang juga menyandang status sebagai istri dan ibu? Bahkan menurut saya, program studi ini adalah program yang paling manusiawi. Di kampus manakah kita dapat menemukan seorang ibu yang adalah mahasiswi S2, menggendong-gendong anaknya saat mengikuti proses belajar di kelas? Atau seorang dosen yang adalah seorang doktor sekaligus ketua program studi menggendong anak dari mahasiswinya ketika si mahasiswi yang membawa anak ke kelas itu harus melakukan presentasi? Sejauh ini saya hanya menemukannya di Pascasarjana Kajian Wanita UI.

Memang ada rekan-rekan lesbian yang turut belajar dalam program studi ini, tapi apakah kita tidak dapat menemukan mereka di tempat lain? Akankah kita menghakimi mereka dengan cara yang sama jika salah satu sahabat atau anggota keluarga kita ternyata bagian dari mereka? Atau pernahkah belajar berempati terhadap ketakutan-ketakutan mereka, penghinaan dan diskriminasi yang harus mereka alami terkait dengan orientasi seksual mereka? Dapatkah kita menghakimi mereka sebagai si pendosa, jika hidup kita pun tidak lebih suci dari mereka? Bukankah mereka yang mempercayai Tuhan otomatis percaya bahwa penghakiman hanya ada di tangan Tuhan?

Dan memang ada rekan-rekan atau bahkan pengajar yang masih melajang di usia 30 dan 40 tahun-an, tetapi apakah ada yang salah dengan status lajang tersebut? Tanpa mengurangi respek saya terhadap Romo dan Suster, bolehkah saya ajukan pertanyaan : mengapa kita menaruh hormat terhadap para pastor dan biarawati yang juga tidak menikah di mata manusia, tetapi tidak terhadap kaum lajang di luar biara? Apakah karena pelayanan terhadap Tuhan harus begitu eksplisitnya di ‘rumah’ Tuhan? Jika seorang pengajar mampu menjadi teladan bagi anak didiknya bukan hanya dalam materi yang diajarkan, melainkan juga dalam sikap dan perilaku, masihkah ia harus dicacat karena status kelajangannya? Atau mungkin kita perlu menengok salah satu dari rekan, sahabat, saudara, ataupun anggota keluarga kita yang melajang di usia ‘menikah’? Apakah kita memberikan penilaian yang sama negatifnya terhadap mereka?

Dan jika masih ada yang berpikir bahwa feminis itu membenci laki-laki, tengoklah para feminis yang menikah dan memiliki anak. Atau yang paling mudah adalah saya akan melihat kepada diri saya sendiri, seorang perempuan yang mencintai makhluk ciptaan Tuhan yang menjadi lawan jenis saya …

Feminisme juga sering disalahkan ketika banyak perempuan menggugat cerai di zaman sekarang ini. Padahal feminisme justru membuka wawasan, membangkitkan keberanian, sehingga para perempuan berani bersuara membela apa yang menjadi haknya. Dengan UU PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang disahkan tahun 2004 lalu, feminis justru mengusung cinta kasih, karena seorang istri tentunya tidak berkewajiban untuk menerima tindak kekerasan dari suaminya. Selain itu mungkin perlu dipahami kembali bahwa kaum feminis membela perempuan yang teropresi, bukan perempuan yang mengopresi.

Atau jika mungkin penjelasan di atas kurang dapat diterima atau terkesan membela, cukup renungkan apa yang saat ini telah kita dapatkan sebagai perempuan : mengenyam pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi, berkarir sebagai manajer, menjadi dokter, menjadi pengajar, menjadi psikolog, memasuki dunia hukum, berkutat dengan teknologi, beraktivitas di luar rumah, memiliki hak pilih dalam pemilihan umum…Mungkin sebagian dari kita belum mengetahui bahwa semua itu adalah sebagian dari hasil perjuangan kaum feminis.

4 Comments leave one →
  1. 02-113 permalink
    December 1, 2007 4:42 pm

    Akankah kita menghakimi mereka dengan cara yang sama jika salah satu sahabat atau anggota keluarga kita ternyata bagian dari mereka?

    –> YAH KAGAK LAH….berhubung tmen g ada bbrp yang binan n lines2..bykan bi- seh…jd udah kebal bo…tmen dkt soalnya.. heuahauhauaha so it’s hard…

    Atau pernahkah belajar berempati terhadap ketakutan-ketakutan mereka, penghinaan dan diskriminasi yang harus mereka alami terkait dengan orientasi seksual mereka?

    –> beeh..buangget..’gay-dar’ udah jago neh g… ;p *kok bangga…??* heuahua…

    tp tetep seh susah juga kdg kalo justru tmen bae kita yg malah menjauhi diri karena dy takut tmen2nya ga trima…tmen2 baenya….saat dy lebih memilih utk membohongi dan betraying their bestfren…. ironis bgt yah bo?!

    saat kita harus memohon kepada temen baiknya utk skedar dtg ke bifday dinner-nya…di saat yg sama juga harus memikirkan alasana bohong utk ‘save h** ass’ in front of her mate krn ‘dipingit’…heuahuaha…

    ou yeah…that hatred against ‘them’ kdg masih bisa aja muncul…itu krn pribadi ‘gay’ yg kita kenal adl tmen bae kita sendiri….
    simple nya yah…. ‘the empathy cud gone in an instant wen that gay was ur bestfren’ heuahuahauha….krn akan selalu ada garis pemikiran yg ga pernah sinkron antara kita..dan mereka… hohohohoho

    well dat’s a reality…hard to accept surely…but i think dat sumtimes… myb it’s we dat shud get used to it… anyway….

    Dapatkah kita menghakimi mereka sebagai si pendosa, jika hidup kita pun tidak lebih suci dari mereka?
    –> yah gak lah…setuju 100% idup2 mereka ini….udah gedelah yah bo..drpd kawin hetero mengalami KDRT trus kena apa tuh… ‘battered woman/man sydrome’ (berlaku juga kan utk laki??) heuahauhauah….

    Bukankah mereka yang mempercayai Tuhan otomatis percaya bahwa penghakiman hanya ada di tangan Tuhan?

    –> …menurut g… ‘penghakiman’ terberat….tetep di tangan lingkungan seh…ehauhauhheua
    jd bgitu udah ‘menghadap’ Dia.. udah kebal kali tuh pada2…heuahauhauah alias kagak takut lagi…

    PS : ini comment..n personal curhat juga…ehauhauha
    PS : ntn I PRONOUNCED U CHUCK AND LARRY deh… lucu bgttttttt…..

  2. 02-113 permalink
    December 1, 2007 4:46 pm

    02-113 = phoenix

  3. June 10, 2008 4:59 pm

    saya kira esensi Feminisme adalah “memanusiakan wanita” (baca: menghargai hak2 wanita sbg manusia, membebaskannya dari tirani dan hegemoni laki-laki/patriarki) dan bukan “me-lelaki-kan wanita” spt dalam pemikiran Feminis-radikal/posmo itu..

    salam kenal..

  4. esterlianawati permalink*
    June 11, 2008 2:31 am

    Salam kenal jg..;)
    Btw, knp mnrt Mas Wahyu, posmo “me-lelaki-kan wanita”? Aku gak ngeliat gitu lho. Kl radikal, mgkn bisa dibilang mengesankan spt itu sih ya.
    Tengkyu ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: